Makan malam kali ini disponsori oleh Aya. Dia membeli banyak sekali sampai bikin mama dan Igo bingung. Sesuatu yang jarang Aya lakukan ditambah lagi dia sedang marah. Setelah hampir seminggu nginap di rumah Lovi, dia kembali tanpa berkabar.
“Hari ini kita makan ayam goreng. Aku beli dari restoran paling mahal di kota ini.”ucapnya sambil merapikan meja makan. Mempersiapkan semuanya tanpa disuruh. Padahal biasanya, ada baku hantam dulu antara Aya dan Igo.
“Ayo duduk!”
“Kau kepentok apa sih? Tumben.”ucap Igo.
“Makanya duduk dulu biar kujelaskan.”ucapnya tanpa terusik. Igo masih gak habis pikir. Ini tak seperti Aya yang biasanya. Lebih baik dia memukul Igo daripada bertingkah seperti ini. Rasanya jadi tidak nyaman.
“Makasih ya nak, udah pulang.”
“Ma, maafin aku. Aku gak bakal pergi lagi.”balas Aya yakin.
Dengan sigap, Aya mengambil nasi dan menaruhnya pada setiap piring. Dia benar-benar melakukan semua itu dengan sukarela. Dia sudah berjanji untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Ketika dia melakukan itu, dia hanya akan membuat semua orang tidak nyaman. Ditambah lagi, sikap itu menyulitkan semua orang. Jadinya, Aya terlihat semakin egois.
Makan malam berlangsung seperti biasa.
“Aku minta maaf karena udah egois. Aku seharusnya tahu diri….”
“Enggak, nak. Mama yang egois. Jadi jangan berpikir kayak gitu.”
“Ma, aku yang seharusnya minta maaf. Penyesalanku bikin kalian kena imbas. Aku jadi sering menyalahkan kalian. Padahal kalian gak ada kaitannya sama diriku sendiri.”
“Udahlah, lupain aja masalah itu.”Tegas Igo dengan suaranya yang berat. Perkataan Aya yang terakhir benar-benar menusuk ke sanubarinya. Dia harus sadar diri. Dia memang beban bagi keluarga ini. Tak ada yang bisa ia lakukan selain meminjam uang. Bisnisnya tak kunjung berhasil, tapi dia tetap mau berusaha. Padahal resiko kegagalan jauh lebih besar daripada keberhasilan.
“Aku juga tidak masalah kalau abang mau jual motor. Sudah seharusnya kita melakukan itu.”
“Gak usah Ay, aku udah nemu cara cari uang. Jadi, kau tenang saja.”
“Apa kalian bisa berhenti menyuruhku tenang?”desak Aya dengan suara keras. Dia kesal banget. Sedari tadi, semua orang sibuk dengan pendapatnya masing-masing. Tak ada yang mau mendengarkannya. Dia sudah berjanji untuk berubah, jangan biarkan janji itu hanya sekedar janji.
“Hari minggu kemarin aku ke makam papa.”
Kalimat yang bikin semuanya menghela nafas. Semua juga tahu kalau Aya tidak ingin pergi kesana. Sudah sejak lama ia tak bertemu bapaknya. Ketakutan terbesar yang diketahui semua orang.
“Kamu serius?”
“Iya, bang. Aku mau berubah. Untuk kita semua. Jadi gak usah nyari cara lain buat dapetin uang, kita jual saja motornya bapak. Dan maafkan aku yang tidak mengerti kalau kalian jauh lebih tersiksa daripada aku.”
Air mata menetes di pipinya. Mama dan Igo memeluknya erat. Mereka seperti sudah lama tidak bertemu. Tapi semua juga menyadari betapa Aya memaksakan diri untuk semua ini. Dia terlihat bahagia ketika hatinya sangat rapuh. Dan hal itulah yang menimbulkan kekerasan di hatinya. Ya, jadi egois dan keras kepala.
“Ayo kita makan lagi.”ucap mama setengah menghapus air matanya.
“Aku bikin kalian sedih. Sorry ya.”
“Tapi janji, mulai hari ini jangan kabur lagi.”tegas Igo.
Aya mengangguk. Setelah pembicaraan itu, nafsu makan jadi naik. Tak ada lagi yang mengganjal di dalam hati. Diam-diam Aya bersyukur sudah pulang. Penyesalan yang datang beberapa hari lalu berubah jadi rasa syukur. Dia beruntung memiliki Lovi dan mengikuti sarannya untuk kembali pulang.
***
Dia adalah pria yang tidak sempurna. Meski begitu, diam-diam Lovi mengaguminya. Dia belum bisa blak-blakan soal rasa yang ada di hatinya. Yang pasti, dia percaya kalau Edgar adalah pria yang luar biasa.
