.63. Oleh Dia Yang Bukan Siapa-Siapa

2199 Kata
Tak ada yang bisa mengendalikan segalanya. Bahkan pemerintah sekalipun, bisa luput akan sesuatu. Josen begitu terpukul. Bukan karena dia baru menjomblo setelah putus dari dua pacarnya. Tidak. Bukan karena itu. Ia membenci Lovi masih bersama cowok itu. Kenapa mereka bisa langgeng? Jelas-jelas Lovi hanya ingin mencoba. Seharusnya hubungan itu sudah berakhir. Dia meneguk bir bintang yang baru saja ditaruh di atas meja. Pikirannya tidak tenang. Demi apapun, dia menyesali banyak hal saat ini. Tapi itu tiada berguna. Seseorang masuk dan langsung duduk di depannya. Pria itu menghela nafas. “Ngajak ketemu gak kira-kira. Aku sampai harus ngasih alasan konyol sama senior.”ucap Adong kesal. Tadinya dia gak mau datang, tapi ditelponin terus menerus bikin bete. Apalagi, Josen kelihatan tidak baik-baik saja. “Wah, kau mau jadi sainganku sekarang?”tegas Adong sambil mengambil botol bir itu. Josen kelihatan gila. Dia sudah menghabiskan dua botol seorang diri. Dan kini dia mau melakukan hal yang sama pada botol ketiga. Tak bisa dibiarkan. “Ada apa lagi?”tanya Adong setelah tegukan pertama. “Aku baru aja diputusin pacarku.” “Kok bisa?” “Hahaha.” Ditanya serius malah tertawa. Tapi dari tatapan matanya ada kesedihan. Apa kali ini dia putus dari perempuan yang benar-benar dicintai? “Kau segitu cintanya sampai harus seperti ini?” “Enggak. Malahan, aku bersyukur udah putus.” “Terus, apa masalahnya?” Dalam ketidakstabilan emosi itu, dia menceritakan semuanya. Dengan sangat detail hingga tak ada satupun yang terlewat. Sekarang Adong semakin paham. Kecurigaannya benar. Tak mungkin Josen sampai putus asa hanya karena sikap seorang sahabat. Dia benar-benar sial sampai harus terjebak di kondisi ini. “Lupakan semua itu.” “Semudah itu kau mengatakannya?” “Selama ini kan sudah begitu, jangan hancurkan kebahagiaan Lovi.” “Argh, sial.” “Apa yang sudah kau kubur selama bertahun-tahun, tetaplah dikubur. Kecuali jika Lovi sudah pisah dari pria itu. Kenapa harus menghancurkan sesuatu yang sudah baik? “Apa mungkin dia akan menerimaku?”tanya Josen putus asa. Adong benar-benar kesal. Demi apapun, andai Josen bertindak lebih awal, semua akan berakhir baik. Dia sangat terlambat melakukan hal itu. Dia terlalu pengecut untuk mengambil resiko. “Entahlah.” “Argh, apa gunanya mengungkapkan perasaan kalau akhirnya ditolak?” “Itulah yang membuatmu jalan di tempat. Penakut sih.” “Kau mengejek?” “Pokoknya, kau harus sadar diri.”Tegas Adong. Josen merenung sedih. Tadinya dia tidak masalah kalau gak harus ketemu Lovi. Lebih baik cewek itu pergi atau Josen yang harus pergi? Dia tidak akan bisa move on kalau cewek itu masih tetap muncul di hadapannya. Lalu, bagaimana dengan persahabatan mereka? Apakah semudah itu untuk berakhir? “Jos, tetaplah seperti semula. Jangan bikin masalah.” “Apa menurutmu menyukainya adalah masalah?” “Tentu saja. Dia sedang membuka hati pada orang lain.” “Aku bisa membuatnya melupakan cowok itu. “Tak semudah itu. Kau tidak tahu saja, perasaan bisa berubah. Antara dia benar-benar cinta atau tidak enak hati sama pacarnya.” Ya. Bahkan walau tanpa cinta, sebuah hubungan bisa semakin erat. Ada ketergantungan yang memaksa. Bahkan saat cinta belum tumbuh, sudah ada benih-benih yang siap bermekaran. *** Setelah merias wajahnya selama tiga puluh menit, Lovi menekan tombol panggilan untuk kontak yang diberi nama Aya. Dia menunggu jawaban dari seberang. Ini hari yang menarik, harusnya Aya bisa ikut. Dia bisa sedikit melepas penat. “Halo.” “Ay, kamu lagi dimana?” “Di rumah.” “Mau ikut ke acara di rumah sakit gak? Katanya bakal ada guest star gitu.” “Ah, aku gak bisa Lov. Ada janji sama mama dan Bang Igo.” “Eh, pada mau kemana emang?” “Kami mau beresin tempat yang mau dijadiin kafe sama Bang Igo.” “Oh, I see. Ya udah deh.” “Have a good time with Edgar ya, Lov.” “Thanks, Ay. See you!” Setelah itu, dia langsung menghubungi Avius. Avius sudah bersiap sejak tadi. Dia adalah pria yang terlalu rapi. Yups, gak pernah telat dan menaruh barang dengan sempurna. Semua orang tua pasti pengen punya anak laki-laki kayak dia. Edgar dan Lovi tiba di tempat itu. Tempat yang sudah mulai ramai. Banyak stand makanan yang bikin lapar mata. Ini masih terlalu pagi untuk jajan. Apalagi, dia sudah makan di rumah. “Lovi!”panggil Avius dari jauh. Dia berjalan mendekat dan tersenyum lebar. “Ah, ini Edgar, Av. Ed, ini Avius.” Mereka bersalaman. Keduanya terlihat ramah. Avius terlihat welcome dengan Edgar. Bisa dipastikan kalau kesan pertamanya bagus. Wajah Avius langsung kelihatan kalau lagi kesal sama orang. “Ah, aku kesana bentar. Tadi keburu mesan minuman. Kalian mau?” “Enggak, terima kasih.”ucap Edgar. “Aku engga, Av.” “Okey, tunggu sebentar.”ucapnya sambil berlari menuju ke stand minuman yang ada di ujung kanan. “Dia keren.” “Ya, ganteng kan? Tapi susah banget dapat pacar.” “Loh kenapa?” Lovi menceritakan sedikit cerita tentang Avius. Akhirnya Edgar paham. Cowok yang merasa dikhianati akan berhati-hati memilih pasangan di kemudian hari. Makanya, masa lalu seperti jaminan masa depan. Masa lalu yang suram akan bikin banyak hal berubah drastis. Oleh karena itu, ciptakan masa sekarang dengan baik. Agar di masa depan nanti, ada kenangan tentang masa lalu yang indah. Ya, setidaknya hal itu bisa dijadikan komedi. “Ah, ternyata hidupnya berat.” “Yeah, I know.” Avius kembali dengan wajah kepanasan. Mereka bertiga mencari tempat yang teduh. Semua tempat mulai diduduki karena katanya guest star akan segera tiba. Edgar memutuskan untuk duduk di bagian dokter. “Gak apa-apa disini?”tanya Lovi gak enak. “Gak apa-apa. Dokter yang datang gak banyak kok. Paling nanti diisi sama orang luar lagi.” “Ah, oke.” Mereka mendengarkan sebuah stand up comedy yang menggelegar. Semakin lama, semakin banyak orang yang datang. Avius dan Lovi merasa senang. Setidaknya mereka dapat tempat yang nyaman. “Hmm, aku pergi bentar ya. Dokter Frans tiba-tiba nyuruh ke ruang operasi. Gak apa-apa kan?” “Ah, it’s ok.”balas Lovi sambil tersenyum. Acara semakin meriah. Hingga orang berkerumun dan berdesakan. Sebab ini hari libur ditambah lagi ada guest star yang dinanti-nantikan banyak orang. Dan seperti biasanya, orang Indonesia sering kena tipu. Sampai pukul 2 siang, guest starnya tak kunjung datang. Orang-orang memilih untuk menyusuri stand makan. Ujung-ujungnya pasti lapar dan haus. Apalagi matahari bersinar cukup terik. “Av, aku jawab telepon bentar.” Avius mengangguk. Sedari tadi, dia sibuk dengan sesuatu di handphonenya. Sepertinya tentang pekerjaan. Semua ketenangan itu usai saat seorang perempuan datang dan duduk di kursi yang diduduki Lovi. “Maaf mbak, ini kursinya udah ada yang punya.” “Ah? Oh, saya sebentar aja kok.” “Tapi mbak, itu kan ada kursi kosong.”ucapnya menunjuk ke arah depan. “Pelit banget sih.” “Ini namanya mengambil hak milik orang lain.” “Dih,”ucapnya kesal. Dia akhirnya berdiri untuk beberapa lama. Bikin Avius gak enak hati. Apalagi, Lovi belum kembali. Dia juga mengenakan sepatu high heels. Bisa dibayangkan betapa sakit kakinya saat ini. Kenapa dia segila itu? Avius menarik tangannya dan menyuruh cewek itu duduk di kursinya. Dia mengernyitkan dahi bingung. “Pakai kursi-ku aja.”ucapnya sambil duduk di kursi milik Lovi. Cewek itu makin gak paham. “Kau kenapa sih?” “Kau yang kenapa? Bikin gak enak hati.” “Ih, kau sendiri yang gak mau ngasih kursi. Menyebalkan.” “Bukankah kau yang menyebalkan? Ada kursi di depan situ, kenapa harus kesini?” “Aish, kau harus tahu kalau setiap orang itu punya alasan.” “Makanya kasih tahu.”desak Avius kesal. “Dia itu atasan saya. Dia terkenal genit dan suka toel-toel cewek. Kalau duduk disana, aku bisa dilecehkan.”ucap perempuan itu dengan wajah masam. Avius makin gak enak hati. Ternyata dia terlalu negatif sama cewek itu. Tak disangka, pria yang dimaksud melihat ke belakang. Pria berperut buncit dengan kancing baju yang hampir rusak. Ya, sudah tidak kuat menahan gejolak perut yang makin mencuat. “Bel, kok duduk disini sih? Disamping bapak masih ada tuh.”ucapnya dengan tatapan genit. “Ah, gak apa-apa pak. Saya duduk disini aja.” “Buat apa sih duduk disini? Sama bapak saja ayok.” Cewek itu terlihat sangat tidak nyaman. Bahkan Avius bisa menebak, dia lagi ketakutan. Walau tetap dengan menunjukkan wajah ramah. Begitulah hidup. Untuk marah saja kadang tidak bisa. Status dan kedudukan selalu mengacaukan kebebasan berekspresi. Seakan-akan orang dengan derajat yang tinggi bebas melakukan apa saja. Bahkan jika itu masuk dalam tindak kriminal sekalipun. “Pak, apa bapak tidak keterlaluan?”tegas Avius. “Keterlaluan?” “Bapak memaksa orang yang jelas-jelas gak mau.” “Kamu siapa hah?” “Saya, saya sepupunya. Makanya dia duduk disini.”ucap Avius mencari alasan. Dia benar-benar bingung. Ini adalah respon yang tidak direncanakan. Hanya mengucapkan sesuatu yang terlintas di kepalanya. “Ah, oh, iya? Bilang dong dari tadi.”ucapnya terbata-bata. Dia segera kembali ke tempat duduknya di depan. Avius kembali duduk sambil menarik nafas lega. Dia melirik ke arah cewek itu dan dia masih diam. Avius gak mau ngajak ngobrol. Dia melihat ke depan. “Hey, kau hebat.”ucapnya tiba-tiba. “Makasih ya.” “Iya.” “Aku Beliv. Tanpa dua e di belakang.”ucapnya sambil mengulurkan tangan. “Ah, iya.”balas Avius singkat. Cewek itu tidak terima dicuekin kayak gini. “Kenapa gak bilang gebetan aja sih? Masa kita jadi sepupuan?”komentarnya. “Sudah bagus dibantu.”balasnya ketus Beliv malah semakin tertantang dengan jawaban itu. Dia selalu suka sama cowok yang membencinya. Sebab, jarang ada cowok yang membenci wanita cantik. Oke, ini bukan kepedean atau gimana. Beliv mengatakan ini karena sering mendapat komentar demikian dari banyak orang. Bahkan dia pernah ditawari jadi model. Well, itu udah jadi bukti kan? “Bel, kok masih disini?”ucap seseorang yang muncul dengan jas dokter. “Ah, sekarang banget?” “Iya. Buru!” “Sampai bertemu lagi ya.”bisiknya dengan senyuman merekah. Avius gak peduli. Dia fokus pada acara yang ada di panggung. Kenapa Lovi lama banget? Itulah pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya. Sesaat, Lovi kembali. Dia membawa banyak sekali makanan. Ah, sekarang dia mengerti. Cewek itu hobi banget mentraktir siapapun. Dia itu seperti malaikat yang suka memberi tanpa harap kembali. Itu sudah terjadi sejak dulu. Bahkan ketika dia masih kekurangan uang. Sifat yang melekat kuat di dalam dirinya. “Astaga, Lov. Kita mau tamasya apa gimana?” “Kamu pasti lapar. Masa aku doang yang makan.” “Makasih banyak.” “Ada yang seru waktu aku pergi?” “Hah?” “Acaranya?” “Ah, gak ada . Guest star nya belum datang.” “Biasa. Orang Indonesia kan suka telat.” “Indeed.” Lovi sedikit menyayangkan hari ini. Dia mau Avius ketemu cewek yang menarik hatinya. Tapi ternyata para dokter muda ada pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Sudahlah, mungkin niat baik itu bisa ia lakukan lain kali. *** “Oke, sampai disini. Terima kasih.” Beliv menarik nafas panjang. Hari yang berat ini akhirnya selesai. Ia berjalan gontai mengambil tasnya. Dia harus segera pulang agar bisa istirahat. Langkahnya tiba-tiba bersemangat waktu melihat Edgar. Dia mempercepat langkah agar tak kehilangan cowok itu. “Ed!!”panggilnya ceria. “Hai, Bel.” “Udah kelar?” “Udah. Tapi aku gak ada waktu untuk bicara.” “Tunggu dulu. Aku mau nanya soal seseorang.” “Hah?” Beliv sempat melihat Lovi bersama cowok itu. Ya, cowok yang memberinya first impression luar biasa. Bis dipastikan kalau Lovi temenan sama dia. Ya, gak mungkin pacaran. Jelas-jelas Lovi pacaran sama Edgar. “Ah, jadi tadi kau ketemu sama Avius.” “Kau kenal dia?” “Jelas kenal dong.” “Oh, namanya Avius.”gumam Beliv. Dia gak percaya, cowok setampan itu bisa-bisanya berhati malaikat. Sebuah pemandangan yang jarang di muka bumi ini. Cowok tampan biasanya b******k atau bahkan merasa sok kecakepan. “Kamu mau ganggu dia?” “Nggak kok.” “Nanti aku kirim nomornya Lovi. Kamu tanya sama dia aja. Aku juga baru ketemu dia sekali.” Beliv mengangguk setuju. Dia senang dan sedih di waktu yang bersamaan. Bagaimana kalau Avius ternyata punya pacar? Argh, dia bisa patah hati. Patah hati pada orang yang bukan siapa-siapa. Ya, sesuatu yang nyesek banget. “Ayo, Bel. Kau harus positif!”gumamnya. Pangeran dari surga sudah tiba. Pria dengan segala kebijaksanaannya. Pria yang menolongnya saat muncul pria jahat. Duh, ini benar-benar cerita yang sangat memukau. Jujur saja, Beliv gak terlalu suka cowok tampan. Dibanding tampan, dia lebih suka cowok yang manis. Tapi entahlah, Avius bikin dia terkesima hanya karena diperlakukan bak tuan putri. Dia juga bersyukur karena cowok itu membantunya lepas dari atasan genit yang menyebalkan itu. “Bel, jadi ikut gak?” “Hah?” “Kamu lupa? Hari ini ada kopi darat. Ketemu sama cowok-cowok single di kota ini.” “Astaga. Bisa-bisanya aku lupa.” “Kalau gitu, ayo pergi?” “Ti, kayaknya aku gak bisa ikut deh. Lain kali aja. Soalnya tiba-tiba ada urusan penting.” “Okelah, ya sudah. Sampai ketemu minggu depan.” Beliv mengangguk dengan seulas senyum. Dia mau mengganti haluan. Avius adalah cowok yang tepat untuk dijadikan target selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN