.69. Gak Sengaja

1158 Kata
Tak mudah berpura-pura tidak tahu. Avius mungkin bisa menutupinya sesaat, tapi tidak selamanya. Kenyataan bahwa dua sahabatnya masih terkoneksi dengan dua cewek itu. Dua cewek yang juga sahabatnya. Mungkin akan sulit. Terutama bagi Josen yang sepertinya sudah tidak punya harapan. Tak ada yang salah dengan mengungkapkan rasa. Sayang seribu sayang, perilaku itu tidak dibenarkan jika target sudah jadi milik pria lain. Josen terlalu pengecut dan tidak tahu diuntung. Bisa-bisanya berdiam diri selama ini. “Nak, kamu lagi gak ada kerjaan kan?” “Kenapa ma?” “Bisa tolong antar ini ke rumah Bu Rini? Mama pinjam udah mau sebulan, tapi gak sempat ngembaliin.” Sebuah payung warna kuning. Rupanya itu milik Tante Rini. Wanita yang tinggal di kompleks Y. Seingat Avius, wanita itu sangat heboh. Kehebohannya melebihi Lovi dan Aya. Dan semua itu memberi Avius kesan bahwa dia orang yang menyebalkan. Waktu gak sengaja ketemu, dia ngajak ngobrol banyak banget. Kalau dijadiin buku, bisa berlembar-lembar. “Gak, gak. Aku gak mau ketemu Tante Rini.” “Lah, kenapa? Dia baik kok. Mama suka ngobrol sama dia. Waktu jadi gak berasa.” “Itu kan mama. Beda sama aku.” “Ayolah, Av. Mama harus beresin barang-barang ini. Kamu tega?” “Nanti aja ngasih-nya, kalau mama ketemu Tante Rini lagi.” “Mama gak enak. Kami juga belum tentu ketemu dalam waktu dekat ini.”pinta mama dengan sorot mata sedihnya. Gimana sih ekspresi orang yang ngarep pake banget? Begitulah. “Ya udah. Mana payungnya?” Tuh kan, Avius gak mungkin setega itu. Digoda sedikit, dia pasti akan luluh. Tapi sebelum pergi, dia malah kembali. Duduk di samping mama yang sibuk membereskan barang-barang usang yang sudah tidak dipakai. Rencananya sih mau dijual. Daripada bikin rumah makin padet. “Kenapa lagi?” “Sebenarnya, aku pengen menyiar lagi ma. Boleh gak?” “Menyiar? Dimana?” “Di radio, ma. Ini masih rencana, tapi mama setuju kan?” “Kamu yakin? Gak bikin capek?” “Hmm, aku mau coba sebulan dulu. Kalau nyaman, lanjut. Kalau nggak, tinggal di stop.” Dulu sih mama melarang keras kalau Avius jadi penyiar. Tapi sekarang kan udah beda. Lagian, cowok itu sudah tahu mana yang terbaik untuknya. Mama juga banyak berubah dalam menghadapi anaknya itu. “Ya, terserah kamu aja.” “Okay.”ucap Avius sambil bergegas pergi. Satu masalah kelar. Dia tinggal memantapkan hatinya saja, benarkah mau jadi penyiar lagi? Soal skill, dia tentu masih punya. Hanya saja, dia butuh adaptasi untuk memulai kembali. Dan itu gak mudah. Dengan motor bututnya, dia hanya menempuh sepuluh menit untuk sampai di rumah itu. Rumah Bu Rini yang didominasi bunga-bunga bermekaran. Tanpa pikir panjang, dia menekan bel yang ada di depan. Fiks, udah kayak nganter paket. Seseorang membuka pintu dan bikin dia kaget bukan main. Kok bukan Bu Rini yang muncul. Cewek yang menyambutnya adalah dia yang akhir-akhir ini mengganggunya dengan pesan-pesan random yang menyebalkan. “Eh, kok kamu disini?” “Kamu siapa?” Ini lumayan canggung. Apalagi Beliv tak terlihat seperti biasanya. Kalau di rumah sakit, dia tampak berwibawa dan berkelas. Di sini, ia hanya gadis biasa yang pakai kaos oblong dan celana pendek. “Eh, Avius. Kamu ngapain?”ucap Bu Rini sambil mendekat padanya. “Aku mau nganter payung, tan. Mama gak sempat mulu mau balikin.” “Astaga, harusnya gak usah dibalikin sekarang juga gak apa-apa. Kamu jadi repot kan.” “Gak apa-apa, tan. Ini payungnya. Saya pulang….” Dia menarik tangan Avius. “Ayo, kita makan dulu. Jangan langsung pulang.”ucapnya dengan penuh kehangatan. Avius terpaksa mengikuti ucapan wanita itu. Baiklah, ikuti saja alurnya. “Aku juga mau makan!”ucap Beliv penuh semangat. “Enggak. Kamu kan tadi udah makan. Sana beresin sampah depan rumah.”ucap Bu Rini dengan judes. Beliv kelihatan kesal sampai ke ubun-ubun. Tapi dia tetap melakukannya. “Ah, makasih tan.” Tibalah saatnya wanita itu bicara panjang lebar. Tentang banyak hal, termasuk keluarganya. Dan baiknya, dia gak bertanya macam-macam sama Avius. Termasuk masalah pernikahan yang gagal. Orang yang banyak bicara ternyata tidak sembarangan bicara. Ada yang bicara sedikit tapi menyinggung perasaan. “Saya kira tante cuma punya anak laki-laki.” “Ah, itu. Dia anak nakal yang tinggal sama neneknya. Setelah lulus, saya suruh dia ngelamar kerja disini. Gak nyangka bisa lolos.” Pantas saja Avius tak pernah melihatnya. Walau jarang ikut perkumpulan ibu-ibu, Avius tahu kalau Bu Rini punya satu anak laki-laki yang usianya setahun di atas Avius. “Oh, pantesan tan. Saya gak pernah lihat sebelumnya.” “Jangan dekat-dekat sama dia. Dia rada gila. Saya aja sering kesal sama dia. Dia cuma bisa kerja di rumah sakit. Gak ada satupun pekerjaan rumah yang beres. Lihat aja itu.” Baru kali ini Avius ketemu seorang ibu yang menjelek-jelekkan anaknya. Sungguh luar biasa. Dan terlihatlah pemandangan aneh di luar sana. Saat cewek itu bingung harus menaruh sampah dimana. Ternyata Bu Rini sudah berkali-kali mengajarinya tapi tak kunjung beres. Dan saat dia kembali, mereka melihatnya heran. Dia malah tersenyum manis. “Udah ma, sampah sudah beres. Aku mau.” “Bodoh banget sih! Beres apanya? Mama kan udah bilang, sampahnya dibungkus plastik lagi. Biar gampang dibawa sama petugas.” “Tapi kan itu udah dikumpulin.”ucap Beliv kesal. Tiba-tiba sebuah panggilan datang. Bikin Bu Rini pamit karena katanya ada kerjaan. Sedang Beliv mendengus kesal dan berpikir keras gimana cara mengurus sampah yang banyak itu. Dalam kekacauan itu, Avius izin pamit. Beliv benar-benar muak. Saat gebetan datang, dia malah menunjukkan sisi negatif. Tak seperti tadi, ia menutup wajahnya dengan topi. Percaya dirinya runtuh sekejap. Lagian, cewek mana yang sanggup dipermalukan seperti ini? Menyebalkan. “Sini, biar aku yang beresin.”ucap Avius hendak membantu. “Gak usah. Kamu pergi aja.” “Kamu kan gak ngerti. Biar ku ajarin.” Avius mengambil alih sampah itu. Dibungkus dengan baik dan Beliv melihatnya dengan terkesima. Well, cowok itu memang sangat dapat diandalkan. “Udah kan?” “Ma-makasih.” “Sama-sama, ya udah, aku pergi ya.” “Tunggu dulu. Aku mau ikut.” “Ikut?” “Aku lagi sedih. Kau cukup mengantarku sampai taman depan.” “Tapi,,,,” Beliv tampak memaksa. Dia memang kelihatan kesal. Dianggap tidak becus oleh keluarga sendiri adalah petaka bagi diri sendiri. Mungkin orang yang melihat biasa saja, tapi tidak dengan yang merasakan langsung. Akhirnya, Avius menerima ajakan itu. Dia meminta turun di sebuah taman yang ramai dengan anak kecil. Tak seperti biasanya, cewek itu hanya tersenyum sekedar. “Thanks.”ucapnya singkat. Dia berjalan seperti tak tentu arah. Ini sudah kesekian kalinya Bu Rini membuatnya kesal. Okelah, dia memang anak nakal dalam track recordnya selama ini. Tapi itu gak semata-mata bikin Bu Rini menyepelekannya. Wanita itu harusnya sadar kalau dia punya anak perempuan yang punya perasaan. Eh, dia malah mengatakan hal yang menyakitkan. Dia gak tahu aja, Beliv berusaha keras untuk bisa jadi dokter. Dan ketika ia mencapai tujuannya, Bu Rini tetap lebih memilih kakak laki-lakinya itu. Dunia ini memang tidak adil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN