Cafenya Bang Igo jadi tujuan akhir mereka. Dan tentu saja, tiga cowok itu belum tahu kalau Bang Igo buka kafe disini. Hmm, bisa dikatakan mereka gak terlalu mengenal Bang Igo. Dulu saja, waktu Aya masih pacaran sama Adong, Bang Igo dengan ketegasan membenci Adong. Tidak ada yang tahu apa alasannya.
Sesi perkenalan pun terjadi. Dengan rasa was-was yang luar biasa, Adong menetralkan wajahnya. Dia masih takut sama Bang Igo. Gimana nggak? Pria itu sempat mengajaknya berantem waktu masih SMA. Walau tidak kejadian, tetap saja menyimpan trauma.
“Loh, kamu kan?”
“Iya, bang. Udah, gak usah dibahas.”
“Kok kalian masih temenan? Seingat aku ya, Aya pernah bilang benci banget sama kamu.”
“Udah, diam! Sana ambilin makanannya.”
“Tapi kalau kamu masih suka sama dia,,,,”
“Bacot!”tegas Aya sambil menarik tangan Igo pergi dari tempat itu.
Setelah Igo pergi, semua bisa bernafas lega. Kalau ada dia, seperti diawasi sama petugas ujian.
“Ayolah, santai-santai.”ucap Josen sambil mengambil minum.
“Kita beneran gak apa-apa kan?”tanya Avius bingung.
“Kita sih gak apa-apa, tapi dia yang bakal kenapa-napa.”ucapnya sambil menunjuk Adong yang tampak diam sedari tadi. Tak ada kata yang ingin diungkapkan. Ternyata dia masih ingat kejadian dulu.
“Adong, jangan melamun.”tegur Lovi.
“Ah, i-iya.”
“Tenang aja. Bang Igo baik kok.”hiburnya. Hiburan yang gak berguna. Bagi Adong, Igo adalah sosok menyeramkan di dunia ini. Bahkan dibanding atasannya di kantor polisi.
Tak berapa lama, Aya datang bersama beberapa orang. Menyajikan makanan yang berbeda dengan yang ia makan tadi. Semuanya terlihat antusias. Ini akan jadi restoran mewah pertama di tempat ini. Emang sih, pasti akan ada restoran lain yang menyusul. Tapi saat ini, ini akan jadi pembicaraan orang di kota ini.
“Mari makan!”
“By the way, Bang Igo mana?”
“Teman-temannya datang, ngurusin itu dulu kali.”
“Emang temannya masih banyak?”tanya Lovi tidak menyangka.
“Iya. Dia itu ikut organisasi macem-macem. Jadi punya relasi di mana-mana.”ucap Aya menjelaskan.
Orang yang suka berorganisasi tentu punya banyak kenalan. Igo mengikuti setiap organisasi di tempat tinggalnya. Mulai dari organisasi pemuda, keagamaan hingga politik. Ya, tinggal pintar membagi waktu saja. Lihat sekarang, ternyata kegiatan yang tadinya tidak berfaedah itu jadi bermanfaat. Orang yang datang ke kafe ini sudah banyak banget. Dan itu menarik perhatian orang untuk datang.
“Kamu udah diterima emang Av?”
“Diterima apa?”
“Menyiar.”
“Udah. Aku kan punya pengalaman. Ditambah lagi, aku udah lulus uji menyiar di depan mereka.”
Beberapa hari yang lalu, Avius datang untuk melakukan wawancara. Cukup singkat karena kehadirannya sangat diperlukan. Susah sekali mencari penyiar yang mumpuni. Kalau udah ada yang jelas, ngapain cari yang lain?
“Syukurlah.”
“Jadi, kalian beneran bisa ikut minggu depan?”tanya Adong ragu. Baginya, ide konyol itu agak tidak mungkin. Mereka rela menghabiskan waktunya hanya untuk pergi ketemu adiknya?
“Beneran dong. Masa bercanda.”
“Oh, yaudah.”
“Jangan dipikirin yang aneh-aneh deh. Aku udah tentukan jadwal cuti.”ucap Josen tegas. “Demi siapa?”lanjutnya dengan senyum iseng.
Adong merasa sangat bersyukur. Bukannya mendapat tatapan aneh, kejujuran tentang keluarganya malah membawa kebaikan. Apa yang ditakutkannya tidak benar-benar terjadi.
Malam yang panjang itu mereka lewati dengan baik. Dan saat malam semakin larut, semua bersiap untuk pulang. Lovi pulang bareng Josen. Ya, mereka punya tujuan yang sama. Dan sisanya pulang sendiri-sendiri.
“Kalau gitu aku duluan ya.”ucap Avius sambil melambaikan tangan. Tinggallah disana Adong dan Aya. Aya akan pulang bersama Igo. Sedang Adong lagi nungguin jemputan temannya. Well, Adong gak akan pulang setelah ini. Dia ada urusan di kota untuk mengatur keamanan anak SMA yang lagi tawuran.
“Kamu masuk aja, Ay. Aku nunggu sendiri.”
“Eh, tapi…”
“Gak apa-apa.”
“Hmm, ya udah. Hati-hati ya.”
Adong mengangguk mengiyakan. Bukannya tenang, ia malah kedatangan orang yang tak diharapkan. Igo. Cowok itu berdiri disampingnya. Tak ada yang ia lakukan tapi sikap itu bikin bulu kuduk merinding.
“Ngapain?”
“Nunggu teman, bang. Ini mau pulang kok.”
“Gak usah buru-buru. Emang aku pemakan orang?”
“Ah, hehe.”
“Kamu beneran gak ada apa-apa sama Aya?”
“I-iya, beneran. Gak ada apa-apa.”ucap Adong panik. Mau mereka pacaran juga, Adong bakal bilang kalau gak ada hubungan apa-apa. Daripada ditabok? Terlebih, Igo terkenal bisa karate sejak dulu.
“Padahal aku bakal senang kalau ada apa-apa.”
“Hah?”
“Dia itu terjebak sama cowok aneh. Cowok yang tiap bulan ngirimin dia sesuatu. Aku takut aja kalau cowok itu datang, terus Aya jadi ketergantungan. Lebih baik sama kamu yang jelas-jelas aku kenal dengan baik.”
Ini benar-benar tak sesuai pikiran negatif Adong. Kok jadi begini? Bukannya Bang Igo jelas-jelas membenci Adong?
“Sorry ya soal waktu itu. Aku terlalu kekanak-kanakan. Kamu gak dendam kan?”
“Engga kok, bang.”
“Baguslah.”
“Oh ya bang, emang beneran soal cowok itu? Bukannya Aya udah putus?”
“Iya, putus. Tapi dia gak bisa tegas. Dikirimin apa saja diterima. Aku takut aja, cowok itu minta balikan dan Aya malah setuju.”
Adong baru tahu ada cerita yang seperti ini. Well, dia memang tahu sebagian kecil dari Tommy. Soal seseorang yang mengirim Aya sesuatu. Adong kira itu cuma hal kecil yang tidak perlu dipikirkan. Ternyata semua yang terjadi jauh lebih besar.
“Ah, ya sudah. Aku masuk dulu.”
Adong mengangguk. Ini adalah satu dari sekian hal baru yang ia ketahui tentang Aya. Bukannya sudah tidak ada rasa, Adong tak bisa kembali. Kalau berani kembali, dia hanya akan membuat luka.
“Bro, ayo!”panggil seseorang dari dalam mobil. Rupanya Adong berakhir pada angan-angan. Dasar, seharusnya dia fokus.
“Ngapain kesini? Tumben banget.”
“Tadi ketemuan sama teman-teman.”
“Aku senang kau jadi begini. Jangan kayak dulu, kemana-mana gak mau.”
“Tapi setidaknya ada kau kan?”
“Iya sih, tapi aku juga akan pergi suatu hari nanti. Sekarang, pergi pun udah gak terlalu signifikan sama hidupmu. Kau punya banyak teman disini.”
Dia adalah orang yang selama ini menemani Adong. Tanpa banyak alasan atau pertanyaan. Dia tak butuh penjelasan untuk mood Adong yang hancur. Seseorang yang berada disisimu tanpa perlu tahu latar belakangnya. Bisa dikatakan dia orang yang sangat tulus.
“Kita mau kemana?”
“Ke SMK 2. Katanya bakal ada tawuran sama SMA 1.”
“Lagi?”
“Iya. Kali ini bukan karena perebutan wilayah, tapi karena cewek.”
Adong malah tertawa mendengarnya. Keingat masa lalu. Tapi kini dia berperan sebagai penjaga keamanan.