bc

Flipped

book_age18+
442
IKUTI
2.8K
BACA
possessive
dominant
manipulative
comedy
twisted
sweet
humorous
enimies to lovers
tricky
like
intro-logo
Uraian

Setelah menjadi b***k gadis itu sekian lama, aku harus melakukan sesuatu. Perempuan itu, lagaknya lemah lembut dan penyayang. Nyatanya? Pintar sekali dia berdusta pada dunia. Jangan sebut aku lelaki kalau tak mampu menaklukkannya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Permintaan Aneh
Acnologia High School Laith, Apa sih arti namaku? Ibuku saja tidak tau, ada yang bilang, apalah arti sebuah nama? Menurutku itu cukup penting. Aku mengayuh kencang sepedaku menuju gerbang sekolah, hari yang melelahkan. Setiap pagi aku bangun jam lima subuh, kemudian aku mengantar pesanan kue ibu ke warung-warung. Katanya orang sukses hanya tidur empat jam, tapi ibuku yang tidur tiga jam setiap harinya sama sekali jauh dari kata sukses. Bahkan kami semakin miskin dan menderita. Aku hampir menabrak gerbang karena kacamataku buram, sudah minta diganti. Nanti saja adik-adikku lebih membutuhkan biaya saat ini. Lagipula aku sebenarnya tidak perlu kacamata. "Laith." Penjaga gerbang menggeleng, "Satu hari saja aku ingin melihat kau terlambat." Aku hanya tertawa, ya, kalau ada penghargaan untuk siswa yang tidak pernah terlambat itu pasti aku. Aku sangat disiplin, sedetik saja berharga, semua kegiatanku sampai ke menit-menitnya. Aku memarkirkan sepeda dan merantainya, bergegas ke kelas. Oh ya, aku saat ini duduk di kelas 3 IPA. Nilai-nilaiku bagus, hanya saja itu tidak terlalu penting saat ini, menurutku. Yang lebih baik adalah remaja-remaja yang pamer kekayaan orang tua, yang cowok bergaya hypebeast dan bergonta ganti mobil sedangkan untuk cewek berbicara ala bitchy- bitchy dark. Yah semua bukan aku. Remaja keren dan populer di sekolah ini semua berkumpul di kelas IPS. Hum ... aku mengeluh. Beberapa saat setelah membuka buku pelajaran, kelasku dihebohkan. Ternyata di kelas IPS kedatangan siswi baru, kenapa juga dia harus pindah ketika kelas tiga? Bukannya itu menyusahkan? "Itu Biani Socha!" Salah satu teman sekelasku berteriak, jarang sekali terjadi kehebohan di kelasku. Rata-rata muridnya cukup pendiam. "Laith, aku harus meminjam kacamatamu," kata Dude teman sekelasku. "Untuk apa?" "Gadis itu sangat bersinar, seperti seorang putri, aku harus memakai kacamata agar mataku tidak menjadi buta karena pancarannya." Mulutku seketika menganga. "Kau kesurupan?" "Sudahlah." Dia serius menarik kacamataku, aku segera merampasnya. "Pelit!" "Aku tidak bisa melihat tanpa kacamata bodoh," rutukku. Dia mencibir, seketika setengah penghuni kelasku menghilang karena mau melihat murid baru itu. Bukannya tidak melihat, aku hanya tak mau ketahuan kalau kacamataku sebenarnya normal. Aku mengusap-ngusap kacamataku dan kembali memakainya. Biani, Huh menyebalkan, kenapa kerumunan ini tidak segera menyingkir? Dipikirnya aku suka dengan penyambutan yang heboh seperti ini? Makanya aku tak suka sekolah umum. Aku harus tersenyum, bisa merusak image-ku sebagai perempuan lembut kalau aku bertampang judes, aku memasuki kelas dan semua siswa siswi mengerumuniku. Seseorang menyentuh tanganku, aduh bagaimana sih! Aku mau marah, tak ada yang boleh menyentuh tanganku yang halus dan lembut tanpa seizinku. Kemarin, aku telah berbincang melalui sambungan jarak jauh dengan mommy-ku, dia sangat kaget mengetahui aku mau bersekolah di sekolah biasa. Untunglah aku bisa meyakinkannya, selama ini aku sekolah homeschoolling, aku seperti siput selalu bersembunyi pada cangkangnya. Sebenarnya aku takut, sih, sekolah di tempat ini. Tapi, untunglah sahabatku, Steffi, bersedia pindah dari sekolah lamanya untuk menemaniku. Hanya saja dia cukup pintar dan dia masuk kelas IPA. Aku sendiri tidak bodoh, cuma aku lebih suka jurusan humaniora ketimbang eksak, aku capek kalau harus berpikir. Belum lagi melihat rumus dan angka-angka yang seperti telur kodok itu, walau sebenarnya aku tidak tau bagaimana bentuk telur kodok. Hihihi ... Ketua kelas yang bernama Romeo segera meminta nomor handphone-ku, aku jawab saja. "Aku enggak punya handphone." Mereka semua terkejut. "Kamu benar-benar seorang angel, bahkan kamu tidak memakai barang manusia?" Begitu dia berkomentar. Aku tertawa dengan anggun, aku mengerjabkan mataku yang bening dan jernih, kata orang-orang. Kemudian aku berkata manja. "Emmm ... aku sebenarnya tidak bisa menggunakannya, aku bingung." Dengan seketika semua murid cowok mengelilingiku dan mencoba mengajari aku menggunakan gadget itu. Padahal sebenarnya aku tak mau diganggu. "Biani, apa kamu mau berkeliling sekolah?" Romeo bertanya. "Mau." "Kalau begitu ayo aku antar." Romeo yang berkulit sawo matang itu menawarkan, dia cukup lumayan. Tapi bukan tipeku, tipeku? Nanti aku kasih tahu ya. "Bukannya pelajaran sudah mau mulai?" "Tidak apa-apa. Guru akan memaklumi." "T-tapi aku nggak mau berdua saja." "Oke, kalau gitu biar Tessa ikut." Romeo memanggil wakil ketua kelas, seorang perempuan dengan seragam tanpa ventilasi dan rok pendek ketat. Aku mengangguk. Kami berkeliling sekolah, dan aku baru menyadari kalau gerombolan siswa mengikuti kami di belakang. Aku mengeluh. Pelan-pelan aku menyeka keningku. "Kamu sudah lelah? Kita belum seperempatnya," kata Romeo. "Maaf ya, aku tidak biasa berjalan. Aku merepotkan?" "Tentu tidak! Kami mengerti, tidak ada yang tidak tahu denganmu di sini Biani." Tessa menimpali, terlihat sekali dia berusaha akrab denganku. Laith & Biani, Laith membuka rantai sepedanya, hari ini tidak ada pelajaran tambahan. Dia melihat teman sekelasnya Steffi berjalan dengan seseorang yang wajahnya tak pernah terlihat di sekolah. Manis sekali. Begitu saja pikir Laith. Dia kemudian mengayuh sepedanya, oh, dia melihat sesuatu bewarna putih terjatuh saat Steffi dan murid perempuan itu melewatinya. Laith memungutnya. "Steffi." Laith memanggil. Steffi berbalik dan melihat ke arahnya. "Apa Laith?" "Ini ada yang terjatuh." "Saputanganmu Biani?" Steffi bertanya pada gadis di sebelahnya. Biani mengangguk. Oh apakah ini anak baru itu? Laith berkata dalam hati. Dipandangnya diam-diam, gadis itu terlihat mungil mungkin tidak sampai 160cm, seragamnya normal tidak sempit ala anak-anak zaman sekarang, wajahnya juga oval, pipinya sedikit chubby, dia imut dan sangat manis. Biani menunduk dan mengulurkan tangan meraih saputangannya yang sejak tadi dipegang murid yang berada di atas sepeda, dia tinggi dan kurus, juga memakai kacamata. Penampilannya tidak keren, seragamnya juga terlihat sedikit usang walau bersih. Tapi dia cakep, Biani berkata dalam hati. Tangan mereka bersentuhan, wajah Biani memerah membuat Laith menganga, gadis ini sangat polos dan lugu, bahkan bersentuhan dengan lelaki dia langsung malu-malu begitu? Ini gadis idamannya, begitu pikir Laith. "Kotor," kata Steffi saat melihat Biani memasukkan sapu tangan itu ke tasnya. "Tidak apa-apa," jawab Biani lirih. "Ya sudah, aku duluan." Laith sebenarnya masih ingin memandangi wajah gadis cantik itu, tapi, ya mana mungkin. "Itu Laith," kata Steffi, "Dia teman sekelasku, anak yang pintar." Biani mengangguk-angguk. Laith, Begitu meletakkan sepeda di samping rumahku yang mungil, aku mendengar suara tangisan ibu. Aku segera masuk ke rumah dan melihat ibu bersimpuh di lantai. "Ibu, apa yang terjadi?" Aku segera mengangkat tubuh ibuku yang lunglai. "Maafkan ibu Laith, besok kita harus segera meninggalkan rumah ini?" Aku kaget. "Memang kenapa, Bu?" "Ibu tidak tau, katanya dulu almarhum ayahmu berhutang dan dia menggadaikan rumah kita. Tadi ada beberapa orang dan pengacara yang datang." Tangis ibuku membuat dadaku sakit. Aku melihat kertas yang dipegang oleh beliau, aku tidak mengerti? Bahasanya cukup rumit. "Mereka bilang kalau kita mau minta penangguhan, kita harus menghubungi pemilik rumah sekarang." "Ibu tenang saja, aku akan coba ke sana. Nanti aku kabari, ya." Ibuku mengangguk. Aku melihat alamat yang tertera di kertas itu. Cukup jauh, aku harus naik bus. Aku segera mengganti seragam dan mengenakan kaus serta celana jeans. Aku merenung di dalam bus, tampaknya ujian kehidupanku masih terus berlanjut. Setelah bertanya beberapa kali aku sampai di rumah dengan alamat yang dimaksud, lagi-lagi jiwaku tersentak. Betapa besarnya rumah ini, bahkan untuk masuk aku harus melewati security. "Ada apa, Dek?" Security bertubuh besar itu melihatku. "Teman nona, ya?" "Saya mau bertemu pemilik rumah." "Mereka di luar negeri, cuma ada anaknya." Security itu menelpon dan dia mengangguk, dia mempersilahkanku masuk. Aku sampai keringatan berjalan ke pintu rumahnya, yang bisa dikatakan seperti gerbang. Baru kutau istilah rumahku istanaku, ya, aku rasa inilah yang dinamakan istana. Aku di sambut oleh seorang wanita dengan mengenakan celemek, aku bisa menebak kalau dia adalah seorang pelayan. Ketika memasuki rumah itu seketika udara sejuk menerpa tubuhku yang lelah dan kepanasan. Aku sangat haus, tidak sempat minum. Ruangan itu bewarna cream dengan lukisan-lukisan indah di dindingnya. Aku rasa aku bisa bermain bola di sini, seandainya gucci-gucci besar itu disingkirkan. Pelayan itu mengajakku masuk ke dalam. Kakiku berada di atas lantai marmer dan bergantungan lampu-lampu, kuyakin harganya sangat mahal. Aku berdiri diam di sana, pelayan itu meninggalkanku. Saat melihat tangga, aku terkesiap melihat gadis bertubuh mungil menuruni tangga. Dia memakai baju putih lengan pendek di atas lutut, lengannya juga berkerut-kerut membuatnya semakin manis. Aku terpesona lagi untuk kedua kalinya, dengan segera aku menutup mulut. "K-kamu?" Aku berkata, kenapa aku seperti gugup? Sekarang dia berjarak kira-kira 1 meter di depanku, aku ingin menyingkir. Dia soalnya wangi, seperti wangi apel bercampur lemon, sangat harum segar tubuhnya. Sedangkan aku? "Laith." Aku kaget, dia telah mengetahui namaku. Mungkin tadi Steffi yang mengenalkannya. "Iya." Aku menjawab, kulihat bibirnya yang mungil, pink segar tanpa lipstick aduh dia manis sekali. "Ada apa, ya?" Aku sudah lelah berdiri, aku juga sangat haus, sementara mataku panas. Mungkin aku terkena dehidrasi, tapi kupaksa bicara. "Begini ... aku rasa orangtua kamu membeli rumahku, aku ingin meminta waktu atau bagaimana? Sebenarnya, kami tidak tau kalau rumah itu telah digadaikan." "Rumah yang mana?" Aku mengeluh lagi dalam hati, di saat kami akan segera kehilangan rumah ada orang yang berkata rumah yang mana? Bahkan aku rasa kucingnya akan punya rumah yang lebih besar dari rumahku, seandainya dia punya kucing. Aku menyodorkan kertas di tanganku, yang kuambil dari dalam tas ransel yang kancingnya sudah mulai macet. "Oh." Dia ber-oh. "Jadi bagaimana? Kamu mau membelinya kembali?" Aku terperangah, pertanyaannya kenapa aneh? Bagaimana mungkin? "Bisa katakan pada orang tuamu, kami akan mencicilnya setiap bulan. Tolong biarkan aku dan keluargaku tetap tinggal di sana." Dia berjalan dengan anggun dan lembut, "Ayo duduk." Aku mengikutinya. Kami duduk di sofa, tak lama kemudian pelayannya membawa minuman. Aduh syukurlah, aku sangat haus. Segera kuhabiskan isi di gelas itu. "Kamu haus, ya?" "Iya." "Jadi bagaimana tadi?" "Seperti yang aku katakan, apa kamu bisa membantuku bicara dengan orang tuamu?" "Tapi rumah itu milikku." Aku terkejut lagi, dia melanjutkan."Lihat nama di kertas itu." "Biani Socha?" Aku menatapnya bingung, bagaimana dia bisa memiliki rumahku? Eh, tapi bukankah ini bagus aku bisa memohon padanya, dia gadis yang lembut dan baik, pastinya tidak tega melihat kondisiku menyedihkan. "Aku akan membiarkan kamu dan keluargamu tetap tinggal di sana." "Benarkah?" Mataku yang tertutup kacamata pasti bersinar cerah saat ini. Wah dia benar-benar seorang malaikat. "Dengan satu syarat." Dia tersenyum sangat manis, aku semakin terpukau. "Apa syaratnya?" "Kamu menjadi budakku." Eeeeh??!!!

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook