.65. Mengandalkan Intuisi

1290 Kata
Semua berjalan seperti tak ada yang tak beres. Tak disangka, untuk kedua kalinya, Aya bertemu Adong di perkumpulan arisan. Pertemuan aneh ini membawa mereka mengobrol bersama di kursi depan. “Kau sedang senggang sampai ikut acara beginian?”tanya Aya sambil terkekeh. “Kau sendiri?” “Kalau aku memang sedang gabut.” “Ah, sebenarnya,,,,,aku dijodohkan sama anaknya Bu Gina.” Hah? Serius? Adong dijodohkan dengan bocah ingusan itu? Dia masih kuliah semester 3. Bu Gina benar-benar gak punya otak. Dia hanya mengandalkan intuisi soal finansial. Punya menantu seorang polisi, siapa sih yang gak mau? Ibu-ibu jaman sekarang dibutakan oleh materi dan kuasa. Menggelikan. “Terus, kau mau?” “Menolak juga sia-sia. Ku ikuti saja alur yang mereka buat.” “Ya, sebenarnya dia cantik sih. Gak terlalu buruk.” “Sebenarnya dia akan menyesal kalau menikah denganku.” “Kenapa kau berkata seperti itu?” “Aku sudah tidak percaya sama pernikahan. Kalau harus menikah, itu semua cuma demi mama. Tidak lebih dan tidak kurang.” Adong mengalami krisis eksistensi diri sejak orang tuanya bercerai. Aya bisa memaklumi hal itu. Tapi ini terlalu fantastis. Dia bahkan gak berniat menikah. Mungkin saja ekspektasinya setinggi langit tentang orang tuanya. Orang tua yang hidup damai selama bertahun-tahun tiba-tiba hancur dalam sekejap. Akan lebih mudah jika dia saja yang jadi korban. Kenyataannya, dia punya adik yang harus ikut menderita. “Argh, berhenti ngomongin itu.” “Kau yang duluan bertanya.” “Hmm, benar juga. Tapi Dong, aku kangen sama Visi.” “Aku tidak.” “Kok gitu sih? Apa kau mau kita bertemu dia?” “Kita?” “Bukan kita berdua aja. Tapi sama yang lain juga. Pertemanan kita kan sudah membaik. Masalah yang dulu dilupakan saja.” “Aku tidak berani kesana.” “Ya sudah, tapi kalau mau kesana, bilang saja. Kami pasti siap menemanimu.” “Terima kasih, Ay.” Suara tawa terdengar begitu keras. Ibu-ibu itu sibuk bercengkrama. Banyak sekali topik pembicaraan. Seperti tiada ujungnya. Emang sih, menggosip adalah hal yang menyenangkan. Apalagi kalau ada berita hits yang lagi panas-panasnya. Sebelas dua belas dengan tayangan gosip di media sosial. “Daripada itu, aku lebih kangen sekolah.” “Apa kau mau ke sekolah? Pertama kali pulang kesini, aku sama Lovi singgah di sekolah.” “Oh iya?” “Kalau kau mau, aku bisa atur sama Lovi.” “Baik lah.” Pertemuan ini rupanya mengusik seseorang. Cewek yang dulu bermain di samping got itu datang dengan wajah penuh selidik. Putri tunggal Bu Gina, Evita. Dia memang cantik dan punya body goals. Tapi soal kelas dan keanggunan, Aya masih nomor satu. Anak ingusan itu hendak memprovokasinya. “Ternyata kalian teman dekat?” “Evita, apa kabar?”tanya Aya basa basi. “Tidak baik setelah melihat kalian berduaan disini.” “Tenang, Evita. Aku dan dia itu teman SMA. Sohib. Lagian ya, aku belum move on dari mantanku.” Dikasih bualan, dia malah kegirangan. Tak lagi memasang wajah permusuhan, kini dia kepo to the max. Nanyain seperti apa Adong dulu, gimana nilainya, siapa mantannya hingga warna favoritnya. Hellow, Aya tak mungkin tahu semua itu. Dia pasti sedang berpikir kalau masa depannya akan bersama Adong. Cewek polos yang mendramatisasi pernikahan seperti tayangan digital. Pernikahan yang sempurna, penuh cinta dan romantis. Stop berpikir kayak gitu! Jika pernikahan seindah itu, anak gadis yang lulus SMA pasti memilih menikah tanpa peduli masa depannya. Dunia tak serealistis itu. “Lihat kan? Dia punya ekspektasi tinggi sama pernikahan.”ucap Adong setelah Evita pergi. Bu Gina memanggilnya untuk membantu membereskan sesuatu. Sifat patriarki masih membekas di keluarga itu. Ya, hampir semua keluarga di kota ini begitu. Hanya ada satu dua keluarga yang mulai keluar dari zona mengerikan itu. “Yah, begitulah anak muda.” “Kasihan kan kalau ternyata aku yang mematahkan ekspektasi itu.” “Ya udah, bilangin aja sekarang. Kenapa harus diperpanjang?” “Aku butuh waktu. Aku harus punya alasan untuk mama.” Jawaban kepada Ervina tak bisa diberikan kepada mama. Mama tak mungkin menoleransi alasan Adong. Alasan yang baginya tidak masuk akal itu. “Oke, aku mengerti sekarang.” “Tapi, apa kau benar punya pacar? Kudengar, kau udah gak chattingan lagi sama Tommy.” Rupanya berita itu tersebar dengan cepat. Aya tak mau memberi harapan palsu pada seorang pria. Mending langsung diakhiri saja. Dia bilang kalau dia belum bisa move on dari mantannya yang di Jakarta. Untuk memvalidasi, dia juga ngasih tahu kalau cowok itu sering mengirimnya hadiah. Akhirnya Tommy menyerah juga. Dia gak mau memaksakan diri. “Cepat juga kau tahu.” “Soalnya Tommy lagi pedekate sama suster di Rumah Sakit Berlian.” “Rumah sakit di samping kantorku?”tanya Aya heran. Adong mengangguk. Gila ya, rumah sakit itu ada-ada saja. Kenapa semua terkoneksi pada tempat itu ya? Dulu Nadya, lalu Lovi, besok siapa lagi? “Dunia memang sempit.” “Ya. Kita bertemu lagi juga karena dunia sempit.” Aya tertawa mendengarnya. Mereka masuk lagi agar tidak menimbulkan kecurigaan. *** Niat itu diutarakan Aya dengan sempurna sampai ke telinga Lovi. Seperti yang diketahui, Lovi langsung sumringah. Dia emang suka kegiatan yang outdoor. Lebih suka berbaur dengan alam daripada bernaung di kamar tidur. Begitulah Lovi. “Ide brilian.” “Tapi kapan semua ready? Kita tahu sendiri, Josen sama Avius sedang sibuk-sibuknya.” “Iya sih, mereka tak pernah ada waktu senggang. Terutama Josen. Dia makin jarang terlihat.” “Kenapa?” “Katanya sih dia menerima tugas gitu dari kepala sekolah. Jadi waktu di sekolahnya lebih lama.” “Duitnya banyak dong?” “Mungkin.” “Terus, gimana ya?” Lovi berpikir keras. Nyari solusi ditengah gempuran tugas kantor. Tapi percayalah, keadaan terdesak cenderung membuahkan hasil yang terbaik. Seakan otak dipaksa untuk tidak memaklumi keadaan. Mau tidak mau, siap tidak siap, harus ada kesimpulan. “Gimana kalau kita perginya malam?” “Kau gila?” “Kita bisa nginep disana.” “Benar-benar gila.” “Aku punya tetangga yang sekolah disana. Aku akan tanyakan.” “Gak usah ditanya. Itu ide yang gak masuk akal.”ucap Aya sambil kembali ke mejanya. Aya gak habis pikir dengan ide random Lovi. Entar mereka disangka pencuri lagi. Padahal umur mereka sudah lebih dari seperempat abad. Hmm, benar-benar memalukan. Bagi Lovi, berbuat seperti remaja bukanlah hal yang memalukan. Ayolah, hidup itu harus dinikmati. Ia mengirim pesan pada Fio, tetangga yang bersekolah di SMA-nya dulu. “Hmm, kayaknya bisa sih kak. Sekolah sekarang punya atap dan disana ada ruangan anak ekskul. Kalau kakak mau, aku bisa minta sama divisi perlengkapan. Soalnya, aku kan wakil ketua osis tahun ini.” Demi! Pucuk dicinta, rejeki pun tiba. Selalu ada orang yang bisa diandalkan. Dengan bangga Lovi menyimpan rahasia itu. Nanti akan diberitahu di jam makan siang. Saatnya memenuhi kewajiban sebagai b***k korporat. “Gak masuk akal. Ada begituan di atap sekolah?”tanya Aya sambil mengunyah soto di mangkuknya. “Ada. Wakil ketua osis yang bilang. Kita tinggal bawa badan atau kalau mau, bawa selimut sama bantal.” “Gila. Kalau ketahuan, kita bisa dicap yang tidak-tidak.” “Tenang aja. Katanya dia bakal bantuin buat masuk. Asalkan tidak lewat dari jam 10.” “Wah, ternyata anak SMA jaman sekarang sibuk ya, Lov. Jam 10 masih di sekolah.” “Namanya juga zaman Ay. Pasti akan berubah.” Ini berita baik sih. Ada orang dalam yang siap membantu mereka. Aya merasa senang dan lega. Entahlah, dia seperti ingin ikut campur membantu Adong melakukan keinginannya. Mungkin karena merasa bersalah pernah membencinya. Atau dia punya alasan lain. Semoga saja tidak. Mantan jadi pacar. Sepertinya itu mustahil. Aya menarik nafas panjang. Bersiap untuk kembali ke meja kerja. Kegiatan yang sangat membosankan, tapi ia selalu senang kalau tiba waktu pulang. Bertemu ibu dan Bang Igo yang menenangkan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN