Seorang wanita berlari dengan sangat cepat. Bisa dilihat wanita ini memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Dengan kecepatan seperti ini bisa dipastikan butuh kurang lebih satu bulan penuh baginya untuk sampai di Desa Perbatasan.
Namun karena ia membawa bayi kecil yang baru berusia beberapa bulan, wanita ini memilih mengikuti perkataan suaminya untuk menumpang kafilah dagang agar tidak mengancam kesehatan buah hatinya.
Setiap hari ia akan beristirahat dua kali di jam yang berbeda, terkadang bisa tiga sampai empat kali bila anaknya rewel ingin buang hajat atau sekedar untuk menyusui.
Tidak sulit baginya untuk mencari kafilah dagang, selama dua hari ini akhirnya ia menemui kafilah dagang. Dengan membayar beberapa keping emas ia menumpang pada kafilah tersebut.
“ Fiuuuhhh, akhirnya ketemu juga.”
Perjalanan bersama kafilah dagang lebih mudah baginnya dibandingkan berlari dengan menggendong bayi. Walaupun tidak sulit mengendong dengan sebelah tangan, tetapi tetap sahaja lengan tangannya akan sedikit terasa pegal.
“ Sebenarnya ada dipihak mana para penguntit ini. Sepertinya dia tahu aku dan Putra Mahkota melarikan diri dari istana,” gumam Permaisuri merasa seperti ada beberapa orang yang mengikutinya dari jarak yang aman.
Selama perjalanan ia juga sadar telah diikuti oleh sekelompok pendekar. Ia sendiri tidak tahu apakah para pendekar itu orang yang dikirim suaminya ataukah musuh yang berniat buruk padanya.
Ia memilih mengabaikan hal tersebut dan tidak ambil pusing. Bila pendekar itu tidak menunjukan indikasi mengancam maka ia memilih untuk mengabaikannya.
Ia cukup percaya diri dengan tingkatan pendekar yang saat ini ia capai. Namun selang beberapa waktu ia merenungi keputusannya dan memilih melakukan sesuatu kepada para penguntit itu.
Sudah lebih dari seminggu, ia sudah bergonta-ganti kafilah dagang dalam perjalannya, dengan pergantian kafilah dagang secara acak tersebut ia mampu secara sembunyi-sembunyi menghilangkan jejaknya yang diikuti oleh para pendekar misterius.
Perjalanan masih sangat panjang, berapa kafilah dagang lagi sebenarnya agar ia sampai di tempat tujuan. Ia hanya bertanya-tanya dalam hati.
Seminggu, dua minggu, tiga minggu, empat minggu dan sampai hampir genap dua bulan ia puluhan kali menumpang di kafilah dagang yang berbeda-beda.
Rasa bosan akan perjalanan sampai hilang terbawa waktu karena ia sudah belajar menikmati perjalanan. Sekarang tidak terasa ia sudah sampai di Desa Perbatasan.
Desa Perbatasan ini adalah desa terpencil yang berbatasan langsung dengan wilayah kekaisaran Han. Sedikit sekali orang yang tahu, lantaran desa ini adalah desa yang berada di perbatasan kekaisaran tidak jarang akan terjadi peperangan yang akan menghancurkan desa dalam sekejap.
Pertempuran terjadi karena para pendekar dari kekaisaran lain berniat memasuki wilayah kekaisaran Tang untuk mencari sumber daya kusus Pendekar.
Oleh sebab itu desa di dekat perbatasan ini tidak memiliki nama sama sekali, karena seringnya terjadi pertempuran yang meratakan desa tersebut dan sepinya penduduk.
Desa perbatasan kerap sekali menjadi medan pertarungan antar pasukan penjaga gerbang pembatas wilayah dan para pendekar pengelana yang masuk tanpa tanda pengenal.
Masuk akal jika desa ini akan sangat sulit dilacak, dengan keberadaan desa yang bisa sahaja menghilang dan dalam sekejap akan meuncul kembali berdiri lagi. Pihak musuh pasti akan kesulitan untuk menemukan keberadaan setiap orang yang tinggal di tempat tersebut.
Terlebih lagi para penduduk yang menghuni desa adalah anggota keluarga para pasukan penjaga gerbang, membuat Permaisuri semakin yakin tidak akan ada seorang pun yang dapat mengenalinya.
Sekarang juga ia sudah tidak merasakan kehadiran sosok pendekar yang mengikutinya. Beberapa kali memang ia melakukan pengelabuhan agar pendekar itu tidak bisa mengikuti jejaknya.
Meskipun belum diketahui apakah pendekar itu pro atau tidak, wanita ini tidak mau ambil risiko, lebih baik meningkatkan kewaspadaaan dari pada terjadi pertempuran.
Setelah sampai di desa ia langsung mendaftar di gerbang desa untuk melakukan pemeriksaan, dalam pemeriksaan tersebut biasanya akan ditanyakan apa tujuan kedatangannya ke desa.
Bila untuk keperluan menggungsi prosesnya akan sedikit lebih lama dibandingkan singgah beristirahat dalam perjalanan.
Antrian cukup panjang ia lalui namun dengan sedikit keping emas semua itu menjadi lebih cepat, dengan memberikan beberapa keping emas maka penjaga akan mempercepat proses pemeriksaan dan sedikit memberikan pertanyaan.
Proses telah selesai. Sekarang ia memasuki Desa Perbatasan. Pemandangan awal yang ia saksikan adalah puluhan bangunan yang sedang masa renovasi.
Bisa dilihat bahwa telah terjadi pertempuran besar di desa ini. Walaupun desa ini tidaklah aman karena mungkin akan ada banyak pertempuran di perbatasan, tetapi itu lebih baik dari pada keberadaanya dapat dicium olah pihak musuh.
Setelah berkeliling dan bertanya apakah ada rumah yang sedang dijual, akhirnya setelah seharian penuh mencari ia dapat menemukan sebuah rumah kecil dekat dengan wilayah kekaisaran lain yang sedang dijual.
Sebuah bangunan semi permanen dengan tembok bersulam kayu dan atap dedauan kering, dijual dengan harga beberapa keping emas. Harga yang sangat murah tentunya. Mengingat sebuah bangunan seperti ini bila ada di ibu kota kekaisaran maka harganya benar-benar fantastis.
Sesekali ia menghela nafas pelan sembari menatap putranya dalam gendongannya. Istana megah dulu yang ia tempati sekarang telah ia tinggalkan, dan kemegahan itu sekarang digantikan oleh kesederhanan yang jauh dari kata layak bagi seorang istri dari seorang Kaisar.
Ia mencoba terseyum dan belajar untuk bersyukur, keselamatan anaknya jauh lebih penting baginya dari pada sebuah kemewahan dan kemegahan, ketimbang buah hatinya akan menjadi korban perebutan kekuasaan menurutnya itu lebih baik.
Bersama sumberdaya dan harta yang ia bawa, untuk urusan makan dan perkembangan anaknya, ia tidak khawatir lagi untuk beberapa tahun kedepan.
Dengan harta yang ia miliki sekarang cukup baginya untuk biaya hidup seratus tahun dan bahkan lebih. Mengingat kekayaan orang nomor satu dikekaisaran, tentu harta segitu bukanlah hal yang mustahil.
Dengan harta sebanyak ia berniat menghabiskannya dalam waktu puluhan tahun, demi perkembangan sang anak wanita ini akan membeli puluhan sampai ribuan sumber daya yang berguna bagi pendekar agar impiannya dapat terwujud.
Menjadikan pendekar terkuat dan menghancurkan Kitab silat tanpa tanding serta Pusaka penguasa dunia, menjadi ambisi jangka panjang wanita ini. Kebencian yang teramat dalam telah memenuhi hatinya.
Karena keberadaan kitab dan pusaka itu sekarang ia berakhir di tempat seperti ini dan impiannya memiliki keluarga dan membesarkan anak bersama suaminya tidak bisa terlaksana.
*******
Beberapa tahun berganti dan merasa aman tanpa ada yang mengawasi, diam-diam masih ada puluhan pendekar yang terus mengintai dan mengawasi pergerakan Permaisuri.
Sebenarnya para pendekar ini sedikit kecewa dengan misi yang mereka terima. Jika sahaja orang-orang ini tidak memiliki kesetiaan yang kuat sudah bisa dipastikan sekelompok pendekar ini sudah meninggalkan misinya beberapa tahun yang lalu.
***
Seorang wanita yang terlihat berumur empat puluhan terlihat sedang memberikan sumber daya berupa tanaman herbal ajaib yang berguna untuk meningkatkan kualitas tubuh, tulang dan darah bagi para pendekar. Dengan segudang sumber daya berharga. Di Masa depan Putra Mahkota akan memiliki kulitas tulang, tubuh dan darah yang berkuakitas terbaik.
Dengan bermodalkan kitab tanpa tanding yang diberikan oleh suaminya, wanita ini sudah memiliki pandangan akan seperti apa pelatihan yang cocok bagi anaknya.
Berkat panduan kitab ini pula ia dengan mudah membantu penyerapan sumber daya kelas tinggi bagi anak yang masih berusia lima tahun ini. Pasalnya tidak ada dalam sejarahnya dunia persilatan seorang anak kecil bisa menyerap sumber daya, ataupun dibantu menyerap sumber daya.
Dalam kitab itu juga dijabarkan dengan jelas, panduan-panduan yang benar untuk menjadikan sosok anak kecil ini menjadi seorang pendekar tingkat tinggi.
Sudah lima tahun terhitung dari sejak awal kepergian Permaisuri dari istana, perasaan kesal dan benci masih tetap ada pada sorot wanita ini, namun wajah kagumnya tidak bisa disembunyikan dari caranya terkejut ketika membaca salah satu halaman Kitab silat tanpa tanding.
“ Sungguh luar biasa, tidak heran semua pendekar menginginkan kitab ini. Dengan kitab ini bahkan seorang anak kecil sahaja yang mempelajari bisa memiliki fisik yang mengerikan.”
Permaisuri saat ini menatap anaknya yang masih tertidur pulas, setelah selesai menyerap sumber daya kelas tinggi yang ia berikan, dalam matanya ia melihat sosok anak berumur lima tahun namun memiliki fisik seperti anak berusia belasan tahun.
“ Dengan ini aku semakin yakin akan ramalan itu, aku yakin anakku ini akan menjadi seorang kaisar yang besar di masa depan nanti,” seru sang Ibu yang sembari mengelus-elus kepala anaknya dengan pandangan kagum dan bangga.