Aku tidak pernah berurusan dengan keluarga Dam Vaste, Apalagi Tuan Andrew. Tidak sekalipun. Aku cukup sayang dengan nyawaku, hingga aku tidak ingin mengambil resiko berurusan dengan mereka." Jonathan mulai merasa ngilu diberbagai bagian tertentu. Karena efek dari racun itu. Rea tidak menyela, membiarkan Jonathan menjelaskan lebih banyak.
"Yang aku ingat saat itu. Ada seseorang yang cukup berani mengambil pekerjaan itu. Dia membutuhkan uang untuk menyelamatkan usahanya."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu siapa nama depannya. Aku hanya ingat marganya ..." Jonathan nampak berfikir sejenak. "Lucero. Ya, Marganya Lucero, aku rasa setelah misinya selesai. Dia kembali ke Madrid, dimana tempat asalnya."
"Lucero? Madrid?" Rea menyipitkan matanya, mencoba mencari kebohongan dari sana. Namun tidak dia temukan. Dia pikir Jonathan berkata jujur kali ini.
"Apa ada sebuah bukti untuk kebenaran ucapanmu itu Jo?"
"Rea, untuk apa kau mengetahui kasus lama itu? Kau tidak ada urusan dengan hal itu."
"Ada. Seseorang menjadikanku kambing hitam atas perbuatannya ini. Dan aku harus menyelidikinya dan menangkap pelaku sebenarnya," ucap Rea tegas.
"Aku tidak punya bukti yang kuat untuk itu. Tapi... Aku akan memberikanmu akses data untuk mencari tahu keberadaan orang itu."
Rea tersenyum senang mendengarnya. "Berikan data itu padaku," ucapnya antusias.
"Baik akan kuberikan. Tapi... Berikan dulu penawar racun itu padaku. Beberapa menit lagi waktunya habis," ujarnya panik.
"Tenanglah, jangan di anggap serius soal racun itu. Aku hanya memberimu sedikit suntikan vitamin tadi. Kau tidak akan mati, hanya saja caraku menyuntikkannya salah, hingga kau merasa sedikit kesemutan," ujar Rea santai dan tanpa dosa. Jonathan terperangah mendengarnya. Matanya membelalak antara syok dan lega. Namun dia sangat kesal karena Rea bermain-main dengan nyawanya hingga dia merasakan kepanikkan yang luar biasa.
"Dasar kau wanita sinting! Beraninya kau menipuku!" makinya menggeram kesal.
Rea terkekeh mendengarnya, begitu pahamnya Rea pada pria yang sangat takut pada kematian ini hingga hal seperti itu dijadikannya senjata. "Kenapa kau marah? Seharusnya kau senang, karena aku berbaik hati tidak menyuntikkan racun sungguhan padamu. Racun yang sebenarnya masih kusimpan hanya untuk saat darurat. Jadi... Jika kau penyebab kedaruratan itu, maka jangan salahkan aku jika aku benar-benar akan menyuntikkannya padamu," ujarnya dingin.
"Cepat berikan data itu padaku. Setelah ini, aku tidak akan berurusan lagi denganmu."
"Baiklah, aku juga tidak pernah ingin berurusan dengan wanita mengerikan sepertimu."
Jonathan memberikan sebuah chip yang berisikan semua data pada Rea tentang pembunuh keluarga Dam Vaste.
Rea menerimanya dengan tersenyum senang. "Terimakasih Jo, bersenang-senanglah selagi waktumu masih ada."
Jonathan mendengus. "Demi apapun, aku meminta kepada maha kuasa untuk tidak pernah mempertemukan kita lagi."
Rea hanya terkekeh dan melenggang pergi dengan rasa puas, telah mendapatkan yang dia inginkan. Sementara Jonathan masih merasakan ketakutan saat berhadapan dengan wanita itu. Wajar saja jika Rowan begitu menyanjungnya. Wanita itu memiliki aura yang mengerikan tersendiri jika berada didekatnya.
***
"Apa? Madrid? Kau yakin ingin kesana Rea?" tanya Jack bertubi-tubi. Rea mengangguk mantap.
"Ya Jack. Aku sangat yakin."
Jack menghela nafas gusar. "Apa kau ingat terakhir kali kita berada disana Rea? Kita terlibat masalah hingga berurusan dengan beberapa preman mengerikan."
"Oh ayolah Jack! Kita ini pembunuh, apa bedanya dengan mereka. Lagi pula kita sudah melakukannya sejauh ini. Aku tidak akan menyerah sampai tujuanku berhasil."
"Tidak semudah itu Rea. Wajah kita sudah sangat dikenali oleh Klan mafia disana. Kau sangat diincar oleh mereka. Kita tidak akan bisa dengan mudah kenegara itu,"
Rea mendesah letih. Apa yang dikatakan Jack, benar adanya. Bisa-bisa mereka dijual dipelelangan. Dan yang lebih parahnya lagi mereka dimasukan kepenjara yang paling mengerikan disana. Ditambah lagi kondisi mereka saat ini berbeda dengan waktu itu. Dulu, ada Rowan yang melindungi mereka, namun sekarang Rowan telah tiada.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Jack?" Rea nampak frustasi sekarang.
"Sebaiknya kita kembali keapartemen dulu, sembari memikirkan rencana selanjutnya."
Rea mengangguk setuju. Mobil mereka melesat cepat menuju tempat mereka melepas lelah.
*~*
Rea merebahkan tubuhnya. Meluruskan semua otot yang sebelumnya menegang, karena seharian berada dalam bahaya. Sementara pikirannya melayang kemana-mana, memikirkan bagaimana cara mereka menemukan orang yang bermarga Lucero. Pemikirannya itu terlalu larut, hingga Rea tidak sadar telah memejamkan matanya.
Seseorang menatapnya dari kegelapan kamar yang sedikit remang. Sesuai dugaannya, wanita ini masih memiliki keberanian untuk kembali keapartemennya, ketimbang mencari tempat tinggal lain, untuk menghindarinya agar lebih aman.
Alex mendekatinya secara perlahan. Bahkan suara sepatunya tidak terdengar sedikitpun. Alex memperhatikan wajah Rea yang nampak kelelahan. Entah apa saja yang dialami wanita itu seharian ini? pikirnya.
Rea telah tidur dengan begitu pulas. Hingga dia tidak merasakan waspada terhadap sekitarnya. Biasanya Rea tidak pernah tidur selelap itu, Rea selalu tidur dengan perasaan tidak tenang, karena musuh bisa datang kapan saja. Tapi kali ini Rea seakan terhanyut kedalam mimpinya hingga dia tidak menyadari bahaya yang ada didekatnya.
Alex mengambil kesempatan itu, untuk membawa Rea bersamanya. Atau lebih tepatnya, menculiknya. Alex memberikan bius ringan hingga Rea tidak bisa bangun meski tubuhnya terguncang guncang. Alex segera meraup Rea, membawanya kedalam gendongannya dan pergi dari sana.
Anak buah Alex telah siap siaga menunggu didepan mobilnya dan segera membukakan pintu, saat melihat Tuan mereka telah berhasil dengan tujuannya.
Mereka segera pergi dari sana dengan melesat cepat. Seakan takut ada yang mengejar dan mengikuti mereka. Padahal jikapun ada, tidak akan bisa mampu melawan anak buah Alex yang begitu banyak dengan senjata yang banyak pula tentunya.
Alex membiarkan Rea berada dipangkuannya dan memeluknya erat. Tatapannya bahkan tidak beralih dari wajah Rea yang nampak cantik dan bersinar. Tanpa sadar, Alex menarik sudut bibirnya. Merasakan kehangatan yang sempat hilang sebelumnya. Kini kehangatan itu hadir lagi, namun sayangnya dengan sensasi yang berbeda. Hingga Alex harus berupaya lebih keras, agar Rea tunduk dengannya.
"Master, apa kita akan kemarkas?" ucap Roger dari alat penghubung suara. Roger tidak bisa menoleh kebelakang, karena Alex menekan tombol skat, agar tidak mengganggu privasinya.
"Tidak. Kita kemansionku sekarang," ujarnya dingin.
"Baiklah."
Mereka menuju Mansion milik Alex yang mewah. Tempat yang begitu luas dan besar. Namun tidak ada penunggunanya selain pelayan dan anak buah Alex. Alex sangat kesepian disana semenjak orang tuanya meninggal. Hingga dia sangat jarang sekali berada disana. Namun kini dia membawa Rea kesana, hingga menggemparkan para pelayan yang ada di mansion itu.
Pelayan disana nampak senang, karena merasa tuannya telah menemukan pujaan hatinya. Dan berharap agar mereka bahagia selamanya. Sehingga menghilangkan sisi gelap dan kejam dari Tuan mereka itu.
BERSAMBUNG ....