I JUST WANT TO BE FREE
Rea masih terisak didalam pelukanku. Aku bisa merasakan bajuku basah karena air matanya. Namun aku masih membiarkan dia mengeluarkan semuanya agar dia merasa lega.
"Kita akan pergi bersama-sama kesana Rea. Dengan kehadiranku disana kau akan aman. Dan kita akan mencari pelaku yang sebenarnya." aku membisikkan hal itu padanya. Namun Rea tidak merespon ucapanku. Dia mengangkat wajahnya dan melepaskan pelukanku. Aku menghapus perlahan air matanya, dan memegang pipinya. Menatap matanya yang masih sembab dan bengkak karena terlalu banyak menangis.
Sejenak aku memperhatikan wajahnya yang nampak letih. Tapi tidak ada lagi raut kekecewaan disana. Wanita ini nampak rapuh dan aku yakin akulah penyebabnya.
"Aku akan menelpon Jack. Aku rasa dia juga harus ikut dalam misi ini," ucap Rea dengan suara yang masih serak. Namun wajahnya nampak tegas.
"Baiklah, aku akan menemui anak buahku untuk mengurus keberangkatan kita." aku langsung memberikan kecupan didahinya dengan waktu yang cukup lama. Aku pikir Rea akan menolaknya. Namun ternyata dia justru memejamkan matanya, seolah menikmati itu. Aku tersenyum dan menyentuh lembut pipinya, lalu melangkah keluar dari sana.
Entah mengapa kini perasaanku lebih tenang. Meski kedepannya masih ada hari berat yang harus kami lalui. Namun aku senang bahwa kenyataannya bukan Rea lah pelakunya.
Dan sekarang aku justru bingung pada sepupuku sendiri...
Louis.
Ya, aku pikir untuk apa dia menuduh Rea. Kenapa harus Rea? Semua jenis pertanyaan dan teka-teki seolah melintas dikepalaku. Namun meski begitu. Aku mencoba mengerti posisinya. Mungkin saja karena dia terlalu terpuruk dengan kepergian ayahnya, hingga mencari seseorang untuk disalahkan. Aku akan menjelaskan padanya nanti. Tapi sekarang, aku harus mengumpulkan anak buahku terlebih dulu. Bagaimanapun juga pergi ke Madrid tidaklah mudah bagi kelompok mafia seperti kami. Meski disana adalah Tempat kelahiranku. Namun aku juga sudah seperti seorang buronan, meski bukan buronan polisi. Melainkan buronan bandit dan Mafia yang menjadi sainganku disana. Kami harus melalui beberapa orang dalam dulu agar kami bisa kesana tanpa adanya serangan secara tiba-tiba.
Di Rusia kami memang cukup terkenal dan ditakuti. Tapi tidak di sana. Segala macam klan kejahatan mulai dari narkoba, penjualan para wanita dirumah bordil serta sekelompok mafia penyelundupan senjata ilegal sangat terkenal dan berbahaya disana. Mereka menganggap kehadiran kami seolah saingan berat bagi mereka. Untungnya kami memiliki banyak sekutu yang mempermudahkan jalan kami.
"Master, semua anggota telah berkumpul didalam mereka Tinggal menunggu kehadiranmu." suara Roger membuyarkan semua pemikiranku, tanpa terasa aku sudah berdiri didepan ruangan markas pribadi kami. Ruangan bawah tanah yang ada dimansionku. Aku mengangguk dan membuka ruangan itu. Sesuai ucapan Roger, semua anak buahku berkumpul disana.
Tanpa membuang banyak waktu, aku langsung saja keinti pembicaraan. Bahwa kami akan segera terbang ke Madrid dalam waktu singkat. Mereka semua mengangguk setuju dan mulai mengerjakan semua perintahku.
Sekarang aku harus kembali pada Rea. Melihat keadaan wanita itu.
***
"Kau butuh sesuatu?" aku bertanya saat melihatnya yang duduk dengan santai diluar balkon sembari menikmati hembusan angin malam.
"Aku hanya ingin ketenangan sejenak. Sebelum berperang," ujarnya datar. Aku melangkah mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Dia tidak menolak sentuhanku. Aku rasa dia mungkin sudah terbiasa dengan sentuhan yang aku berikan.
"Aku sudah menghubungi Jack. Dia akan kesini besok." kini dia berbalik untuk melihat wajahku. Matanya nampak sendu dan ekspresinya dingin.
"Kau masih marah padaku?" ucapku lembut dengan mengecup punggung tangannya dan menghirupnya.
"Entahlah, aku sendiri bingung dengan perasaanku." Rea menghentikan ucapannya dan menarik nafas panjang sejenak. Sebelum kembali berucap. "Bisakah kau menghentikan semua ini. Biarkan aku fokus pada tujuanku. Berhenti memberi perhatian padaku yang akan membuatku besar kepala nantinya." aku menatapnya nanar. Wajahnya nampak tegas.
"Kenapa?" tanyaku dingin.
"Aku hanya tidak ingin berharap. Jika sewaktu-waktu kau kembali mencurigaiku. Setidaknya aku sudah terbiasa, hingga aku tidak akan kembali terluka."
Aku nyaris mengerang mendengar ucapannya. Apa maksudnya?
"Dengar Rea! Aku memang pernah melakukan kesalahan. Namun aku tidak bodoh, hingga akan melakukan hal itu lagi." aku memegang kedua bahunya erat. Dan menatapnya tajam.
"Kau hanya kasihan padaku dan merasa bersalah. Tenanglah... Aku sudah memaafkanmu. Setelah misi kita selesai. Aku ingin bebas dan terlepas darimu. Aku ingin menemukan jalan hidupku."
"Tidak Rea. Tempatmu disini, hidupmu disini. Kau ditakdirkan hanya untuk bersama denganku," ucapku menangkup kedua pipinya.
"Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku hanya ingin kebebasan. Dan menggunakan kesempatan hidupku dengan baik. Setelah ini, aku tidak akan merenggut nyawa siapapun lagi. Aku hanya ingin hidup bersama orang yang mencintaiku dengan tulus. Bukan orang egois sepertimu."
"Kau bebas Rea. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan. Aku... Percayalah padaku bahwa aku sungguh mencintaimu." aku memegang kedua tangannya agar dia menatapku.
"Tidak, aku tidak bisa berada didekatmu seperti ini. Aku lelah..."
"Apa yang membuatmu lelah?"
"Aku lelah, karena saat bersamamu aku menjadi lemah. Kau tahu bahwa aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Tapi kau tidak, kau hanya kasihan padaku. Kau tidak mencintaiku. Kau hanya keliru dengan perasaanmu sendiri."
Aku memejamkan mata, merasa frustasi. Aku menarik rambutku sembari berjalan mondar-mandir untuk sesaat. Tanganku meninju tembok dengan kuat, hingga terluka. Lalu aku memegang kedua bahunya. "Aku mencintaimu Rea, jika aku tidak mencintaimu. Mungkin aku sudah membunuhmu sejak dulu. Aku masih mempertimbangkannya karena perasaan ini Rea. Kau memiliki ruang khusus dihatiku, maafkan atas semua kebodohanku karena tidak mempercayaimu."
Rea tertawa hambar sembari melepaskan kasar tanganku.
"Setelah semua yang telah kau lakukan!! Kau dengan mudahnya, mengucapkan maaf lalu kau akan mengulanginya lagi," ucap Rea dengan sedikit kasar kali ini. Namun aku mencoba memakluminya.
"Rea, kau adalah jantungku. Aku akan membuktikannya...
"Kau tidak perlu membuktikannya, karena kau tidak mencintaiku." Rea memotong ucapan yang belum kuselesaikan. Hingga aku mengepalkan tanganku. Mencoba mengendalikan diriku dari emosi yang akan segera meledak. Aku bahkan menatapnya penuh pemakluman.
Aku mengangguk lemah sembari menatap kearah lain. Untuk menghindari tatapan matanya. "Aku rasa kau butuh waktu untuk sendiri." aku melangkah keluar meninggalkan Rea yang masih bergeming ditempatnya.
Baru kali ini perasaanku kalut, hanya karena seorang wanita. Entah apa yang ada dipikiran Rea, sebegitu dalamnya kah luka yang telah kubuat?
Aku memejamkan mataku sejenak. "Kau tidak akan pergi dariku Rea. Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah melepaskanmu," gumamku seolah kujadikan mantra kekuatanku. Entah bagaimana caranya nanti. Tidak akan aku biarkan wanita itu pergi seenaknya setelah menjungkirbalikkan perasaanku.
to be continue.....