Dengan rencana sederhana yang tidak matang, Lovi dan Aya berhasil mengumpulkan semua orang di hari sabtu malam. Josen sih yang bikin semuanya jadi rumit. Dia sibuknya melebihi petinggi negara.
“Lama banget anjir. Ini sudah jam 9.”komentar Aya saat Josen sampai dengan terburu-buru. Emang sih dia kelihatan capek banget, tapi itu gak bikin Aya kasihan.
“Tega banget sih! Sini, makan dulu Jos.”ajak Adong seraya memesan beberapa porsi lagi. Kalau gak makan, bisa pingsan. Emang sih, mereka bawa cemilan gitu. Tapi kenyangnya gak seberapa.
“Emang gitu, cewek selalu merasa benar.”
Josen menikmati makanan disaat yang lain sibuk main handphone. Benda kecil itu sudah mengambil jiwa manusia. Ya, mirip sama setan lah. Benda yang mengasyikkan hidup banyak orang. Kalau gak ada dia, otomatis hidup terasa hampa.
“Ngomong-ngomong, kita beneran bisa masuk? Aku gak mau ada drama ya. Kita udah dewasa, kalau Lovi sih aku gak yakin.”ucap Avius sambil tertawa.
“Sialan! Kok gitu ngomongnya?”
“Soalnya kan, kau yang paling ngebet buat pergi kesana.”
“Heh, jangan sok tahu ya. Ini semua idenya Adong.”ucap Lovi membeberkan fakta. Bikin Avius sama Josen melihat cowok itu. Dari awal, mereka mengira kalau ini semua ide konyol Lovi. Dua orang itu pasti langsung mengusahakan. Tahu sendirilah alasannya. Dua pria yang dari dulu selalu terhubung ke Lovi.
“Aku gak jadi ikut, abis ini aku mau pulang. Malam mingguku jadi sia-sia.”ucap Josen sambil menyeruput kuah bayam yang tinggal sedikit.
“Aku juga. Lebih berfaedah nonton film di rumah.”dukung Avius.
“Aish, gak bisa gitu dong. Emang teman kalian cuma Lovi?”tegas Aya tidak terima.
“Kalau kalian mau pergi, terserah. Tapi habis itu, pertemanan kita bubar.”ucap Lovi tegas. “Tenang Dong, ada kami dipihakmu.”lanjutnya.
Terlanjur basah, mereka semua akhirnya berangkat. Melewati trotoar yang biasa mereka lewati waktu pergi ke sekolah. Dulu sih ramai, sekarang mereka melewatinya di tengah keheningan malam yang cukup menegangkan. Lovi dan Aya jalan duluan sambil membicarakan banyak hal. Terlihat sekali kalau mereka sangat bahagia.
“Jadi kenapa tiba-tiba mau ke sekolah? Kau kangen dihukum sama guru?”ledek Josen sambil berjalan di belakang dua cowok itu.
“Bukan gitu, aku beneran cuma kangen aja. Dan kebetulan ada kesempatan emas kita bisa kesana.”
“Tapi iya juga sih, setelah lulus SMA, aku gak pernah ke sekolah lagi. Sama sekali.”seru Avius.
“Kau gak ikut reunian yang dulu? Perayaan setahun lulus SMA?”tanya Josen heran.
“Engga. Emang kalian ikut?”
“Aku engga.”balas Adong.
“Ya, ternyata cuma aku yang ikut. Dua cewek itu juga gak ikut. Pantas dulu sepi banget kayak kuburan.”
“Bohong banget. Kau kan di situ lagi reunian sama mantan-mantanmu. Aku lihat fotomu sama Debora.”ucap Avius terkekeh. Itu adalah potongan kisah yang sudah menghilang dari ingatan Josen. Eh, malah diingatkan. Emang sih, dulu Josen pergi hanya untuk menghabiskan waktu. Dan dia masih dekat sama sebagian besar anak hits sekolah. Sedang empat orang lainnya, memilih untuk tidak datang karena mereka akan dianggap salah masuk kamar. Kelompok biasa dan hits jika digabung bisa menimbulkan kecanggungan.
“Ah, kalau itu sih buat happy-happy aja.”
“Ya iyalah. Kau kan termasuk anak hits dulu.”
“Wah, sedang ngeledek?”
“Eh, buru tuh. Dipanggil.”ucap Avius sambil mempercepat langkahnya.
Terlihat beberapa anak SMA menunggu di depan gerbang. Tak seperti jaman dulu, mereka sangat fashionable. Dan tentu saja, terpancar keceriaan masa remaja yang bikin rindu. Argh, kenangan itu udah gak bisa diulang.
“Ayo kak, biar kuantar.”
“Eh, gak ada satpam emang?”
“Engga. Satpamnya udah pulang. AH, besok balik sebelum jam 6 ya. Soalnya bapaknya sampai sini jam 6.”
“Okay.”
Mereka diarahkan ke lantai 5 gedung. Gila sih, sekolah ini udah berubah banget. Jadi makin bagus. Fasilitasnya juga makin banyak. Memang sudah seharusnya begini.
“Kalian bisa tidur di dalam. Tapi jangan di berantakin ya kak.”
“Tenang. Aman kok. Makasih ya.”
Cewek itu pergi setelah memastikan semua aman. Enaknya punya orang dalam. Lovi berjalan dengan langkah tenang. Ini benar-benar pemandangan yang menarik. Ia membuka pintu ruangan yang ada di sisi kanan atap.
Surprise!
Argh, gila sih. Lovi jadi gak enak. Disediakan alat buat bikin api unggun. Rupanya, anak sekolah juga sering bermalam disini. Apalagi anak pramuka. Seenggaknya buat memplonco siswa baru.
“Kenapa Lov?”
“Sialan! Bikin kaget aja.”
“Sorry. Lagian kamu kelamaan berdiri. Kayak lihat setan.”komentar Aya sambil masuk ruangan itu. Dia duduk di kursi yang ada disana. Banyak sekali alat untuk melakukan aktivitas outdoor. Wah, sekolah ini sudah banyak peningkatan.
Mereka langsung bersiap untuk menyalakan api unggun. Duduk dengan tenang sambil menikmati indahnya malam. Dan bersyukur, tak ada hujan malam ini. Ramalan cuaca yang cukup valid.
“Jadi, apa maksudnya kita kesini? Gak ada yang menarik.”ucap Josen sambil mengunyah rumput laut yang krispi.
“Jangan gitu, Jos. Aku senang pake banget.”ucap Lovi sambil tersenyum.
“Wah, ternyata kau lebih senang kesini daripada sibuk pacaran.”
“Apaan sih? Edgar ke Jakarta kemarin. Pulang kampung. Eh, tepat gak sih bilang ini pulang kampung?”
“Oh iya? Mau minta restu kah?”tanya Aya.
“Ngaco.”
“Maaf ya, gara-gara aku kalian jadi susah.”ucap Adong.
“Eh, engga kok!”ucap Lovi dan Aya bersamaan. Mereka berdua memang sehati. Sudah sejak dulu punya prinsip yang sama tentang sesuatu. Pantas saja pertemanan mereka langgeng waktu SMA. Gak pernah berantem. Mentoknya hanya diem-dieman tapi itu gak lama.
“Datang ke sekolah bikin aku kangen masa-masa indah. Bukan cuma tentang pertemanan kita, tapi juga keluargaku.”seru Adong bikin perasaan semua orang kembali tidak enak. “Tak ada yang lebih indah dari masa itu. Aku hanya ingin mengenangnya. Dan sepertinya akan menyenangkan.”
“Dong, maafkan kami. Kami berdua emang gak punya otak.”ucap Avius sambil memukul kepala Josen. Josen mencibir kesal.
“Kita bersenang-senang hari ini!”
“Yeay!!!”
Fokus pada pembicaraan yang menyenangkan. Itu bisa bikin manusia melupakan hal-hal pelik dalam hidupnya.
“Aku tuh berencana nemenin Adong ketemu Visi. Kangen gak sih sama dia?”ucap Aya sambil menikmati popcorn di tangannya.
“Eh, iya. Dimana dia sekarang?”
“Di Dumai.”
“Hmm, jauh ya. Tapi kalau kita naik mobil, sehari juga sampai.”
“Nah itu dia. Lagian kita punya 3 orang yang bisa nyetir kan?”ucap Aya mendukung. Ada Lovi, Adong sama Josen. Sudah cukuplah, gak perlu nyewa supir. Biaya bisa di minimalkan sedemikian rupa. Tinggal waktunya saja yang harus dipikirkan matang-matang. Semua orang pasti sedang sibuk-sibuknya.
“Tapi aku belum….”ucap Adong ingin menolak.
“Dong, apa kau gak pernah ketemu Visi setelah dia menikah?”tanya Lovi dengan tatapan dalam.
“Iya.”
“Jadi kau benar-benar gak tahu kabarnya sama sekali?”
“Buat apa, Lov? Aku yakin hidupnya tidak bahagia. Pernikahannya saja sudah seperti itu.”
“Belum tentu.”ucap Josen tiba-tiba. “Argh, manusia gak tahu apa-apa, Dong. Orang yang dulunya bahagia, sekarang bisa menangis. Begitupun sebaliknya. Gak ada jaminan sesuatu yang diawali buruk akan berakhir buruk. Kau kira kita cenayang?”
“Aku setuju. Contohnya aku.”ucap Avius dengan wajah berseri-seri. Bukannya bahagia, tapi dia ingin menunjukkan pada Adong kalau persepsi itu salah besar. “Aku yang diawali dengan bahagia luar biasa, berakhir kayak gini. Dan Naisya sekarang udah punya tunangan. Bisa dilihat kan endingnya?”
Adong memikirkan semua pendapat itu. Dia memang terlalu kekanak-kanakan membuat keputusan seperti ini. Berdiam diri dan gak mau ketemu Visi. Ia kira ini keputusan yang benar, rupanya orang lain melihat itu sebagai tindakan pengecut.
“Apa iya aku harus kesana?”
“Harus. Kita pikirkan lain kali.”dukung Lovi.
“Setuju. Aku selalu siap, gak tahu yang lain.”
“Aku juga.”
Malam ini, tak ada duka yang menggagalkan kebahagiaan. Semuanya merasa sangat senang. Setelah ngantuk, mereka merancang tempat untuk tidur. Ada banyak sekali perlengkapan pramuka yang bisa digunakan. Selagi tidak merusak, tidak apa-apa memakainya.
Avius mendesah kesal waktu dapat pesan dari Belvi. Cewek itu gak ada kapoknya. Dia tak menyerah walau berkali-kali ditolak. Pesan itu terbaca oleh Josen yang tidur disampingnya.
“Cewek baru?”
“Ngaco. Cuma orang gila kok. Udah tidur!”balasnya sambil menaruh selimut menutupi wajahnya.