.61. Kantor Polisi

1153 Kata
Cinta di usia dewasa tak terlalu banyak drama. Hanya saja hati dipenuhi oleh pergolakan jiwa akan sesuatu. Tentang hidup dan masa depan. Sekarang dan nanti akan bagaimana.  Malam ini, dia sudah menyiapkan beberapa hal untuk merayakan ulang tahun Edgar.  “Selamat bersenang-senang.”ucap Aya setelah mereka dari toilet. Lovi udah ganti baju pakai dress pesta. Penampilan cantik yang didukung oleh wajahnya yang pakai make up. Dia harus tampil cantik. Itulah cara menghargai cowok seperti Edgar. Cowok baik yang penuh perhatian. “Kamu juga.” “Aku?” “Berbaikan sama Bang Igo. Pulang ke rumah ya, awas kalau ke rumah cowok.” “Sialan. Kau kira aku cewek apaan?” “Hahaha.” Lovi berkemas dan berjalan ke arah rumah sakit. Dia sengaja gak bawa mobil karena katanya Edgar bakal nganterin dia malam ini. Ya, tadi pagi juga waktu berangkat diantar sama Edgar.  Mereka tiba di sebuah tempat makan yang jauh dari pemukiman. Demi apapun, Edgar agak ragu waktu Lovi menunjukkan jalan ke arah sini. Padahal di kota banyak tempat makan yang menarik, kenapa malah dibawa kesini?  Bahkan mereka harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke tempat itu.  “Kamu yakin?” “Yakin. Tempatnya bagus dan keren. Tenang saja.” Mereka berjalan lumayan lama. Seperti menuju puncak gunung yang jauh. Cukup memakan energi dan tenaga. “Sorry ya kalau kau sedikit kecewa.”ucap Lovi seakan memahami isi hati Edgar. “Ah, engga kok.” “Aku tahu banget tempat ini. Kita bisa melihat kota dari atas. By the way, makanannya enak-enak banget. Kau gak akan nyesal.” “Okay, let's see.”balas Edgar dengan seulas senyum. Dia meraih tangan Lovi dan menggenggamnya. Lovi sampai kaget. Namun dia berusaha untuk tetap tenang. Mereka benar-benar bertingkah seperti pasangan kekasih yang sesungguhnya.  Saat tiba disana, Edgar kaget banget. Ternyata banyak orang. Ia kira tempat itu akan horror atau setidaknya sepi dari manusia. Ternyata tidak.  Mereka disuruh masuk ke sebuah ruangan yang dimana bisa melihat pemandangan kota di malam hari. Selanjutnya seseorang membawakan makanan. “Selamat ulang tahun ya, Ed. Sorry, aku cuma bisa bikin segini doang.” “Makasih banyak! Malam berjalan dan keduanya bisa menikmati dengan baik. Tak ada pembicaraan serius hingga akhirnya mereka hendak pulang. Membayar dengan harga murah makanan yang benar-benar sangat murah. Edgar syok melihat list harga yang tidak masuk akal itu. “Serius harganya segini?” “Yups.” “Gimana mereka dapat untung?” “Aku juga gak tahu.”balas Lovi sambil menggerakkan pundaknya. Dia berkata jujur sebab tak pernah bertanya kepada si penjual. “Oh ya, Lov. Kemarin papa datang. Dan nanyain soal kamu.” “Aku? Kamu ceritain ini ke orang tuamu?”tanya Lovi syok. By the way, gak ada yang tahu kalau Lovi punya pacar. Bahkan dia nyuruh Josen untuk merahasiakan hal itu. Dia gak mau mengumbar sesuatu yang belum pasti. Terlebih lagi, hubungan ini bisa saja berakhir tiba-tiba. Gak ada jaminan. Jadi lebih baik dirahasiakan.  “Iya. Emang kenapa?” “Ah, gak apa-apa.” “Bahkan papa setuju aku tetap disini karena kamu.” “Kok bisa?” “Mereka gak pernah tahu kalau aku pernah pacaran. Dengar aku ngomongin cewek, mereka jadi bersemangat.” Fakta yang membuat Lovi merasakan beban yang cukup besar. Selain anak tunggal, Edgar juga punya orang tua yang fantastis. Bikin rasa rendah diri di hati Lovi semakin meningkat. Dia seperti remahan rengginang jika disandingkan dengan pria itu. Edgar meraih tangannya dan menggenggamnya. Mereka berjalan dan semakin jauh dari tempat makan itu. Edgar memang pria yang baik. Tapi dalam sebuah hubungan, baik saja tidak cukup. Keselarasan juga penting. Jika dua keluarga saja sudah sangat berbeda, apa yang bisa disatukan. Argh, kenapa Lovi jadi serius memikirkan itu? Ayolah, mereka tak mungkin berjalan baik. Besok bisa saja Edgar pergi. Atau mereka tiba-tiba putus oleh sebuah masalah. Biarkan saja, Lovi mau coba untuk percaya pada dirinya sendiri.  *** Kegilaan baru saja terjadi. Setelah malam minggu yang menyenangkan bersama Edgar, Lovi harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menyelamatkan Avius. Dia baru saja terlibat cekcok dengan beberapa orang di jalanan. Karena tidak ingin mengganggu orang rumah, Lovi menyuruh Josen untuk membawa mobil. Ya, akhirnya mereka tiba di kantor polisi.  “Kau baik-baik saja, Av?”tanya Lovi panik. Ada lebam di wajah bagian kiri Avius. Bukan lebam karena kecelakaan tapi seperti dipukul orang. “Ya, aku baik-baik saja sampai mereka memukulku.” “Apa yang terjadi?” Bapak itu yang melawan arus dan tertabrak olehku. Dia juga tidak ada luka. Motor-nya cuma kegores dikit. Tapi dia membuat semua orang memukulku. Jelas aku gak mau menyerah. Dia pantas dihukum.” Pria itu memang seperti sedang tidak waras. Dia bicara seperti orang gila dan kasar. Sangat menyebalkan.  “Pak, apa bapak gak bisa jujur aja? Bapak yang dari awal memfitnah teman saya.”tegas Lovi kesal. “Siapa kau, hah? Perempuan gak usah ikut campur. Kalian harus membayar mahal untuk motor-ku yang rusak. Ditambah lagi wajahku ini, wajahku ini aset berharga. Selagi aku masih baik, berikan uangnya. Kita tak perlu ke kantor polisi.” “Sialan!” “Kau bicara kasar pada orang tua?” “Ya, itu kebiasaanku. Bicara kasar pada orang tua yang kurang ajar.”tegas Lovi. Pria itu tampak emosi. Ya, sesuai dengan yang Lovi harapkan. “Kau sudah gila.”Komentar Josen. “Biarin.” “Entar kalau dia bawa temannya gimana?” “Siapa peduli.” “Udah-udah. Kalian jadi jaminanku saja.” Diam-diam Lovi mengirim pesan pada Adong. Kalau ada Adong, mungkin masalah ini bisa selesai dengan cepat. Dan beruntung, cowok itu langsung muncul setelah tiga puluh menit menunggu.  “Adong?” “Serahkan padaku.” Semua langsung senyum. Ini memang the power orang dalam. Tapi mereka gak salah. Mereka memanfaatkan keadaan untuk mengungkap kebenaran. Selagi masih dijalan benar, orang dalam tidak masalah. Tak perlu menunggu lama, semua masalah usai. Pria paruh baya itu meminta maaf. Dan ya, masalah selesai. Avius tak harus membayar nya. “Makasih, Dong.” “Sama-sama. Orang seperti itu selalu saja ada. Dia kira bisa dengan mudah mengelabui orang lain. Kau tahu Av, orang yang malas ke kantor polisi dan mau simpel akan memilih untuk membayarnya. Dia dapat uang lumayan kalau dalam sehari melakukan tiga kasus.” “Serius? Itu bisa jadi pekerjaan dong.”komentar Lovi tidak percaya. Di zaman ini, kriminalitas juga bisa jadi pekerjaan. Semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan uang. Wajar saja sih, manusia gak bisa hidup tanpa uang.  “Argh, jangan ditiru ya, Lov.”ucap Josen sambil merangkul pundaknya. “Wah, ada apa ini. Gak biasanya.” “Biasanya minta ditraktir itu.” “Loh, kok jadi aku yang mentraktir?” “Yowes, ayo kita nongkrong bentar.”ajak Avius.  “Thanks, Lov.”ucap Avius setengah berbisik. Lovi mengangguk dan tersenyum. Dia merasa senang bisa diandalkan. Ah, jadi ini yang dimaksud sama Aya beberapa hari yang lalu. Mungkin ia bisa melakukan hal ini lagi. Ya, dengan meminta tolong pada Edgar. Yeah, she will try it.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN