MASUK KEMOBIL PRIA ASING

1190 Kata
Rea membuka semua pakaiannya dan berjalan kearah bathup untuk berendam dan membuat pikirnya sedikit tenang. Rea menengadah keatas menikmati guyuran shower Yang menghujaninya tiada henti. Sekelebat bayangan tentang Alex masih terngiang dipikirkannya. Shit!! bahkan dia tidak ingin lari dari pikiranku. Bodoh! apa yang aku harapkan dari pria sepertinya. Pria bodoh itu hanya akan membuatku lemah. Cinta konyol ini hanya akan membuatku semakin tidak terkendali. Dan aku benci mengakui bahwa sampai saat ini aku masih mencintainya. Klak Pikiran Rea teralihkan saat mendengar suara dari dalam kamarnya. Matanya menatap penuh waspada pada sekeliling tempat. Takut seseorang berhasil menyelinap masuk. "Jack?" Rea segera memakai handuk kimononya dan keluar dengan langkah waspada mengedarkan pandangan diseluruh kamarnya yang nampak gelap. Sepertinya ada yang sengaja mematikan lampunya, batin Rea. "Jack?" Rea kembali memanggil Jack, Namun masih tidak ada sautan apapun. Rea berjalan dengan meraba-raba untuk mencapai laci didekat tempat tidurnya untuk mengambil pistolnya. Namun belum sempat dia kesana lampu kamar telah menyala dan menampilkan sosok pria bermanik kelabu sedang menatapnya dalam. Pria yang selalu memenuhi pikirannya, bahkan sampai saat ini. Dan pria itu jugalah yang membuat Rea kembali menjadi sosok wanita berdarah dingin. "Apa yang kau lakukan disini? Apa kau ingin menghantarkan nyawamu?" Rea menatapnya dengan bersidekap, seolah tidak merasa terancam sama sekali. Karena memang Alex bukanlah sebuah ancaman baginya. Alex terkekeh mendengar ucapannya yang sangat berani itu. Tentu tidak ada yang pernah memperlakukan Alex seperti ini sebelumnya. Musuhnya sendiri sudah dipastikan lari terbirit-b***t jika melihatnya. Mereka akan memohon agar Alex membebaskannya dan tidak membunuhnya. Tapi Rea... wanita ini dengan berani memenantangnya tanpa peduli keadaan dan kondisi yang sangat tidak memungkinkan. Alex bahkan menyeringai melihat penampilan Rea yang hanya dengan sekali tarikan saja, handuk yang melekat ditubuhnya akan tersingkirkan. Digantikan oleh tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun. Namun entah mengapa Alex tidak ingin melakukan hal seperti itu. Alex mendekatinya secara perlahan. Dengan tatapan dalam sekaligus tajam yang Rea sendiri tidak tahu apa arti dari tatapan tersebut. Sontak Rea memundurkan tubuhnya dan menatap waspada pada pria yang memiliki mata kelabu itu. Tatapannya yang tajam membuat Rea gugup namun bukan ketakutan hanya sebuah rasa yang sulit untuk dia sendiri artikan. Alex semakin mendekatinya sampai tubuh Rea tedesak kedinding. Tangan Alex mengunci tubuh Rea agar tidak bisa kabur, Sementara tangan yang satunya menyelinap masuk kedalam handuk kimono yang Rea pakai. Tangan hangat yang menyentuh kulitnya membuat Rea terkesikap dan langsung memberontak dari kurungan tangan Alex. Namun hal itu sia-sia. Alex semakin mendesak tubuh Rea hingga tubuh mereka bersentuhan. Rea membuang wajahnya, mencoba untuk menghindari tatapan Alex yang akan membuatnya terjebak didalamnya. Namun hal itu justru membuat leher putih Rea terekspos sempurna. Hingga membuat Alex menelan salivanya berkali-kali. Menahan sesuatu didalam dirinya yang ingin dituntaskan. Alex mendekatkan wajahnya, sengaja berbisik ditelinga Rea. "Aku datang untuk menghukummu Rea...," ucapnya sengaja dengan nada sensual. Rea memejamkan matanya sejenak, menikmati gembusan nafas yang lembut dikulitnya hingga membuatnya seakan tergelitik. Alex menyunggingkan senyumannya melihat reaksi Rea yang diluar dugaannya. Dan segera mengelurkan suntikan yang telah dia siapkan. Untungnya Rea melihat suntikan itu dan langsung menerjang area pribadi Alex yang membuatnya terhuyung kebelakang dan meringis kesakitan. "Hanya dalam mimpimu jerk," Rea segera memencet tombol rahasia pada tembok itu, dan membuat tembok itu berbalik, membawanya keruangam rahasia yang telah disiapkan oleh Jack sebagai pelarian disaat situasi genting. Alex mengumpat kesal sembari menahan area selangkangannya yang terasa nyeri akibat tendangan Rea. *** Rea melihat dirinya sendiri dan baru menyadari bahwa keadaan dirinya sangatlah memalukan. Bagaimana bisa dia keluar dari sana hanya dengan mengenakan handuk seperti ini. Orang-orang pasti akan melayangkan tatapan lapar padanya. Rea berlari menuju lift menekan tombol untuk menuju lantai bawah dan segera kabur dari sana. Tidak perduli tatapan orang-orang yang aneh melihatnya dengan menggunakan handuk mandi yang masih melekat ditubuhnya. Ditambah lagi rambutnya yang masih basah dan acak-acakkan. Sialnya saat hampir sampai diloby, Rea melihat beberapa anak buah Alex yang sedang berjaga disana. Rea sadar pastinya Alex memerintahkan anak buahnya mencegatnya saat disana. Shit! Rea mengumpat kesal, karena berada situasi yang sangat rumit kali ini. Matanya melihat seseorang yang ingin masuk kedalam mobilnya. Tanpa pikir panjang Rea masuk kedalam mobil itu dengan cara mengendap-endap. Nampak seorang pria sedang sibuk menelfon seseorang. Hingga tidak menyadari adanya penyelinap yang masuk kedalam mobilnya. Pria itupun menutup telponnya dan segera masuk untuk pergi dari sana. Rea menundukan tubuhnya saat mobil itu melesat melewati beberapa anak buah Alex yang berjaga seperti robot kaku disana. Merasa situasi sudah cukup aman. Rea memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan mendesah lega. Pria yang membawa mobil itu langsung menekan rem secara mendadak saat menyadari kehadiran Rea didalam mobilnya. Membuat Rea sadar bahwa dia dalam situasi tidak kalah genting saat ini. Berada didalam mobil orang tanpa permisi. "APA YANG KAU LAKUKAN DIDALAM MOBILKU." pria itu membentak dengan suara yang terdengar keras. "Em, aku sedang... Kabur dari orang jahat. Ya, orang itu ingin membunuhku, jadi... Aku tidak punya lain dan terpaksa kabur dengan menyelinap kesini," ucap Rea terbata. "Keluar dari mobilku sekarang juga," ujarnya dingin. "Ck, Aku tidak bisa turun disini. Ini belum terlalu jauh dan masih tidak aman bagiku." "Aku tidak perduli. Keluar sekarang juga!!" "Aku tidak mau. Maksudku... Aku tidak bisa. Tolong, jangan turunkan aku disini. Lihatlah... Aku bahkan masih memakai handuk mandi. Akan sangat berbahaya jika aku berada dijalanan dalam keadaan seperti ini." Rea nyaris memelas memohon pada pria itu. Pria yang memiliki manik mata yang hitam itu menyipitkan matanya, melihat keseluruh tubuh Rea seakan mengulitinya. Lalu menyunggingkan senyuman sinisnya. "Kau pikir berada didalam mobilku, tidak berbahaya huh, kita lihat saja," ujarnya langsung menjalankan mobilnya kembali dengan kecepatan penuh. Untungnya Rea sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, sehingga mobil yang dia tumpangi melesat dengan cepat sama sekali tidak membuatnya takut. Itu adalah hal yang biasa baginya saat berkejar-kejaran dengan musuh. Pria bermanik hitam itu kembali menatap Rea. Kali ini dengan pandangan heran. (Siapa wanita ini sebenarnya? Kenapa dia tidak terlihat takut?) batinya. Sampai akhirnya mereka sampai disebuah Panthouse pribadi milik pria itu. "Kau tinggal disini?" ujar Rea menatap kesekeliling tempat itu. Pria itu memperhatikan gerak gerik Rea. "Siapa kau? Kenapa kau sampai dikejar dan ingin dibunuh?" tanya pria itu. "Aku Rea. Seseorang mengincar nyawaku karena sebuah kesalah pahaman," jawabnya singkat. Karena Rea tidak mungkin menceritakan siapa dirinya pada orang asing. "Terimakasih, karena telah membantuku. Siapa namamu?" Pria itu diam sejenak sebelum menyebutkan namanya. "Richard, panggil saja Richard." sautnya datar. "Baiklah Richard terimakasih." "Hanya terimakasih? Aku tidak suka menolong orang secara gratis nona." wajahnya kini berubah mengerikan. Sementara Rea pun berubah menjadi dingin menatapnya. "Aku tahu tidak ada yang gratis didunia ini, jadi... Aku akan membantumu jika kau butuh sesuatu." Pria yang bernama Richard itupun tertawa mengejek. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku? Selain menjadi penghangat ranjang! Wanita asing yang beraninya masuk kedalam kandang singa." Rea mendekati pria itu secara perlahan. Menggerakan jemarinya didada Richard dengan gaya sensual. Dan menatapnya dengan pandangan nakal. Lalu Rea terkekeh dihadapannya. Menatap dengan sorot menggoda serta senyuman sensualnya. Siapa yang bisa menolak pesona sicantik Rea apalagi dengan penampilan begitu sexy seperti ini. "Aku bahkan bisa membunuhmu jika kau mau," ujarnya sembari mengacungkan pistol yang dia dapatkan dari saku celana saat mendekati Richard tadi. Richard terbelalak kaget. Melihat pistol itu telah berpindah ketangan Rea. "Kau....!" BERSAMBUNG ......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN