Rea berlari tersaruk-saruk menembus derasnya hujan malam itu. Entah kemana dia akan melangkah, yang jelas saat itu dia harus secepatnya mengobati luka diperutnya.
Decitan suara mobil yang mengerem mendadak tepat dihadapannya. Menampilkan sosok yang memakai pakaian serba hitam. Dan yang membuat Rea mengenali sosok itu ada sebuah tato elang dipunggung tangannya.
Jack ...
Lirihnya tersenyum saat mengetahui siapa yang datang. Jack datang sebagai pahlawan yang akan menolongnya disaat yang tepat.
"Rea, apa yang terjadi padamu?" tanya Jack sembari membantu Rea masuk kedalam mobilnya. Rea menceritakan semuanya pada Jack. Termasuk tentang tuduhan yang mengarah padanya. Jack sendiri menggeram marah mendengar itu. Jack bahkan bersikap baik pada Alex karena yakin padanya, bahwa dia bisa diajak bekerja sama. Namun ternyata dia salah. Alex memang iblis kejam yang tidak punya perasaan.
"Mulai Sekarang aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi Rea. Si b******k Alex itu harus membayar atas semua perbuatan nya. Bisa-bisanya dia menuduh dengan mengandalkan bukti yang tidak seberapa itu." makinya kesal.
"Kita bisa membunuhnya nanti Jack, untuk saat ini kita harus mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Pasti ada seseorang yang sengaja mengkambing hitamkan aku untuk di jadikan korban, demi kepentingannya sendiri," ucap Rea sembari menahan sakit.
"Kau benar Rea. Tapi sebelum itu, kita harus mengobati lukamu dulu. Kau harus memulihkan tubuhmu, untuk melakukan itu semua. Luka itu pasti akan terasa sakit dan infeksi jika tidak segera diobati."
Rea mengangguk lemah.
'Rasa sakit di tubuh ini tidaklah seberapa Jack. Dibanding rasa sakit dihatiku,' batinya yang terasa begitu terluka. Rea merutuki dirinya sendiri, bahkan sampai saat ini perasaan nya belum juga hilang.
'Betapa kelirunya semua ini. Aku membencinya sekaligus mencinyainya. Rasa ini berkecamuk didalam diriku.'
Rea dilarikan kerumah sakit untuk segera ditangani.
***
Alex terdiam di ruangan kerjanya yang sunyi. Sesunyi suasana hatinya. Pikirannya kosong, tubuhnya kaku. Dia tidak tahu harus melakukan apa.
Menyusun rencana untuk kembali membunuh Rea.
Atau sesuatu yang paling menggodanya sejak tadi yang ditentangnya habis-habisan, mencari Rea?
Dan belum sempat Alex mempertimbangkan pilihannya. Suara ponselnya berdering. Dia segera mengangkatnya dan menempelkan ditelingannya.
"Katakan," ucapnya dingin. Jika saja itu bukan sesuatu yang penting, Alex akan meluapkan segala emosinya pada Roger.
"Ken, kami berhasil menemukan Rea. Saat ini dia dibawa oleh asistennya kerumah sakit," jawab Roger dengan mantap.
Ada perasaan lega didalam diri Alex mendengarnya. Setidaknya dia tidak perlu mencemaskan keadaan Rea, karena telah ada Jack bersamanya. Jack pasti akan melakukan segala cara untuk melindungi Rea.
"Temui aku dimarkas sekarang. Ada yang ingin aku bicarakan."
"Baiklah."
Alex segera mematikan telepon dan berjalan dengan gagah menuju markasnya. Tatapannya masih saja terlihat kosong dan kaku.
Dia telah memasuki markasnya. Menatap kesemua anak buahnya yang telah menunggunya disana. Anak buah Alex menyadari adanya aura yang tidak mengenakan dari bosnya itu. Jika mereka salah bicara sedikit saja maka Alex akan langsung menembak kepala mereka. Suasana hati Alex benar-benar kacau saat itu.
"Aku ingin kalian menyelidiki tentang Louis dan jejak kematian ayahnya. Dan juga tentang Rea dan latar belakangnya. Jangan sampai ada yang terlewatkan. Kabarkan padaku secepatnya jika kalian mendapatkan sesuatu. Dan Roger, kau ditugaskan khusus mengintai gerak gerik Rea," ucap Alex tajam. Dingin dan datar.
Mereka semua mengangguk patuh. Meski terasa begitu miris. Alex yang baru saja berubah menjadi manusia lebih baik dan terasa begitu hidup setelah menemukan Rea. Namun semua itu begitu singkat, saat menyadari keteibatan Rea dalam pembunuhan ayahnya. Ditambah lagi rencana pembunuhan terhadap bos mereka. Anak buah Alex tidak yakin bahwa Alex akan mengampuni seorang penghianat. Tapi meski begitu, mereka semua berharap bahwa hubungan Rea dan Alex akan segera membaik. Karena hanya Rea lah yang mampu merubah Alex yang begitu kejam, menjadi pria yang memiliki hati dan perasaan.
Alex sendiri masih berperang dengan hatinya. Untuk melakukan hal yang bertentangan dengan keinginannya. Rea yang baru saja memberikan warna baru yang cerah dalam hidupnya, kini mengubah nya dengan penuh kegelepan yang membentang.
****
"Rea, kau tidak boleh banyak bergerak. Kau harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisimu," ucap Jack begitu perhatian.
"Tidak Jack. Kita harus mencari informasi dari sipembunuh ayahnya Alex. Kita harus mencari berkasnya di ruangan Rowan." Rea bersikeras.
"Kau beristirahat lah dulu Rea. Kita akan kesana setelah keadaanmu benar-benar pulih. Bagaimana jika ada yang menyerang kita disana. Tempat itu sudah di isolasi, kita berdua adalah buronan para pembunuh disana. Aku yakin Louis telah menyuruh orang untuk menghabisi kita berdua."
Rea berfikir sejenak mempertimbangkan ucapan Jack. Rea tidak bisa membantah. Semua yang dikatakan Jack benar adanya. Jika mereka bertindak serampangan langsung mengorek informasi dari sana. Mereka bisa tertangkap dengan mudah.
Rea mendesah letih. Dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Menunggu sampai tubuhnya benar-benar pulih, adalah hal yang paling menyebalkan. Dia sangat ingin bertindak secepat mungkin untuk menuntaskan semua masalah ini.
"Kenapa kau begitu baik padaku Jack. Aku tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang membuatmu berhutang jasa padaku."
Rea menyipitkan matanya menatap Jack yang sepertinya tergagap. Pertanyaanya seakan berpengaruh pada Jack, sehingga membuatnya seperti salah tingkah. Entah mengapa Rea merasa seperti ada yang disembunyikan Jack.
"Aku hanya ingat pada adik perempuanku. Saat melihatmu, aku teringat padanya. Kau sangat mirip dengannya, " jawabnya penuh arti
"Adikmu? Siapa? Kau tidak pernah menceritakannya padaku?" tanya Rea lagi. Kali ini Jack menghela nafas panjang.
"Nanti saja aku ceritakan, sebaiknya kau istirahat saja dulu."
"Tidak Jack. Aku ingin mendengarnya. Katakanlah!"
Jack menatap lurus kedepan seakan sedang mengingat masalalu nya.
"Namanya Rea . Sama seperti nama depanmu. Dia cantik, dia baik, dia anak yang periang dan ceria. Saat itu dia berumur kurang lebih 3 tahun. Masih sangat kecil. Keluargaku diserang, mereka membunuh ayah dan ibuku. Saat itu ayah menuruhku membawamu pergi dengan melewati lorong rahasia bawah tanah. Aku menggendongnya dan berlari sekuat tenaga, namun sayangnya para pembunuh itu berhasil menemuiku. Menyadari kehadiran mereka yang semakin dekat. Aku langsung mengambil tindakan menyembunyikan Rea di dalam sebuah boks kayu. Mereka berhasil menangkapku. Dan sejak kejadian itu, aku tidak tahu lagi bagaimana kabar adikku. Bagaimana keadaannya. Apa dia masih hidup saat ini atau malah sebaliknya."
Rea melihat wajah Jack yang bermuram sedih. Raut wajah kerinduan pada adiknya. Entah mengapa, ada sesuatu didalam diri Rea merasa begitu prihatin padanya.
"Jika kau ingin bertanya bagaimana aku bisa sampai ditangan Rowan. Dia membebaskanku dari penjahat itu. Lalu menjadikan aku budaknya," ucapnya santai seakan itu bukan masalah penting baginya.
Rea tertegun mendengarnya. Dalam Sejenak Rea memperhatikan sikapnya yang sangat bertentangan jika berhadapan dengan orang lain. Jack akan bertindak kasar dan kejam. Sedangkan jika berhadapan dengannya, Jach berubah jadi begitu lembut dan penuh perhatian.
"Kalau begitu anggap saja aku sebagai Rea, adikmu. Aku akan sangat senang dengan hal itu."
Jack tersenyum penuh arti menanggapi ucapan yang keluar dari mulut Rea. Mengangguk pelan sebagai jawaban Ya.