.71. Saat Mereka Tahu

1063 Kata
Tak seperti biasanya, jualan Bu Mirna tampak sepi. Bubur ayam yang ia buat sendiri itu punya rasa yang berbeda. Dan tentu saja harganya murah. Tempat makan yang selalu jadi langganan karyawan di daerah itu. Lovi baru saja tiba dan perutnya keroncongan. Oke, lebih baik menyarap dulu sebelum masuk kantor. Percayalah, tak ada yang bisa diselesaikan kalau perut saja gak beres. Konsentrasi akan buyar dan tak bisa digunakan dengan maksimal. “Kok sepi bu? Gak biasanya.” “Eh, Mbak Lovi. Iya nih, kayaknya sih gara-gara ada yang jualan juga disamping rumah sakit. Jadinya saya punya saingan.” “Oh gitu ya. Ya udah, saya pesan bubur ayam biasa ya bu.” “Oke, tunggu sebentar ya.” “Oh ya bu, ibu tenang aja. Nanti juga pelanggan bakal datang kalau ternyata jualan ibu yang lebih enak. Gak usah dibawa pikiran ya bu.” “Iya, makasih ya. Ini ibu tambahin ayam suwirnya.” “Duh, makasih loh bu.” Begitulah persaingan dalam dunia bisnis. Tak mungkin tak punya kompetitor. Tinggal bagaimana mengembangkan diri agar lebih baik dibanding saingan. Lovi berjalan menuju ruangannya. Menikmati bubur ayam tanpa interupsi sebab belum banyak orang yang datang. “Makan tuh bagi-bagi.”celetuk Aya dengan suara sangarnya. “Ngagetin aja. Nih, kalau mau.” “Engga. Gue cuma bercanda.” Aya duduk sambil melihat Lovi makan. Makannya lahap banget dan bikin cewek itu jadi lapar. Akhirnya, dia juga minta. Dasar. Dimana-mana teman memang kayak gitu. Bilangnya gak selera, ujung-ujungnya juga doyan. “Nanti malam ke restonya Bang Igo yuk. Kebetulan buka perdana, mau gak?” “Hmm, ayok. Yang lain mau diajak juga gak?” “Kayaknya gak mungkin mereka bisa. Kau tahu sendiri sesibuk apa mereka bertiga.” “Iya juga sih.” Akhir-akhir ini mereka bertiga gak terlalu heboh di grup. Well, mungkin memang itu emang udah dari sananya. Orang dewasa cenderung ogah melakukan hal yang sama seperti di masa mudanya. Terkadang, ada rasa syukur karena Avius tak jadi menikah. Kalau dia sudah dalam ikatan istri, dapat dipastikan kalau cowok itu tidak akan bisa bersama mereka. Selalu ada penghambat seperti tembok tinggi yang menghalangi. Kodrat manusia yang dianggap normal oleh sebagian orang. Hari berjalan seperti biasa. Tak ada yang menarik kecuali gossip yang membelalak mata. Terlalu banyak skandal di instansi semacam ini. Skandal yang tetap aman terjaga. Tapi bisa dipastikan bahwa akan ada waktu hal itu terkuak ke masyarakat umum. Setelah jam pulang, mereka bergegas ke restoran itu. Restoran baru yang ada di pinggir pantai. Sesuai prediksi, pemerintah mulai memperhatikan tempat itu. Katanya sih beneran mau diubah jadi tempat wisata yang menarik. Bang Igo tentu sangat senang mendengar kabar baik ini. “Gila, bagus banget tempatnya.”komentar Lovi sebagai first impression. Tempat itu terbilang mewah dibanding tempat-tempat lainnya. Ditambah lagi ada tempat untuk live music. Sungguh sangat anak muda banget. “Begitulah. Aku yang milih d******i warnanya.” “Keren. Emang gak salah sahabatan sama Aya.” “Iya dong.” Mereka masuk tempat itu dan ternyata sudah banyak pelanggan. Luar biasa. Di pembukaan pertama, hasilnya sudah sebagus ini. Itulah anggapan Lovi. Tapi sebenarnya tidak demikian. “Gak usah syok atau gimana-gimana. Mereka semua teman-temannya Bang Igo.” “Eh, serius?” “Iya. Kalau gak diundang, tempat ini pasti kelihatan kayak sarang setan.” “Ih gak boleh gitu.” “Eh kalian sudah datang.”sapa Igo dengan ramah. Pria itu memberi tempat duduk spesial untuk mereka berdua. Tempat outdoor yang bisa langsung melihat pemandangan luar. Emang dingin sih, tapi lumayan bagus. “Kalian mau apa?” “Kasih yang paling recommended.”ucap Aya dengan gaya sok nya. Walau udah baikan sama Igo, dia tetap bertingkah sok berkuasa. Tapi Igo udah paham betul sifat adiknya itu, jadi dia memilih untuk mengalah saja. Mengalah belum tentu kalah. “Oke.” “Makasih, bang.”ucap Lovi sebelum pria itu benar-benar pergi. Dengan sigap mereka mengambil foto. Foto yang cantik biar bisa diupload di media sosial. Namanya juga anak muda. Tatapan mata Aya mengarah ke sebuah tempat. Dahinya mengkerut karena bingung. “Kenapa Ay?” “Itu mereka bukan sih?”ungkapnya menunjuk ke arah sana. Lovi menoleh dan ya, tidak salah lagi. Ternyata, tiga pria itu sibuk untuk hal semacam ini. Kirain sibuk melakukan hal penting atau paling tidak melakukan hal bermanfaat. Sungguh mereka seperti orang gila yang menikmati bir di samping pohon besar. “Mereka lagi apa sih? Kenapa mesti disitu?” “Entahlah. Kita pergoki yuk?” “Hmm, tapi kita harus bikin rencana.” “Heh, jangan gila dong. Siapa tahu emang lagi banyak masalah.” “Gak masuk akal. Kenapa gak ngajak kita?” Lovi menggerakkan pundaknya karena tidak tahu. Seseorang membawa makanan yang mereka pesan. Daripada gak enak hati sama Bang Igo, mereka segera menikmati makanan itu. Menghabiskannya dalam waktu cepat biar bisa pergi ngasih surprise sama Avius, Josen dan Adong. “Eh, udah mau pulang?” “Engga bang. Cuma ke sana bentar.” “Oke. Soalnya masih ada acara habis ini.” “Iya, bang. Tunggu bentar.” Aya dan Lovi berjalan dengan cepat. Mencari teman-temannya yang tadi menggalau di bawah pohon. Ada-ada saja. Dengan langkah hati-hati, mereka menghadapi tiga orang itu. Pertemuan yang bikin mereka kaget. Wong jelas, mereka bertemu tanpa ngasih tahu Lovi dan Aya. “Kalian ngapain disini?”tanya Josen dengan tatapan bingung. “Harusnya kami yang nanya, kalian ngapain disini?” Tiga orang itu saling melirik. Tuh kan, ada yang dirahasiakan oleh tiga orang ini. Lovi menatap dengan tajam. “Jawab dong!” “Oke, jadi gini. Kami mengira kalian sibuk, makanya gak diajak.”ucap Adong dengan tegas. “Kami cuma butuh orang lain sebagai pendengar atas masalah masing-masing. Kalau kalian disini, mending kita kumpul bareng aja. Rasanya ini waktu yang pas.”lanjutnya. “Ah, dan satu lagi, mumpung kita semua disini.”ucap Avius dengan gaya penuh wibawa. Dari awal, tujuan pertemuan ini gak boleh bocor. Kebohongan yang dibuat Adong biarlah abadi. Dan untuk mendukung kebohongan itu, Avius hanya perlu mengalihkan dengan topik lain yang lebih menarik. “Aku memutuskan untuk jadi penyiar. Sudah fiks dan akan mulai minggu depan.”ucapnya dengan seulas senyum. Ini berita yang mengejutkan sekaligus menggembirakan. Entahlah, tapi melakukan hobi adalah penyembuh bagi setiap luka. Avius berani melakukan hal itu di tengah besarnya tanggung jawab pekerjaan. Ini adalah keputusan besar yang berhasil ia ambil. Terdengar kata selamat dari setiap orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN