.60. Berdamai dengan Tragedi

1135 Kata
Tak biasanya rumah itu ramai di pagi hari yang jelas-jelas hari libur. Rumah berantakan karena semua orang sibuk. Ada yang memasak, mandi hingga merapikan alis matanya.  “Kalian heboh banget. Mau ke TPU atau kondangan sih?”teriak mama dari luar. Bikin Lovi dan Aya tertawa di dalam kamar.  Lovi bikin peraturan soal kunjungan hari ini. Tak seperti orang-orang yang pakai baju hitam dan wajah suram, ayo kasih kesan baik yang tidak biasa. Mereka harus tampil eksentrik setelah bertahun-tahun gak bertemu Pak Sudirman.  “Beneran nih gak apa-apa?” “Aku yakin, Ay. Aku pernah lihat ini di drama.” Lovi memberikan argumen yang tidak valid. Mengaplikasikan kejadian di drama dalam kehidupan nyata. Dia benar-benar gak bisa dipercaya. Aya mengenakan dress warna kuning. Ditambah lagi dia memakai make up tebal. Kata Lovi, biar gak terlihat sedih. Mereka harus bahagia hari ini. Sedang Lovi mengenakan dress warna maroon. Dia mengatur rambutnya agar terlihat cantik. Tubuh mungilnya masih cocok mengenakan seragam SMA. Makanya banyak yang sering memanggilnya “dek” di tengah jalan. Awet muda tak selalu menguntungkan.  “Hmm, mama gak habis pikir. Kalian serius?” “Iya, tan. Setelah dari sana, kami mau bersenang-senang.” “Aya, kau gak boleh sedih ya. Janji sama tante.” “Iya, tan.” “Udah, ayo cepat makan. Biar gak macet nanti.” Setelah makan, mereka langsung berangkat. Jalanan ke arah sana mulai sepi dan hanya dikelilingi pepohonan. Suasana yang indah karena ternyata pemandangannya cukup memukau. “Sorry udah ngambil waktu malam minggumu.” “Engga, kok. Aku emang gak bakal malam mingguan hari ini.” “Kenapa? Edgar ada kegiatan?” “Orang tuanya datang. You know, besok dia ulang tahun.” “Ah, I see.”balas Aya. “Kenapa kau gak ketemuan aja sama mereka?” “Kau gila? Aku gak seserius itu ya. Jangan mikir yang engga-engga.” “Kapan lagi ketemu bos besar perusahaan internasional? Argh, kau memang gak memanfaatkan kesempatan dengan baik.” “Hahaha, lupakan.” “Soal hadiah, sudah yakin?” “Ya, idemu lumayan. Aku sudah ngajak dia.” “Good job!”puji Aya sumringah. Mereka sampai dan melihat ada banyak orang. Ternyata ada acara pemakaman disana. Penjaga kaget melihat penampilan mereka. Tampil eksentrik dengan outfit serba warna terang.  “Kita tanya satpam aja yuk. Kau kan gak pernah kesini. Gak mungkin kita nyari satu-satu.” “Ah, i-iya.” Lovi berjalan menemui pak satpam yang sedang ngaso. Udara panas membuatnya beristirahat di pendopo yang teduh. “Pak, kami mau nyari makam seseorang. Apa bapak bisa bantu?” “Kalian siapanya?” “Teman saya anak perempuannya. Tapi dia baru bisa datang sekarang.” “Astaga, bapak kira kalian orang gila yang salah masuk. Ternyata tujuan kalian memang kesini ya. Baiklah, atas nama siapa?” “Pak Sudirman. Sudirman Nitio Negara.”ucap Lovi tegas. Dia udah nyatet ini dari rumah. Ya, cewek yang mempersiapkan segalanya dengan matang. Begitulah Lovi.  “Ah, agak jauh ya. Apa kalian bisa menunggu sampai acara itu selesai? Karena saya gak bisa meninggalkan pos.” “Ah, baik. Tidak apa-apa, pak.” “Tunggu di situ saja. Kalian bisa duduk disana.” “Terima kasih, pak.”ucap Lovi mengakhiri. Akhirnya mereka duduk sambil melihat prosesi pemakaman di tempat itu. Banyak tangis yang melimpah ruah. Bikin mereka tidak enak hati.  Aya membuat skenario di dalam otaknya. Mungkin beginilah yang terjadi dulu saat bapak pergi. Keadaan benar-benar berubah dan semua hal terasa menyakitkan. Kehilangan orang terkasih sangat merusak jiwa. Rasanya ingin mati, tapi sadar kalau itu bukan hal yang benar. Anak perempuan yang masih kecil itu menangis saat orang-orang sudah pergi. Dia mengusap air matanya dan melihat ibunya yang menundukkan kepala di sisi makam.  “Ma, ayo kita pulang.”ucapnya lembut. Dia bisa mengatakan hal itu. Padahal jika dilihat, dia masih anak SD. Kok bisa? “Jean, kita pergi duluan.”ucap anak laki-laki yang terlihat sudah SMA itu.  “Tapi mama,,,,” “Mama akan menyusul.” “Mama gak bisa dibiarkan sendiri. Ma, papa kan bilang, kita harus senang biar papa juga senang disana. Ayo, ma. Jangan menangis lagi!” Anak laki-laki itu menggendongnya. Mereka pergi dan meninggalkan wanita itu tetap disana. Tak terasa, air mata Lovi dan Aya mengalir di pipi. Kenapa mereka jadi sedih banget? Padahal ini cuma keadaan yang direspon sewajarnya. “Neng, ayo. Saya udah bisa nganter.” “Ah, baik pak!!” Mereka berjalan cukup jauh dari pintu utama. Melihat bahwa ujung dari hidup manusia adalah sama. Ya, mati.  “Terima kasih pak,” “Iya, sama-sama.” Aya jadi bingung harus bagaimana. Dia benar-benar pengecut dan bodoh. Dia tidak punya rasa syukur. Bahkan dirinya lebih beruntung daripada anak perempuan tadi. Ia masih sempat melihat ayahnya sampai duduk di bangku kuliah. Argh, harusnya Aya bisa lebih tegar daripada anak itu. Lovi memberikan bunga untuk ditabur. Tak seperti makam di sebelah, makam ini cukup terurus. Sepertinya, ibu atau Bang Igo sering datang kesini. Aya jadi menyesal sudah mengatakan hal jahat pada mereka.  “Hai, pak. Apa kabar! Maafkan aku baru datang sekarang. Aku datang sama sahabatku, Lovi. Bapak masih kenal kan?” “Aku benar-benar kangen bapak. Aku, aku gak terima bapak pergi secepat itu.”serunya sambil menangis. Tangisan yang dibarengi dengan suara. Lovi duduk di bawah pohon dengan wajah sedih. Dia duduk bersama pak satpam yang tadi mengantar mereka.  “Bapak tunggu saja ya, takut kalian tersesat.”ucapnya tadi. “Saya tidak pernah melihat dia datang. Tapi selalu ada yang datang membersihkan tempat itu.” “Siapa pak?” “Laki-laki. Dia selalu membelikan saya makanan. Makanya saya bela-belain ngantar kalian kesini.” “Ah, terima kasih pak.”balas Lovi. Ternyata Bang Igo yang sering datang kesini. Pria yang dulunya antek mafia itu berubah jadi anak baik-baik. “Dia selalu merasa bersalah karena gak sempat datang waktu Pak Sudirman meninggal.” “Itulah yang salah dari anak zaman sekarang. Dibanding datang ke acara pemakaman, orang tua lebih butuh perlakuan baik anaknya semasa dia hidup. Itu jauh lebih berkesan dan membuat orang tua senang.” Benar kata beliau. Apa gunanya disayangi setelah meninggal? Semua yang tersisa hanya penyesalan. Berbuat baik semasa hidupnya jauh lebih baik. Kebaikan dari anak yang tak akan pernah dilupakan orang tuanya.  Lovi mendekati Aya. Ia kira Aya sedang menangis tersedu, ternyata dia sudah tersenyum. Aura yang berbeda dibanding sebelumnya. Lovi senang melihatnya. “Are you ok?” “Ya. Aku sekarang lebih lega. Kita makan yuk. Sekalian ngajak bapak itu.” “Eh, boleh. Kata bapaknya, ada makanan enak di seberang sana,” “Okay, let’s go!”balas Aya sambil tersenyum. Ternyata, membawanya kesini adalah pilihan yang sangat tepat. Lovi mengikuti dari belakang. Untuk segala sesuatu, ada waktunya. Begitupun untuk hati yang tadinya terkunci rapat dan gak mau mendengarkan orang lain. Akan ada waktunya hati itu terbuka lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN