SUDAH BIASA MENGHADAPI BAHAYA

1091 Kata
Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu," ujar Rea sembari mengikat Richard dikursi. "Aku hanya ingin kau diam disini, sebelum aku pergi." Richard mendengus mendengarnya. "Kau akan menyesal Karena telah berurusan denganku!" ujarnya dengan tatapan kesal. Rea mengangkat bahu seolah tak perduli. "Aku sudah biasa menghadapi bahaya. Jadi... Jangan mengancamku, karena itu tidak akan membuatku takut," ucap Rea begitu tenang dan santai. Namun matanya tetap menatap awas. Rea berdiri setelah selesai mengikat Richard dengan kuat. Menatap pria itu dengan angkuh sebelum berucap: "Apa kau punya pakaian untuk wanita? Maksudku, mungkin kau menyimpan pakaian ibumu, istrimu atau pacarmu terserahlah." Richard ingat bahwa pacarnya pernah meninggalkan pakaiannya dikamar lalu memberitahu Rea dengan malas. Rea langsung menuju kamar Richard mencari pakaian yang dia maksud. Tatapannya tertuju pada gaun hitam yang sangat sexy dan pendek, dia seakan jijik menatapnya namun dia tidak punya pilihan lain dari pada memakai handuk kimono terus kemana-mana. Richard berusaha membuka ikatan tali yang menjerat tubuhnya. Hanya dengan sekali hentakkan tali itu terlepas. Tubuhnya yang kekar membuat ikatan itu bukan apa-apa jika saja Rea tidak menodongkan pistol kekepalanya. Pandangan Richard langsung mengarah pada kamarnya. Richard mendekati nya secara perlahan dengan mengambil pistol yang dia simpan, sembari terus waspada. Richard menendang kasar pintu kamarnya mendapati kamar itu telah kosong. "Sial ... Kemana wanita itu?" lalu pandangan nya jatuh pada sebuah jendela besar yang terbuka lebar. Richard berlari mendekati jendela itu melihat kebawah. Tangannya mengepal saat melihat Rea yang telah kabur dengan menaiki sebuah taxi. "Sialan! Aku akan mendapatkanmu wanita sialan." Richard memaki kesal. Baru kali ini ada seorang wanita yang berani mempermainkan dirinya. Harga dirinya seakan tercoreng. Dia benar-benar merasa terhina oleh wanita asing yang membuatnya cukup penasaran dan merasa tertantang. *** Rea bernafas lega, saat berhasil kabur dari kediaman Richard. Dia ingat saat melangkah keluar kamar dan mendapati Richard yang telah berhasil melepaskan ikatannya dan memegang pistol. Rea terlalu malas untuk menghadapinya, hingga dia memilih melompat keluar jendela dan kabur. "Mau kemana nona?" tanya supir itu membuyarkan lamuman Rea. Rea sendiri bingung, dia bahkan tidak punya uang untuk membayar supir itu. "Pak, sebenarnya aku terlibat masalah. Bisakah kau pinjamkan aku ponselmu, untuk menghubungi temanku?" Supir itu mengangguk pelan dan memberikan ponselnya. Rea segera mengambilnya dan memencet tombol angka untuk menghubungi Jack. Panggilan tersambung. "Jack? Ini aku Rea!" "Rea? Kemana saja kau? Aku mencarimu kemana-mana." Jack berucap dengan cemas. "Nanti akan aku ceritakan padamu. Sekarang temui aku di pusat kota, ditempat biasa," "Baiklah." Rea segera menutup telponnya dan mengembalikan pada supir itu. "Terimakasih pak, antar aku kepusat kota," "Baik nona." Mobil itu melesat cepat hingga sampai ketujuannya. Untungnya Jack telah siaga menunggunya disana. "Rea, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir. "Aku baik-baik saja. Sekarang bayar dulu uang taxinya." Jack membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang pada supir itu. Dan kembali mendekati Rea yang nampak kacau. "Apa yang terjadi padamu Rea? Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?" Jack bertanya bertubi-tubi hingga Rea mendesah letih, dari mana dia akan memulai ceritanya. Namun Rea memilih untuk menceritakan semuanya dari awal, sejak kedatangan Alex di Apartemen mereka. "Sekarang apa yang harus kita lakukan?" "Menemui Jonathan!" saut Rea datar. "Kau sudah mendapatkan informasi mengenai dia kan?" "Ya, sebenarnya saat ini adalah waktu yang tepat untuk menemuinya. Dia sedang berada di sebuah Club malam terdekat." "Bagus. Ayo kita temui dia. Tapi... Aku harus memperbaiki penampilanku dulu," ujarnya lagi. Jack mengerti apa yang dia butuhkan dan segera menghantarnya kebutik terdekat untuk mengganti pakaiannya. Rea telah mengubah penampilannya dengan kemeja putih dan jeans hitam. Tidak lupa kaca mata hitam untuk sedikit menutupi dirinya dari anak buah Alex yang mengincarnya. Namun Rea masih saja terlihat cantik dengan penampilannya itu. Mereka telah berada disebuah Club untuk mencari keberadaan Jonathan. Rea mengedarkan pandangannya mencari-cari keberadaan pria itu. Namun sangat sulit untuk ditemukan. Rea berjalan dengan kaca mata yang melekat, membuat beberapa orang menatapnya heran. Pria yang dicari-carinya ternyata berada diruangan pribadi bersama seorang wanita. Jack baru saja memberikan informasi padanya. Tanpa menunggu lagi, Rea langsung memasuki ruangan itu. Membukanya secara paksa dan melihat adegan yang membuatnya jengah. Apa lagi jika bukan bercinta dengan w************n disana. Rea menatapnya jijik seakan melihat sebuah kotoran. "Siapa kau?" Jonathan menatap tajam kearah Rea, karena telah mengganggu kesenangannya. "Rea membuka kaca matanya. Jonathan terbelalak melihat rekan kerja sesamanya dulu berada dihadapannya saat ini. "Apa yang wanita ini lakukan disini? Apa dia ingin membunuhku?" batinnya. Jonathan memberi isyarat pada wanita yang bergelayut padanya untuk pergi dulu sebentar meninggalkan dia bersama Rea disana. Wanita itupun memutar bola matanya dan menatap sinis kearah Rea. Lalu melenggang pergi dengan begitu angkuh. Sementara Rea hanya menatapnya sekilas dengan ekspresi datar. Rea membuang wajahnya selagi Jonathan mengenakan pakaiannya. "Katakan, Kenapa kau mencariku?" Jonatahan berdiri dengan tatapan waspada. "Duduklah Jo," saut Rea sembari duduk dengan santai disana dengan menyilangkan kakinya. Jonathan mengikutinya dengan memilih tempat duduk yang berhadapan dengannya. Jarak mereka hanya dihalangi sebuah meja disana. "Aku hanya ingin mengorek sedikit informasi darimu?" "Informasi apa?" "Informasi tentang kematian keluarga Dam Vaste." Jonathan diam sejenak, "Aku tidak tahu. Jika tidak ada urusan lain, maka pergilah. Aku sibuk," ucapnya ketus. Rea menatapnya seakan mengintimidasi dan membuatnya sedikit gugup. "Aku tidak tahu apapun Rea. Lagi pula, aku sudah tidak bekerja dengan Rowan lagi. Dia sudah mati!" "Aku tahu," saut Rea dengan tenang. Jonathan menyipitkan matanya, seakan ada yang aneh dari wanita ini. "Tentu saja aku tahu Jo. Karena akulah penyebab kematiannya," ucap Rea kali ini dingin dengan sedikit senyuman sinis. Jonathan kembali dibuat kaget oleh ucapannya. "Ba-bagaimana bisa ka-u..." "Tentu saja bisa. Aku seorang pembunuh, hal seperti itu sudah biasa bagiku. Dan sekarang... Giliranmu... "Aku tidak takut padamu Rea. Kau tidak bisa menyerangku disini." Jonathan sedikit gugup mengucapkannya. Membuat Rea terkekeh. Rea beranjak sembari mengitari tubuh Jonathan yang nampak marah. Tanpa diduga, Rea menancapkan jarum suntik di leher pria itu, hingga Jonathan merasakan sensasi seperti kesemutan. "Sialan... apa yang kau lakukan padaku?" murka Jonathan mencengkram leher Rea dan menatapnya tajam. "Bukan apa-apa. Hanya racun pelumpuh dengan dosis kecil. Sayangnya, Dalam waktu 30 menit, kau akan tewas jika tidak mendapatkan penawarnya segera dariku," ucap Rea tersenyum miring. "Kau... wanita sialan. Berikan penawar itu padaku sekarang!" bentaknya keras. Pria itu nyaris frustasi dengan perbuatan Rea yang bermain-main dengan nyawanya. Dia bahkan rela berhenti dari pekerjaan seperti itu hanya demi menjauhkan diri dari maut. Dan kini Rea datang hanya untuk bermain-main dengan nyawanya. Rea menerjang tubuhnya hingga terpental. "Tidak, sebelum kau mengatakan yang sejujurnya tentang kasus kematian keluarga Dam Vaste. Dan apa motif mereka." Jonathan semakin kesal, namun dia tidak bisa berbuat apapun. Dia nampak kalang kabut, dan tidak memiliki pilihan lain. Ketakutan akan kematian membuatnya terpaksa mengeluarkan suara. "Baiklah ... "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN