______Kita, mencintai dengan cara kita____
______Kita, jadi cinta untuk kita yang lain________
| Peterpan - Menghapus Jejakmu |
Aya baru saja dari kantor administrasi sekolah. Ia sedang bermasalah dengan pembayaran uang sekolah. Walau jumlah uang sekolah negeri tak begitu besar, tapi orang tua yang hanya seorang pedagang membuat Aya harus terlambat bayar. Bel pertanda istirahat berbunyi. Ada gunanya juga menghabiskan banyak waktu di kantor itu. Ia tak perlu mendengarkan pelajaran biologi yang membosankan. Ia pamit setelah memastikan semuanya aman terkendali. Pihak sekolah memberikannya keringanan untuk membayar uang sekolah terlambat sampai pada tanggal tertentu yang sudah disepakati.
Aya berjalan gontai karena kelaparan. Ia berhenti ketika seseorang memanggilnya. Adong Doi. Cowok itu tersenyum di depan kantin. Kantin itu di d******i oleh anak IPS. Jika anak IPA pergi kesana maka kemungkinan tidak akan nyaman. Aya adalah cewek yang berbeda. Ia mendekat ke arah Adong.
"Ay, dari mana?"
"Kantor administrasi."
"Kenapa lemas banget sih."
"Aku lapar."
"Bu, minta nasi goreng ditambah gorengan dong."teriaknya pada ibu penjaga kantin. "Aku traktir deh."
"Serius? Yes, sering-sering ya Dong. Hmmm, kau merokok?"
Adong terdiam. Ia tak menyangka bahwa Aya menyadari hal itu.
"Santai kali. Abangku juga ada yang ngerokok kok."
"Bau ya?"
"Sedikit. Tapi aku tadi liat rokok di tanganmu."
"Hahaha, sorry ya."
"Aku sih gak masalah. Tapi jangan coba-coba sama Lovi. Dia benci banget sama bau rokok. Kamu akan diceramahi."
Ibu penjaga kantin tiba dengan nasi goreng dan gorengan yang masih hangat. Wanginya yang lezat semakin menusuk hidung.
"Jangan-jangan Josen juga merokok juga?"
"Engga kok. Engga. Cuma aku doang. Ini udah kebiasaan dari SMP. Aku ketemu Josen juga baru di sekolah ini kan."
Aya kini berfokus pada makanan di hadapannya. Menikmati makanan yang katanya enak tapi hanya bisa di makan oleh anak IPS. Murid perempuan IPA yang lugu dan polos tak akan berani ke kantin itu.
Teman-teman Adong datang bergerombol.
"Adong lagi pacaran ya."
"Cantik banget pacarnya."
Mungkin ini terkesan menggeneralisasi, tapi mereka bergaya seperti Adong. Baju serampangan, celana kuncup, rambut acak-acakan dan tentunya gaya jalan bak preman pasar. Ah ya, Adong masih lebih mending dibandingkan mereka.
"Apaan sih, dia ini temanku."
Aya buru-buru menikmati makanan dihadapannya. Ia menyelesaikannya sebelum jadi pusat perhatian banyak orang.
"Dong, makasih ya. Aku balik ke kelas."
"Oke, hati-hati Ay."
"Aku melihat sesuatu di matamu."seru seseorang yang duduk di kursi tempat Aya tadi. Herdi, teman sebangku Adong di 11 IPS 1.
"Apa? Mataku belekan?"
"Pepatah bilang, semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak."
"Jadi di mataku ada semut atau gajah?"
"Kau suka dia kan?"
"Siapa?"
"Cewek tadi."
"Eng,,,, engga."
"Kayak pepatah tadi, walau gak terlalu pas untuk mendeskripsikan perasaan tapi sangat cocok untuk kondisimu. Kau gak tahu perasaanmu sendiri."
Adong langsung memukul kepala Herdi. Awal pertemuan mereka memang tak terlalu baik. Herdi yang seharusnya masuk jurusan IPA itu sangat tidak cocok berteman dengan anak berandal seperti Adong. Herdi hanya bisa pasrah dan menyesuaikan diri dengan kenakalan remaja kala ini. Ia berprinsip hal ini bisa mengasah kemampuannya di bidang ketahanan mental dan psikologis. Alasan Herdi masuk IPS adalah demi sastra indonesia yang amat ia cintai. Tak mengapa jika tak terkenal sekarang. Ia hanya ingin suatu saat bisa terkenal lewat karya-karyanya. Jika Tuhan mengijinkan.
*****
Radio Kharisma FM sore ini terlihat ramai dengan beberapa anak remaja yang datang. Mereka hendak memberikan surat dan coklat untuk penyiar idola yang lagi hits, Vidi.
"Ketemu lagi bareng aku Vidi di acara Begu, Boleh Dengerin Lagu. Kali ini kita akan dengerin lagu dari Peterpan yang bisa bikin kalian melupakan kisah yang seharusnya emang buat dilupain. Ini dia, Peterpan dengan judul menghapus jejakmu."
Ia melihat tumpukan surat dari penggemar. Walau tak ada yang tahu bahwa Vidi yang sebenarnya adalah dia, setidaknya penggemarnya tidak menilai dari wajah tapi dari suaranya. Ponsel Avius berdering pertanda SMS masuk. Saat membukanya ia senyum-senyum. Lagu peterpan akhirnya berakhir. Ia langsung mengambil alih sebelum lagu itu benar-benar membunyikan lirik terakhir.
"Terima kasih buat kalian yang masih stay dengarin Kharisma FM. Seperti biasa, kalian boleh request di nomor XXXXXXX. Aku tungguin ya. Sekarang aku bakal bacain request lagu dan pesan dari kalian. Kali ini ada dari Josen yang me-request lagu dari Drive yang Bersama Bintang. Lagu ini buat Titan anak SMA 1 Nestapa. Wah, semoga Titan dengerin pesan ini ya. Selanjutnya...."
Acara Begu berlangsung tiga jam. Avius sangat menikmati saat-saat itu. Ia ingin mencari cita-cita yang mengandalkan suaranya. Ini adalah talenta yang sewajarnya di manfaatkan agar tak hilang. Avius pulang setelah semuanya usai. Ia punya kewajiban untuk belajar dan mengerjakan tugas. Tiba-tiba ia mendapat telepon dari seseorang. Lovi.
"Halo!"
"Av, gila ya. Josen sama Titan ada sesuatu?"
"Kau dengerin acaraku barusan?"
"Iya iya. Ini aku lagi nanya Jos. Kata dia itu cuma bercandaan."
"Hahaha, aku gak tahu. Tapi tadi aku beneran dapat pesan dari dia."
"Wahhh, gila. Sekarang ngungkapin perasaan bisa seblak-blakan itu ya. Udah gitu pakai orang dalam."
"Orang dalam apa sih. Kamu kalau mau request lagu juga bisa. Bilang aku aja."
"Beneran? Aku mau lagunya Gita Gutawa ya."
"Iya. Siaran nanti aku puterin."
"Oh ya udah deh. Hati-hati di jalan Av."
Avius berjalan menyusuri pertokoan. Suasana malam yang terang karena cahaya lampu membuat tempat itu semakin indah. Terkadang sepi itu terasa begitu indah. Kadang ia juga merasa bahwa semuanya menyesakkan ketika kesepian itu membunuhnya. Kehadiran seseorang membuatnya sadar bahwa sekolah begitu menyenangkan.
Sampai di rumah membuatnya senang mengingat bahwa waktu terus berjalan. Waktu itu tak akan berhenti. Waktu menjadi alasan bahwa ia akan sekolah besok. Bertemu teman-temannya.
"Av udah balik. Ini mama bawain snack dari kantor."
Avius mengecek snack itu. Ada choki-choki di antara tumpukan keripik itu. Ia mengambilnya dan menaruhnya di tas sekolah. Ia kembali belajar.
"Oh iya, mama minggu depan mau keluar kota. Cuman tiga hari sih, kamu nginep di rumah om Arman aja ya."
"Iya ma."
Sudah kebiasaan bahwa mamanya sering dinas keluar kota. Itu adalah alasannya jadi penyiar radio. Kesepian itu tak indah jika terus-terusan.
"Mama, aku boleh nginap di tempat teman?"
"Emang gak masalah? Temanmu yang mana?"
"Namanya Adong. Dia anaknya petani berdasi di komplek sebelah."
"Ohhh, itu. Iya,iya. Mama pernah dengar. Terserah kamu aja. Tapi jangan lupa makan."
Ini kali pertama Avius akan menginap. Rasa antusias menyeruak dan tak bisa membuatnya berkonsentrasi. Ia langsung rebahan di kamar tidur dan menelepon Adong.
"Halo."
"Iya,,, Adong kan?"
"Iya lah. Ini ponselku Av. Emangnya ponsel siapa lagi?"
"Hmm,,,,"
"Kenapa Av?"
"Tawaran nginap yang dulu kamu bilang masih berlaku gak?"
"Tentu saja. Kamu mau datang sekarang juga bisa."
"Gak sekarang kok. Minggu depan. Mamaku mau keluar kota."
"Bisa banget. Disini sepi banget dan aku cuma punya adik cewek yang jeleknya bikin enek."
"Hahaha,... Oke, makasih Adong."
"Sampai jumpa besok di sekolah bro."
Telepon terputus. Avius mendengarkan lagu dengan ponselnya. Ia mencoba mencari siaran radio yang menarik. Walau dia seorang penyiar Kharisma FM, tapi ia juga sering tertarik pada radio lain. Avius mendengarkan lagu Westlife sebagai penutup hari ini. Hari yang menarik untuk nanti di ceritakan di masa depan. Hari yang penuh dengan nada dan suara. Rasa cinta yang timbul sesaat dan gengsi yang terlihat jelas. Kadang cinta yang diutarakan bermaksud terbalik.
Josen sendiri sedang berdamai dengan sifat buruknya. Ia hanya fokus menambah gebetan tanpa menciptakan hubungan serius. Lovi yang masih terjebak masa lalu. Avius yang mencoba hidup selayaknya manusia normal. Aya yang memikirkan hidup seperti orang dewasa. Adong yang tak mengerti perasaannya yang sebenarnya.
Sandiwara radio kala ini semakin menghilang. Acara itu menjadi tak begitu menarik. Televisi semakin mewarnai hidup manusia. Warung internet yang semakin banyak dan tentu saja ponsel yang berkembang setiap saat. Cinta yang tumbuh dimasa SMA akan terkenang selamanya. Mungkin suatu saat akan terpikir jika keputusanmu berubah di masa itu, apa yang mungkin akan terjadi dengan masa sekarang?