Bingung sekali, mau senang atau tidak. Pesan dari Beliv bikin Lovi bingung harus bagaimana. Dia merasa berhasil tapi juga tidak berhasil. Dari sekian perempuan yang ada di acara kemarin, Beliv satu-satunya wanita yang tertarik pada Avius. Kok bisa sih?
“Hey, ini bukan waktunya untuk mikirin perasaan sendiri. Lagian, udah jelas-jelas dia gak ganggu Edgar lagi.”komentar pertama yang keluar dari mulut Aya. Sepertinya dia sedang menikmati makanan di seberang sana. Suara mulutnya yang mengunyah terdengar jelas di telinga.
“Lagi makan apa sih?”
“Duku. Gila sih, enak banget.”
“Lebay.”
“Kalau kau disini, pasti kubagi.”
“Kalau gak dibagi kuambil paksa, sih.”
“Hahaha.”
“Kembali ke laptop, jadi aku kasih aja?”
“Tunggu bentar.”balas Aya dari seberang. Sepertinya dia juga sedang berpikir. Avius itu sahabat yang sedang rapuh. Menjodohkannya dengan wanita antah berantah tidak bisa dibenarkan. Ayolah, tidak boleh ada hati yang sakit. Terlebih lagi, masa lalu Avius lumayan berat untuk diterima perempuan zaman sekarang. Apalagi, Beliv seorang dokter. Hmm, dia pasti punya standar yang tinggi terhadap seorang pria. Benar bukan? Sanggupkah ia menerima bahwa Avius adalah duda lajang yang cukup rumit?
“Begini saja, kau cari informasi tentang perempuan itu. Perlu diplonco sebelum kita menyerahkan Avius.”
“Parah, Avius bukan barang!”
“Ini hanya pengandaian. Sebelum ngasih nomornya, tanya dulu sama Avius. Tapi kau juga harus tanyain banyak hal sama Beliv. Kita harus tahu orang seperti apa dia.”
“Okelah.”
“Ah, Bang Igo rempong nih manggil-manggil. Nanti kita bicara lagi ya.”
“Okey, bye Ay.”
Lovi berpikir keras soal Beliv. Berdasarkan informasi yang ia dapat dari Edgar, dia bukan sembarang cewek. Dia punya kemampuan luar biasa dalam hal pekerjaan. Ditambah lagi, dia orang yang suka menolong orang lain. Sifat yang umum, tapi cukup membantu Lovi mengetahui seperti apa dia.
“Lov, Josen datang tuh.”
“Ah, iya ma.”
Ngapain Josen datang? Apa ada yang mau dibicarakan? Ini akan jadi pertemuan pertama mereka setelah gak sengaja ketemu di mall. Lovi gak enak hati bertemu dengannya, begitupun dia. Mereka kerap saling menghindar agar tidak berpapasan.
“Eh, Jos.”
“Hmm, sibuk ya? Sorry ganggu.”
“Gak apa-apa kali. Ada apa?”
“Maaf ya soal kemarin. Aku benar-benar butuh waktu untuk ketemu sama kamu lagi. Dan terima kasih udah gak cerita sama yang lain.”ucap Josen tenang. Lovi sengaja gak ngasih tahu hal itu di grup. Bisa diasumsikan kalau Avius dan Aya tidak tahu apa-apa. Sedang Adong sudah tahu karena Josen yang ngasih tahu langsung.
“Tapi mereka pasti tahu sih. Udahlah, lagian kau udah biasa kayak gini. Yang penting segeralah berubah.”
“Aku jadi sedih.”
“Sedih kenapa?”
“Kau begitu underestimate pada kelakuanku.”
“Sorry Jos. Tapi benar kan? Ayolah, kau tetap temanku.”ucapnya sambil tertawa. Kalimat sederhana yang lumayan nyelekit. Terutama karena Josen merasa dirinya tidak beres. Perasaannya seperti mencuat saat berada di dekat Lovi. Ditampar kenyataan memang menyakitkan.
Lovi mengajaknya ke warung depan. Mama kehabisan kecap kali ini. Dan dengan sukarela, Lovi mengajukan diri untuk membelinya. Sekalian saja bareng Josen. Ya, dia pasti sedang senggang makanya datang kesini.
“Jadi gak ada yang tahu soal itu?”
“Ya, sejauh ini sih sekolah gak tahu apa-apa.”
“Itu tandanya mereka baik. Walau putus dengan cara kayak gitu, mereka masih memikirkan masa depanmu.”
“Apa kau pikir kalau alasannya itu?”
“Ya, apa lagi?”
“Argh, aku diteror Lov. Disumpahi setiap hari. Rasanya pengen ngeblok tapi entar malah di datengin.”
“Astaga, sampai segitunya?”
“Iya. Makanya tetap aja stress.”
“Jadikan pelajaran, mau pacaran yang benar dong. Jangan aneh-aneh.”
“Iya.”
Mereka sampai di warung yang tampak ramai. Banyak sekali pelanggan. Rupanya pagi ini banyak orang yang kekurangan bahan masakan di rumah. Jadinya, Lovi harus menunggu beberapa saat. Beli kecap doang butuh usaha ekstra.
“Terima kasih, pak.”ucapnya mengakhiri.
“Terus, gimana hubunganmu sama Edgar? Semua aman kan?”
“Hmm, begitulah.”
“Respon macam apa itu?”
“Sebenarnya aku menakutkan banyak hal. Disatu sisi aku udah nyaman tapi disisi lain aku gak mau merasa aman.”ucap Lovi dengan tatapan menuju ke depan. “Tapi tenang saja. Semua terkendali. Kupikir akan membosankan, ternyata Edgar orang yang asyik.”
Pertanda baik ini seperti petaka bagi Josen. Dia berusaha tersenyum meski tidak demikian dengan hatinya. Yang ditampilkan adalah kepura-puraan belaka. Kenapa dia harus semenderita ini? Dia begitu bodoh.
“Ah, kalau gitu aku pulang ya.”
“Oh, gak mau ngobrol dulu di rumah?”
“Gak usah, Lov. Takut bapak nyariin.”
“Oh, ya udah.”
Josen berjalan dengan pikiran tidak tenang. Gila sih, cinta bisa membuatnya sesakit ini. Antara dia layak menerimanya atau ini konsekuensi untuk perbuatannya selama ini. Mungkin semesta juga jengah melihat pria yang suka mempermainkan wanita.
***
“Aish!”gumam Avius saat melihat pesan yang masuk ke handphonenya.
“Ada apa? Ada yang bikin kamu bete lagi?”tanya mama sambil duduk disampingnya. Menaruh gelas berisi teh panas di atas meja.
“Ada cewek gila yang gangguin aku.”
“Cewek gila?”
“Iya, ma. Udah gitu, dia minta tolong sama Lovi lagi. Menyebalkan.”
“Hmm, mama gak tahu harus bicara apa. Tapi mama ingin kamu move on juga. Katanya Naisya udah punya gandengan lagi kan? Tenang saja, mama tetap prioritaskan kebahagiaan kamu kok.”
“Makasih, ma. Aku belum bisa percaya sama cewek manapun.”
“Teman-teman kamu?”
“Mereka cewek tapi akan selamanya jadi temanku, ma.”balas Avius dengan senyuman tipis.
“Argh, mau bagaimana lagi.”balas mama sambil meneguk tehnya biar gak keburu dingin.
Avius merangkul tangan itu. Tangan yang semakin hari semakin keriput. Dia juga tahu diri sebab orang tua punya waktu yang terbatas. Tapi tak semua anak sanggup memenuhi keinginan orang tuanya.
Dia melihat handphonenya. Balasan apa yang cocok untuk perempuan itu?
“Hi, ini aku Beliv. Cewek yang kemarin di rumah sakit. Aku belum sempat ngucapin terima kasih. Mau ketemuan gak? Kantor kita kan dekat.”
Dia benar-benar cewek yang agresif. Avius berdehem memilih kata-kata yang tepat untuk dikirim.
Avius : Maaf, aku tidak ada waktu.
Send! Cukup sampai disitu. Ada pertemuan yang seharusnya cuma sekali. Jangan keras kepala dengan membuat pertemuan kedua. Takdir juga begitu. Memaksakan takdir pada orang yang salah akan berakhir buruk. Seperti dia dan Naisya. Kisah yang dikira akan berakhir manis berubah jadi petaka yang menyakitkan. Avius sudah mencukupkan diri untuk itu. Walau tak ada yang tahu, perlahan dia mulai meragukan cinta sejati. Rupa-rupanya, cinta sejati itu hanya guyonan untuk mengindahkan fantasi manusia.