Demi Ayah

1208 Kata
"Bram, bagaimana anak itu mau menerima pernikahan ini?", Tanya ibu Sandra, ibu dari Bram. "Dia belum menyetujuinya, ma.", Ucap Bram lesu. "Bagaimana kamu ini, dia harus mau. Kalau tidak, perusahaan kita akan hancur. Hanya perusahaan Abimanyu yang bisa bantu kita bangkit lagi. Kamu memang ga bisa diandalkan dari dulu.", terlihat amarah di mata mamanya. Bram memang selalu menjadi pion di keluarganya. Hanya Bella, adiknya yang dimanjakan dengan kasih sayang. Apapun yang adiknya inginkan selalu didahulukan. Sedangkan Bram, hanya boleh mengikuti semua perintah mamanya. Ya, dua puluh tahun yang lalu, disaat dia jatuh cinta, mencintai seorang gadis lugu yang begitu baik, gadis pertama yang menghormatinya dan membuat dia merasa dicintai. Namun saat hubungan mereka diketahui keluarga Bram, hanya cacian yang diterima keduanya. Bahkan berita baik tentang kehamilan Lala, tidak mampu membuat Bram bisa mempertahankan wanitanya dan anak yang ada dalam kandungan Lala. "Beri Sofia waktu, ma. Kita sudah membuangnya, sekarang kita memaksanya untuk menikah dengan orang yang bahkan dia tidak kenal. Bagaimana mungkin dia akan langsung setuju, ma?", terlihat kekesalan di wajah Bram. "Selalu saja, kalau sudah urusan wanita tidak tahu malu itu, kamu pasti berubah menjadi pembangkang. Kamu kira mama tidak tahu, kalau kamu masih selalu berhubungan saat wanita itu masih hidup?!" "Sudahlah ma, aku lelah." "Jangan sampai kamu semakin melukai Celine, istri kamu. Dia baru kehilangan Cintia." "Mama yang buat semua ini menjadi sulit. Bram lelah ma, Bram sedang tidak mau berdebat dengan mama.", Bram melangkah meninggalkan mamanya di ruang keluarga. "Kamu sudah pulang, mas?" "Hmm." "Aku siapkan air hangat ya mas.", Celine baru ingin melangkah ke kamar mandi. "Tidak perlu. Saya bisa sendiri.", Bram melangkah masuk ke kamar mandi. Dia tidak pernah mencintai istrinya, hanya Lala yang ada di hatinya. Dia tahu betul, bahwa pernikahan tanpa cinta itu, seperti di neraka. Namun dia harus menyeret Sofia, anak kandungnya dengan Lala, untuk masuk ke dalam pernikahan tanpa cinta. Maafkan aku, La. Aku memang tidak berguna. Aku selalu mengorbankan kalian. Aku tak bisa menjadi ayah yang baik.  *** "Sof, siapa pria tadi itu?", Tanya Yuni kepo saat mereka sedang bersih- bersih toko bunga, tempat mereka kerja. "Ayahku." "What? Bukannya kamu sudah yatim piatu? Sorry. ", Yuni menutup mulutnya karena merasa bersalah atas ucapannya. Ya yatim piatu. Itu yang Sofia rasakan sejak ibunya meninggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu. "Dia memang ayah yang aku anggap sudah mati. Dia,", Sofia menarik napas panjang. "Ibuku diusir oleh keluarga ayahku." "Astaga!", Yuni yang memang ceplas ceplos kaget pertama kali tahu kisah sahabatnya. Sofia memang tidak mau menceritakan kisah hidupnya kepada orang lain, karena dia enggan dikasihani. Dia berjuang untuk bisa membiayai kuliahnya sendiri. Tiba- tiba ada dua orang yang berjas masuk ke dalam toko bunga. Sofia merasa aneh karena mereka sudah tutup. "Maaf pak, kami sudah tutup.", ucap Yuni sopan. "Maaf, kami bukan mau membeli bunga, tapi ingin memita non Sofia ikut dengan kami.", salah seorang dari pria berjas itu berkata dengan sopan. Sofia mulai mengerutkan kening, bagaimana dua orang ini tau namanya. "Saya tidak mengenal kalian." "Wah, kalian mau culik Sofia ya?", tuding Yuni. "Bukan, kami hanya ingin mengantar non Sofia menemui ayahnya. Bapak Bram sedang di rumah sakit." Sofia kaget mendengarnya, baru saja dia bertemu dengan ayahnya beberapa jam yang lalu. Bagaimana mungkin kalau ayahnya di rumah sakit? "Saya baru bertemu beliau tadi sore. Bagaimana mungkin beliau ada di rumah sakit?" "Beliau kena serangan jantung, dan saat ini sedang kritis di rumah sakit. Beliau minta kami untuk menjemput non Sofia bertemu beliau.", ucap salah satu laki- laki itu "Darimana saya bisa yakin kalau kalian suruhan ayah saya?" Orang itu mengeluarkan handphone dan menelepon seseorang, menyerahkan pada Sofia. Sofia menatap handphone itu, di layar tampak ayahnya sedang terbaring di atas kasur rumah sakit. Sofia menarik nafas panjang, dia menutup dan berfikir, apa yang harus dia lakukan. Satu sisi, dia tahu ini adalah ayahnya. Ibu tidak pernah merahasiakan siapa ayah. Ibu selalu menceritakan kebaikan ayah. Tapi satu sisi, ayahnya yang dia harapkan tidak pernah muncul di hadapannya sampai kemarin. "Oke saya ikut kalian. Tapi kalian bisa tunggu sampai saya selesai bereskan semua kerjaan saya?", kedua pria itupun mengangguk. Setelah semua beres, Sofia naik mobil suruhan ayahnya, pergi ke rumah sakit mewah. Sofia turun dan mengikuti arahan kedua pria tersebut. Sampailah dia didepan kamar VVIP. Rasanya ia ingin kembali pulang saja, namun tangannya mengetuk pintu itu. Saat pintu itu terbuka, sosok wanita yang begitu keibuan yang membuka pintu. "Kamu sofia?", tanyanya lembut Hanya anggukan yang Sofia berikan. "Ayahmu sudah menunggumu." Sofia masuk dan melihat ayahnya tidur di atas kasur dengan alat monitor detak jantung disampingnya. "Pa, Sofia sudah datang.", ucap wanita lembut tadi. Mata ayah terbuka, wajah sehat bugar tadi sore yang dilihat Sofia berganti wajah lesu. Hati Sofia sedikit menangis melihat keadaan ayahnya. "Hai, nak. Terimakasih kamu mau datang.", ucap ayah dengan sedikit terbata. "Tadi sore anda baik- baik saja. Mengapa sekarang anda bisa disini?", Sofia menjaga raut mukanya agar tidak terlihat kasihan dengan ayahnya. "Semua karena saya, kalau bukan saya yang memaksa beliau. Mungkin beliau masih sehat " "Cukup Celine, bisa biarkan saya bicara dengan Sofia berdua?!", terdengar nada marah disana. Tapi Sofia tidak membela siapapun disini. Meski yang dia lihat, bukan kasih sayang yang ada diantara kedua orang di hadapannya ini. "Ba..Baik saya tunggu di depan." Setelah wanita itu pergi, Ayah Bram mengenggam jari Sofia, "Maaf." Sofia hanya bisa menatap ayahnya dengan perasaan tidak enak. "Maaf saya bukan suami yang baik untuk ibumu, bukan ayah yang baik bagimu. Saya benar- benar mencintai ibumu. Namun bila ibu saya, nenek kamu itu tidak suka. Maka semua akan berubah. Ayah harus menjauhkan kalian dari nenek. Karena ayah tidak mau kalian disakiti. Maaf ayah tidak bisa menjadi ayah yang bertanhgung jawab ", helaan nafas Ayah Bram semakin lemah "Ayah istirahat ya. Kita bisa bicarakan ini setelah ayah sembuh." "Ayah takut ayah tidak punya waktu yang banyak." "Ayah harus sembuh, ayah mau menjadi waliku kan saat aku menikah. Aku mohon ayah sembuh ya. Kalaupun ayah meminta aku menikah dengan pilihan ayah, aku setuju. Asal ayah sembuh dulu ya ", Sofia sadar kalau apa yang dia ucapkan mungkin bisa membuatnya menyesal. Tapi saat ini, dihadapannya, ayah yang menelantarkannya sedang terbaring lemah. Meski penderitaan yang dia alami begitu berat, tapi ayahnya tetap ayah kandungnya. Penderitaannya bertambah pun tetap sama baginya. Ayah Bram hanya tersenyum lemah dan tiba- tiba kesadarannya hilang. "Ayah?", Sofia panik dan memencet bel memanggil dokter di samping ranjang. *** "Jadi dia sudah setuju?", Sandra duduk di sofa kamar Bram dirawat. "Sepertinya ma.", jawab Celine. "Kamu awasi mereka. Mama tahu kamu pasti sakit, kecewa, marah. Tapi ini demi kamu juga ," "Iyah, ma." "Kalau saja perusahaan tidak dalam kondisi kacau, mama juga enggan menganggap dia keturunan mama.", terdengar nada kesal. "Aku melihat sepertinya dia anak baik ma. Terlepas dia anak dari mbak Lala." "Jangan sebut nama wanita itu, Celine!" "Maaf ma. Tapi aku juga masih tidak bisa merelakan Cintia pergi begitu saja. Sampai saat ini jasadnya pun belum ditemukan. Aku..", suara isakan kecil terdengar dari bibir Celine. "Mama juga sangat mengharapkan Cintia masih disini. Cucu kesayangan mama. Rasanya mama menyesal menyetujui dia pergi dengan mobil saat itu. Sudahlah, kita harus menatap kedepan Celine. Kita coba gunakan anak sialan itu untuk membuat keluarga Abimanyu mau membantu keluarga kita. Kalau saja Cintia masih ada, dia bisa merayu Samudera dengan mudah.", desahan kembali keluar dari bibir Sandra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN