PENJAHAT KECIL

1005 Kata
Rea, apa kau yakin kita akan memulai misi kita malam ini? Maksudku, apa kondisimu benar-benar sudah pulih." "Tenang saja Jack. Aku sangat siap untuk malam ini, Kita akan menemukan petunjuk disana," saut Rea santai dengan senyuman khasnya yang menawan. Sembari memilih senjata yang cocok untuknya malam ini. "Tidak semudah itu Rea... Aku khawatir Alex akan memerintahkan anak buahnya untuk mengepungmu disana. Alex pasti sudah mengetahui rencana kita." Rea kembali menyunggingkan senyuman sinisnya. "Serahkan semua itu padaku Jack. Bahkan dalam mimpinya sekalipun, dia tidak akan bisa menangkapku." Jack menghela nafsnya. Seolah tidak punya pilihan lain, selain mengikuti kekeraskepala an Rea. ~ Alex duduk dikursi kebesarannya sembari melihat hasil penyelidikan anak buahnya. Matanya menatap fokus kesosok Rea yang terbaring lemah dirumah sakit. Bahkan sedang sakitpun wajahnya masih saja terlihat cantik. Alex tidak memungkiri hal itu. Tunggu dulu... Kenapa aku jadi memikirkan wanita itu. Dia sudah menghancurkan keluargaku. Sudah saatnya aku menangkap dan menghukumnya, batin Alex. Kembali mengingat tentang kematian ayahnya. Sehingga hal itu membuat emosinya kembali tersulut. "Master, mata-mata kita mengatakan bahwa Rea akan kemarkas Rowan untuk melakukan sesuatu. Aku rasa ini saat yang tepat untuk menangkapnya," ujar Roger tegas. "Kalau begitu lakukan seperti yang telah kita rencanakan sebelumnya. Lumpuhkan dia dengan gas beracun yang biasa kita gunakan," ujar Alex tegas. Roger mengangguk mantap. "Kau tidak akan bisa lari lagi setelah ini Rea... Aku akan menghukummu. Dan hukuman terbaik hanyalah kematian," gumamnya menatap lurus kedepan. Alex telah menyiapkan semua rencana dengan matang, hingga menurutnya Rea kali ini tidak akan bisa berkutik. Bahkan untuk melarikan diri akan sangat sulit, karena pengaruh gas beracun. ~ Rea telah berada didepan markas Rowan, dan langsung menyelinap masuk kedalam. Sementara Jack, berada diatas gedung pencakar langit lainnya, untuk memantau pergerakan lawan. Jika anak buah Alex atau siapapun yang mulai memasuki area itu, maka Jack akan langsung memberitahu pada Rea, melalui alat komunikasi kecil yang berada didekat telinga mereka. Rea terus berjalan hingga memasuki ruangan pribadi Rowan. Sejauh ini Rea belum menemukan gerak-gerik lawannya. Sepertinya tidak ada yang mengikutinya malam ini, namun Rea tetap waspada, karena bisa saja ini adalah permainan musuh untuk menjebaknya. Rea membuka satu persatu berkas anak buah Rowan disana, mata Rea terpaku pada sosok pria bernama Jonathan. Rea yakin pria itu adalah salah satu pembunuh yang diperintahkan oleh Rowan, Namun sayangnya bukti itu belum cukup kuat untuk membuktikan bahwa benar Jonathan yang membunuhnya, atau orang lain. Tapi meski begitu, Rea mengambil berkas itu dan membawanya, dia akan memeriksanya lagi nanti. Baru saja Rea ingin melangkah keluar, pintu itu sudah dibuka dengan paksa. Seiring dengan pemberitahuan dari Jack. ("Rea gawatt... Anak buah Alex telah masuk kesana menggunakan helikopter kedap suara, hingga aku tidak menyadari kehadiran mereka yang secara tiba-tiba. Aku akan segera kesana membantumu.") Rea langsung menyela ucapan Jack. ("Tidak Jack, jangan kesini. Tetaplah pada posisimu, dan bidik lawan dari sana. Aku tahu bagaimana cara menghadapi ini.") Rea langsung memutuskan sambungannya, disaat Jack ingin menyelanya. Pintu sudah terbuka lebar, namun Rea tetap menjaga suara langkah kakinya. Untungnya ruangan Rowan memiliki rak buku yang tersusun sejajar sehingga Rea dengan mudah mencari tempat persembunyian disana. "KELUARLAH REA... KAMI TAHU KAU ADA DISINI," teriak Roger tegas. Rea tentu mendengar jelas hal itu. Namun gerakannya semakin mengendap-endap dibalik rak-rak buku. Namun tubuhnya tidak sengaja menyenggol sebuah buku, hingga jatuh membunyikan suara yang cukup terdengar jelas. DORR Satu tembakan dari Roger melesat kearah rak-rakan tempat persembunyian Rea. Untungnya Rea segera menghindar, dan menuju tempat lain. Disana Rea menemukan pintu keluar jalan lainnya, tanpa berfikir lagi, Rea keluar melalui pintu itu. Roger menyadari pergerakan disana langsung mengejar Rea dengan sesekali menembakkan senjatanya. Rea menyelinap kesetiap sudut, sampai akhirnya dia berada diujung gedung terbuka. Jika dia mundur beberapa langkah saja maka dia akan jatuh dari ketinggian. Rea membalikan tubuhnya melihat kebawah, jika dia sampai jatuh maka bisa dipastikan dia mati seketika. Sialnya sebuah pistol telah mengarah pada dirinya dari belakang dan menampilkan sosok Alex yang mengacungkannya dengan raut wajah dinginnya. "Kau tidak punya pilihan Rea... Aku sudah membaca setiap pergerakkanmu. Kau telah dikepung. Menyerahlah!!" ucapnya dingin dan datar. Rea juga menatapnya tidak kalah dingin. Lalu langsung mengubah ekspresinya dengan tersenyum sinis. "Menyerah? Itu tidak ada dalam kamus hidupku. Untuk menangkapku, bukan hanya sulit. Tapi juga mustahil...." Rea berucap sepelan mungkin namun masih bisa didengar oleh Alex. Entah kenapa dalam situasi seperti itu Alex bahkan membeku. Segala sesuatu tentang Rea membuat otaknya seolah berhenti berfikir. Dendam dan Cinta masih saja berseteru didalam hatinya. Sampai Alex lebih banyak diam seperti orang kebingungan. Belum sempat Alex mencegahnya, Rea telah melompat dari gedung itu dengan begitu lincah. Alex berlari ingin menggapainya, namun sayangnya gerakan Rea terlalu cepat. Alex melihat kebawah, apakah dia benar jatuh atau mendarat dimana. Namun Alex sepertinya tidak melihat Rea yang jatu dari ketinggian. ("Dimana wanita itu?") pikirnya. Alex segera menghubungi Roger untuk mencari keberadaan Rea. Yang masih berada didalam sana. "Roger, cari Rea kesetiap sudut. Dia pasti masih ada disekitar tempat ini." Roger menyauti dengan tegas. "Master, kami tidak menemukan Rea dimana-mana," ucap Roger dengan nafas yang memburu. Alex menggeram kesal dan mengeluarkan semua jenis umpatan dari dalam mulutnya. Alex bahkan meninju tembok hingga punggung tangannya terluka, karena amarah. Tidak pernah dia sesulit ini dalam menghabisi lawannya. Rea adalah musuh tersulit yang pernah dia hadapi. Kelincahan dan kecerdasan Rea mampu mengelabuinya dengan mudah. Wajar saja jika Rowan selalu membanggakannya. "Keluarkan rencana ke dua, yaitu gas beracun. Sebarkan kesetiap sudut. Buat dia sendiri yang menghadapku, dan berlutut dihadapanku." Alex berucap dengan dingin, raut wajahnya merah padam karena amarah. giginya bahkan menggeretak karena begitu geram. "Baik master." ("Kali ini kau tidak akan bisa lolos Rea. Nafasmu akan tercekat jika tidak segera meminum penawarnya dariku. Akan aku tunjukan padamu siapa aku sebenarnya. ") gumamnya dengan mata menatap tajam. Roger telah menjalankan tugasnya sesuai rencana mereka. Gas beracun telah tersebar disetiap sudut. Hanya menunggu beberapa menit, Rea akan menampilkan batang hidungnya dihadapan mereka, karena terbatuk-batuk serta nafas yang tercekat. Gas itu juga sangat berbahaya jika terlalu lama terhirup, seseorang bisa mengalami gangguan pada saraf dan melumpuhkan otaknya. "Ayo munculah kau penjahat kecil. Aku ingin melihat Bagaimana wajahmu saat kesakitan." BERSAMBUNG ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN