I HATE YOU I LOVE YOU

1001 Kata
I HATE YOU TO WISH FOR YOUR DEATH Rea mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba membuka matanya yang masih terasa begitu berat. Saat penghilatannya sudah jelas, serta kesadarannya yang pulih. Rea langsung duduk dan memperhatikan kembali kesekeliling tempat itu, matanya menangkap sosok pria yang sedang duduk dengan santai sembari menghisap rokonya disebelah ranjang Rea. "Kau!" Rea menatap waspada pada Alex yang menatapnya datar, tanpa ekspresi. ("Sial! Apa aku telah ditangkap pria ini?") Rea menggerutu sembari menatap waspada pada Alex.  Rea memundurkan sedikit tubuhnya saat Alex mematikan rokoknya dan berjalan mendekatinya. Alex berhenti dihadapan Rea dengan memasukan kedua tangannya kedalan saku celana. "I got you. Apa yang harus aku lakukan pada pembunuh sepertimu?" ucap Alex dengan sedikit smirk, dan aura yang mengerikan. Rea hanya menatapnya dingin. Tidak berniat sedikitpun untuk membela dirinya. Semua tuduhan yang Alex berikan, membuatnya begitu tersiksa. Dadanya terasa sangat sakit, ketika merasa tidak dipercayai dan selalu dicurigai. Jika orang lain yang menuduhnya, mungkin sejak awal Rea sudah membunuhnya. "Apa kau yakin bahwa akulah pelakunya?" ucap Rea datar. "Tentu saja! Kau pembunuh bayaran. Kau akan melakukan apapun demi uang. Kau sangat rendah Rea, kau membuatku muak. Dan aku sangat membencimu." Alex menekankan ucapannya, membuat Rea merasakan sakit tambahan disekujur tubuhnya. Entah mengapa semua kekuatan Rea saat itu seakan hilang. Hatinya terasa kosong dan hampa. Dadanya bergemuruh karena tekanan yang begitu kuat. Semua kata-kata sarkas dari Alex, membuatnya lemah tak berdaya, seolah tak memiliki semangat untuk hidup lagi. "Kalau begitu, tunggu apalagi. Aku ada dihadapanmu saat ini. Kau bisa membunuhku," ujarnya datar. Alex diam sejenak sembari terkekeh dan mendekati wajah Rea berbisik. "Aku tidak akan membunuhmu dengan mudah Rea. Kau akan merasakan penderitaan terlebih dahulu, hingga kau akan mengingat bagaimana detik detik kematianmu." Alex menghentikan ucapannya dan menarik kembali tubuhnya berdiri tegak. "Bersihkan dirimu sekarang. Aku akan kembali lagi." Alex melangkah keluar meninggalkan Rea sendirian dengan perasaannya yang hancur. ("Bodoh!") Rea mengusap kasar air matanya yang jatuh. Melangkah memasuki kamar mandi. Rea melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya nampak kacau, sesuai dengan hatinya. Berkali-kali Rea merutuki dirinya sendiri karena merasa bodoh telah mencintai pria itu. Rea menggebrak marah, entah pada dirinya sendiri atau siapa. ("Siapapun yang mengatur tentang perasaan ini, aku mohon jangan pernah melabuhkan hati seseorang pada orang yang salah. Karena rasanya begitu sakit,") lirih Rea menangis di kucuran air yang membasahi tubuhnya. Rea memeluk tubuhnya sendiri sembari memejamkan matanya sejenak. *~* Jack terlihat kalang kabut mencari keberadaan Rea yang tiba-tiba hilang bagai ditelan bumi. Tidak ada sedikitpun jejak untuk mencari petunjuk tentang keberadaannya. Namun Jack yakin bahwa Alex, dibalik semua ini. Siapa lagi musuh Rea yang paling berbahaya, selain keluarga Dam Vaste. "Sial! Sial. Sial. Kenapa aku begitu lengah, hingga Alex dengan mudahnya menangkap Rea." Jack menggeram kesal. Nafasnya terdengar kasar dan wajahnya nampak murka. Jack segera bangkit, ("Aku akan menyelamatkan mu Rea. Tidak akan aku biarkan si b******k itu menyakitimu.") Jack masuk kedalam mobilnya dan melaju dengan kencang untuk mencari tahu keberadaan markas Alex atau tempat persembunyian lainnya. Dia yakin Rea pasti disembunyikan disalah satu tempat itu. *~* Rea memakai pakaian yang telah Alex sediakan sebelumnya. Meski Wajahnya nampak datar, namun tidak bisa menyembunyikan kecantikannya saat memakai baju gaun berwarna biru laut yang melekat pas ditubuhnya. Rea mengambil nafas panjang untuk menetralkan perasaannya. KLAK Alex membuka pintu kamar yang tadinya dia kunci untuk mengurung Rea. Matanya menatap kagum pada Rea yang begitu cantik dengan gaun pilihannya. Namun Alex segera menutupinya dengan tetap menatapnya dingin. Rea bahkan tidak berniat untuk menoleh kearahnya. Namun Rea bisa melihat wajah Alex dari pantulan cermin yang ada didepannya. Rea menyunggingkan senyuman angkuhnya, hingga Alex menaikan sebelah alisnya. "Kau mengagumiku," ujar Rea sinis. "Aku membencimu," sarkasnya. Rea terkekeh dan berbalik. "Matamu tidak bisa berbohong padaku, bahwa kau mengagumiku." Rea bersidekap menyilangkan tanganya. "Aku membencimu sampai menginginkan kematianmu Rea..." Alex setengah berisik.  "Kalau begitu ambil senjatamu dan tembak aku sekarang juga! Kita akan lihat, apa kau sanggup melakukan hal itu atau tidak," ucap Rea dengan ancaman yang kental. Alex merasa terpancing oleh emosinya hingga dia benar-benar mengambil pistol yang dia simpan dipinggangnya dan mengarahkannya di kepala Rea. Rea menatapnya angkuh. Tidak ada rasa takut sedikitpun. Matanya menatap kedalam tatapan elang milik Kenneth yang siap menerkam mangsanya. Tanpa diduga, Rea berjalan mendekat kearahnya. Agar pistol itu menyentuh kepalanya. Namun semakin Rea mendekat entah mengapa tubuh Alex semakin bergetar. Pandangannya tidak bisa fokus karena terjebak oleh tatapan Rea yang penuh cinta. Tatapan Rea kali ini menyiratkan sebuah kerinduan dan cinta secara bersamaan. Dan bukan kebencian apalagi dendam. Kini pistol itu telah menyentuh kepala Rea, jika Alex menarik pelatuknya, dalam hitungan detik kepala Rea akan berlubang saat itu juga. Namun Rea seakan menerima hal itu dengan ikhlas. Berbeda dengan Alex yang sulit mengendalikan perasaannya. Seolah Rea sedang membaca mantra untuk membuatnya tunduk. "Kau... Telah membuat perasaanku seakan jungkir balik dan kacau. Kau membuatku mencintaimu seolah aku adalah wanita yang paling sempurna karena sempat berfikir bahwa kau juga mencintai wanita yang memiliki masa lalu kelam sepertiku. Kau membuat duniaku dalam sekejap menjadi begitu indah. Hingga aku merasa waktu begitu berharga. Dan bodohnya aku mempercayaimu, hingga dengan mudah bisa mencintaimu. Bahkan sampai saat ini kebodohanku masih mendarah daging karena tidak bisa berhenti mencintaimu. Sekarang... Aku akan mengubur perasaanku bersama dengan jasadku. Tunggu apa lagi. Tarik pelatuknya dan tembak aku sekarang juga!! Bukankah itu yang sangat kau inginkan. Dan katakan bahwa kau membenciku setelah itu," ucap Rea meninggikan suaranya penuh tuntutan. Matanya menatap kedalam manik kelabu milik Alex dengan nanar. Matanya mulai berkaca-kaca, siapapun bisa melihat kekecewaan dalam tatapannya. Alex hanya terdiam. Namun tidak menurunkan tangannya sedikitpun. Kata-kata Rea begitu menusuk. Alex sedang berperang melawan kedua perasaan yang sangat bertolak belakang. Antara dendam kebencian dan cinta. Entah perasaan mana yang dia pilih. Meski wajahnya dingin, namun hatinya bergetar. Dadanya ikut merasakan sesak yang dialami oleh Rea. "Kau sangat membenciku sampai menginginkan kematianku ditanganmu bukan? maka lakukanlah. aku ingin lihat wajah penyesalanmu nanti saat telah mengetahui semua kebenarannya dari alam sana. LAKUKANLAH ALEX DAM VASTE!! LAKUKAN SEKARANG JUGA... BUKTIKAN BAHWA KAU BENAR-BENAR MEMBENCIKU. Alex tersentak dan menarik pelatuknya. Suara tembakkan menggema. DORRR
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN