.70. Sampai Jumpa Besok

1018 Kata
Tak tega meninggalkan dia yang sedang lara, Avius memarkirkan motornya di sisi jalan yang tidak mengganggu lalu lintas kendaraan. Dia melihat cewek itu kini duduk di kursi taman. Tak seceria biasanya. Apa hanya karena dimarahi sekali dia langsung begini? “Pulanglah. Aku mau sendiri.” “Apa gak terlalu kekanak-kanakan? Cuma gara-gara sampah langsung ngambek.” Beliv menatapnya marah. “Kau tak tahu apa-apa.” “Kalau gitu, kasih tahu lah.” Tak ada jawaban. Beliv menarik nafas panjang. Lalu ekspresinya berubah. Seperti tidak terjadi apa-apa, dia tersenyum. Senyum yang seperti dipaksa. Lalu dia pergi menolong anak kecil yang menangis karena terjatuh. Kakinya lecet dan berdarah. “Sini kakak bantu. Jangan nangis ya. Ini lukanya gak gede kok.”hibur-nya sambil mengobatinya. Menempel sesuatu di lututnya agar tak makin parah. “Sekarang udah gak apa-apa.” “Makasih kak,” Dia pergi dengan wajah penuh keceriaan. Sesungguhnya, banyak hal kecil yang bikin cewek itu langsung good mood. Ya, salah satunya dengan membantu orang lain. “Jadi kamu kesini karena khawatir? Gak disangka, orang kaku bisa khawatir juga. Atau kamu begini karena aku ya? Kalau orang lain kamu gak kayak gini?”tanya Beliv dengan wajah berseri-seri. Merasa dirinya dianggap spesial oleh pria seperti Avius. Ayolah, siapa yang tidak mau? “Berlebihan. Gak kayak gitu.” “Ah, masa sih? Pokoknya makasih ya. Setidaknya aku gak harus disini sendirian.” “Ya udah, sekarang kamu pulang. Pasti Tante Rini nyariin.” “Daripada pulang, mending temenin aku ke toko buku.”ajaknya bersemangat. Unik sekali. Dalam sekejap dia bisa tertawa begitu riang. Padahal tadi udah kayak manusia kehilangan arah. Walau tak berniat, Avius mengikuti keinginan cewek itu. Dia yang membawa motornya ke toko buku langganan cewek itu. “Apa kamu gak penasaran kenapa saya ke toko buku?” “Hah?” “Walau sekarang zaman sudah berubah, saya masih sering nyari buku lama penunjang pekerjaan.” “Ah, iya.”balas Avius singkat. Dia yang nanya, dia juga yang jawab. Ada-ada saja. Setelah beberapa saat, mereka sampai di toko buku yang sepi. Seiring dengan berjalannya zaman, toko buku tak lagi menarik perhatian banyak orang. Banyak orang yang lebih nyaman membaca di handphonenya. Beliv orang yang picky terhadap buku. Dia butuh waktu mengulas beberapa hal sebelum membeli buku itu. “Sorry banget karena aku bakal lama.” “Ya, terserahlah.” “Tunggu disini aja ya.”ucapnya kemudian. Tak lama, ia datang membawa minuman. Ngasih sama Avius dengan tersenyum. Jadi dia pergi cuma mau beli minum? “Aku mau beli buku yang ini. Tunggu bentar karena kayaknya aku mau nawar. Dan mungkin bakal lama.” “Bayar aja langsung, kenapa harus ditawar?” “Itu sudah kebiasaan pelanggan lama, Av.”balasnya singkat. Dia pergi untuk menemui bapak yang jualan. Ternyata dia tak seburuk yang Avius bayangkan. Ia kira cewek itu hanya mengandalkan wajah cantiknya. Ternyata dia juga punya sisi lain yang menarik. Sisi yang menunjukkan kalau dia pintar dan punya jiwa sosial yang tinggi. “Makasih loh, kamu masih mau kesini. Saya kira sudah lupa.” “Sama-sama pak. Tapi kasih saya diskon dong. Saya juga beli banyak tiap kesini.” “Iya-iya. Kamu datang sama pacarmu?” “Hahaha, bukan pak. Sama calon pacar.” “Ada-ada saja. Jangan calon pacar dong, harusnya calon suami.” “Ih, bapak bisa aja.” Seluruh percakapan itu terdengar jelas di telinga Avius. Tapi dia diam saja. Agak aneh kalau ikut nimbrung. “Makasih pak!”teriak Beliv kencang. Mungkin kalau ada kucing melamun bakal ikutan kaget deh. Apa dia gak sadar kalau suaranya melebihi toa? Tak seperti dugaan, dia terlihat senang setelah mendapatkan buku itu. Bahkan sampai bersenandung saking gembiranya. “Kalau gitu, sekarang kita pulang.” “Hmm, oke.” “Kamu gak mau ngomong apa gitu?” “Apa?” “Sudahlah. Tapi perasaanku masih sama loh. Kalau kamu mau, kita bisa pacaran sekarang.” “Kamu udah gila ya? Cuma cewek aneh yang bilang kayak gitu sama cowok.” Bukannya sakit hati atau merasa tersinggung, Beliv malah tertawa. Ternyata ada cewek yang segampang ini menyatakan cinta. Dan lebih aneh lagi, dia gak baper meski tak ditanggapi Avius dengan baik. “Namanya juga usaha.” Avius geleng kepala. Beliv memang cewek teraneh yang pernah ia temui. Dia melewati jalanan itu untuk mengantar Beliv pulang. Yang tadinya mau pulang cepat jadinya gagal. Jadwal tidurnya harus sedikit berubah. “Makasih, sampai jumpa besok.” “Besok?” “Ah, aku usahain deh biar ketemu besok.” Avius bergegas pergi. Semakin didengar, semakin merinding. Setiap kata yang diucapkan cewek itu bikin was-was. Argh, ada-ada saja. “Kamu dari mana aja? Mama kira bakal langsung pulang?”tanya mama penuh selidik. Avius jadi berpikir keras, gak mungkin dia mengatakannya yang sebenarnya. Tentang cewek itu sebaiknya gak usah diceritakan. Entar mama jadi berpikir yang tidak-tidak. “Aku ada urusan tadi ma.” “Oh, gitu. Udah kamu kasih payungnya? Apa kata Bu Rini?” Avius menaruh sepatu dan duduk di sofa. “Aku ditawari makan. Gara-gara mama sih. Udah tadi ngobrolnya lama banget.” “Ya gak apa-apa. Dia lebih baik daripada ibu-ibu di komplek ini. Dia bukan orang yang ngurusin hidup orang. Katanya sih, hidup dia aja udah rumit.” “Ah, ma, emang kenapa sama hidup dia?” Ternyata nasib Beliv sama seperti Adong. Hidup dalam keluarga broken home. Bedanya, Beliv sudah berpisah dengan orang tuanya selama bertahun-tahun. Apa yang terjadi di antara mereka? Sampai Bu Rini terlihat tidak suka pada Beliv? Ya, mungkin saja ada masalah pribadi yang tak pernah diberitahu pada orang lain. “Begitulah hidup, Av. Ada yang berpisah karena kematian, ada juga yang berpisah karena tidak cocok lagi.” “Tapi mending karena tidak cocok ya, ma.” “Gak juga. Orang hidup malah lebih bikin trauma dan nyakitin, Av.” Avius tersenyum tipis. Dia bergegas ke kamarnya. Merenungi hari ini dan memaknainya dengan baik. Dia bersyukur punya sahabat yang membuatnya lupa dengan kisah hidupnya. Kalau tak ada mereka, Avius benar-benar akan terjebak masa lalu. Ketenangan itu buyar saat sebuah pesan datang. Beliv : Kamu udah nyampe rumah kan? Makasih udah nganterin aku. Sampai jumpa besok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN