.7. Kembang Desa di Sekolah

1114 Kata
_____Kita, mengerti karena terbiasa____  _______Kita, terbiasa karena cinta________  | Gita Gutawa - Bukan Permainan | Berangkat sekolah adalah kegiatan yang cukup menguras tenaga. Kaki semakin membesar dan bengkak akibat jalan kaki dengan jarak yang jauh. Gak mungkin banget punya kaki ala Miss Indonesia. "Rambutmu kenapa Lov?"tanya Josen sambil tertawa. Wajah Lovi yang tak berekspresi menunjukkan bahwa tak selayaknya rambutnya dijadikan bercandaan.  "Ini adalah kesalahan. Aku harus gimana Jos. Malu."  Bukannya simpati, Josen malah tertawa lebih keras. Rambut Lovi yang salah potong karena jiwa sok tahunya . Ia memotong sendiri. Poni yang begitu berharga malah jadi sangat pendek. Rambut belakangnya malah ikut kepotong. Josen sendiri masih heran kenapa rambut itu begitu acakadul.   "Ahh, aku tahu itu harus diapain. Tunggu disini bentar."  Josen berlari ke warung yang buka. Ia kembali dengan karet cina dan penjepit.   "Rambutmu di kepang aja. Baru yang berantakan dijepit pakai ini."  "Ide bagus. Tapi yang kepangin siapa. Oh iya, Aya aja. Ini aku pakai topi dulu."  "Nunggu Aya sama aja berharap rambutmu jadi bahan omongan. Sini aku kepangin."  "Hah? Emang bisa?"  "Aku pernah diajarin kakakku."  "Kak Essa?"  Josen mengangguk. Lovi duduk di bangku warung. Abang-abang pemilik warungnya sampai tertawa melihat rambut Lovi. Ia menawarkan cermin untuk membantunya. Setelah beberapa lama kepangan itu berhasil. Lovi langsung menjepit bagian yang bisa ia lihat.   "Dek, jadi makin cantik. Terus lebih muda."  "Iya bang makasih. Dan makasih juga udah ngetawain aku."  Abangnya hanya tertawa kecil.   Wajah mungil Lovi jadi begitu terlihat. Wajah yang hanya di permak dengan bedak bayi itu semakin menunjukkan eksistensi diri. Andaikan seragamnya diganti jadi seragam SMP atau SD, maka Lovi masih sangat cocok. Dunia ini memang penuh misteri. Ada yang terlahir untuk selalu terlihat tua dan ada yang terlahir untuk selalu terlihat muda. Umur tak selalu menjadi penentu.   "Wuah, ada putri solo nih."  "Kembang desa kali."  "Kembang kol aja."  "Mantannya Raga!"  Mereka semua adalah kaum lelaki yang bibirnya suka mencibir. Bibir lelaki yang gemes dan suka semena-mena. Mata Lovi hanya tertuju pada orang yang menyebut nama Raga. Ia melirik dengan sinis.   "Jangan marah dong. Kembang desa mana ada yang galak."  "Bodo amat!!!"  Lovi langsung duduk di kursinya. Ia melirik ke sisi lain dan melihat Raga sedang memperhatikannya. Oke, semua orang menjadikan dia pusat perhatian. Cowok-cowok berperan menjadi pemicu perang. Disisi lain, cewek-cewek akan memuji dengan kalimat manis. Walau sebenarnya kadang itu cuma pemanis buatan.   "Av, aku ngaku. Ini cuma buat menutupi rambutku yang salah potong."  Lovi langsung menjelaskan tanpa mendengarkan Avius bertanya.   "Bagus kok."  "Beneran? Gak kelihatan rambutku salah potong?"  "Iya..."  Tiba-tiba Aya datang dan membuka ikatan rambut yang dibuat dengan sepenuh hati itu. Aya adalah defenisi teman terbrengsek. Semua melihat rambut Lovi yang sebenarnya. Ia mencoba untuk menahan amarah. Tak baik menimbulkan permusuhan antar sahabat baik. Aya langsung mengambil alih dan merapikan rambut Lovi. Ia berjalan ke bangkunya. Tatapan tajam Lovi tak berhenti menatap Aya.  "Maafkan aku! Maaf Lov." ucap Aya di kantin.   "Bagi liptint mu."  "Ah iya, ini pakai aja."  Lovi langsung memakai liptint itu. Liptint keluaran terbaru yang warnanya awet.   "Kenapa Av?"tanya Lovi saat melihat Avius memperhatikannya.  "Ah,,, tidak apa-apa."  "Wuah,,,, jangan-jangan..."seru Aya.  "A... aku cuma kaget. Baru kali ini lihat Lovi ber-make up."  "Hey, ini bukan make up. Cuma liptint doang. Dia emang paling gak bisa dandan. Dia hanya bisa mengandalkan wajah mulusnya."  "Diam kau wanita jahat!!"  "Jadi jadi, kenapa bisa ada kembang desa di sekolah kita."seru Adong sambil membawa indomie jumbo dengan dua telor.  "Hari ini aku kayak artis yang diwawancarai sekian ribu orang."  "Lebay!!"  "Hal terparah adalah ketika Aya merusak rambutnya Lovi. Karya cipta ku langsung menghilang begitu saja."seru Josen.  "Hah? Jadi kau yang kepangin rambutnya Lovi Jos?"tanya Aya heran.  "Iyalah, siapa lagi emang?"  "Well, itu gak penting. Sekarang yang penting adalah hubungan mu sama Titan."ucap Lovi tegas.  Pertanyaan ini membuat semua orang kaget.   "Ga ada apa-apa."  "Jawabannya selalu gitu. Aku harap kali ini Jos bisa pacaran ya Tuhan."seru Aya.  "Engga,,, beneran!"  "Doakan aku juga."ucap Adong.  "Kau lagi menyukai seseorang?"tanya Lovi heran.  "Eh, hah,,,,, mak...maksudku doakan aku bisa juara 1 di kelas."  "Ah elah. Jangan mimpi."ucap Lovi.   Makan siang berakhir saat bel berbunyi. Beberapa murid segera bergegas ke toilet agar tidak mengganggu pelajaran. Izin ketika guru menjelaskan itu rasanya aneh. Apalagi kalau guru sedang menjelaskan poin-poin penting yang sayang jika dilewatkan.   Lovi duduk dibangkunya dan menunggu datangnya guru. Ia melirik Avius yang sibuk membaca. Anak itu benar-benar rajin. Tak sengaja matanya tertuju ke benda di atas mejanya.   "Itu buatmu."  "Choki-choki? Beneran nih buat ku?"  "Iya. Kau suka coklat itu kan?"  "Suka banget! Tapi kamu sengaja belikan?"  "Engga. Itu dikasih mama kemarin."  Lovi langsung membukanya dan menikmatinya. Coklat yang manis bisa membuatnya sedikit senang.   Ponselnya berdering. Ia melihat ada SMS masuk dari Aya.  Aya : Raga nanyain kamu lagi. Sial banget.  Lovi : Jawab aja sih.   Aya : Dasar! Katanya guru gak masuk nih. Kau temui dia di luar.  Lovi : Ogah. Ga mau!  Tak perlu waktu lama. Terlihat bahwa Raga keluar kelas. Aya menatapnya dengan senyuman pahit. Lovi berpikir dalam kegelisahan.  Aya : Sana pergi, please! Gue merasa bersalah sama tuh cowok.  Lovi beranjak. Memang sudah seharusnya guru tak datang. Sudah tiga puluh menit tak kelihatan hadirnya guru yang akan mengajar. Lovi melihat sekeliling dan mendapati Raga sedang duduk di kantin yang sepi itu. Semua orang sedang belajar.   "Kenapa?"tanyanya cuek.  "Duduk dulu Lov."  Lovi langsung duduk agar percakapan ini segera usai.  "Aku merasa ga nyaman sekelas samamu."  "Heh, aku juga ya. Jangan kira aku senang."  "Iya, aku tahu. Aku cuma mau kita baikan."  "Hah?"  "Baikan biar aku sama teman sebangkuku gak kayak orang asing. Kau tahu kan, aku sama Cahaya harus jadi sebangku dalam satu tahun ini. Aku gak mau dia mikir aneh-aneh tentang aku. Padahal kita juga putus gara-gara kamu."  "Kamu mau ngajak baikan atau ngajak perang sih? Malah nyalahin orang!"  "Aku cuma mau bilang, jangan suruh Aya benci sama aku."  "Dasar cowok! Kamu tahu kan kita putus gara-gara sifat kamu yang kayak gini. Kerjaanya negatif thinking. Aku gak sejahat itu nyuruh Aya benci sama kamu. Kamu selalu nyalahin teman-temanku."  "Jelas-jelas gara-gara kamu sama Josen selalu berduaan kita putus. Kamu gak punya hati Lov."  "HEH BRO!!" teriak Josen yang sedari tadi memperhatikan.  "Jos?"seru Lovi kaget.  "Kau balik aja sana. Aku mau ngomong sama dia."  Lovi mengikuti ucapan Josen dengan ragu dan pergi meninggalkan mereka berdua. Josen menatap baik-baik wajah Raga.  "Jadi menurutmu aku itu penghancur hubungan? Baiklah. Mungkin itu bisa dianggap sebagai alasan. Sebagai informasi, aku sama Lovi itu kayak saudara. Dan jangan pernah jadiin Aya alasanmu buat ngobrol sama Lovi. Kau mau pindah tempat duduk? Aku bisa bilang sama Pak Anja."  Raga terlihat diam. Dia sedang menimbang-nimbang segala hal yang terjadi.  "Ehm,,, engga Jos. Aku gak mau teman-teman beranggapan aneh kalau tempat duduk di rombak lagi. Aku minta maaf!" ucapnya sambil berjalan meninggalkan Josen. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN