Dalam suasana membingungkan ini, suara ringisan tertangkap indera pendengaranku. Ternyata suara itu berasal dari Sean. Wajahnya meringis seolah tengah menahan sakit. "Kau kenapa, Sean?" tanyaku, khawatir tentu saja. "Beberapa lukaku mungkin terbuka lagi.” Aku merasa bersalah pada Sean, tubuhnya dipenuhi luka seperti ini karena aku. Begitu kuperhatikan, memang beberapa luka di lengannya kembali mengeluarkan darah. Bahkan luka di lengan kirinya terlihat sangat parah, ada luka sobek dari lengan hingga ke siku. Darah tiada henti mengucur dari sana. Aku melepas kardigan tipis yang kukenakan. Kardigan ini basah kuyup dan aku merobeknya. Kugunakan kainnya untuk membalut luka Sean agar darahnya berhenti. "Maafkan aku, maafkan aku." uc

