Setelah operasi yang cukup rumit, para staf keluar dari ruangan itu. Menghirup udara segar sebab pagi sudah datang. Edgar melipir membeli kopi. Toh dia gak bisa pulang. Lebih baik menikmati secangkir kopi sambil menikmati dini hari yang menyegarkan. Duduk di bangku taman sambil menikmati kopi itu.
Seseorang datang dan duduk disampingnya. Tak ada kata yang terucap, hanya desahan panjang. Sepertinya dia sedang galau. Entah untuk alasan apa. Tidak biasanya dia begini. Atau memang pekerjaannya sedang sulit?
“Kenapa?”
“Hah?”
“Biasanya masih heboh.”
“Gimana bisa heboh kalau Dokter Freddy minta aku stay seharian penuh.”
“Kamu kan kesayangannya.”
“Idih, najis. Argh, lebih baik dibenci sama dia daripada dijadikan kesayangan.”
Beliv tidak suka diperlakukan seperti ini. Dianggap penting hanya karena alasan pribadi. Bukan karena kemampuan. Mereka hanya suka pada wajah cantik. Mereka tidak tahu kalau itu melukai Beliv. Banyak orang yang membicarakannya dan dianggap main belakang. Kenyataannya memang tidak, tapi hal itu sangat mengusik Beliv. Dia jadi kepikiran. Setiap prestasi yang datang dianggap sebagai balasan karena dekat dengan Dokter Freddy.
“Udah gimana sama gebetan?”
“Gebetan?”
“Avius.”
Mendengar nama itu, Beliv langsung tersenyum. Tuh kan, dia jadi kangen. Kalau diingat lagi, waktu mereka ke toko buku jadi sekian hal yang indah. Demi apapun, cinta pada pandangan pertama gak pernah salah.
“Oke, berarti semua lancar.”ucap Edgar membuat kesimpulan.
“Gak gitu. Kami hanya pernah gak sengaja ketemu. Setelah itu, dia cuek lagi.”
“Hahaha.”
“Kok ngetawain sih? Gak sopan.”
“Sorry-sorry.”
“Aku sampai kepikiran buat pergi dari sini. Apa mungkin bisa mutasi?”
“Kenapa emang? Gak betah karena Dokter Freddy?”
“Bukan cuma Dokter Freddy. Aku juga gak betah sama orang rumah.”aku Beliv. Tidak ada alasan untuk tetap bertahan. Susah sekali beradaptasi dengan mama dan kakaknya. Entahlah. Padahal Beliv orang yang cukup ramah. Bahkan ia bisa berteman dengan ibu-ibu komplek yang suka menggosip. Kenapa sama orang rumah dia gak sanggup?
“Jangan memaksakan diri. Kalian kan butuh penyesuaian.”
“Emang butuh. Tapi aku udah gak sanggup. Rasanya gak pengen pulang. Aku udah nanya sih sama Mbak Ria. Katanya lagi nyari tahu dulu, rumah sakit mana yang butuh orang sesegera mungkin.”
Edgar gak bisa berbuat apa-apa. Semua orang punya masa depan sendiri. Termasuk Beliv. Hanya saja, dia sangat menyayangkan. Kalau pindah, Beliv harus mulai dari awal lagi. Dia berusaha keras menghadapi Dokter Freddy, tapi malah menyerah begitu saja.
“Kamu sudah tahu kalau Avius jadi penyiar di radio kota?”
“Eh, emang iya?”
“Yups. Hari ini jadi hari pertamanya. Kalau gak salah, dia dijadwalkan untuk jam 9.”
“Gila. Aku baru tahu kalau dia punya skill kayak gitu.”komentar Beliv.
“Kamu gak tahu soal dia pernah jadi penyiar waktu SMA?”
Beliv menggeleng. Jadilah hari itu dia menerima informasi penting dari Edgar. Beginilah susahnya jatuh cinta sama cowok yang gak banyak bicara. Bahkan untuk hal seperti ini saja, Beliv tidak tahu.
Seperti awan yang menutupi teriknya mentari, Beliv semakin kagum pada Avius. Dia bukan sembarang cowok yang hanya bisa bekerja rutin di kantor. Dia punya hobi yang menarik. Hobi yang membuktikan kalau dia bukan strict people. Entah kenapa, cowok itu seperti membatasi diri dengan Beliv. Apa dia segitu bencinya?
Hari yang panjang untuk tubuh yang hampir tumbang. Tetap pukul 5 sore, ia bersiap pulang. Pulang bukan sesuatu yang menarik. Dia hanya rindu istirahat. Saat membuka pintu, ia tak melihat siapapun. Hanya ada sebuah surat kecil yang bilang kalau mereka tidak akan pulang malam ini.
Ya, seperti biasanya. Mereka pergi meninggalkan Beliv. Seolah cewek itu bukan bagian dari keluarga ini. Bodo amat, ini lebih baik. Tak ada yang berubah kalau mereka ada di rumah.
Ia melihat jam dan mempercepat langkah. Membuat semangkuk mie instan dan membawanya ke kamar. Ini saatnya mendengarkan radio. Kapan lagi mendengar suara pujaan hati memanjakan telinga setiap orang? Argh, kenapa Beliv baru saja? Seharusnya dia sudah tahu sejak kenalan sama Avius. Suara Avius memang sangat mahal.
“Hai semuanya, hari kita kedatangan penyiar baru loh. Dia ini udah sering menyiar dari dulu. Dan katanya, pernah juga menghiasi radio kesayangan kalian.”
“Hello, aku Avius. Kalau kalian anak SMA 1, mungkin masih ada yang kenal sama aku.”
“Hmm, sudah pasti ada yang kenal. Sebagai sambutan, aku kasih kesempatan deh buat Kak Avius, mau request lagu apa?”
“Ah, beneran boleh nih kak? Hmm, kayaknya malam-malam gini enak dengar lagunya Michael Bolton ya. Mari kita dengar, To Love Somebody.”
Lagu itupun diperdengarkan. Bikin Beliv menyunggingkan seulas senyum. Menghabiskan mie instan yang menggiurkan itu. Di dalam hatinya, ia berterima kasih. Sebab ada Avius yang menemani kesepian-nya.
Punya banyak teman, kolega yang baik tidak membuat kesepiannya hilang. Mungkin ia bisa lupa kalau sedang bekerja, tapi tidak kalau sudah sampai di rumah ini.
Dengan sigap ia mengirim pesan pada Avius. Pangeran yang mewarnai hidupnya.
“Selamat siaran. Kalau pulang hati-hati ya.”
Send! Seperti biasa, tak ada balasan. Yang penting sudah dibaca. Dia melempar handphonenya ke atas kasur. Biarkan saja, namanya juga hidup. Menyukai seseorang tak selalu berbalas. Walau begitu, dia tetap bisa menikmatinya. Anggaplah sebagai penghibur.
Pikirannya sekarang cuma fokus ingin pindah. Tak ada yang bisa diharapkan dengan kota ini. Keluarga tidak, begitupun dengan cinta. Saat ia kembali dari kamar mandi, ia melihat handphone. Matanya terbelalak melihat pesan yang dikirim oleh seseorang.
Avius : Thanks
Singkat, tapi penuh makna. Berhasil bikin Beliv berbunga-bunga. Biasanya ya, cowok kalau udah cair ya begini. Tadinya gak mau balas sama sekali. Sekarang dia berubah. Sungguh, dia sangat senang dengan hari ini.
Dia mengambil headset dan mendengar suara Avius sampai cowok itu selesai siaran. Dia menatap atap ruangan. Padahal dulu ia gak bisa tidur sendirian. Sekarang, di rumah ini hanya ada dia seorang. Kenapa dia gak merasa takut?
Sejak papanya meninggal, tak ada lagi yang tersisa. Sifat manja hingga keinginan untuk disayangi, semuanya sirnah. Seakan dia udah gak punya orang untuk diandalkan. Hanya satu yang ia sesali, kenapa ia harus musuhan dengan Bu Rini?
“Dulu kamu lebih milih papamu dibanding mama. Mama sama kakakmu bisa seperti sekarang dengan penderitaan panjang.”ucap Bu Rini waktu itu.
“Anak manja seperti kamu tahu apa? Kita memang sedarah, tapi sudah lama kita tidak seperti saudara.”ucap kakak laki-lakinya. Beliv tidak yakin dengan apa yang terjadi di masa lalu. Ya, dia memang lebih memilih papanya. Tapi bukan untuk menikmati hidup yang mewah. Dia kasihan. Ya, kasihan pada papanya yang harus hidup seorang diri. Ia kira akan adil kalau dia memilih papanya. Ternyata tidak. Semua orang berpikir kalau dia lebih memilih uang daripada mamanya sendiri. Ingin meluruskan salah paham, tapi tak ada kesempatan. Sudah terlalu dalam jarak yang menghalangi mereka.