Sejauh hari berjalan, mereka melewati masa pacaran dengan menarik. Tak selalu baik, tapi setidaknya ada rasa pengertian. Kadang mereka berantem oleh sesuatu yang sepele, tapi penyelesaian masalahnya cukup rumit. Dan yang selalu sigap untuk solve the problem adalah Edgar. Dia selalu punya cara untuk membuat semua baik-baik saja.
“Ed, kamu gak punya teman kerja yang lagi nyari cowok gitu? Kalau ada biar dikenalin sama temanku.”
“Hmm, ada sih, tapi orangnya rese.”
“Rese gimana?”
“Katanya dia suka sama aku. Padahal aku udah bilang kalau aku punya pacar.”
“Stop. Avius gak butuh cewek yang kayak gitu.”
“Tapi itu bisa bikin aku lepas dari dia. Iya gak sih?”
“Gak ada gunanya. Avius itu sahabatku, Ed. Kalau mereka jadian, kita akan sering bertemu.”
“Ah, ya sudah.”
Naisya adalah penyebab rasa pusing di kepala Lovi. Mereka gak sengaja ketemu dan saat itu Naisya sudah punya gandengan. Argh, gila gak sih? Pemandangan yang sangat menyebalkan. Dia bisa bersenang-senang setelah membuat Avius menderita. Rasa benci itulah yang bikin Lovi ingin mencari perempuan yang tepat untuk Avius.
Avius gak boleh trauma sama pernikahan. Hal itu hanya akan membuat semua orang beranggapan negatif padanya. Berpikir kalau gosip gak jelas itu adalah kebenaran. s**t! Itu gak boleh terjadi.
“Oh, ya, Lov. Minggu depan ada acara di rumah sakit. Semacam open house gitu. Bakal ada tamu spesialnya. Kayaknya sih artis papan atas gitu.”
“Terus?”
“Kamu mau datang gak? Sekalian ajak Avius. Cewek-cewek disana cantik-cantik, aku harap dia ketemu yang cocok.”
Ide brilian. Bahkan sangat brilian. Orang jomblo harus dikasih kesempatan untuk bertemu seseorang. Ya, biar pikirannya terbuka. Setahu Lovi, Avius jadi lebih sering memisahkan diri dari teman kerjanya. Dia merasa gak nyaman sering dijadikan sumber candaan. Terkadang manusia bercanda tanpa batas. Mereka gak sadar aja kalau hati manusia punya keterbatasan. Bahkan oleh perkataan sederhana, sakit hati bisa muncul. Ya, siapa yang akan mengerti kalau belum mengalaminya?
“Ed, kok pintar banget sih?”
“Dokter mana sih yang gak pintar?”
“Hmm, dokter gadungan atau dokter cinta.”
Edgar tertawa. Waktu terasa begitu singkat kalau dia bersama dengan Edgar. Apa ini bisa dikatakan cinta? Lovi belum yakin. Sejauh yang ia tahu, Edgar begitu berarti. Di hari libur ini mereka mau ke rumah sakit. Bukan untuk cek kesehatan, tapi Edgar ada keperluan. Dan setelah itu, mereka bisa melakukan apapun sesukanya. Atau sekedar shopping di mall.
“Ah, jadi kamu pacarnya Edgar?”tanya perempuan berambut pendek itu. Dia tampak ceria bahkan terlihat sangat aktif.
“Ah, i-iya.”
“Hmm, cantik juga. Pantas Edgar jatuh cinta.”
Lovi tak mengerti apa maksud perempuan itu. Dia merasa tidak nyaman sampai Edgar akhirnya muncul. Dia terlihat kaget.
“Kenapa lagi Bel?”
“Kayaknya aku harus nyerah deh, Ed. Pacarmu cantik banget. Jadi, lupakan semua yang pernah aku katakan. Kalau begitu, saya permisi.”ucapnya seraya pergi.
Edgar malah terkekeh mendengarnya. Dia melihat Lovi yang mengernyitkan dahi bingung.
“Dia?”
“Dia cewek yang tadi aku ceritain.”
“Ah, I see.”
“Ayo.”ajaknya dengan seulas senyum. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju mall. Yah, jalan-jalan saja seperti manusia pada umumnya. Sekedar melepas penat dan stress yang berkecamuk dalam satu minggu ini.
Kemanapun kaki melangkah, terkadang ada takdir yang membingungkan. Sebagaimana rencana tak selamanya terwujud, begitu juga dengan yang dihindari. Sesuatu yang dihindari bisa saja datang tanpa permisi.
Itulah hal yang membuat Lovi menatap datar pada pemandangan di hadapannya. Ketika semua orang melihat perdebatan sepasang kekasih. Argh, bisa dikatakan ada cinta segitiga disana.
“Kamu yang ngerebut dia dari aku.”
“Diam! Jangan membicarakan diri sendiri.”
“Sayang, ini tidak benar kan?”
“Sayang, katakan kalau dia yang jadi selingkuhan. Bukan aku.”
Pria itu menggaruk kepalanya bingung. Beberapa orang berkerumun melihatnya. Lovi masih saja melihat ke arah sana. Bikin Edgar bingung sekaligus penasaran.
“Kenapa, Lov?”
“Ed, kayaknya aku harus kesana. Apa kamu bisa tunggu sebentar?”
“Dia siapa?”
“Nanti aku jelasin ya.”ucapnya buru-buru. Edgar mengangguk setuju. Apapun itu, Edgar percaya kok sama Lovi. Dia gak mungkin melakukan hal yang tidak benar. Dia adalah wanita terbaik di dunia ini.
Lovi muncul di hadapan Josen dan bikin pria itu kaget. Mata mereka beradu tajam. Mungkin Josen merasa malu, tapi Lovi merasa berhak untuk ikut campur. Ia kira Josen udah berubah. Dia malah melakukan hal seperti ini. Apa dia gak sadar kalau ini bisa memperburuk reputasinya? Dia itu guru. Ya, guru yang seharusnya jadi cerminan baik bagi murid-muridnya.
“Lov, kamu ngapain disini?”tanya Josen panik.
“Siapa lagi dia? Pacar kamu?”
“Kamu udah gila ya?”
“Kalian dengar dulu! Aku temannya sekaligus tetangganya. Bisa dikatakan kami itu saudara.”
“Oke, apa yang mau kau katakan?”
“Kalian berdua pasti dianggap sama dia sebagai pacar. Dia sudah begitu dari dulu. Waktu SMA juga dia sering gonta-ganti pacar.”ucap Lovi membeberkan fakta. Josen tidak tahu harus bicara apa. Dia ingin menyerahkan kendali pada Lovi.
“Jadi, ambil keputusan sekarang.”
“Hah?”
“Kalau aku sih pasti langsung putusin aja.”tegas Lovi. Dia tersenyum dengan percaya diri. Ayolah, hidup tetap harus berjalan. Mau berantem sampai jambak-jambakan juga gak ada gunanya. Itu gak bisa membalikkan keadaan.
“Kita putus!”ucap cewek yang pertama. Dia mengakhiri itu dengan sebuah tamparan di pipi kanan Josen. Dia pergi dengan kemarahan yang luar biasa di wajahnya.
“Kamu beneran melakukan ini sama aku? Apa kita gak bisa lanjut terus?”ucapnya sambil menangis. Well, kelihatannya dia orang rapuh. Terlalu mendambakan cinta sampai cinta itu menyakitinya.
“Maaf, Sin.”
“Ya udah.”ucapnya sambil menangis dan pergi.
Lovi mendengus kesal. Demi apapun, Josen benar-benar keterlaluan. Apa dia lupa kalau karma itu beneran nyata? Bisa-bisanya dia menyakiti hati dua wanita sekaligus? Astaga, Lovi gak nyangka telah menghabiskan masa muda bersama cowok seperti ini.
“Lov,,,”
“Diam! Kau benar-benar gak kapok apa ya?”
“Tadinya aku udah mau putusan mereka berdua. Gak nyangka bakal ketemu disini.”
“Dasar!”
“Thanks, udah bantuin.”
“Sama-sama. Awas aja kalau lihat kayak gini lagi.”
“Gak bakal.”
“Ah, kamu kesini sendirian? Mau makan gak?”
“Ah, aku sama Edgar sih. Kamu mau gabung aja?”
Josen berpikir sejenak. Dia tentu tak ingin jadi orang ketiga di antara mereka. Dia mengambil handphonenya.
“Ah, aku lupa Lov. Aku harus ketemu temanku disini. Lain kali aja ya.”
“Oh ya udah. Teman apa teman?”
“Cowok kok. Teman sesama guru.”
“Oh, okay.”
Lovi menyaksikan kepergian itu dengan wajah sedih. Sampai kapan Josen akan begini? Kenapa dia gak pernah serius sama cewek? Apa susahnya melakukan hal yang sewajarnya dilakukan manusia? Hanya orang gila yang pacaran dengan dua orang sekaligus. Argh, dia benar-benar sulit dimengerti.
“Ed!”sapanya saat kembali.
“Siapa?”
“Ah, dia Josen. Salah satu temanku yang sering kuceritakan.”
“Ah, jadi dia beneran selingkuh?”
“Ya, begitulah. Dia sebenarnya baik, Ed. Cuma ya gitu, punya sifat aneh.”
“Ah, ya udah. Buruan dimakan. Keburu dingin.”
Lovi mengangguk. Ini bukan waktunya untuk memikirkan Josen. Josen pasti punya cara untuk menyelesaikan masalah yang satu itu. Semoga kejadian tadi gak tersebar sampai ke sekolah. Semoga Josen mau berubah.
Argh, walau berusaha untuk lupa, Lovi tetap masih mengingat kejadian tadi dengan sangat jelas. Sebagai seorang sahabat, apa yang sebaiknya ia lakukan? Edgar tersenyum padanya. Setidaknya masih ada yang membuatnya senang hari ini. Ya, Edgar.