.67. Menghadapi Batu

1183 Kata
Sepanjang malam, Lovi dan Aya cekikikan. Ada aja yang bikin mereka memilih ngobrol daripada tidur. Cowok-cowok cuma bisa pasrah daripada diamuk sama cewek gila itu. “Mereka sudah tidur ya? Cupu banget.” “Jangan gitu, Ay. Emang pada capek kali.” “Hmm, iya juga sih. By the way, udah gimana sama Edgar?” “Gimana apanya?” “Harus dong kamu kenalin ke kita-kita. Okelah aku udah kenal dia. Tapi mereka belum kan?” “Avius udah kenal dong.” “Bukan kenal yang seperti itu. Tapi kenal yang official.” Aya lebay banget. Gak perlu official kalau mau mengenal seseorang. Sekarang, apapun bisa jadi wadah untuk mengenal seseorang. Bahkan internet sangat mampu menghubungkan dua orang yang ingin saling mengenal. Tidak perlu didramatisasi. “Kapan-kapan deh.” “Awas aja, jangan bergerak kalau mau tunangan. Itu gak benar namanya.” “Ih, kacau. Tunangan apanya sih?” “Ya, siapa tahu kan.” “Udah yuk, kita tidur.” “Senang banget ya hari ini. Dulu kita di rumah Adong nginep bareng. Sekarang udah beda tempat, tapi tetap aja bikin senang.”gumam Aya sambil berusaha tidur. Mengingat memori jaman dulu, seperti energi baru yang menghidupkan. Sejenak melupakan dewasa yang tidak ramah ini. Saat malam semakin larut, ada yang masih terjaga. Mendengar setiap percakapan walau dengan posisi tidur paling baik. Adong menghela nafas sambil memikirkan semuanya. Setelah perjalanan panjang, waktu berlalu begitu saja. Ia tak berani menghadapi dunia. Dia ingin terus berjalan di tempat. Visi belum tentu baik-baik saja, jadi buat apa dikunjungi? Tapi walaupun demikian, bukankah Visi pasti akan merindukannya? Sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Lalu, apakah Adong tega melihat adiknya itu menderita? Sesungguhnya, tidak. Dia melihat ke arah teman-temannya yang masih tidur. Mereka juga punya penderitaan masing-masing. Tapi masalah itu dibuat jadi motivasi. Tak membuat mereka bersedih. Mereka selalu punya waktu untuk tertawa. Ya, hidup memang begitu kan? Selalu ada tawa dan tangis. Keduanya beriringan terjadi dalam hidup manusia. Jadi, sudah seharusnya manusia terbiasa dengan hal itu. *** How’s your day? Tentu saja mengasyikkan. Lovi cerita banyak banget sama Edgar. Dan Edgar menjelma jadi pendengar yang baik. Baru kali ini Lovi bercerita sangat antusias. Dia memang sangat gembira dengan kegiatan terakhir itu. Walau mereka kepergok sama satpam, mereka berhasil mengelabui pria paruh baya itu. Tentu saja dengan bantuan Avius. Avius adalah orang yang sangat terkenal sejak dulu. Masih ada orang sekitar yang mengenalinya. Ada ibu kantin yang mendukung pernyataan mereka. “Sorry ya, aku jadi banyak ngomong.” “Gak apa-apa.” “Jarang-jarang aku bawel kayak gini.” “Mau bawel apa engga, tetap aja cantik.” Demi apapun, Lovi terkesima mendengar ucapan itu. Bisa-bisanya dia suka digombalin kayak gini. Sadarlah, Lovi. Dia bukan cewek yang seperti ini. “Oh ya, teman kamu beneran ada hubungan sama Beliv?” “Hah? Siapa?” “Avius.” “Emang iya?” “Fiks, kamu gak tahu apa-apa.” Beliv semakin atraktif kian hari. Dia menanyakan banyak hal soal Avius. Dan tentu saja, Edgar tidak tahu apa-apa. Katanya sih, Beliv benar-benar jatuh cinta. Dan dia udah gak suka lagi sama Edgar. Ya, dia sudah pindah haluan. “Dia kayak gitu gara-gara kamu udah punya pacar kan? Coba belum, pasti kamu yang diincar.”seru Lovi dengan mimik wajah kesal. “Kamu cemburu?” Kali ini Edgar memasang wajah iseng dengan seribu makna. Benar-benar bikin kesal. Ini bukan cemburu tapi kepo. Wajar dong kepo. Apalagi ini menyangkut Avius. Avius itu sahabat baik Lovi. Dia gak mau kalau sahabatnya itu berakhir pada wanita yang sama. Wanita yang melukainya. “Jangan underestimate sama Beliv. Dia itu orang yang awas sama cowok. Dia deketin cowok yang gak suka sama dia. Makanya dulu, dia dekatin aku.” “Emang iya?” “Kamu tanya aja sama Avius.” “Kalau memang seperti itu, ya udah.” “Apa mau coba kita atur?” “Gimana caranya?” Rencana itu terjadi pada dua orang yang tidak tahu apa-apa. Keduanya ngajak janjian di sebuah restoran mahal. Dengan alasan mau membicarakan sesuatu. Dan akhirnya, mereka bertemu di tempat itu. “Eh, kok kamu disini?”Tanya Beliv heran. Avius menarik nafas kesal. “Jadi kamu gak tahu apa-apa?” “Iya.” “Kalau begitu, aku duluan.” “Tunggu dulu!”ucap Beliv menahan cowok itu. “Karena sudah disini, mending makan dulu. Kamu tahu kan, aku kesini mengorbankan jam makan siang. Tega banget.”desak cewek itu dengan wajah sedih. Akhirnya Avius mengalah. Lihat saja, Lovi akan kena batunya nanti. Ini pasti rencana cewek itu. Beliv sosok yang bersemangat saat lagi makan. Dia sangat menggebu-gebu karena sepertinya sudah lapar. “Maaf ya, aku lapar banget.” “Gak apa-apa.” “Rumah sakit ruwet banget. Pasien banyaknya minta ampun. Ini makan pertamaku hari ini. Aku belum makan apa-apa.” Resiko kerja di bidang kesehatan adalah seperti itu. Tak ada waktu yang pasti untuk beristirahat. Bahkan seharian bisa gak pulang. Namanya juga resiko pekerjaan. “Ini, habisin aja.”ucap Avius menawarkan sisa daging di mangkuk itu. “Eh, jadi ngerepotin. Tapi beneran gak mau lagi?” “Iya. Aku masih kenyang.” “Ah, terima kasih. By the way, kalau diet yang terlalu ekstra. Nanti sakit.” “Aku gak bilang lagi diet.” “Oh iya toh? Soalnya cowok biasanya makan banyak.” “Itu namanya Toxic Masculinity.” “Wah, maaf kalau menyinggung. Tapi aku gak ada niat untuk mengarah kesana.”ucap Beliv sedih. Dia gak nyangka kalau Avius akan menanggapinya dengan serius. Padahal Beliv hanya sedang deg-degan. Dia butuh keberanian dan otak yang cerdas mencari topik pembicaraan. Dikira mudah bicara dengan batu? Yang ada makan hati. Avius tidak mau banyak bicara. Dia makan dengan tenang. Benar-benar pria anggun nan berkelas. Malahan, Beliv yang terlihat bar-bar menikmati makanan itu. Itulah susahnya jatuh hati pada orang seperti Avius. Tapi Beliv mau berusaha. Bukan Beliv namanya kalau gak berjuang sampai titik darah penghabisan. Kata menyerah hanya untuk orang lemah. “Oh ya Av, kau tinggal dimana?” “Daerah X.” “Oh iya? Aku di daerah Y. Berarti kita gak jauh-jauh banget dong. Kapan-kapan pulang bareng yuk.” “Gak usah. Aku gak suka orang masuk privasiku.”tegas Avius. Bikin Beliv ciut. Hell, sedih banget rasanya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Sikap Avius kayak batu yang gak pecah meskipun terkena deburan air yang kencang. Segitu kakunya dia. Apa dulu dia begini? Setelah selesai makan, mereka langsung pulang. Tak ada pembicaraan serius dan yang tersisa di hati Beliv adalah kekecewaan. “Terimakasih pak.”ucapnya mengakhiri saat diantar taksi ke rumah sakit. Dan dia gak sengaja lihat Lovi sedang membeli buah. Ada yang jualan duku di tengah jalan. Dia langsung menyusul cewek itu. “Astaga, kok kamu bisa disini?” “Sekarang aku tahu. Ini semua ulahmu sama Edgar.” Lovi tersenyum tipis dengan wajah penuh rasa bersalah. Soalnya wajah Beliv kelihatan tidak puas. Apa terjadi sesuatu? Apa rencana yang dibuat Edgar malah bikin semuanya runyam? Argh, memang begitulah hidup. Rencana yang sudah dibuat matang sering berakhir sia-sia alias gagal. Tak ada jaminan kalau keinginan akan jadi kenyataan. Mirisnya hidup ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN