.8. Menginap Bersama

1252 Kata
_____Kita, memahami dari hati_____  ________Kita, bersahabat karena paham______  | Bunga Citra Lestari - Karena Kucinta Kau | Hari sabtu adalah malam dimana Josen dan Lovi pulang ke rumah. Rumah yang bisa di tempuh tiga jam dari kota tempat di mana mereka bersekolah. Kali ini mereka tak pulang ke rumah tapi ingin menginap di rumah salah satu orang terkaya di kota Nestapa, Adong Doi. Setelah tahu bahwa Avius sudah menginap di sana selama dua hari, mereka berniat untuk ikut menikmati rumah orang kaya itu.  "Jadi gimana Adong di sekolah?" tanya Tante Irene, mamanya Adong.  "Seru aja tan. Tapi kita juga kurang tahu, soalnya ketemunya cuma kalau lagi istirahat."  "Saya suruh dia masuk IPA tapi gak mau. Padahal kan enak punya banyak teman-teman baik kayak kalian."  Tante Irene menyiapkan begitu banyak makanan. Rumah mereka yang penuh dengan hasil pertanian bisa membuat anak sekolah berdecak kagum. Berapa banyak uang yang dihasilkan setiap harinya? Hasil pertanian seperti jagung, kopi, padi hingga bawang dan cabe. Semua itu tampak membludak di rumah Adong.   "Berarti kalau mau minta jajan ambil sendiri?"tanya Lovi sambil mengunyah daging bakar yang wanginya menusuk hidung itu.  "Iya, tinggal ambil di dompet mama."  "Gila. Aku mau jadi saudara tirimu Dong. Mamaku sangat pelit dan tak pernah ngasih duit seleluasa itu."  "Terus kalau kau ngambil semuanya bisa dong?"tanyaAya.  "Bisa. Tapi kan tau diri. Kalau aku ngambil semua entar mama pasti nanyain kemana itu duit."  Meja makan yang penuh itu terasa begitu membuat lapar mata. Jenis lauk yang macamnya tak terhitung begitu menarik. Lovi yang doyan makan menikmatinya dengan kekuatan super. Kapan lagi bisa makan gratis di rumah orang?  "Hey, sini dong. Kenalan sama teman-teman abang!" ucap Adong ketika adiknya datang. Ia baru pulang di malam yang gelap ini. Entah apa yang dilakukan anak SMP diluar sana.   "Ini adikku, namanya Visi."  Ia langsung bersalaman selayaknya anak yang lebih muda hormat pada orang yang lebih tua. Setelahnya, Visi langsung pergi ke kamarnya.  "Dia kenapa pulang malam?"tanya Josen sambil menyeruput sop iga dengan lahap.  "Dia les. Tapi aku juga bingung, dia sering banget pergi entah kemana. Anak jaman sekarang kelayapan mulu."  "Untung kau engga kayak gitu."  "Lov, entar kita ke kamar Visi yuk. Aku yakin dia sering dandan."bisik Aya.  "Haruskah?"  Aya mengangguk. Dilihat dari sisi manapun, Visi terlihat menggunakan sesuatu di wajahnya. Tentu saja, orang kaya tak akan berpikir dua kali untuk membeli lipstik, bedak dan handbody. Itu hanya secuil uang yang tak perlu dipikirkan.  "Buruan! Kita mau cuci piring nih." ucap Lovi pada Adong yang masih mencicipi makanannya.  "Buru-buru amat sih. Sabar Lovitha."  "Kamu cuci sendiri ya."  Adong langsung buru-buru menyelesaikan kudapannya. Ia meletakkan piringnya di wastafel untuk dicuci.   "Kenapa perempuan dilahirkan untuk mencuci piring?"ucap Lovi sambil membasuh piring yang sudah dicuci Aya.  "Entahlah."  "Kepikiran gak sih, kenapa kita selalu tanggap ngelakuin ini kalau lagi ada acara?"  "Itu namanya naluri Lov."  "Aku benci. Tiap hari rasanya piring-piring menumpuk. Apalagi di rumah tanteku. Setiap minggu dia selalu mengundang orang ke rumahnya. Menyebalkan."  "Ayo buruan. Kita kan mau ke kamar Visi."  "Oh iyaaa."  Dengan langkah gontai Lovi menyusul Aya ke lantai dua. Ia melihat teman-temannya sedang sibuk main games dengan gembira. Apa lagi tujuan mereka menginap selain main game bareng. Jika dilahirkan kembali maka Lovi ingin jadi lelaki.   "Visi, kita boleh masuk gak?"ucap Aya sambil tersenyum. Cewek berambut sebahu itu mengangguk.  "Wuah, kamarmu bagus banget. Eh, kau juga suka SMASH?"  Aya melihat poster SMASH yang amat besar di sudut kanan kamar. Kamar itu seperti surga dunia.   "Kakak juga suka?"tanya Visi dengan ekspresi tertarik.  "Banget! Kau suka siapa? Jangan bilang......"  "Morgan!!" ucap mereka serempak sambil cekikikan.  "Bodo amat dah. Dimana-mana aku ketemu fans Morgan." seru Lovi dengan muka datar.  "Oh iya Vis, kakak pinjem alat make up mu dong."  "Iya kak, itu di meja pakai aja."  Ujung dari malam minggu yang indah ini, Visi jadi orang yang mendandani Lovi dan Aya. Ia heran kenapa dua orang itu sangat bodoh dan tak mengerti tentang alat yang ia punya. Zaman sekarang orang-orang sudah semakin sering pakai peralatan make up. Ia sendiri heran untuk apa mereka berdandan jika ujung-ujungnya tidur.   "Aku cantik gak?" tanya Lovi saat turun ke lantai satu dan mendapati mereka bertiga kelelahan setelah menyelesaikan satu game.  "Aneh!"ucap Josen.  "Hahaha, lebih baik kau jadi kembang desa lagi Lov."  Aya menampakkan diri. Mereka bertiga takjub.  "Ini baru pas, warnanya sesuai sama kulitnya Aya. Beda banget sama muka Lovi."seru Josen.  "Setuju! Kita sehati Jos."lanjut Adong.  "Heh, jangan sekali-kali menghina karyaku ya. Kak Lov cantik kok."ucap Visi menghibur sambil memberikan dua jempolnya.  "Iya, cantik kok!"ucap Avius sambil tersenyum.  "Udah yuk, lanjut lagi gak nih?"seru Adong sambil menekan tombol start.  "Avius emang paling baik."  Lovi duduk di sofa sambil memperhatikan mereka main game. Aya keluar karena mendapat telepon. Siapa lagi yang mengganggu anak gadis di malam minggu? Lovi sampai mengantuk menunggu mereka menyelesaikan putaran kedua. Entah harus sampai berapa jam Aya diluar sana. Nyamuk-nyamuk itu tak punya harga diri lagi. Ia sibuk memukul nyamuk yang kenyang darah. Walau begitu ekspresinya tak lepas dari kebahagiaan.  "Gila, kau diam-diam pasti sering main kan Jos?"ucap Adong yang merasa kalah.  "Jangan sepele dengan kemampuanku."  "Eh, itu Aya belum kelar-kelar?"  "Iya, begitulah rasanya di mabuk cinta." balas Lovi.  "Lovi, kau jangan dekat-dekat lagi sama siapa itu, Raga." Ucap Josen sambil menyalakan televisi.  "Oh ia, tadi siang gimana? Kau hajar dia? Kayaknya dia udah gak ngeliatin aku lagi."tanya Lovi.  "Aku cuma suruh dia bertingkah sewajarnya. Pokoknya jauhi dia."ucap Josen tegas.  "Emang kenapa tadi siang?" tanya Adong penasaran.  "Ga ada apa-apa. Yang pasti dia tuh lelaki gak tau diri."  "Brow sist, kita langsung tidur nih? Ayolah keluar!! Gak seru banget."ucap Aya yang baru saja masuk rumah.   "Mau kemana jam segini?"ucap Josen sambil merapikan bantal yang hendak jadi tempat kepalnya bersandar. Adong menarik bantal itu dan Josen meringis kesakitan.  "Ada pasar malam. Ini juga masih jam 7."  "Hah? Tau darimana ada pasar malam?"  "Hmmmm,,, dari Kak Reylo."ucap Aya sambil tersenyum.  "Adong, kalau kita pergi gapapa sama tante Irene?"tanya Lovi.  "Gapapa, aku pergi jam 12 juga dia gak pernah nanya."  "Heh, tetap aja kita harus minta izin."Aya menarik tangan Lovi hendak minta izin. "Make up kita gak sia-sia Lov. Entar kau tinggal cari cowok di sana."lanjut Aya antusias.  Ide bagus itu membuat Lovi semangat. Setelah minta izin mereka pergi ke pasar malam yang tidak terlalu jauh dari rumah Adong. Udara dingin yang menyergap tak terasa karena sepanjang jalan ada saja candaan Adong yang membuat tertawa. Pasar malam itu didominasi ibu-ibu yang datang dengan anaknya yang masih kecil. Banyak permainan yang cocok untuk anak-anak. Ada juga tempat jual beli mainan dan ikatan rambut yang lucu-lucu.   "Haiiii,.." sapa seseorang menghancurkan perhatian mereka pada bandana kuning yang hendak dibeli Lovi. Lovi melirik dan tersenyum.  "Titan?" sapa Lovi memastikan  "Kalian lagi ngapain?"  "Haiii Ti, lagi main aja. Menikmati malam minggu."sapa Aya.  "Eh, aku ke toilet dulu ya."seru Josen sambil berusaha mencari tempat yang kemungkinan adalah toilet. Adong dan Avius menyusulnya. Tersisalah dua orang gadis itu dan Titan diantara kerumunan banyak orang.  "Kau sendirian kesini?"tanya Aya lagi saat Lovi hendak membayar bandana barunya.  "Aku sama abangku. Tapi dia pergi entah kemana."  "Oh ya, aku mau nanya. Kau ada hubungan apa sama Josen?"ucap Lovi sambil memasang bandana di kepalanya.  "Hubungan? Emang Josen bilang apa?"  "Ah,, kalau dia mah bilangnya kalian gak ada hubungan apa-apa. Tapi aku gak percaya."  Air muka Titan seketika berubah. Ia gak berkuasa menyalahkan orang lain. Saat rasa itu telah memenuhinya tapi justru rasa sakit yang ia terima. Aya yang menyadari hal itu menyenggol badan Lovi. Titan tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tersenyum dan pergi. Namun, entah mengapa, Lovi dan Aya seakan tahu apa yang ia rasakan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN