JANGAN MEMBUATKU LEMAH

1187 Kata
A TRUTH ALEX POV ~ Aku menyelusuri tubuh polos Rea menggunakan jariku. Tubuhnya yang tengkurap hanya berbalut selimut sampai kepinggang. Matanya tertutup rapat. Aku rasa tubuhnya terlalu lelah karena pergulatan kami tadi. Aku menarik sedikit sudut bibirku mengingat kejadian sebelumnya. Aku ingat saat itu aku sempat menarik pelatuk pistolku. Namun tanganku tidak mengarah kekepalanya, melainkan aku sengaja mengarah ketempat lain. Pikiranku terlalu buntu saat itu, hingga tubuhku secara reflex memeluknya erat dan menciumnya. Ciuman yang begitu dalam, menyiratkan sebuah kerinduan dan perasaan yang teramat dalam pula. Aku juga tahu bahwa Rea juga menikmatinya. Sampai akhirnya kami berakhir diranjang seperti ini. Mungkin ini yang sering dikatakan anak muda jaman sekarang dengan yang namanya b***k cinta. Ya, aku telah diperbudak oleh cinta hingga kebencianku hilang saat berhadapan dengannya. Bodoh! Sebuah kata yang cocok untukku saat ini. Bisa-bisanya aku luluh dihadapan wanita yang paling kubenci dengan begitu mudahnya. Namun aku juga tidak bisa memungkiri bahwa tatapannya membuatku seakan terhipnotis dan terjerat didalamnya. Rea... Wanita yang paling kubenci. Sekaligus wanita yang paling kucintai. Kenapa jadi serumit ini. Aku menggeleng dan mengusap kasar wajahku. Apa yang telah kulakukan? Bukankah seharusnya aku membunuhnya?. Kenapa aku malah menidurinya. Bukan hanya sekedar saling menyalurkan hasrat. Tapi juga perasaan yang begitu dalam. Bisa dikatakan, Cinta. Yah, klasik sekali memang. Tapi itulah kebenarannya. Aku telah terjerat oleh cinta si pembunuh ini. Aku hampir mengerang karena frustasi. Bibirnya... Seperti candu bagiku. Sangat manis dan menggoda. Aku sampai lupa diri jika menyentuhnya. Saat aku bangkit untuk mencari pakaianku. Aku melihat mata Rea yang telah terbuka. Rea menatapku dingin sembari berucap. "Aku menemukan bukti, bahwa bukan aku pelakunya." dingin dan datar. Aku pun mengerutkan kening. Mencari kebohongan dari manik mata Rea, namun tidak menemukannya disana. Lalu Rea beranjak dengan menggulung selimutnya agar menutupi tubuhnya. Rea berjalan merogoh saku celananya dan mendapatkan sesuatu disana. Aku hanya menatapnya seperti orang kebingungan. Lalu dia mendekatiku, tatapannya masih sama. Dingin dan datar. Aku sampai heran bagaimana dia bisa mengubah ekspresinya secepat itu setelah mendesah dan mengerang dibawah kuasaku sebelumnya. "Semua ada didalam sini. Kau tinggal buka saja semua filenya." Rea memberikan sebuah data file padaku. Entah apa isinya, namun aku tetap mengambilnya. "Apa ini?" ucapku seolah aku begitu t***l. "Buka saja." Aku memakai celanaku dan berjalan mengambil laptop untuk membuka data yang diberikan oleh Rea. Mataku terbelalak saat melihat keterangan orang yang berurusan dengan ayahku. Wajahnya nampak tidak asing bagiku, tapi siapa? Lucero... Aku mencoba mengingat-ingat nama Marga itu. Orang ini berasal dari Madrid, Tempat asal keluargaku. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan bukti semudah ini. Apa mungkin karena ada yang melindungi orang ini? Itu artinya sudah ada persekongkolan dan Pasti ada orang dalam yang terlibat. Tapi siapa? Meski pikiranku berkecamuk. Aku mencoba melirik Rea yang menatapku dengan tatapan sama sebelumnya dingin. Aku terkejut bahwa dalam waktu singkat dia telah memakai kembali gaunnya. "Aku akan kesana!" Aku kembali menatapnya. "Apa? Untuk apa?" aku kembali bertanya kebingungan. "Aku akan menangkap dan menghukum orang itu. Bukan untukmu. Melainkan karena telah menjadikan aku kambing hitamnya." Aku langsung menggeleng untuk mencegah nya. "Tidak Rea. Disana sangat berbahaya, kau pasti sudah tau banyaknya klan dan kelompok mafia berbahaya disana. Bagaimana jika pembunuh itu dilindungi oleh mereka." aku mencoba memberinya pengertian, namun dia malah menatap aneh padaku dengan menyipitkan matanya. Tatapan itu bahkan membuatku sedikit merasa kikuk. "Memangnya apa perdulimu? Aku bahkan sudah sering bertaruh nyawa karena ulahmu. Kenapa kau bersikap seolah kau perduli sekarang padaku?" ucapanya seakan mendesakku. Aku bahkan masih bisa melihat kekecewaan dalam nada bicaranya. "Disana adalah tempatnya bagiku melakukan penyelundupan senjata. Aku berhadapan dengan orang-orang licik disana, aku sangat paham betul, karena itu adalah wilayahku." aku mencoba mencari alasan yang pas untuk jawaban atas pertanyaannya. "Aku tidak bisa tidak peduli, Rea. Mungkin kau akan aneh mendengarnya, tapi kebenarannya adalah kau penting bagiku." Rea menatapku dengan penuh kekecewaan. "Ada apa Rea? Apalagi yang kau pikirkan?" aku berjalan mendekatinya, namun dia justru mundur untuk menghindar dariku. "Ini salah. Ini keliru! Kita tidak seharusnya seperti ini. Kau... Seharusnya membunuhku dan membiarkan aku mati? Kau menginginkan kematianku, bukan? Jangan menghinaku seperti ini, aku bukan tipe manusia yang takut akan kematian." Rea mendesis rendah. "Rea maafkan aku, aku melakukan kesalahan besar hingga aku mencurigaimu. Aku tidak bermaksud menghinamu. Sekarang aku sudah tahu bahwa kau tidak bersalah dan-" "Dan akhirnya kau memutuskan untuk kembali mencintaiku," Rea melanjutkan ucapanku dengan nada dingin. Namun kemarahan masih membara dimatanya. "b*****h macam apa kau ini? Jika kau mencurigaiku bersalah, kau boleh lansung mencoba membunuhku. Dan sekarang saat kau telah melihat bukti dan kebenaran, kau malah kembali mencintaiku. Memangnya kau kira siapa dirimu? Hingga bermain-main dengan nyawa orang lain. Kau anggap aku ini apa? Hingga kau memperlakukan aku seenaknya begini?" "Aku-" "Aku memang pembunuh. Aku tidak terbebas dari dosa-dosa fatal sebagai seorang martir. Namun sejak bertemu denganmu, tidak pernah sekalipun aku mencoba untuk menipumu. Mengapa? Mengapa kau tidak mau mendengar penjelasanku? Padahal aku mempercayaimu. Aku tadinya sangat yakin bahwa kau berbeda. Namun keyakinanku salah." Aku terdiam. Aku hanya mendengarkan setiap makian dan kekesalan yang dia luapkan. Aku rasa aku layak memperolehnya. "Gagak memang hitam. Namun bukan berarti gagak adalah mahkluk yang jahat." tambah Rea. Kemarahan yang ada dimatanya sudah tergantikan oleh kesedihan yang dingin. "Aku sedih bukan karena kau bertindak semena-mena padaku. Aku sedih karena mulai saat ini aku tidak bisa lagi mempercayaimu." Rea berjalan mendahuluiku dan bergerak menuju pintu. Namun sebelum dia sempat membukanya aku sudah berdiri didepannya untuk menghalanginya. "Mau kemana kau?" "Mencari pembunuh sebenarnya, aku akan pergi ke Madrid untuk mencarinya." "Tidak, kau sudah menjadi buronan disana. Disana sangat berbahaya bagimu." "Lantas?" Rea menatapku dengan pandangan menantang. "Berhenti bersikap seolah kau perduli padaku! Bukankah kau begitu tidak mempercayai aku? Kalau begitu tetaplah seperti itu, sampai pelakunya tertangkap. Dan biarkan aku menjalankan misi ini dengan mudah. Jikapun aku mati, tidak akan ada yang perduli dengan kematianku." Entah mengapa aku sangat ingin memeluknya saat ini. Namun dia malah semakin memberontak untuk menghindar dariku. "AKU PEDULI!" aku stengah membentaknya. "Aku tidak akan membiarkanmu menyabung nyawa sendirian disana. Aku tahu aku sudah menyakitimu dari segi fisik maupun mental. Namun aku tidak akan mengulangi kebodohan yang sama. Aku akan menjagamu, bahkan meskipun kau tak menginginkan kehadiranku didekat mu lagi." "Jangan membuatku lemah. Sudah cukup untuk semuanya. Sekarang biarkan aku fokus kedalam misiku." Aku langsung memeluknya erat. Meski dia meronta dalam pelukan ku. Namun aku tidak melepaskannya sama sekali. Aku sengaja membiarkan dia melampiaskan semua kekesalannya selama ini. Aku bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat. Aku yakin dia telah menangis dalam diam dipelukanku. "Kenapa? Kenapa aku tidak bisa membencimu? Kenapa aku begitu lemah. Kenapa kau membuat segalanya sulit bagiku? Sebelumnya aku sudah terbiasa menghadapi segalanya. Kematian bahkan bukanlah masalah bagiku. Karena tidak ada satupun alasan yang kutemukan untuk bertahan hidup. Lalu... Lalu kau muncul. Dan semuanya berubah begitu saja... "Maafkan aku Rea. Aku tahu aku sudah menyakitimu. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan luka yang telah kubuat. Namun kumohon jangan meninggalkanku dengan cara seperti ini. Kau bisa marah dengan cara memukulku, atau kau bisa membunuhku jika kau mau. Tapi kumohon... Jangan seperti ini." Entah dari mana kudapatkan kata-kata puitis yang menjijikan itu. Tapi biarlah aku bertindak konyol kali ini. Asalkan Rea masih tetap bersamaku. Tidak akan aku biarkan dia pergi dariku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN