Eps. 29 Perampok dan pembunuh bayaran.

1631 Kata
Li Mubai begitu senang saat Kaisar Han, ia melihat Xiao Chen kembali ke isatana. Ketika Xiao Chen pulang, pria paruh baya itu langsung disambut pelukan oleh anaknya sendiri, Xiao Mei. Kepergian Kaisar yang melakukan urusan pemerintahan membuat Xiao Mei merindukannya, kawatir bila satu-satunya orang yang menyayanginya pergi dari dunia ini selamanya. Setelah selesai beristirahat dari perjalanan jaunya, Li Mubai langsung memberikan laporannya, “ Yang Mulia, ada hal penting yang ingin hamba sampaikan…. ” Li Mubai mengatakan bahwa ramalan Sesepuh baru sahaja ia saksikan saat berburu bersama Putri Mahkota. Kaisar Han, Xiao Chen mengertukan dahinya begitu mendengar penjelasan Li Mubai, ia sedikit memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit, pernyataan Li Mubai selaku pimpinan pengawal anaknya patut diperhitungkan. Jika apa yang Li Mubai saksikan benar maka bencana akan datang tidaklah lama lagi. “ Pengawal Li, cepat kumpulkan petingi-petinggi istana. Kita akan langsung mengadakan rapat.” Menurut ramalan dari Penasehat Kerajaan selaku sesepuh kerajaan sekaligus orang yang mampu menerwang masa depan, pernah mengatakan. 'Kehancuran kekaisaran Han berawal dari seorang pendekar yang mampu membunuh dengan mudah Pendekar Suci.' Dalam penerwangannya, Penasehat kerajaan mengatakan pendekar itu berikatan takdir dengan Putri Mahkota. Dan kebenaran itu Li Mubai saksikan sendiri, Pendekar yang mampu membunuh Pendekar Suci dengan mudah hanya dengan sekali pukulan. Li Mubai juga melihat Putri Mahkota yang terlihat jelas menyimpan rasa kepada pendekar tersebut, membuat Li Mubai merasa gelisah. Ia yang takut dan khawatir kekaisaran Han akan hacur segera melapor kepada Kaisar Han, Xiao Chen. Dua jam kemudian Seluruh petinggi kekaisaran telah berkumpul dalam ruang rapat. Penasehat kerajaan, Menteri dan para pejabat pemerintahan daerah sudah berkumpul memenuhi ruang rapat. Mereka memulai diskusi di meja panjang dengan Li Mubai sebagai narasumber sekligus pelapor masalah. **** Kembali ke restoran Tumpukan piring kosong berserakan memenuhi meja makan di lantai dua, semua orang di lantai dua menatap kedua orang dalam meja itu dengan tatapan jijik dan perasaan heran. Kedua orang itu memang sudah berkali-kali memesan makanan mewah dengan harga yang mahal pula. Yang mengeherankan semua orang adalah porsi makan yang luar biasa dari salah satu orang di meja makan tersebut. Sudah hampir ke lima kalinya mereka memesan makanan terbaik dan termewah di restoran tersebut, tetapi orang itu belum merasa kenyang jua. Perasaan heran itu beriringan dengan perasaan jijik, melihat cara makan kedua orang itu yang mengunakan kedua tangan langsung membuat sebagian orang merasa risih dan memilih untuk meninggalkan restoran. " Pelayan, tambah lagi set porsi seluruh makanan," ucap Dou Jin mengangat tangannya. Mulut Dou Jin penuh dengan serpihan makanan, sebagaian bajunya juga kotor karenanya. Mendengar pesan tersebut pelayan datang dengan wajah pucat, ia yang bertanggung jawab atas pelayan pelangan khawatir. Takut bila, pelangan tersebut tidak mampu untuk membayar makanan yang dimakannya. " Maaf tuan tapi,..." ucap ketua pelayan yang mengurus lantai dua meminta pembayaran terlebih dahulu sebelum memesan kembali. Dou Jin terseyum sinis, sia-sia makan di wajahnya berjatuhan begitu ia terseyum menyambut pernyataan pelayan tersebut. " Apa segini cukup," ucap Dou Jin seraya menyerahkan satu juta keping emas dalam bentuk uang kertas. Melihat hal tersebut pelayan itu berkeringat dingin, khawatir dan takut menyinggung orang yang salah. Mengingat pengalamannya sebagai ketua pelayan membuatnya takut, sebab hanya orang-orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan tinggi sahaja yang dengan mudahnya mengeluarkan satu juta keping emas dengan mudah. " T..tuan ini kelebihan," ucap ketua pelayan terbata-bata, merasa gugup begitu tahu bahwasanya pemuda yang berada dihadapannya itu bukan orang biasa. " Jika begitu cepat datangkan pesanku sekarang juga," seru Dou Jin dengan nada kesal. Puluhan tahun memakan makan tanpa rasa membuatnya bosan, dan sekarang begitu memakan makan mewah yang lezat membuat Dou Jin tidak ingin berhenti untuk makan. Pelayan tersebut dengan segera meyiapkan pesan Dou Jin, dari berbagai penjuru ruangan. Semua orang menatap Dou Jin takjub dan penuh maksud. Ada yang bertambah heran dengan kekayaan Dou Jin dan ada pula yang tiba-tiba bermaksud ingin mencurinya. Dou Jin sendiri tidak mempedulikan tatapan semua orang, ia tetap melanjutkan makan yang tersisa dalam meja. Di samping meja makan itu, Su Quan tertidur pulas dengan perut membesar seperti ibu hamil tiga bulan. Jika sahaja di dalam ranah jiwa Dou Jin tidak terdapat Naga kecil sudah pasti ia akan seperti Su Quan pada ronde makan yang ke dua. Namun berbeda dengan pendekar pada umumnya, Dou Jin yang terikat kontrak dengan siluman legendaris tidak akan bisa merasa kenyang. Sebab makan dalam tubuh Dou Jin sari-sarinya akan langsung terserap oleh Naga kecil, sama persis seperti ibu yang sedang mengandung. Dalam Ranah jiwanya, Naga kecil juga ikut makan seperti Dou Jin makan. Pesanan telah datang, Dou Jin menyantap makan tersebut dengan rakus. Kedua tangannya memegang makanan yang berbeda. Mulutnya penuh dengan makanan, dan piring-piring kosong kembali berserakan di lantai mejanya. Melihat hal tersebut semua orang di lantai dua tidak sanggup untuk tidak membicaran Dou Jin, mereka mulai berbisik-bisik. " Apa dia benar-benar manusia, lambung itu seperti tidak bisa penuh dengan makanan. " " Ck, aku yakin dia itu bukan manusia. Mana mungkin ada manusia yang sanggup mana segitu banyaknya. " " Aku ragu dia itu manusia, secara logika tidak akan mungkin lambung sebesar itu cukup untuk manampung makanan sebanyak itu. " " iya.... " " Aneh... " " Dia bukan manusia... " " Tidak Mungkin.. " Semua pengunjung restoran mulai ramai membicarakan Dou Jin, perasaan takjub, tidak percaya dan heran yang bercampur jijik memenuhi pembicaraan semua orang. Dou Jin sendiri tidak peduli akan pembicaraan setiap orang yang membicarakannya, ia justru tidak berpikir bahwa orang-orang itu tengah membicarakannya. Dengan santai dan tanpa dosa, Dou menikmati dengan rakus setiap piring makanan yang tersaji, mengindahkan kebisingan semua orang, Dou Jin dengan lahapnya memasukan makanan ke dalam mulutnya. Hal tersebut terjadi sampai pesanan ke sepuluh. Semua orang sebenarnya ingin muntah darah melihat makanan yang masuk ke dalam tubuh Dou Jin. Kemana perginya semua makan tersebut, semua orang tidak bisa mencerna logika yang pantas untuk kasusnya Dou Jin. Belum lagi uang yang Dou Jin bayar, semua piring yang menggunung itu ada harganya. Harga untuk keseluruh pesanan yang harus Dou Jin bayar kurang lebih lima juta keping emas. Semua pengunjung yang menyaksikan Dou Jin dengan mudahnya mengeluarkan lima juta keping emas dengan mudah semakin terperangah. Dalam batin semua orang bertanya-tanya, seberapa kaya Dou Jin sebenarnya. Sepuluh kali memakan makanan mewah dengan rasa yang berbeda-beda, sudah cukup untuk membuat Dou Jin merasa puas dan bosan. Ia yang telah merasakan kenyang berniat pulang kembali ke perkemahan bandit Naga Emas. " Ketua Su, cepat bagun. Apa kau ingin tidur di tempat ini, " ucap Dou Jin memukul kedua pipi Su Quan. " Sepertinya ia tidak akan sadar untuk waktu yang lama. " Su Quan yang tidak kunjung bangun jua, melihat hal tersebut Dou Jin memangulnya seperti memanggul karung beras dan bergegas pergi meninggalkan restoran. Kepergian Dou Jin dan anak buahnya menyisakan kesan yang mendalam kepada semua orang. Baik itu kekayaan Dou Jin maupun kerakusannya dalam hal makan. Dengan berjalan memanggul orang Dou Jin keluar dari kota Zordan, ia tidak ingin berlama-lama di kota ini. Dikarenakan Dou Jin memiliki sebuah rencana atas semua Kitab dan Pusaka yang telah dibelinya, ia ingin segera pulang dan mencobanya. Baru berjalan beberapa kilometer keluar dari kota Zordan, Dou Jin telah disambut oleh puluhan pendekar tingkatan menengah. Para pendekar itu berbaju hitam dengan masker yang menutupi wajah, menyisakan kedua bola mata yang terlihat. " Hahaha, aku tahu maksud kalian." Dou Jin tertawa melihat puluhan pendekar itu mengepung dari berbagai sisi. Tidak ada sedikit pun titik-titik ketakutan dari wajah Dou Jin, melihat tingkat pendekar itu berada di tingkat menengah membuat Dou Jin percaya diri. " Kalian ingin emaskan." seru Dou Jin terseyum sinis. Semua pendekar berbaju hitam saling berpandangan untuk sesaat, setelah saling bertukar kode kusus, sekelompok pendekar ini langsung melesat menyerah Dou Jin. Duarrr Aaarrrghhhh Boomm Kratkkk Aaarrrghhhh. Duarrr Serangan demi serangan Dou Jin sambut dengan sebelah tangan dan sebelah kaki, mengingat lengan kirinya menggendong Su Quan membuat Dou Jin hanya menggunakan tangan kanannya sahaja. Pukulan tinju bertenaga dalam tinggi beradu dengan tinju biasa miliki Dou Jin, sekilas pukulan Dou Jin memang tidak memiliki tanaga dalam, tapi begitu kelapan tangan itu beradu dengan sebuah tekanan tenaga dalam tinggi. Nyatanya pukulan tersebut mampu menghancurkan salah lengan pendekar. Dari sisi yang lain Dou Jin melakukan tendangan tinggi mengincar kepala pendekar yang berniat menyerangnya. Kecepatan tendangan yang sangat cepat itu dengan mudahnya menghancurkan kepala pendekar itu dengan mudah. Memberikan suatu bunyi yang khas ketika tendangan Dou Jin menghancurkan kepala pendekar tersebut, dari sisi yang lain lagi semua pendekar yang tersisa semakin ciut nyalinya. Mereka menimbang kembali niat mereka untuk melakukan serangan, Dou Jin melihat hal itu menyeringai senang, " Ohh, kalian tidak mau datang kemari. Baiklah jika begitu." Dou Jin meletakan tubuh Su Quan di tanah, ia bergerak cepat, melesat menyerang semua pendekar yang berada dihadapannya. Hanya dengan sekali pukulan Dou Jin berhasil membunuh semua pendekar yang berada tempat tersebut. Dou Jin yang mampu terbang seperti monster pembunuh, hanya dengan sekali serangan semua lawannya mati seketika. Bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain, kombinasi serangan baik itu dengan tendangan maupun pukulan, nampak halus mengalir seperti air. Sangat cepat, semua kombinasi pukulan dan tendangan itu terlihat seperti orang menari, tetapi sangat cepat. Tidak ada satu pun pendekar yang mampu menghalau serangan Dou Jin, semua serangan bertenaga dalam tinggi itu seperti serangan anak kecil. Dou Jin bergerak seperti mesin pembunuh, penjagal. Bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Membunuh semua pendekar yang dilihatnya. Seperti seorang pembunuh berdarah dingin, Dou Jin membunuh tanpa berkedip. Darah segar menggenangi lokasi jalan utama menuju kota Zordan. Isi organ tubuh pendekar banyak berserakan di tempat tersebut, menampilkan kegerian Dou Jin dalam memlakukan p*********n para pendekar, " Ada lagi, jika ingin seperti mereka. Datanglah kemari," ucap Dou Jin melirik ke berbagai sisi, mengetahui ada beberapa orang tengah bersembuyi mengawasi. Tidak ada suara balas, senyap padahal dibalik semak belukar dan bebatuan besar itu terdapat puluhan orang pendekar tingkat tinggi yang berniat mencuri sepesial ring dari tangan Dou Jin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN