Kejadian tak terduga baru saja terjadi. Mengharuskan Lovi pergi ke rumah sakit. Tiba-tiba saja keadaan ayahnya drop. Dan terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Kabarnya sih semua baik-baik saja. Tapi Lovi harus segera pergi. Dia harus membawa barang-barang yang masih tertinggal. Dia berniat pergi saat tiba di rumah.
“Apa aku ikut aja?”
“Gak usah, Ay. Kamu disini aja ya.”
“Tapi aku takut, Lov.”
“Kamu hubungi Josen. Rumahnya di sebelah. Ini bukan rumah hantu kok. Aku gak enak kalau kamu ikut. Lagian, besok juga kami udah balik.”
“Ah, yaudah deh.”
“Kamu anggap rumah sendiri. Papa gak apa-apa kok. Emang kadang kayak gini. Aku pergi ya.”
“Iya, Lov. Hati-hati!”teriak Aya dari dalam rumah. Dia merasa rumah ini sangat berbeda kalau cuma sendirian. Bukannya takut hantu atau gimana. Tapi rasanya seperti kosong aja. Hampa tanpa siapa-siapa. Dia melihat foto-foto yang dipajang sampai bosan. Hingga akhirnya dia memilih untuk menghubungi Josen. Satu-satunya penghilang rasa bosan di malam ini.
“Bosan banget, Jos.”
“Makanya pulang. Kasihan tuh emak nungguin.”
“Maklumi aja, namanya juga keluarga.”
“Bukan soal keluarga, tapi kita udah dewasa, Lov.”
“Ah, umur doang yang dewasa. Semua juga punya sisi kanak-kanak yang sulit diubah.”
Apa yang dia katakan benar. Bahkan Josen sendiri pernah bertingkah kekanak-kanakan. Bahkan untuk urusan cinta, dia masih saja begitu. Seperti responnya pada Lovi setelah tahu cewek itu punya pacar.
“Siapa pacarmu sekarang? Kenapa gak pernah dikenalin sih?”
“Udah putus. Aku sekarang jomblo.”
“Hah? Kok tumben?”
“Apanya yang tumben. Wajar dong putus nyambung.”
“Gak wajar. Itu cuma dilakukan anak SMA ke bawah. Kita udah gede, Jos. Harusnya kau pacaran untuk menikah.”
“Kau meledek-ku seperti itu. Tapi kamu gak ngasih saran yang mencerahkan sama Lovi. Kau biarin dia pacaran sama orang seperti itu.”
“Astaga. Kata-katamu parah juga.”balas Aya. Dia tersenyum sambil menikmati makanan yang dibawa sama Josen. Katanya sih lagi banyak makanan di rumah. Jadi dibawain deh.
“Kau itu beda sama Lovi. Lovi kalau gak ada kesempatan mana mau pacaran. Sedangkan kau, orang random di jalanan pun bisa kau jadikan pacar.”
“Sialan. Kenapa jadi jahat gitu sih?”
“Ya, memang benar.”
“Kalau kau takut, tidur di rumahku aja.”
“Ogah.”
“Lah, kenapa?”
“Aku gak suka ditanyain banyak sama Pak Mantri.”
Bapaknya Josen emang terkenal seperti diktator. Seringkali membuat orang merasa rendah diri. Dia punya aura yang menyeramkan. Oke, dia memang baik. Tapi untuk diajak ngobrol selayaknya teman, dia tidak pantas. Lovi saja butuh bertahun-tahun untuk memahami pria berkumis tipis itu.
“Jos….”
“Hah?”
“Jangan menghalangi Lovi untuk melakukan apapun.”
“Apa kau pikir aku menghalanginya?”
“Sebenarnya tidak, tapi ekspresi mu selalu tidak suka pada pria yang suka sama dia. Apa jangan-jangan, kau masih suka sama Lovi?”
“Masih?”
Jangan harap bisa menjaga rahasia sesama pasangan. Semua yang diketahui Adong waktu SMA pasti sampai ke telinga Aya. Itu bukan lagi hal aneh karena mereka sering berbagi cerita. Aya juga tahu kalau Josen pernah menyukainya. Bahkan ketika Lovi jujur pada Aya. Aya sih pengen mereka bersatu tapi Josen malah sibuk pacaran.
Melihat track record Josen yang tidak baik, Aya mengambil keputusan. Keputusan yang efeknya sangat besar hingga kini.
“Jangan ikut campur.”
“Ya, dia juga menyuruh Adong untuk melakukan hal yang sama. Banyak resiko jika mereka pacaran di usia dini itu. Dan yang terpenting, Josen terlihat hanya ingin bermain. Dia tak terlihat serius untuk menjadikan Lovi pacarnya. Aya jelas tak terima. Lovi berhak mendapat yang lebih baik.
Aya dan Adong berdoa sungguh-sungguh, jika mereka memang berjodoh biar waktu yang membuktikan. Dan mereka berdua akan jadi saksinya. Tapi lihat yang terjadi. Hubungan Aya dan Adong akhirnya pupus. Mereka tak lagi punya waktu untuk memikirkan Lovi dan Josen. Itulah yang terjadi. Dunia ini sangat sulit ditebak.
“Aku tahu kok kau pernah suka sama dia.”
“Aish, pasti Adong yang bilang.”
“Gak penting siapa yang ngasih tahu. Jadi kau masih suka sama dia?”
“Engga.”balas Josen singkat. “Itu cuma masa lalu.”
“Baguslah. Kau tak perlu tersakiti melihat dia bareng sama Edgar.”
Sebenarnya, Josen sangat tersakiti. Dia berusaha menahan diri. Demi apapun, perasaannya itu ternyata diketahui banyak orang. Bikin dia makin pusing dan stress.
“Apa Lovi juga tahu?”
“Ah, engga. Aku belum ngasih tahu.”
“Jangan kasih tahu.”
“Ayolah, itu kan cuma masa lalu. Dia akan menertawainya, Jos. Sama seperti kisahnya sama Avius. Jadi, santai saja.”
“Aku yang merasa terusik. Karena itu masa lalu, kita lupakan saja.”ucap Josen tegas.
“Ah, baiklah. It’s fine.”
Aya bingung banget sama orang-orang disekitarnya. Apapun yang Josen pikirkan, semoga itu sungguh bukan apa-apa. Jangan ada lagi yang tersakiti demi orang lain. Jika dirinya, dia tidak masalah.
“Oh ya, ada pertunjukan di museum Logi hari minggu. Aku jadi tidak berminat mau pergi. Kau mau?”
“What? Kau serius? Ini show dari pelukis Kilopha khan? Harganya hampir sejuta loh.”
“Yah, hari minggu ini aku harus ke suatu tempat. Buatmu saja.”
“Makasih.”balas Aya senang.
Daripada camping atau naik gunung, Aya lebih senang melakukan hal-hal yang berbau seni. Lebih menarik untuk dilihat. Bikin Aya merasakan sensasi yang berbeda. Pergi seorang diri bukan masalah.
Dia kembali dan langsung tidur. Bicara panjang lebar sama Josen bikin dia capek dan tidur dengan nyenyak.
***
Kafe kecil itu masih sepi. Jam 10 pagi memang waktu yang padat bagi para pekerja. Jalanan juga lumayan sepi. Di atas meja tersaji dua gelas minuman. Lovi tidak tahu harus bagaimana tapi dia tidak sanggup menolak Igo. Ya, pria itu mendatanginya karena tak bisa bicara langsung sama Aya. Aya masih tetap keras kepala dan memilih untuk tidak baikan.
“Bang, dia gak apa-apa kok. Aku akan bujuk supaya dia pulang.”
“Gak usah dibujuk.”tegas Igo kesal. “Biarkan dia pulang dengan keinginan sendiri. Aku cuma mau berterima kasih, karena kau sudah membiarkan dia menginap. Aku kira dia akan menginap di rumah cowok.”
“Ah, baiklah.”
“Dan maaf sudah menyusahkanmu.”
“Ayolah, bang. Aku sama sekali gak keberatan.”
“Baguslah.”
“Apa tante baik-baik saja?”
“Dia sedih. Merasa bersalah ketika membelaku. Tapi dia juga merasa bersalah kalau membela Aya.”
Orang tua dihadapkan pada kondisi yang serba salah. Punya dua anak dan membuatnya merasa tidak adil. Padahal dia selalu mengusahakan agar keduanya baik-baik saja.
“Perkataan Aya mungkin menyakiti hati abang, tapi aku yakin, dia begitu karena sedang emosi.”
“Ah,, aku kesal tapi tetap gak bisa membencinya. Dia selalu merasa bersalah. Padahal kematian bapak sudah jalan Tuhan. Argh, aku jadi merasa bersalah karena sudah keras padanya.”
“Ah, katanya abang mau buka usaha baru ya?”
“Dia yang bilang?”tanya Igo. Lovi mengangguk mengiyakan. “Aku jadi tidak yakin.”
“Aku pribadi mau dukung abang. Bisnis itu gak selalu berjalan. Setelah berkali-kali gagal, mungkin abang bisa berhasil kali ini.”
“Ah, iya ya. Kau membuatku jadi sedikit optimis.”balas Igo sambil tertawa.
Igo hanya butuh uang untuk operasional. Untuk bangunan dan tanah, itu adalah harta peninggalan bapak. Sebidang tanah di pinggir pantai yang dibeli dengan harga murah beberapa puluh tahun yang lalu. Dibangun seadanya walau tak ada yang menghuni.
Tempat itu memang bukan tempat wisata tujuan banyak orang. Igo hanya berharap jika ia membuka bisnis disana, tempat itu jadi wisata yang laris manis. Siapa tahu pemerintah mulai memprioritaskan tempat kecil seperti ini. Mungkin saja.
“Ah, kalau begitu, aku pulang. Makasih untuk waktumu, Lov.”
“Iya, bang.”
Lovi melihat kepergiannya dengan wajah sedih. Semoga semua baik-baik saja. Bang Igo juga banyak berubah. Dibanding dulu waktu SMA, sekarang dia tampak lebih kalem dan bijaksana.