_______Kita, mengandalkan satu sama lain______
__________Kita, bersatu dengan kekurangan__________
| Anima - Bintang |
[2010]
PENGUMUMAN!!
Daftar nama untuk kelas sebelas sudah dirilis di mading. Aya mencari-cari Lovi yang tak kunjung datang. Ia yakin kalau cewek itu terlambat lagi. Setelah liburan panjang, cukup banyak yang telat sekolah. Aroma-aroma liburan masih begitu terasa. Aya memutuskan untuk mengikuti kerumuman orang yang berkumpul di mading hendak melihat daftar nama.
"Hai Ay!"
Adong terlihat berlari kecil untuk menyusulnya.
"Mau lihat mading juga?"
"Iya. Lovi belum datang?"
"Iya nih. Pasti Josen belum datang juga. Mereka kan sepaket berdua."
"Kebiasaan ku yang telat akhirnya mereka ikuti."
"Itu namanya kebiasaan buruk. Btw, jadi masuk IPS?"
"Iya dong. Keputusan udah bulat kayak donat kantin."
Mereka sampai di mading dan mencari nama-nama yang ditempel. Tahun ini akan ada kelas unggulan sebagai cerminan sekolah. Setidaknya ada siswa yang bisa dijadikan teladan.
Lovi dan Josen tiba di sekolah tepat saaat mading semakin ramai. Semua orang berlomba untuk melihat duluan. Wajah Lovi yang masih mengantuk terlihat tak begitu berselera karena mau di kelas manapun sama saja baginya.
"Lovi, Josen!!!!" panggil Aya yang duduk di dekat taman kelas.
"Ay, udah liat? Dapat kelas berapa?"
"IPA 1."
"Tenang-tenang, Josen sama Av juga IPA 1. Tentu saja aku juga masuk unggulan, IPS 1."teriak Adong senang. Aneh tapi nyata, Josen ternyata bisa masuk unggulan IPS.
"Aku, aku. Aku kelas berapa?"
Adong dan Aya saling melihat. Rasanya antara mau dan tidak mau memberikan jawaban. Lalu mereka berdua tertawa seperti orang gila.
"Jahat!! Tadi aku pikir tidak masalah masuk kelas manapun. Tapi kenapa kalian semua bisa sekelas."seru Lovi dengan wajah manyun. Ia hendak pergi melihat mading yang semakin ramai dengan lautan manusia.
"Lovitha Rasella, tenang aja. Kau juga masuk IPA 1."seru Aya sambil berlari memeluk Lovi dengan gembira.
"Hah? Jangan berbohong!."
"Tenang, aku juga lihat namamu."
Hiruk pikuk kebahagiaan itu terasa begitu nyata. Entah setan apa yang merasuk tapi Lovi bersyukur bisa sekelas dengan Aya, heran mengapa sekelas dengan Josen dan senang bisa sekelas dengan Avius.
"Av, sini!!!"panggil Lovi saat melihat Avius yang baru saja datang dengan ice cream ditangannya. Cowok itu punya kebiasaan aneh di pagi hari. Bayangkan saja, pagi yang dingin ini ia gunakan untuk makan ice cream.
"Udah pengumuman?"
"Iya, kita semua sekelas. Kecuali anak IPS ini."
Ia tak bereskpresi. Wajahnya masih mencoba menerka dan menebak kenapa mereka bisa sekelas. Aneh bukan? Tapi memang nyata. Lovi langsung menarik ice cream ditangannya dan memakannya.
"Bagi dikit ya."
"Habisin aja."
"Beneran?"
Ia mengangguk. Kebiasaan yang tadinya aneh itu ternyata tak buruk. Makan ice cream di pagi hari membuat hidup terasa lebih manis.
"Suka gak?"
"Lumayan. Tapi dari pada strawberry aku lebih suka yang rasa coklat."
Semua murid akhirnya di suruh ke kelas masing-masing. Kelas IPA 1 terletak di dekat kantin. Lovi dan Aya langsung mencari duduk paling oke di seluruh sudut kelas. Duduk di kolom tengah dekat jendela. Walau pemandangan di luar sana tak begitu menarik tapi itu lebih baik daripada hanya melihat manusia berseragam melulu. Josen dan Avius duduk tepat di belakang mereka.
"SIAL!!"keluh Lovi tiba-tiba. Ucapan itu membuat Aya yang sedang sibuk mencoret bukunya teralihkan.
"Kenapa sih?"
"Lihat di pojok kanan."
"Mampus mampus!"
"Tuhan, apa salah dan dosaku." Lovi menundukkan kepalanya diatas meja. Setelah kabar baik sekelas dengan teman-temannya, ia diberi cobaan dengan kehadiran Raga di kelas 11 IPA 1.
"Santai-santai, makin heboh entar dia kegeeran."
Setelah di selidiki dengan mata telanjang, Raga sering memperhatikan Lovi. Cowok itu seperti menyimpan sesuatu untuk dikatakan tapi tak tersampaikan.
Josen yang tak punya rasa simpatik itu berlarian kesana kemari mencari korban untuk dijadikan gebetan. Avius tetap stay di tempat duduknya sambil membaca buku pelajaran. Kelas ini sangat tepat disebut sebagai unggulan. Entah karena baru mengenal satu sama lain atau memang mereka diciptakan untuk jadi teladan bagi nusa dan bangsa.
"Titan Andarina. Dia juara umum kelas 10 kan Ay?"
"Hooh,, dia itu emang udah pintar dari dulu."
"Kalian satu SMP?"
"Iya."
"Pantas. Kayaknya SMP mu dulu penghasil murid pintar. Kau juga pintar wahai Cahaya Viovonny."
"Pujian yang tak enak di dengar."
"Aku serius."
Seseorang tiba-tiba datang sambil berteriak bahwa guru sedang menuju ke kelas. Guru yang datang kali ini adalah guru yang tak asing bagi Lovi. Pak Anja. Ia mengajar bahasa inggris untuk beberapa kelas sebelas.
"Good morning everybody!"
"Morning sir."
"Gimana-gimana, kalian udah naik tingkat. Masuk kelas unggulan lagi."
Semua berisik seperti cacing kepanasan. Tak ada yang menjawab pertanyaan aneh Pak Anja. Semua sibuk bergumam dengan teman sebangku.
"Hmm, beberapa orang sudah saya kenal ya." ucapnya sambil melirik arah kursi Lovi. Tentu saja matanya tertuju pada cowok teladan yang terkenal itu, Josen Prasesa. Josen hanya senyum-senyum untuk menghargai Pak Anja.
"Ah iya, saya diberikan tanggung jawab untuk menjadi wali kelas kalian."
Kali ini sifat manusia yang sebenarnya mulai terlihat. Semuanya berisik memberikan pendapat tentang Pak Anja. Ada yang bilang dia baik ada juga yang gak peduli. Beberapa terlihat rebahan di belakang sana.
"Aib kita dibongkar gak ya." ucap Aya khawatir.
"Aku percaya, Pak Anja tak seburuk itu Ay."
"Dan sebagai langkah pertama. Kursi akan dirombak dengan formasi teman sebangku cowok dan cewek."
"Ahhhhh, jangan pak!"teriak semua orang yang makin riuh.
"Ini untuk kebaikan bersama. Agar semuanya bisa saling mengenal."
Baiklah, skenario aneh Pak Anja yang sangat merugikan ini membuat Lovi bergidik. Ia tak peduli jika harus berpisah dengan Aya. Ini akan menjadi masalah besar jika ia sebangku dengan Raga.
"Jangan ada mampus yang lain Lov."seru Aya memecah keheningan dalam ngeri yang merasuki Lovi.
"Jika itu terjadi maka aku tinggal bilang sama Pak Anja."
"Masalahnya, semua penghuni kelas ini akan curiga."
"Gila!!"
Pak Anja senyum senyum manja setelah berhasil memporak-poranda kelas 11 IPA 1. Ia puas sekali dengan hasil itu. Semua tercipta begitu sempurna.
"Karena ini hari pertama, jadi kita sudahi sampai sini ya. Kalian bisa istirahat atau tetap di kelas dengan catatan jangan berisik."
Pak Anja pergi. Kelas yang canggung itu terlihat aneh karena sesi perkenalan dimulai. Takdir buruk yang ada diotak Lovi ternyata tak terjadi. Ia malah bahagia bisa sebangku dengan teman baiknya. Avius Refadwi. Hal yang kini jadi masalah adalah Aya. Ia sebangku dengan Raga. Ini adalah keadaan yang tak diduga sama sekali. Lovi yakin betapa canggungnya Aya memperkenalkan diri dengan mantannya itu.
"Av, aku gak nyangka kita sebangku."
"Aku senang."
"Aku juga. Aku tahu kalau kau itu anak rajin. Walau berpisah sama Aya, tapi kau bikin semuanya terasa baik-baik aja."
"Aya gapapa kan?"
"Haha, aku harap. Tapi jika Tuhan nyuruh aku memilih maka aku akan memilih keadaan sekarang."
"Kau jahat Lov."
"Jangan bilang-bilang sama Aya ya."
"Apaan jangan bilang-bilang!!!" teriak Aya keras. Lovi kaget karena ia tiba-tiba sudah berdiri disamping Lovi.
Lovi hanya tersenyum palsu. Aya langsung menarik tangannya. "Ayo ke toilet."
Mereka duduk di bangku kantin setelah selesai dari toilet. Aya masih mencoba menerima kenyataan aneh ini.
"Aku pusing Lov."
"Tenang, aku gak bakal nyuruh kamu jadi jahat sama dia. Kalian mau dekat juga gapapa. Pacarin aja sekalian."
"Gila ya, aku masih punya Kak Reylo. Dan kau tahu kan aku gak suka cowok seumuran."
"Makanya aku mengandalkanmu Ay. Ini tuh udah tepat."
"Masalahnya adalah aku itu teman dekatmu."
"Gini aja, kau kayak biasa aja. Dan jangan sekali-kali ngomongin tentang aku."
Tak berapa lama mereka kembali ke kelas. Kelas unggulan itu terasa berbeda dibandingkan kelas dulu. Walau tetap saja ada orang-orang aneh dan tukang buat onar. Josen lagi-lagi menjadi ketua kelas. Pemilihan yang dilakukan secara demokrasi membuat Josen jadi ketua kelas mutlak. Dari total 30 siswa, hanya 10 orang yang memilih kandidat kedua. Lovi adalah salah satunya. Lovi berjanji pada diri sendiri bahwa Josen cukup mengkhawatirkan jika jadi ketua kelas. Bukannya mengamankan, dia malah lebih pantas untuk diamankan. Hal yang membuat pikiran Lovi tidak tenang adalah sembilan suara lainnya. Apakah Raga salah satu diantaranya?
"Lovi, minta pulpen."seru Josen sambil mengambil pulpen di meja Lovi.
"Heh, awas aja kalau hilang."
Ia beranjak tanpa mempedulikan ucapan Lovi. Lovi mengambil pensil merek pentel yang ada di tasnya.
"Av, mungkinkah Josen itu klepto?"
"Ngawur haha."
"Dia itu sejak dulu sampai sekarang kerjaannya ngambilin pulpen ku. Habis itu hilang. Jangan-jangan dia kumpulin terus dijual."
"Harusnya kau lebih tahu."
"Aku cuma gak habis pikir. Eh, gimana radio?"
"Hah?"
"Aku selalu dengerin kamu siaran."
"Be...Beneran?"
"Iya. Aku kebayang kalau suatu hari kamu bisa jadi penyiar terkenal."
"Gak seserius itu Lov. Aku ikut aja diam-diam. Gak ada yang tahu kecuali kalian. Orang tua mana yang mau anaknya jadi penyiar? Disaat yang sama, aku juga cuma punya mama."
Hari itu Avius cerita bahwa ia adalah anak semata wayang yang hidup berdua dengan mamanya. Lovi semakin bersyukur diberi keluarga lengkap walau sederhana. Alasan Avius begitu pendiam adalah karena ia merasa tidak nyaman jika ditanyakan tentang keluarganya yang berantakan. Dan kepedulian teman-temannya membuatnya sadar bahwa ternyata cerita keluarganya tak begitu memalukan untuk diungkap.