Hilangnya Masa Muda

1564 Kata
Biani, Aku terbangun. Kuingat-ingat lagi kejadian semalam, aku telah merasakannya. First Kiss! Memang enak, rasanya seperti makan strawberry yang manis. Uuh aku harus sering-sering melakukannya. Bibir Laith mengecupku sekilas, dia suka juga nggak ya? Dia kayak terpaksa sih. Semalam tidurku nyenyak sekali, dan aku tau kalau Laith tidak bisa tidur. Bahkan pagi ini aku tak melihatnya di sampingku. Aku bangun dengan sangat bahagia, memang menyenangkan punya orang yang tidur di sebelah kita. Aku memeluknya seperti guling, dan dia wangi. Wangi dari bajunya, enak. "Ke mana, sih , tu orang?" Aku bergegas bangun dan mencari-carinya. Aku mulai memanggilnya. Dia keluar dari kamar, rambutnya basah dan dia telah mengenakan seragam sekolah. Dia rapi sekali sih. "Ya, Nona." Eh kenapa dia memanggilku nona? Aku kan belum menyuruhnya begitu. "Kamu nggak boleh keluar kamar sebelum aku suruh, dan saat bangun kamu juga harus menciumku." Kulihat wajahnya memerah saat aku mengatakannya, asyik, aku rasa semalam juga ciuman pertamanya, baguslah. "Sekarang, aku mau mandi." "Ya," sahutnya. Laith tidak banyak protes aku semakin suka. "Kamu mandiin." Dia tersentak mundur mendengar kata-kataku. "Itu ... itu tidak mungkin." Wajahnya sekarang merah sampai ke leher. "Ya sudah nanti sore saja. Kamu tunggu aku di meja makan." Aku berbalik dan masuk lagi ke kamarku, aduh padahal aku pengen mandi bareng. Sepertinya gagal. Aku segera menyuruh Mbak Chaca menyiapkan seragamku dan mengisi bathtub dengan air hangat. Aku bayangin kalau berdua bersama Laith di dalam bathub dan banyak sabun-sabun, mmhh enak sekali. Seperti di film-film. Laith harus tunduk pada kekuasaanku, dia masih melawan sedikit-sedikit. Aku mencari cara agar dia mengikuti perintahku tanpa membantah. Laith, Kurasa aku mulai kehilangan nyawaku, aku mengeluh terus. Aku seperti tersedot masuk ke dunia lain, di mana hanya aku lelaki tersisa di muka bumi. Semalam aku mencium bibir ... Noted! Bibir seorang gadis, memang enak sih. Aku jadi kepengen lagi, apalagi dia cantik cuma dia agak stres. Terus aku mengantuk, semalaman aku nggak tidur, habis dia memelukku erat, aku masih bingung. Apa sih maunya? Apa dia sangat kesepian dan butuh kasih sayang. Hei! Dia memintaku memandikannya? Aku rasa dia tidak serius, jantungku sudah hampir copot tadi. Gadis itu bergabung denganku di meja makan dan aku tau sekarang tugasku adalah menyuapinya, aku sadar harga diriku sebagai lelaki pasti jatuh ke jurang. Itulah yang namanya b***k. Dia menyuruhku memakaikan kaus kaki dan sepatunya. Aku seperti harem laki-laki. Aduh, aku belum tau mau bagaimana? Padahal semua bilang aku pintar, kenapa aku mendadak bodoh begini, ya? Setelah memasangkan sepatunya, dia menyuruhku menggendongnya ke mobil sedangkan aku? Naik apa? Tentu saja naik bus karena aku nggak bawa sepeda. Dia memberiku uang, tentu saja aku menolaknya. Masih ada beberapa lembar di dompetku, lagian memalukan sekali dikasih uang sama cewek. Setelah mobilnya pergi aku berjalan menuju halte, aku mulai mengingat apa yang terjadi sejak semalam. Apa aku kabur saja, ya? Biani, Aku tidak suka makan di kantin, aku juga nggak suka keramaian. Tapi Steffi menarikku ke sini. Aku tak tau dia memesan apa, Steffi adalah sahabatku dari kecil, orang tua kami bersahabat juga. Aku terharu saat dia bilang mau pindah ke sekolah ini saat aku bilang tak mau homeschooling lagi. Dia sih menyuruhku bersekolah di tempatnya tapi aku nggak mau, aku suka di sini. "Sekarang jelaskan apa maksudnya menjadikan La---. Kita pake inisial, ya, inisial biar jangan ada yang dengar." Dia menahan nafas. "Apa sih?" Aku menjawab malas, sejak tadi banyak murid yang berusaha mendekati kami tapi dipelototi garang oleh Steffi, dia memang mantap. "Apa maksudnya El menjadi budakmu?" "Ya ... itu ... em ...." Ternyata aku malu juga menceritakan pada Steffi, padahal dia selalu bercerita semuanya. "Pokoknya dia tinggal di rumah, terus dia menemaniku, begitu." Steffi menghela nafas lega, "Oalah aku kira apaan. Kurasa karena kamu butuh teman sebaya, Bi, kamu kesepian tinggal sendiri. Kaget aku, kamu bilang budak." "Tapi ...." Aku merenung, "Semalam kami kiss." Steffi manggut-manggut, "Yah. Wajar saja namanya perempuan dan laki-laki bersama bisa terjadi hal-hal itu." "Tapi jangan bilang-bilang kalau dia tinggal di rumahku. Nanti dia jadi pusat perhatian di sekolah, aku nggak suka." Aku mengeluh, aku bukannya takut sifatku yang tercemar, seandainya Laith menceritakan perilakuku, aku akan pura-pura menangis, mana ada yang akan percaya padanya. Aku malah tak mau dia diperhatikan orang-orang, nanti kalau ada cewek yang tertarik padanya bagaimana? Diakan sudah jadi budakku, aku nggak mau dia di rampas. "Kamu memikirkan apa?" Steffi bertanya. "Memikirkan apalagi yang akan aku lakukan pada budakku." Steffi tertawa kecil dan menggelengkan kepala, "Aku rasa kamu butuh pacar, Bi." Pacar? Aku tak suka, pacar itu seperti suatu hubungan posesif saling memiliki. Aku tak suka diatur-atur. "Bagaimana kalau nanti kita berbelanja?" Mataku bersinar. Steffi mengangguk mengiakan.  Aku dan Steffi pergi ke mall sepulang sekolah. Melihatku membeli begitu banyak barang Steffi kaget, yah, walaupun dia sedikit banyak sudah tahu kepribadianku, kadang dia kaget juga. Aku membeli banyak sekali outfit remaja lelaki, sepatu dan barang yang keren. Aku juga membeli ponsel keluaran terbaru untuk Laith, nanti hanya nomorku yang wajib ada di sana. "Begitu Laith menjadi keren, orang akan menuduhnya simpanan tante-tante," kata Steffi. Aku berpikir keras, sementara Laith akan memakai barang-barang pemberianku di rumah saja. "Wah sudah malam, ayo kita pulang." Aku dan Steffi pulang dengan kantong belanjaan yang banyak di tangan kami. Sesampainya di rumah aku segera menuju ke kamar, ternyata Laith tidak ada. Aku bertanya pada kepala pelayan di rumahku apakah dia belum pulang dan ternyata sudah. Rupanya dia tidak kabur, aku tertawa kecil. Diam-diam mungkin dia suka padaku ya? Aku segera menuju kamarnya dan melihat dia sedang tertidur lelap, oh pasti dia mengantuk karena semalaman tidak tidur. Dia hanya mengenakan kaus yang terlihat sudah lama dan celana pendek karet. Aku diam-diam mengambil fotonya. Laith, Mataku terbuka, aku terlonjak, jam berapa ini? Aku melirik jam di dinding kamar itu. Pukul 9 malam, aku ketiduran, aku tidak lelah karena staminaku cukup bagus, tapi aku mengantuk. Tentu saja, semalaman aku tidak tidur. Aku segera menyadari kalau Biani duduk di sisi tempat tidurku, dia memandangiku. Pantas saja samar-samar aku menghirup wangi apel hijau segar, aku melirik bibirnya dengan ujung mataku, aduh aku langsung pusing. "Cepat pindah ke kamarku, aku mau tidur." Dia memerintahku dengan tegas. Aku beringsut bangun. Dapat dipastikan aku tak bisa tidur lagi malam ini, dan aku sedikit lapar karena belum makan. Hanya saja sudah malam, mana mungkin aku minta makan, lagipula ini salahku karena tertidur. Aku melihat lantai kamarku penuh dengan kantong belanjaan, tapi aku tidak mau menanyakannya. Aku bergegas ke kamar Biani yang cantik dan elegan itu. Aku masih deg-degan, kira-kira aku mau diapain lagi. Seperti biasa aku mencium bibirnya saat dia berbaring, kali ini ciumanku agak lebih lama dari kemarin. Lucu juga perjalanan hidupku kalau dipikir-pikir. Dia segera melingkarkan kakinya di pinggangku dan tertidur pulas, wajah tidurnya seperti malaikat, cuma dia memiliki kelainan jiwa. Aku menyingkirkan rambut-rambutnya yang menutupi mata, berusaha untuk tidur. Gila saja kalau aku tidak tidur lagi. Biani membangunkanku jam 5 pagi, cepat sekali dia bangun. Segera aku merasa badanku lemas karena dia mengajakku mandi bersamanya, ternyata itu bukan bercanda. Wajahku pucat pasi dan shock. Pertama dia menyuruhku membuka bajunya, dia memakai piyama terusan. Jadi aku menarik piyama itu dari kaki hingga ke kepala, aku segera mengalihkan wajahku saat dia hanya memakai pakaian dalam. Bewarna biru muda yang cantik dan berenda, aku terpaksa melihatnya sedikit tadi. Kurasa dia memang sakit, ini kesenangan aneh yang dimiliki orang-orang sangat kaya. Aku sudah menganalisa perilakunya yang aneh itu dan kenapa dia bisa seperti itu. Tampaknya dia mengalami kesepian jangka panjang dan keharusan menjaga image-nya diluar sebagai seorang putri yang anggun membuatnya membentuk kepribadian lain dalam tubuhnya. Tapi kenapa aku yang jadi korban di sini? Kenapa juga dari sekian banyak lelaki di muka bumi ini, rumahku yang dibeli olehnya. Tadinya aku berpikir kalau aku adalah korban kesekian, mungkin setelah dia bosan dia akan memutilasiku seperti psikopat dan membuang jasadku ke Timbuktu. Ternyata menurut Mbak Chaca, dia berkata baru aku teman Biani yang tinggal di rumah itu. Aku jadi bingung sendiri, tampaknya para pelayan di rumah itu mengira aku adalah teman dekat nona muda mereka. Yah, aku lupa saat di luar, aku menyuap dan menggendongnya, menurut mereka itu mungkin romantis. Mereka bahkan memanggilku Tuan Muda. Oh aku memusatkan pikiranku lagi, kalau mandi bareng aku takut terlambat ke sekolah. Oke aku harus bertahan, aku bekerja, memandikan bayi. Ya anggap saja aku akan memandikan bayi. Hanya saja bayinya sudah sedikit gede, aku menelan ludah. "Ini lepasin juga." Dia berkata. "Aku nggak bisa, aku bukan laki-laki seperti itu," sahutku. "Buka sendiri." "Kamu melawanku ya?" Aku masih tak mau memandangnya, "Kamu sudah menandatangani kontrak untuk menyerahkan hidupmu padaku." "Ha? Kapan itu?" Aku malah kaget. "Di surat perjanjian rumah kemarin." "Tidak ada kata-kata seperti itu, lagian ini bukan zaman p********n. p********n sudah dihapus dari muka bumi ini." Aduh mataku melihat lagi dadanya yang gembung. "Ada tulisan di bawahnya, keciiill sekali. Hanya bisa dibaca menggunakan mikroskop." Hah? Apa aku dibodohi? "Itu tidak berlaku," kataku. "Kalau tidak mau, nanti adik-adikmu aku keluarkan dari sekolahnya." Dia mulai mengancam. "Apa-apaan itu? Jangan egois dong. Kan tidak ada urusannya dengan mereka." "Suka-suka." Dia mengejekku. Aku meremas rambutku, akhirnya aku membuka kaitan bra-nya. Aku menyuruhnya berbalik. Sambil menutup mata, aku melepaskan pakaian dalamnya, agak susah, untunglah bisa. "Tuntun aku." Aku berkata. Aku masih menutup mata. "Aku jadi orang buta di kamar mandi." "Nanti terpeleset tau." Dia berkata tegas. Lucunya dia malah menarik tanganku dan begitu menginjak sesuatu yang lembab aku tau kami sampai di kamar mandi. Aku memegang hidungku, takut mimisan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN