Sudah 30 menit lebih Alex menunggu kehadiran Rea, namun dia tidak kunjung menampakkan diri. Alex menatap kesetiap sudut ruangan namun tak ada pergerakkan sedikitpun. Matanya menatap penuh selidik.
("Apa kau mencariku?")
Alex dan anak buahnya mencari sumber suara kesemua arah. Lalu tatapan mereka tertuju pada sebuah alat komunikasi yang sengaja ditinggalkan Rea disana, dengan memasang pengeras agar terdengar jelas oleh mereka.
"Kurang ajar!" Rea terkekeh mendengar makian dari Alex yang terdengar kesal. Seolah itu adalah hiburan yang menyenangkan baginya.
("Heheh... Sudah kukatakan kau tidak akan bisa menangkapku, meski hanya dalam mimpimu Tuan Dam Vaste sang pemimpin Faster killer Yang hebat.") Rea kembali terkekeh seakan julukannya itu terdengar sangat lucu.
"b******k! Bagaimana bisa kau keluar dari sini, sialan!" Alex kembali memaki dan Rea tertawa sinis mendengarnya.
("Apa kau lupa, bahwa kau pernah memberikan aku penangkal racun dari gas yang kau sebarkan itu! Aku bahkan belum sempat memakainya waktu itu, dan kini aku berterimakasih padamu, karena aku sudah memakainya. Itu sangat berguna bagiku. Bahkan gas itu sangat menguntungkanku, karena dengan mudah aku kabur, saat semua ruangan telah dipenuhi asap tebal. Sekali lagi terimakasih atas rencanamu.") ujarnya dengan begitu santai sembari berjalan menuju mobil Jack yang telah menunggunya.
"Jangan main-main denganku Rea, aku pasti akan menangkapmu hidup-hidup dan kau akan berlutut dihadapanku." Alex berucap begitu tajam dan dingin, jika saja lawannya bukan Rea, mungkin mereka akan bergidik ketakutan.
("Sepertinya kau harus memikirkan kembali rencanamu yang lainnya, karena aku bisa dengan mudah memprediksinya. Kau harus ingat satu hal bahwa aku tidak seperti musuhmu yang lainnya, aku tidak Bodoh! Camkan itu!!") Rea sengaja menekankan ucapannya, agar emosi Alex kembali tersulut. ("Sekarang lihatlah kebawah,") ujarnya sembari mematikan penghubung alat komunikasi itu dan membuangnya. Rea melihat keatas, Sesuai dugaannya Alex telah melihatnya juga dari sana. Meski jarak mereka begitu jauh, namun Alex masih bisa merasakan getaran aneh didalam dirinya yang masih menginginkan wanita itu. Namun semua itu langsung buyar saat melihat Rea tersenyum sinis dan berjalan mendekati mobilnya sembari mengacungkan jari tengahnya pada Alex. Rea langsung menutup pintu mobil itu dengan kuat dan mobil itupun melesat begitu cepat. Hingga Alex tidak sempat untuk mengejarnya.
"s**t!" maki Alex meninju-ninju tembok disana Karena begitu kesal.
"ROGER... Kerahkan semua anak buah kita untuk mencari keberadaan Rea. Kali ini jangan sampai lolos."
"Baik master!!" Roger sedikit takut melihat raut wajah Alex yang nampak mengerikan dengan gigi menggertak dan rahangnya yang mengeras. Titik suhu yang kian memuncak. Suaranya bagai petir yang menggelegar. Membuat para anak buahnya ketakutan.
~***~
"Rea, apa kau berhasil mendapatkan sesuatu?" Jack berucap sembari mengemudi dan tatapan fokus kejalan.
"Tentu saja. Aku menemukan berkas tentang anak buah Rowan yang bekerja padanya sepertiku. Namanya Jonathan, aku mengenalnya," saut Rea sembari melihat kembali berkas itu.
"Tapi bukan berarti dia yang melakukannya Rea. Bisa saja orang lain."
"Kau benar. Tapi setidaknya kita harus menyelidikinya terlebih dulu Jack. Siapa tahu Jonathan ini mengetahui sesuatu. Atau mungkin dia juga terlibat. Siapa tahu?" ujar Rea mengangkat bahunya.
Jack nampak berfikir sejenak. "Tapi Alex tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan melakukan segala cara untuk menangkapmu Rea. Alex saat ini pasti sedang merencanakan sesuatu." Jack tahu benar dengan pemimpin mafia yang kejam seperti Alex. Dia tidak akan berhenti sebelum lawannya mati.
"Sebelum aku menemukan bukti bahwa aku tidak bersalah. Aku tidak akan menyerah Jack. Alex harus membayar setiap perbuatannya Yang melukai perasaanku." Rea berucap dengan wajah datarnya.
"Apa kau masih menyukainya?"
Rea tersentak mendengar pertanyaan Jack. Pikirannya seolah kalang kabut, bagaimana mencari kata-kata untuk menyela.
"Aku tidak tahu Jack," ujarnya lemah. "Aku sendiri bingung, bagaimana mengatasi kegilaan ini. Semakin aku membencinya maka semakin dalam pula aku mencintai nya. Kau mungkin berfikir bahwa aku adalah manusi paling bodoh yang menyukai orang yang sangat menginginkan kematianku. Tapi seperti yang kita tahu, bahwa hati juga tak bisa untuk dipilih dimana dia akan berlabuh."
"Aku mengerti. Tapi sebaiknya kau buanh jauh-jauh perasaanmu iti Rea. Karena itu akan menyakiti dirimu sendiri. Dan pastinya akan membuatmu lemah. Bisa-bisa kau akan mati ditangannya," ujar Jack tegas dengan peringatan yang jelas. Rea diam sejenak mencerna setiap ucapan Jack yang cukup masuk akal.
Jika Alex mengetahui perasaannya. pasti Alex akan menjadikan itu senjatanya yang paling ampuh untuk mengelabui Rea.
"Kau benar Jack. Aku akan berusaha menghilangkannya mulai sekarang. Meski itu sulit."
~
"Master, Rea sepertinya sedang menyelidiki seseorang yang pernah menjadi anak buah Rowan." Roger berucap kaku seperti robot.
"Biarkan saja," saut Alex sembari menyeruput kopinya.
Roger sempat bingung dengan penuturannya. Bukankah dia ingin segera menangkap Rea? tapi kenapa dia tidak mengambil kesempatan ini? pikirnya.
"Rea bukan musuh biasa. Dia begitu licik dan lincah, namun selincah apapun seekor kelinci maka dia akan jatuh juga. Biarkan dia menjalankan misinya. Kita harus sabar sampai dia lengah dan tidak menyadari kehadiran kita. Barulah aku akan muncul dihadapannya sebagai malaikat kematian baginya." Alex berucap dengan nada dingin serta aura yang mencekam. Roger mengangguk mengerti dengan maksudnya.
"Kalian hanya perlu memantau terus setiap pergerakkannya. Aku akan bertamu padanya nanti malam, dan membuatnya mengingat dengan jelas wajahku. Akan kubuat dia menyesal Karena telah bermain-main denganku."
"Kau ingin bertamu? Bagaimana caranya?"
"Kau lihat saja bagaimana permainanku nanti," Alex menyunggingkan senyuman liciknya.
Berkat anak buah Fastest killer dengan mudah menemukan tempat persembunyian Rea saat ini. Alex bahkan telah menyelidiki seluk beluk tempat itu, hingga dia akan sangat mudah menyelinap masuk kesana. Namun Alex harus bersabar sampai menunggu waktu yang tepat.
Dan malam inilah waktu yang tepat itu. Disaat Jack akan pergi menemui Jonathan Sementara Rea menunggu sendirian di tempat persembunyian nya.
Rea akan kelabakan karena kehadiran ku disana. Aku ingin melihat kali ini bagaimana caranya untuk melarikan diri dari cengkramanku.
Alex membuka kotak kecil yang berisikan sebuah suntikan cairan pelumpuh otak. Dan penawarnya hanya ada padanya. Alex biasa melakukan senjata biologis ini pada musuh sesama mafia yang bertindak curang dan mengganggu bisnis terlarangnya.
"Apa kau akan menyuntikkan itu pada Rea?" tanya Roger sedikit takut.
"Ya,"sautnya singkat. "Hanya ini cara Satu-satunya untuk membuat Rea merasa tak berdaya dan bergantung padaku. Aku akan membunuhnya secara perlahan, hingga dia akan mengingat dengan jelas bagaimana detik- detik kematiannya," ucap Alex dengan arogan dan begitu yakin akan rencananya. Melumpuhkan Rea dan membuatnya tak berdaya.
BERSAMBUNG ......
JIKA SUKA JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK TERBAIK KALIAN YA