Eps. 11 Pertama Kali Membunuh

1297 Kata
Dou Jin mengerutkan kening, matanya melebar saat melihat kode yang ibunya berikan. Ia mencoba memastikan dengan menyipitkan mata. Dengan seksama ia perhatikan kembali rencana ibunya. Bahasa isyarat ibunya berikan dengan sedikit gerakan tangan membuat kedua orang ini hanya saling diam. Beberapa kali mereka melihat sekeliling. Memastikan rencana yang akan dilaksanakan bisa berjalan sesuai dengan harapan. Sebenarnya Permaisuri sudah menyaksikan kejanggalan terjadi beberapa kali diperjalanan, begitu lokasi tujuan mereka semakin dekat entah mengapa ia semakin yakin ini adalah jebakan. Dan semua pengawal yang ia kenal selama ini adalah kelompok pembelot. Hal tersebut sudah Permaisuri pastikan dengan gelat aneh para pengawal baru yang datang. Merasa rencana sang ibu sangat berbahaya, Dou Jin semakin keras mengepalkan kedua tangan. Matanya semakin menajam dan wajah kesalnya dapat terlihat oleh siapa pun yang memandangnya. Dalam waktu istirahat mendadak ini para pasukan penjaga terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada sebagian pasukan yang pergi dan ada pula sekelompok pasukan baru yang datang. Kedatangan rombongan pasukan baru itu semakin meyakinkan Permaisuri, bahwasanya mereka telah dijebak. Salah satu ketua pasukan mengatakan kepada Permaisuri, sebenarnya sebagian dari mereka berniat mengkonfirmasi pasukan penjaga yang berada dilokasi tujuan. Dengan dalih tersebut beberapa pasukan baru datang membagi lagi kelompok mereka. Setengah pasukan tinggal dan setengahnya lagi kembali untuk melapor. Dengan gerak-gerik tersebutlah Permaisuri bertambah yakin, mereka sekarang berada dalam rencana musuh dan orang-orang yang selama ini ia kenal adalah para penghianat. Setelah selesai menjelaskan rencana yang ia miliki, Permaisuri bergegas meminta Dou Jin untuk segera melakukan setiap intruksinya. Mendapatkan tatapan mata perintah dari Permaisuri, Dou Jin segera merubah ekspresi wajah marahnya dan membuat mimik wajah santai dan rileks. “ Aduh Ibunda sepertinya aku pengin buang air besar.“ ucap Dou Jin sambil memegang perut dan memasang wajah seperti ingin buang air besar. “ Pengawal Yu, pengawal Dong dan pengawal Feng temani Putra Mahkota ke sungai terdekat untuk menyelesaikan hajatnya.” ucap ibu Dou Jin dengan nada dingin yang khas. “ Laksanakan perintah Yang Mulia Ratu.” seru ketiga orang tersebut seraya membungkukkan badan. Permaisuri sengaja memilih ketiga pengawal ini karena mereka adalah tiga orang paling lemah dengan tingkat kultivasi Pendekar Suci tahap awal. Mereka adalah orang-orang yang setia mejadi pasukan kusus Kaisar selama puluhan tahun, lantaran akar roh mereka yang berkualitas biasa, membuat ketiga orang ini kesulitan untuk dapat naik ke tahap yang lebih tinggi. Dengan tingkat kultivasi Pendekar Suci tahap awal, Permaisuri percaya Dou Jin akan mampu dengan mudah membunuh ketiga orang tersebut dengan mudah. Mengingat Dou Jin mampu dengan mudah mengimbangi Pendekar Suci gerbang kelima ( tahap menengah ) . Ketiganya berjalan beriringan menuju sungai. Dengan kecerdasannya, Dou Jin mempunyai berbagai strategi untuk membunuh ketiga orang itu dengan mudah, cepat dan tidak memancing keributan. Selama dalam perjalanan menuju sungai, Dou Jin memperhatikan area sekelilingnya, ia mencoba menerapkan rencana yang matang. Begitu Dou Jin menemukan lokasi yang cocok, ia segera meminta dua orang berjaga di hulu dan satu orang lagi untuk ikut menemaninya di hilir sungai. Yang berjaga di hulu adalah pengawal Dong dan pengawal Feng, sedangkan untuk pengawal Yu ikut menemani Dou Jin masuk ke hilir sungai. Kedua pengawal berdiri membelakangi sungai agar tidak dapat melihat Dou Jin buang hajat, kedua pengawal ini juga diminta oleh Dou Jin untuk berdiri agar jauh. Bertutupakan pohon besar kedua pengawal itu akan kesulitan melihat Dou Jin membunuh pengawal Yu. Dengan kecepatan yang tidak biasa, Dou Jin yang berpura-pura hendak membuka celananya ternyata mengambil pisau kecil, dan dengan cepatnya ia mengayunkan pisau kecil itu menebas leher pengawal Yu. Salassssh Byuurrr Ayunan yang begitu cepat dengan tenaga yang begitu kuat membuat Dou Jin dengan mudah melepaskan kepala itu dari tempatnya, terlebih dengan kondisi lawan yang lengah semakin mempermulus Dou Jin dalam melakukan pembunuhan. Jika sahaja itu adalah serangan anak biasa atau pun pendekar biasa yang berusia tujuh belas tahunan, tentu tebasan pisau kecil itu tidak akan sanggup untuk memotong serapih itu. Namun berbeda dengan Dou Jin, ia memiliki kekuatan fisik seperti Pendekar Suci tahap menengah. Di tambah lagi kelengahan pengawal Yu, membuat Dou Jin dengan mudah membunuhnya hanya dalam sekali serangan. Dou Jin menghela nafas dalam, ini adalah pembunuhan pertama yang ia lakukan, darah terlihat menggengi air sungai yang jernih, kepala dan tubuh itu langsung terhempas jatuh ke sungai. Tidak ingin memancing kecurigaan pengawal yang berjaga di hulu sungai Dou Jin menerikan kata-kata untuk mengalihkan perhatina. “ Emmmm, leganya!!!!” Dengan langkah yang senyap, terlebih dengan kondisi tubuh yang tidak memiliki tenaga dalam membuat peluang pembunuh Dou Jin secara sembunyi-sembunyi semakin besar. Karena tidak memiliki akar roh keberadaan Dou Jin akan sulit diprediksi oleh sesama pendekar yang memiliki akar roh. Aura tenaga dalam seseorang yang memilki akar roh akan memberikan aura kusus bila seorang pendekar memiliki nafsu membunuh. Sedangkan Dou Jin yang tidak memiliki akar roh tentu terbebas dari hal itu semua. Keadaan Dou Jin yang tidak memiliki akar roh membuatnya dengan mudah menyelinap dan memberikan serangan kejutan kepada setiap lawannya. Slasssshhhh Bukkkk Pengawal Dong yang sedang melamun terkejut melihat kepala temannya terpiasah dari tubuh. Ia sebenarnya sedang hanyut dengan rencana besar Penasehat kerajaan yang ia sendiri meragukannya. Melihat hal tersebut membuatnya terkejut, ia melompat tiga langkah kebelakang dan mengamati sekitar untuk mencari dari mana arah serangan itu berasal. " Siapa!!!! Jika berani cepat keluar." ucap pengawal Dong mengacungkan pedangnya ke depan. Pengawal Dong mengamati sekitar, pandangan mata pengawal Dong menyapu lingkungan didepannya, namun tidak ada sesuatu pun yang memberikan petunjuk. Jlebbbbb “ aaaarrrggghhhh.” Sosok Dou Jin muncul dari atas langit dan langsung menancapkan kedua pisau kecilnya tepat di atas kepala pengawal Dong, aksi Dou Jin dilanjutkan dengan cepat memisahkan kepala orang itu dari tempatnya. Jika sahaja pengawal Dong dengan sigap mengeluarkan aura pertarungnya diawal, tentu Dou Jin akan sedikit kesulitan untuk membunuhnya. Akan tetapi, sebab pikiran pengawal Dong yang yang sedang ruwet membuatnya tidak sigap akan hal sepele seperti mengubah sikap bertarung ketika terancam. Dou Jin sendiri membunuh tanpa berkedip, sekarang ia sudah kehilangan rasa takut dengan darah. Demi bertahan hidup, hal ini bisa dibilang adalah keputusan yang terbaik. Semenjak Dou Jin membunuh pengawal Yu, ia sudah memutuskan. Tidak boleh ada lagi ketakutan dan keraguan dalam membunuh. Ini adalah dunia persilatan, hukum rimba itu nyata. Bila hidup maka harus membunuh untuk bertahan. Tidak ada jalan belas kasihan dalam dunia yang kejam ini. Dou Jin menyadari hal tersebut. “ Fiuuuuh, sekarang tinggal melanjutkan rencana selajutnya. Apa ibu mampu menahan mereka semua, bila tidak ada peluang untuk lari bersama. ” Dou Jin menghembuskan nafas pelan, pikirannya sekarang hanya tentang keselamatan ibunya. Rencana Permaisuri yang terbilang buruk membuat Dou Jin berpikir solusi yang tepat untuk membunuh para musuh-musuh mereka dengan cepat, mudah tanpa pertarungan keroyokan. Saat perjalanan pulangnya, Dou Jin dikejutkan dengan sosok ibunya yang memakai topeng giok putih sedang membantai puluhan orang pendekar suci yang masih membuka beberapa gerbang. Melihat p*********n yang disaksikannya, Dou Jin menepuk jidatnya sendiri, “ Aduh, Ibu. Mengapa langsung membunuh mereka terang-terangan. ” seru Dou Jin kesal saat melihat aksi ibunya yang sembrono keluar dari rencana semula. Rencananya memang seperti yang dilakukan Dou Jin, membawa kelompok kecil untuk ketempat yang sepi untuk dibunuh secara diam-diam. Entah karena tidak sabar atau memiliki pertimbangan lain, Permaisuri keluar dari rencana yang semula mereka susun. Melihat kondisi sekitar, Dou Jin akhirnya dapat menarik sebuah kesimpulan, mereka yang mengeroyok ibunya ternyata masih dalam tingkat pendekar Suci yang baru membuka beberapa gerbang. Untuk beberapa pendekar Suci tahap Bumi sampai langit yang menjadi ketua kelompok sepertinya tidak berada di tempatnya. Sebab kebenaran tersebutlah Dou Jin merasakan sebuah firasat buruk yang akan terjadi kedepanya. “ Harus membunuh mereka semua sebelum para ketua datang, bila tidak aku dan ibu tidak bisa lolos. ” batin Dou Jin seraya menerjang musuhnya yang sedang menyerang dari belakang punggung Permaisuri. “Sepertinya ini akan menjadi pertarunagan hidup dan mati jika orang-orang ini belum binasa saat ketua kelompok mereka belum tiba. ” gumam Dou Jin sambil menebas leher musuh yang terpental karena serangan ibunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN