"Alex. Aku benar-benar tidak mengerti Apa yang baru saja kau katakan."
"Berhentilah bersandiwara Rea! Aku sudah mengatakan bahwa aku sudah mengetahui semuanya. Kau adalah dalang dibalik kematian ayahku. Kau menipuku dengan kisah sedihmu itu. Membuatku memiliki rasa simpati padamu. Setelah kau selesai dengan tujuanmu, maka kau juga akan membunuhku, benar kan!!" ucap Dev sembari menahan geramnya.
Tatapan Rea kini berubah datar. Apa alasan dibalik semua tuduhan itu padanya?
"Bukti, aku mau bukti atas tuduhan yang tak mendasarmu."
Alex mengangguk cepat sebagai jawaban. "Baiklah jika itu yang kau mau," ucapnya sembari melemparkan benda yang diberikan oleh Louis tadi.
"Yang benar saja! Kau menuduhku atas ini?" ucap Rea tertawa getir.
Alex tidak menjawab, dia hanya menatap Rea dengan penuh dendam yang nyata.
"Aku sudah muak dengan semua sandiwaramu. Semua kedokmu sudah terbongkar. Sekarang alasan apa lagi yang bisa membuatmu mengelak." Alex mendesiskan kalimat itu padanya. Membuat Rea merasakan sesak didadanya. Entah mengapa tuduhan itu bagaikan belati tajam yang kini tengah menoreh perasaannya.
"Tanyakan pada dirimu, apakah kau yakin bahwa aku yang melakukan itu?" tanya Rea dengan nada dingin.
"Ya," jawab Alex singkat. Dingin dan datar.
Rea tertawa sumbang. "Ternyata kau sama saja seperti penjahat lainnya. Kau adalah mafia yang bahkan lebih kejam dari yang kubayangkan. Kau tidak punya hati!" Terlihat jelas kekecewaan diwajah Rea. Hatinya terluka.
"Kau bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Kau datang dengan langsung menghakimi, dan menghukumku. Bukan untuk mencari tahu dulu kebenarannya," tambahnya lagi. Dengan tatapan penuh luka.
"Kebenarannya sudah jelas. Kau penipu b******k, yang berhasil menghancurkanku. Kau bahkan telah berhasil membuatku jatuh kedalam perangkap cintamu yang sialan itu. Selamat untukmu Rea... Selamat. Kau telah memporak-porandakan hatiku." Alex bertepuk tangan dengan gaya sinisnya.
"Semua cerita yang terlontar dari mulutmu, tidak ada yang bisa dipercaya. Kau harus mati Rea. Dunia tidak akan merasa kehilangan atas kematian pendosa seperti dirimu!" tambahnya lagi kali ini dengan aura dingin.
"Sebaiknya kau tarik semua ucapanmu. Aku memang bukan orang baik, namun aku juga tidak seperti itu! " Rea setengah membentaknya. Mata Rea berkilat penuh amarah. Kali ini Alex berhasil memangcing amarahnya.
"Kau, ceritamu, sandiwaramu dan semua tentangmu, membuatku muak."
Alex mengucapkannya dengan pandangan jijik.
Amarah Rea sudah tersulut semakin membesar. Tangannya mengepal kuat. "Sepertinya aku melakukan kesalahan karena telah menyukai pria sepertimu. Aku bahkan mempercayai sikap baik yang kau berikan padaku. Kau tidak pantas mendapatkan semua itu dariku. Jika kau ingin bertarung denganku maka baiklah, ayo kita mulai."
Rea mengangkat wajahnya. Menatap Alex dengan penuh keangkuhan. Kali ini tidak ada alasan lagi baginya untuk diam saja. Harga dirinya sudah diinjak-injak. Alex harus membayar setiap ucapan pahit yang keluar dari mulutnya.
Alex mengangguk cepat sebagai tanda persetujuan.
Dan pertarungan pun dimulai...
Rea menerjang pistol yang berada ditangan Alex, sampai terlempar jauh. Sebenarnya Alex bisa saja langsung membunuh Rea sejak sebelumnya, namun dia tidak ingin melakukannya sebelum Rea memulai duluan.
Alex mengambil pisau kecil yang ada dipinggangnya dan dengan cepat menyayat bahu Rea. Luka yang ada dibahu Rea nampaknya berpengaruh sampai membuat serangan Rea menjadi lebih cepat dan gesit.
"Kau membenciku sampai seperti ini?" bisik Rea sembari menghindar dari tusukan Alex dengan memiringkan tubuhnya kekanan dan kekiri.
"Aku sangat membencimu sampai menginginkan kematianmu ditanganku sendiri."
Rea tidak mengatakan apapun. Seakan memiliki kekuatan super Rea langsung menerjang kuat tubuh Alex sampai Alex memegang
Perutnya yang terasa sakit akibat terjangan kuat dari Rea. Ternyata ucapan Alex menyulutkan niatnya untuk bertempur lebih serius. Sebelum Alex membuat gerakan penyesuian, Rea telah mengambil pistol yang tadinya terlempar dan langsung menembak ke arah Alex, Namun hanya mengenai bahunya. Meski begitu, hal itu cukup membuat Alex mengeluarkan darah segar disana.
Rea sendiri tersentak menatap luka itu, terlihat raut penyesalan diwajahnya. Sebelum Rea Mulai sadar dari lamunanya. Alex telah merebut pistol yang ada ditangannya dan menembak d**a Rea.
DORRR
Alex adalah penembak jitu yang cukup handal dan ahli dalam hal itu. Namun kali ini tembakannya meleset.
Seharusnya dia mengenai jantung Rea.
Seharusnya dia bisa melakukannya dengan akurat.
Mengingat Rea yang tidak siap dengan serangan itu, tentu saja dia tidak bisa menghindar. Rea memegang darah yang mengalir dari perutnya. Terasa nyeri bercampur sesak didadanya. Mengingat orang yang menoreh luka untuknya adalah orang yang sempat membuatnya menaruh hati.
Alex sendiri bingung antara merutuki kebodohannya atau mengkhawatirkan kondisi Rea. Namun belum sempat dia memilih. Tubuhnya langsung reflek menangkap tubuh Rea yang hampir ambruk.
"Mengapa kau tidak mengenai jantungku?" Rea bertanya dengan menatap nanar. matanya tampak berkaca-kaca. Seolah kematian dari tangan Alex adalah hal yang paling dia inginkan.
Sebelum Alex sempat menjawab, Rea telah memuntahkan cairan hangat berwarna merah dari mulut.
Alex melihatnya dengan ngeri dan bercampur kaget.
Alex semakin bingung pada dirinya sendiri. Bukankah itu adalah saat yang bagus untuk menghabisinya. 'Aku harus segera membunuhnya, dia harus membayar atas semua yang dia lakukan,' otak Alex seolah memberi perintah untuk membunuhnya. Namun tubuhnya masih tidak mau bergerak. Dia bahkan menatap kondisi Rea dengan prihatin. Seolah semua rasa sakit itu dia juga merasakannya.
Kebencian dan rasa cintanya bertempur hebat. Keduanya menyuruh Alex melakukan hal yang sangat bertentangan. Yang satu mendesaknya agar menghabisi Rea secepat mungkin. Dan yang satunya lagi bersikeras untuk membantu dan menolong Rea.
Namun sebelum Alex sempat memikirkan apa yang harus dia lakukan, Rea telah mencengkram lengan Rea kuat dengan tangan kanannya.
"Semua bukti memang tertuju padaku. Namun bukan berarti akulah pelakunya," ucap Rea pahit.
"Dengar Alex, suntikkan itu memang milikku. Namun aku telah membuangnya setelah kau setuju untuk membantuku. Aku sendiri tidak tahu dari mana sepupumu itu menemukannya. Dan untuk yang satunya lagi, Rowan sempat menyuruhku melakukan pembunuhan itu, tapi aku tidak bisa. Karena saat itu kakiku mengalami cedera yang cukup parah, hingga aku harus dirawat beberapa minggu di rumah sakit. Aku tidak pernah merasa membunuh ayahmu," ucap Rea menjelaskan yang sebenarnya.
Belum sempat Alex berkomentar. Rea telah meletakan kedua telapak tangannya didada Alex dan mendorongnya agar menjauh. Hingga membuat Alex setengah terhuyung kebelakang.
Rea menatap matanya lekat-lekat, ada amarah dan kecewa disana. Seakan begitu terluka dan kecewa. Bukan karena luka tembakan yang ada diperutnya. Tapi karena semua tuduhan Alex yang begitu menyakitinya.
"Aku akan menemukan bukti yang sebenarnya, akan kubuktikan padamu kalau aku tidak bersalah. Dan setelah itu aku akan membunuhmu..," ucap Rea dingin dan beranjak pergi dengan langkah setengah berlari limbung. Tubuhnya segera hilang dibalik pintu dalam sekejap.
Alex merasa sangat bersalah karena telah membiarkannya pergi dalam keadaan terluka parah, dan bisa saja meninggal tanpa satu pun orang yang tahu.
Alex menarik kasar rambutnya, perasaannya merasa gusar. 'Seharusnya aku tidak membiarkan dia pergi. Seharusnya aku melakukan apapun yang aku bisa untuknya.'
AARGHHH.... SIAL!!
'Kenapa aku begitu mencemaskannya? dia adalah pembunuh. Seharusnya aku membencinya. Seharusnya aku senang jika dia mati.'