_____Kita, saling membantu____
_______Kita, peduli dan berkorban______
| George Benson - Nothing's Gonna Change My Love For You|
Pelajaran olahraga kadang menjadi surga dan neraka bagi kaum hawa. Kali ini surga itu datang. Guru memberikan kendali pada murid untuk bermain bola sepak atau volli jika ingin. Banyak yang menggunakannya untuk bermain atau hiburan semata. Lovi duduk di sisi lapangan sekolah saat beberapa temannya memutuskan untuk bermain sepakbola di lapangan yang kecil itu. Ia sedang memikirkan Josen dan Titan. Tadi pagi saat tiba di sekolah, ia mendapati Titan sedang menangis. Beberapa orang menyebut bahwa ia mengaku pacaran dengan Josen. Dan di saat yang sama Josen membantah hal itu.
Batin Lovi bertolak belakang. Rasanya Josen seperti manusia munafik di muka bumi. Saat ia bilang jangan mendekati Raga, kenapa ia malah menyakiti Titan? Lovi ingin menghajar cowok itu tapi tak bisa.
"Kenapa bengong?"tanya Josen. Ia duduk disamping Lovi yang duduk bersila di atas rerumputan hijau. Ia meneguk air mineral dari botol akua yang di beli Lovi tanpa pamit.
"Kau beneran gak tahu tentang Titan?"
"Hah? Apaan sih?"
"Jos, tadi pagi dia nangis. Itu gara-gara kau."
"Fitnah. Aku cuma kirim lagu doang gak berarti aku pacaran sama dia. Lagian siapa juga yang niat pacaran di zaman sekarang. Kau aja gak betah kan?"
"Hey, jangan sangkut pautin ke aku. Setidaknya kau harus ngejelasin ke dia. Aku takutnya dia berharap, padahal kau cuma lelaki buaya yang penuh dengan kepalsuan."
"Bodo amatlah. Dianya yang kepedean Lov."
Josen langsung kembali ke lapangan karena di panggil teman-teman yang lain. Lovi masih penuh dengan kebingungan kenapa Titan tertarik pada temannya itu? Titan yang sempurna, pintar dan cantik. Tapi yang lebih aneh adalah kenapa Josen masih menyia-nyiakan cewek se-sempurna Titan? Sungguh dunia ini unik bak misteri yang tak terprediksi.
Sebelum kelas selanjutnya di mulai, beberapa murid memutuskan untuk ganti baju. Kelas akan di kunci dan dijaga agar tidak ada cowok yang mengintip. Cowok bebas mau ganti baju dimana, itu adalah kodrat mereka. Beberapa orang berbagi parfum agar tidak ada bau-bau aneh untuk pelajaran selanjutnya.
"Eh, pada tau gak? Bentar lagi kan hari guru, kita harus ngasih apa sama Pak Anja?"
"Tanya Josen aja, biar dia atur anak-anak."
"Hey kalian, Pak Anja suka makan jagung. Beli itu aja, aku punya teman yang jualan jagung."ledek Lovi sambil tertawa. Semua orang tertawa mendengar lelucon itu.
"Lovi kebangetan kalau bercanda."
"Gak kebayang muka Pak Anja kaget dapat kado jagung."
"Ada apa ini ngomongin jagung?" teriak Josen sambil melempar baju olahraganya ke arah mejanya.
"Jos jos, hari guru nanti....."
Mereka berdiskusi dengan Josen tentang kado untuk Pak Anja. Mereka adalah yang antusias memberi kejutan pada guru bahasa inggris itu. Lovi dan Aya sibuk menyemil kerupuk tanpa peduli kejutan itu.
"Av, nanti sore siaran kan?"tanya Aya sambil mengambil sisa snack yang tinggal sedikit.
"Iya Ay."
"Aku mau titip-titip salam boleh gak? Pake orang dalam ceritanya."lanjut Aya sambil menggona Avius.
"Tapi harus tetap kirim SMS. Soalnya nanti harus dibacain."
"Oh iya juga. Yaudah, aku pikirin sekarang. Pokoknya request lagunya Cenat Cenut dari Mas Morgan My Love ya."
"Tapi beneran kalian selalu dengerin tiap aku siaran?"tanya Avius.
"Iya, pastilah."
"Aku dengerin sambil tidur siang." Ledek Lovi.
Bel masuk berbunyi dan tak berapa lama terjadi kehebohan. Orang-orang sedang membicarakan anak IPS yang melemparkan air saat murid SMA N 2 Nestapa melewati area sekolah. Siswa tersebut dilaporkan oleh pihak SMA N 2 karena memang sudah sangat keterlaluan. Insiden penyiraman ini sangat mempermalukan sekolah.
"Itu mereka lagi di hukum di lapangan. Udah kayak tersangka n*****a woy!!"
"Kepala sekolah sampai turun tangan."
Semuanya berlari ke arah lapangan untuk menyaksikan acara penghukuman itu. Lagi-lagi siswa sekolah yang di pandang buruk itu semakin memperlihatkan perilakunya yang tidak baik. Lovi ikut kesana karena penasaran. Kepala sekolah yang cukup menakutkan itu pernah menampar salah satu siswa yang berisik ketika upacara bendera. Betapa menakutkannya dia.
Lovi terdiam saat melihat ada Adong di sana. Sahabat baiknya itu kini sedang tersungkur karena ditampar kepala sekolah. Wajahnya sedikit memar. Ia bersama beberapa pentolan preman Smansa berada di sana dan menikmati hukuman dari kepala sekolah.
"Nikmatin aja. Anak IPS emang selalu jadi benalu di sekolah ini."
"Kita berjuang biar sekolah ini harum di mata masyarakat. Mereka yang jadi racunnya."
"Heh, kalian kok jahat sih?"ucap Lovi pada orang yang tak ia kenal pasti itu.
"Kau gak tahu ya, tiap tahun pemerintah daerah hanya peduli pada pendanaan SMA 2. Tau kan alasannya? Karena kita gak pernah bikin harum daerah ini. Ditambah lagi sama perilaku mereka tuh."
"Tetap aja, anak IPS juga ada kok yang gak nakal. Gak semuanya langsung kau anggap sama."
"Yang pasti semua yang di hukum sekarang gak lebih dari sampah."
"Kurang ajar ya. Ngatain orang sampah?"
Terjadi baku hantam antara Lovi dan cewek disampingnya itu. Mereka sampai jambak-jambakan rambut, cakar-cakaran hingga terjatuh di atas tanah. Semua mata yang tadinya tertuju pada pelaku kejahatan itu seketika teralihkan karena perkelahian dua siswi. Akhirnya mereka berdua berakhir di kantor BP. Mereka menunggu Adong dan teman-temannya selesai dari sana. Wajah membara yang penuh kebencian masih terlihat jelas.
Adong keluar kantor BP dengan wajah lesu. Ia di suruh kembali ke kelas setelah mendapat hukuman dari kepala sekolah. Berbagai macam nasehat sudah diberikan guru BP pada dia.
"Ayo duduk."ucap Bu Hani. "Kalian ada masalah apa? Jelaskan pada ibu."lanjutnya lagi.
Mereka berdua hanya diam karena bingung mau memulai dari mana. Lovi masih khawatir apakah tantenya akan tahu bahwa hari ini ia masuk kantor BP? Ini sama saja bunuh diri perlahan. Ia akan dijadikan contoh yang tidak baik saat pulang nanti. Seluruh penghuni kosan akan menganggapnya cewek gila yang main jambak-jambakan di depan umum. Betapa gilanya dia hari ini.
"Kamu dulu deh, kamu tahu dia siapa?"tanya Bu Hani lagi. Lovi hanya menggeleng karena memang tidak mengenal dengan pasti. Cewek yang ia ajak baku hantam hanyalah cewek bermulut racun.
"Kalau kamu?"
"Saya tahu bu. Dia anak IPA 1, temannya Josen."
"Hah? Kau tahu aku?"tanya Lovi reflek.
"Aku hanya sering lihat kalian bersama. Aku kenal juga gara-gara Josennya. Siapa yang tidak kenal Josen di sekolah ini."
"Jadi kenapa kalian berantem?"
Cewek bernama Yora itu langsung sigap menceritakan tentang apa yang terjadi. Ia mengaku menyesal karena mengatakan sesuatu yang salah. Lovi sampai bingung, kenapa dewi fortuna berpihak padanya.
"Ya, aku salah bu. Tapi aku berhak juga mengatakan sesuatu yang ada di hatiku kan? Lagian dia main ngerocos aja. Aku gak pernah ajak dia bicara."lanjut Yora.
"Ya, ibu mengerti. Pasti Lovi juga ada alasan kenapa bertindak begitu. Tapi kamu juga harus minta maaf ya Lovi. Jika suatu saat kau menghadapi kondisi yang sama, diomongin baik-baik dulu."
"Iya bu, saya juga minta maaf. Sebenarnya saya begitu karena ada teman saya yang di hukum juga. Dan saya tahu pasti kalau dia itu bukan anak nakal bu."
"Kalau ibu boleh tahu, siapa namanya?"
"Adong Doi bu."
Bu Hani mengecek dokumen di mejanya. Ia menghela nafas sejenak.
"Saya juga bingung kenapa dia bisa ikut-ikutan. Padahal selama ini dia gak pernah masuk kantor BP. Karena kamu temannya tolong bilang sama dia agar menjaga jarak dengan teman-temannya sekarang ya?"
Lovi mengangguk. Ia dan Yora berjabat tangan sebagai bukti bahwa mereka sudah tidak saling menyimpan dendam.
"Kita permisi bu!"
"Ah iya, dan satu lagi. Jurusan IPA atau IPS itu gak menjadi penentu orangnya baik atau engga. Ibu harap jangan ada yang saling menjelek-jelekkan ya. Semua bisa berhasil dan itu tergantung diri sendiri."
Mereka segera keluar kantor BP. Lovi mendapati Adong sedang duduk di kursi tunggu dengan wajah membungkuk. Ia tersenyum pada Lovi yang baru saja menampakkan wajahnya. Lovi melirik jam ditangannya. Sisa waktu 15 menit untuk istirahat kedua. Ia duduk disamping Adong. Ia memukul kepala cowok itu dan membuatnya kaget.
"Kau gak papa?"
"Kau sendiri?"
"Aku cuma diceramahi Bu Hani. Badanmu pasti remuk sekarang."
"Herdi bilang, kau masuk sini karena aku. Maaf ya Lov."
"Ya, semua itu ulahmu. Kau tahu gak, aku paling benci teman-temanku di hina orang lain. Mereka seakan-akan tahu semuanya, padahal mereka hanya tahu sedikit."
"Kau beneran gak takut Bu Mira?"
"Hmmmm, sebenarnya takut. Tapi aku udah menjelaskan pada Bu Hani. Selama bukan jadi pelaku kejahatan, tanteku tidak akan marah. Kau sendiri tidak takut ibumu?"
"Kalau dihukum aku tinggal terima aja."
"Dasar bebal. Kau bisa gak, jangan berteman dengan mereka lagi? Kau punya Herdi yang layak di jadikan teman."
Adong hanya diam. Mereka introspeksi diri dalam diam sampai bel istirahat kedua berbunyi. Kesalahan yang sudah terjadi membuat mereka sadar bahwa hidup ini bukan tentang diri sendiri.