Ada yang sibuk dengerin musik, ada yang sibuk nonton drama. Disamping itu, ada juga yang sibuk selingkuh di luar sana. Berita perselingkuhan yang sempat menggemparkan satu instansi seperti tidak berguna. Mungkin si istri tidak bisa berbuat apa-apa. Dan akhirnya memilih untuk diam. Bagi orang lain, itu bukan urusannya. Mari mengurusi diri sendiri.
“Kenapa kusut gitu? Bukannya kamu cuma beli duku doang?”tanya Aya saat Lovi masuk ruangan. Cewek itu seperti mendapat setumpuk beban di bahunya. Padahal gak ada kerjaan penting. Mereka hanya perlu menunggu jam pulang tiba. Sesimpel itu.
“Aku sudah mengacaukan semuanya.”keluh Lovi sambil duduk disamping Aya. Merebahkan wajahnya di atas meja dan menghadap ke arah Aya.
“Apa yang kacau? Pacar?”
“Bukan. Ini masalah Avius.”
Soal Avius yang dengan tegas menolak Beliv. Padahal cewek itu sedang berjuang untuk meluluhkan hati pelan-pelan. Dan sekarang, oleh karena ide konyolnya itu, hubungan mereka malah memburuk.
“Avius gak bakal semudah itu menerima orang baru, Lov.”
“Kenapa gak bisa?”
“Sekarang pertanyaannya, cewek itu akan menerima dia gak? Dengan masa lalunya? Menurut kita yang sudah tahu ceritanya, pasti gak apa-apa. Tapi tidak bagi orang baru.”ucap Aya menjelaskan.
“Iya juga. Kenapa aku gak mikir kesana ya?”
“Udahlah, biarin aja. Jangan terlalu ikut campur. Mending kita mikirin Adong.”
“Itu mah emang mau mu kan?? Di otakmu itu cuma ada dia. Tapi gengsinya bukan main.”
“Eh, gak kok. Itu kan wajar sesama teman.”
“Jangan bohong, Ay. Aku bisa membaca semuanya.”
“Sok tau ih.”
“Terus gimana sama Adong?”
“Dia bilang berniat pergi kesana sih. Kamu ikut kan?”
“Hmm, kalau dia udah setuju, kita tinggal nanyain jadwal di grup.”
“Sekarang?”
“Iya dong.”
Mereka langsung kirim ke grup. Rencana pergi ke Kota Dumai untuk bertemu Visi. Cukup sulit menentukan jadwal yang tepat sampai di temukanlah satu hari yang free. Bulan depan tepat di hari jumat malam. Rencana berangkat malam biar bisa sampai pagi.
“Sekarang clear. Ah, jadi gak sabar.”
“Kamu kan emang suka jalan-jalan. Dibanding gak sabar, aku lebih mikirin entar pasti capek banget. Di mobil seharian sampai bikin p****t tepos.”
Lovi tertawa mendengarnya. Aya memang terkesan mageran. Perjalanan panjang nanti akan seperti neraka baginya. Kebalikannya, Lovi akan sangat menikmatinya. Merasakan kehebatan perjalanan yang menyenangkan. Ditambah lagi, suasana yang berubah setiap mobil berjalan. Bepergian itu sangat menyenangkan.
“Nanti shopping yuk. Beli baju baru.”
“Ngaco. Gak ada uang. Harus nabung.”
“Sombong banget. Beli yang murah aja.”
“Ya udah.”
“Yeay. Bang Igo gimana bisnisnya?”
“Lumayan. Tapi berita baiknya, pemerintah lagi beresin pantai itu. Jadi kemungkinan besar, bisnisnya bakal sukses.”
“Bagus dong. Makanya jangan suka sepele sama bisnis orang.”
“Apaan sih, aku udah baikan sama Bang Igo.”
Mereka berakhir pada ngobrol random yang tidak berfaedah. Sampai akhirnya, jam pulang tiba dengan tidak terasa. Jika dihabiskan dengan menggosip, waktu yang panjang akan terasa singkat.
***
Hanya ada sebotol minuman untuk menemaninya sore ini. Melihat pemandangan yang indah dari balik jendela restoran.
“Hari yang melelahkan. Apa dia belum datang?”
“Tenang saja. Pasti sebentar lagi. Guru macam dia punya kesibukan luar biasa.”
“Av, aku juga kok. Tapi aku selalu tahu mana yang prioritas.”
Avius dan Adong sudah menunggu sejak tadi. Sambil mendengar riuh gitar di sebelah. Ada segerombolan anak SMA yang bernyanyi. Tidak berisik dan mengganggu sebab suara mereka bagus. Malahan, mereka seharusnya diberi tips karena sudah menghibur para tamu di restoran ini.
“Jadi gimana dengan gebetan barumu? Ada peningkatan?”
“Jangan seenaknya bikin kesimpulan. Gak ada yang namanya gebetan.”
“Lovi yang bilang sendiri padaku. Aku tahu dia gak mungkin membual.”
“Itu cuma cewek gak penting. Gak usah dipikirkan.”
“Kalau dia cantik, sikat aja langsung.”
“Mana bisa gitu.”balas Avius dengan tatapan nanar pada suasana malam yang kian gelap. Dia juga heran, cewek itu gak kapok mengirimnya pesan. Pesan yang cuma dibaca Avius tanpa dibalas. Dia benar-benar gak suka sama cewek agresif seperti itu. Sejauh ini, mantannya tak ada yang agresif. Ya, cewek itu bukan tipe Avius banget.
“Kau sendiri juga sama.”
“Aku hanya tak mau menikah, Av. Sejauh ini, cewek di kota ini menginginkan pernikahan. Aku gak mau menghancurkan ekspektasi orang demi diri sendiri.”
“Kau begini gara-gara Visi? Padahal waktu SMA, kau yang ngebet pengen nikah muda.”
“Pokoknya, dulu beda sama sekarang.”
“Dasar!”
“Ngomong-ngomong, aku punya sesuatu.”ucap Adong sambil mencari sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah brosur dengan visualisasi yang banyak. Penuh warna hingga memenuhi keseluruhannya. Sebuah pengumuman pencarian penyiar untuk sebuah stasiun radio.
Jujur saja, Avius tak ingat lagi seperti apa dirinya saat dulu jadi penyiar. Ah, zaman itu sudah berlalu, tapi masih terasa menarik. Sudah lama sekali, tapi waktu itu Avius merasa sangat senang.
“Ah, kenapa kau ngasih ini sih?”
“Ayolah, kau pasti kangen kan. Mendengar suaramu udah bikin cewek meraung-raung. Kau harus coba lagi. Mumpung radio masih punya eksistensi. Siapa yang bisa menjamin akan bisa survive kedepannya.”
Adong benar. Semakin luar biasanya era digital, tak memungkiri hal-hal yang bisa hilang dalam sekejap. Apa dicoba saja ya? Tidak ada ruginya jika siaran itu bisa dilakukan malam hari. Walau penuh dengan jadwal, tentu lebih menyenangkan karena gak harus memaksakan diri untuk tidur. Ya, semakin hari, Avius makin susah untuk tidur nyenyak.
“Hey, guys. Maaf membuat kalian menunggu lama.”seru Josen yang baru saja tiba dengan setumpuk buku. Begitulah guru menjalani hidupnya. Tapi tetap saja penampilannya selalu keren.
“Santai.”
“Kenapa telat? Sibuk banget?”
“Begitulah. Ada kerjaan kepala sekolah yang gak bisa ditunda. Terpaksa ikut lembur deh.”
“Ya sudah, ayo makan-makan.”
Setelah prosesi baikan yang keren, tiga cowok itu punya kebiasaan bertemu hanya untuk membicarakan masalah hidup. Mulai dari hal pribadi sampai pada hal-hal yang menyangkut pekerjaan. Dan pertemuan singkat yang sekali seminggu ini selalu memberikan hasil positif yang menenangkan mereka bertiga. Kenapa gak ngajak Lovi dan Aya? Tentu saja karena dua orang itu menghancurkan pikiran mereka bertiga. Mereka tak bisa jujur tentang diri mereka masing-masing.