Kepolosan yang Tercemar

1085 Kata
Laith, Aku dan Biani duduk di atas kasurnya, dia memberiku handphone dan hanya nomornya yang ada di sana. Dia juga memberikanku sepatu, pakaian dan barang-barang yang bagus. Aku bingung, apa aku ini simpanannya? Semacam sugar baby? Tapi kenapa sugar daddy-nya Biani? Berarti dia harusnya sugar mommy? Sebentar aku berpikir keras, dia seumuran denganku jadi dia juga sugar baby. Sugar baby-nya sugar baby. Astaga! Ngapain juga aku pusing memikirkan itu? Bisa gila lama-lama! Biani juga menyuruhku mengganti pakaian di depannya, bahkan saat aku hanya memakai boxer dia menatap tubuhku lekat. Seperti aku ini barang dagangan yang sedang ditaksir-taksir. Aku lelah berganti-ganti baju, tapi dia mengancam terus. Sudahlah selagi fisikku tidak tersiksa sebaiknya aku turuti perintahnya. Biani mengambil fotoku dengan setiap outfit yang aku pakai, aku tidak tau harus merasa senang atau ngeri. Baru kali ini aku mendapat begitu banyak barang yang bagus, Biani juga telah mengetahui kalau mataku sebenarnya tidak minus. Tapi dia tetap menyuruhku memakai kacamata kalau di sekolah. Terkadang aku melihat Biani menyeringai saat memandangku, membuatku mengira-ngira apa yang sedang dia pikirkan. Dan benarlah, p********n dimulai. Dia menyuruhku melucuti semua pakaianku. Aku hanya tinggal mengenakan boxer saja, sialnya aku jadi merasakan sesuatu yang aneh. Bagaimana lagi, sejak tadi aku melihat Biani tidur-tiduran di kasur sambil memandangiku, dia mengenakan dress pendek dan pahanya tersingkap kemana-mana. Aku sesekali bahkan bisa melihat celana dalamnya yang bewarna merah. "Sini." Dia memanggilku. "Mau apa sih?" keluhku. "Jangan membantah!" Dia membentakku, wajahnya yang imut tampak marah. Dengan terpaksa aku naik ke tempat tidur dan mendekatinya. "Karena aku sudah membelikanmu barang-barang...." "Aku tidak minta." Aku memotong percakapannya dengan cepat. "Memang aku peduli? Ingat siapa yang berkuasa di sini?" "Jadi mau apa?" "Buka bajuku." Aku membuka bajunya tanpa membantah, anehnya Biani tersenyum senang, aku melemparkan pakaian Biani ke lantai. Rasakan aku sudah tak peduli. "Semuanya." Dia memerintah. Aku turuti saja dia, aku memandanginya. Matanya terlihat meredup sayu. Kemudian aku membuka celana dalamnya yang merah membara itu. Dia berbaring di atas tempat tidur, dadanya mencuat. Dia tidak malu ya? Aku memandangi sekuat tenaga. Diam-diam aku melirik bagian bawahnya. Jadi begitu ya milik perempuan? "Liat-liat apa? Jangan mesum." Serba salah, pikirku. "Isap dadaku sekarang." "K-kamu ini sudah gila ya?" "Berani sekali membantah." Darahku berdesir. "Cepat." "Kamu jangan menyesal, ya!" Aku malah membentaknya, dia kira aku laki-laki polos apa? Mana ada lelaki polos untuk urusan begituan. "Tidak mau," sahutku. "Kamukan budakku! Kamu ini melawan sekali." "Aku punya harga diri." "b***k tidak punya harga diri!" Dia membalas sengit. Aku segera turun dari tempat tidur itu. "Mau kabur ya? Kalau nggak mau melakukan di depanku, aku akan menyuruhmu melakukan di depan pelayan-pelayanku." Aku berhenti melangkah. Ngeri juga ancamannya. Aku segera naik kembali ke atas tempat tidur, kemudian aku melepaskan boxerku. "Kamu memang gila, sekarang liat ini." Dia bergumam. "Ambilin sabunnya." Kataku. "Ambil sendiri. Berani-beraninya menyuruh." Aku menghela nafas dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil sabun cair, sudahlah sekalian gila saja. Aku kembali ke hadapannya, kemudian menuangkan sabun cair di tanganku, melalukan apa yang dia perintahkan. "Kamu tidak mau membantuku?" Aku bertanya. "Enak saja, jangan memerintahku." Aku menghela nafas lagi mendengar jawabannya. Aneh juga kenapa dia tidak terangsang ya? Soalnya aku saja tiap berdekatan dengannya aku gemetar hebat, menahan nafsu yang menguasai tubuh dan kepalaku. Seandainya yang di depan ini pacarku, aku menelan ludah, pasti tangan-tangan mungil itu telah memainkan milikku sekarang, tak perlu menduga untuk mengetahui kalau rasanya akan sangat enak. Biani menatap dengan pandangan kagum. Fix dia memang kelainan dan butuh hiburan antimainstream, tapi aku suka liat wajahnya, imut dan nggak bohong aku tak perlu bahan untuk melakukan pemuasan sendiri, bahannya ada di depan mata. Cairanku menyembur kena ke d**a dan mukanya. Rasakan! Aku terkekeh dalam hati tentunya. Biani terpana. Dia memegang-megang cairan itu. Aduh super bodoh! Keluhku. Ah aku capek, dengan tubuh nyaris polos aku menghempaskan tubuh di sampingnya. ??? Biani, Mmhhh enak sekali, sangat enak seperti melayang. Aku masih merasa kurang tadi, kenapa aku langsung mendorong Laith sih? Aku kaget karena dia mencubit sesuatu yang sensitif milikku. Sekarang lelaki itu terbaring tengkurap polos di sampingku. Pantatnya terlihat padat dan sexy, memang mataku tak salah sedari awal. Pikirku. Aku harus menyuruhnya melakukan yang aku suka sering-sering agar aku terbiasa dan dia juga terbiasa. Aku tertawa jahat. Aku meletakkan kepalaku di punggung Laith, terasa hangat. Sekalipun punggungnya terasa keras. Hangat dan nyaman. Enaknya kalau selalu memiliki seseorang di samping kita, aduh aku kepengen lagi. "Laith." Aku mengguncang-guncang tubuhnya. Tidak boleh tidur, besok hari sabtu dan aku mau begadang. Laith membuka matanya pelan, dia bergumam. Dia menarik kepalaku dan melumat bibirku dengan kasar, aku mendorong kepalanya keras. Dia ternyata tertidur. Eh jangan bilang dia mimpiin aku, mungkin saja begitu. Dia telah berbaring telentang, gaya tidurnya sangat keren. Aku diam-diam menyentuh kulitnya, jangan sampai dia tau. Bisa jatuh harga diriku sebagai seorang nona. "Bangun Laith!" Aku menyentaknya. Dia terlonjak dan segera duduk, "Aduh kepalaku sakit, kenapa sih teriak-teriak?" Wajahnya kaget saat melihat kami sama-sama polos. Dia menarik selimut dan menutupi bagian bawahnya. Huh sok malu-malu, tadi aja nakal. "Aku capek mau dipijit." Aku berkata. "Banyak pelayan wanita di bawah, minta pijit saja sama mereka." Laith berkata dengan agak ketus. "Kamu mau aku siksa ya biar nggak melawan?" "Ya sudah, sana tengkurep. Aku nggak pintar memijat. Terus mana minyaknya?" Akhirnya dia pasrah, atau diam-diam dia juga mau tapi gengsi. Huh! "Minta sama mbak Chaca." "Sambil telanjang gini? Kalau aku diperkosa bagaimana?" Laith berkata, dia tampaknya mulai stres. Apa aku harus menjadwalkannya untuk konsultasi ke psikiater ya? Aku berpikir. Akhirnya aku menelpon Mbak Chaca, dia masuk ke kamarku sambil membawa minyak spa. Laith segera bersembunyi di dalam selimut. Setelah Mbak Chaca pergi, Laith mulai memijat, tangannya sedikit kasar menyentuh punggungku. Aku merasakan nyaman. "Ahh...jangan keras-keras." Aku melenguh. "Nggak keras, memang badan kamu yang lembek." Sahut Laith. "Berani kamu bicara?" Aku mendengar helaan nafasnya, dia mengurut dari punggung ke betisku. Kemudian aku berbalik, dia langsung memalingkan wajahnya. Aku merasakan tangannya sedikit gemetar wajahnya memerah. "Hei kamu mau jadi orang buta lagi ya?" "Kamu jangan menyesal nanti." Dia berkata mengancam, eh kenapa aku malah merasa kata-kata itu sangat manis? Aku mendadak jadi deg-degan. Dia melumuri dadaku dengan minyak, dan memandang sayu. Matanya tampak sering terpejam, pasti dia lagi nahan nafsu tuh. Dikira aku nggak tau ya? "Kamu liar sekali ya." Dia tersenyum sedikit, pandangan apa itu? Seperti seringai. Baru aku liat pertama kali. Eh...aku tak menjawabnya aku sudah lemas. Parahnya Laith seperti kerasukan malam itu, dia menciumiku dengan intens bahkan dia mengisap seluruh bagian tubuhku, leher, d**a dan perutku diisapnya kuat-kuat. Aku sudah lemas sekali jadi aku nggak mampu membentaknya. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN