bc

Direktur Galak itu Pacarku

book_age16+
2.6K
IKUTI
41.5K
BACA
possessive
boss
drama
comedy
sweet
campus
office/work place
friendship
assistant
friends
like
intro-logo
Uraian

Putus cinta bukanlah hal yang menyenangkan. Apalagi ketika kamu tahu bahwa hubunganmu harus berakhir dan priamu lebih memilih wanita lain. Renata Arunika Jesy nama seorang gadis yang tengah mati-matian menutup rasa sakit dan kecewa kepada semua pria.

"Buat ku mereka semua sama saja."

"Kau yakin Re?"

Mengedikkan bahunya "Berjuang diawal, lalu setelah dapat yang lebih menarik yang lama ditinggalkan."

Safanah melirik sahabat yang berada disebelahnya, "tapi Saka tak seperti itu"

"Semoga saja tidak."

"Mau ku kenalkan dengan temannya?"

Renata menggeleng cepat "aku tidak seburuk itu sampai terkesan tidak laku." melirik sekilas "jika memang aku harus jatuh cinta lagi, aku berharap cinta ku berlabuh pada dermaga yang tepat."

Safanah menganggukan kepalanya perlahan "ku doakan, kau berjodoh dengannya."

Menoleh cepat "siapa?"

"Seorang pria unik, kau pasti akan menyukai dia." Ucap Safanah lalu berdiri dari kursinya

Seperti kata pepatah, mati 1 tumbuh 1 untuk selamanya. Itulah yang akan Renata rasakan kepada pria yang membuat hidupnya lebih berwarna.

chap-preview
Pratinjau gratis
Jumpa
Bagaimana rasanya jika hanya kau yang tak memiliki pasangan? Menjadi nyamuk yang hanya mampu menatap sebal kepada beberapa pasang insan yang sedang memadu kasih. Itulah yang Renata rasakan saat ini, menjadi penonton kala sahabatnya bercengkrama bersama kekasih mereka, harusnya ia tak usah datang saja kalau nyatanya akan seperti ini. Renata Arunika Jesy, gadis berumur 23 Tahun ini sedang berada disalah satu Kafe bersama sahabat-sahabatnya. Niatnya untuk pergi ke salah satu toko buku yang berada dikotanya harus ia tunda kala mendapatkan ajakan dari sahabatnya untuk berkumpul. "Kau tidak usah cemberut seperti itu." ucap Safanah. Safanah Indira, gadis berumur 22 Tahun, bercita-cita menjadi seorang dokter muda, selain memiliki wajah cantik Safanah juga memiliki surai bergelombang yang indah. Saat ini Safanah sedang duduk berdampingan dengan sang kekasih yaitu Saka Pratama Nugroho. Memiliki wajah yang tampan serta postur tubuh yang bagus membuatnya menjadi digilai para perempuan, pekerjaan yang mengharuskannya bertemu dengan perempuan manapun nyatanya tak pernah membuat Safanah merasa cemburu. Saka adalah seorang Aktor yang cukup terkenal, namanya sedang naik daun karena salah satu film yang ia bintangi meledak dikalangan masyarakat. Jadi apakah Safanah termasuk gadis yang beruntung bisa mendapatkan Saka? Sepertinya iya. "Aku muak melihat kalian." ucap Renata lalu memandang langit biru diatas sana. "Makanya jangan jomblo." kali ini suara Inka. Menoleh dengan cepat "ku doakan kalian cepat menyusul." Safanah terbatuk kala tersedak cairan yang sedang ia minum "mulutnya." Inka Wulandari seorang mahasiswi kedokteran ia satu jurusan dengan Safanah, berumur 23 Tahun sangat antusias menjadi bidan hanya untuk mendapatkan calon suami seorang perwira, namun kenyataan tidak berpihak kepadanya. Memiliki kekasih bernama Syie Andiwira Bintang pemilik salah satu stasiun TV. Kekasih Inka ini memiliki wajah yang kaku dan perilaku sedingin es namun tidak membuat Inka ingin memutuskan hubungan mereka. Selain kuliah Inka juga meneruskan usaha yang keluarganya geluti, mengurus toko bunga milik keluarganya membuat Inka sangat senang karena memang ia juga menyukai bunga dan tumbuhan lainnya. "Kau mau aku kenalkan pada temanku?" Tanya Safanah Menoleh cepat "siapa?" Lalu Renata menggeleng "aku tidak seburuk itu sampai terkesan tidak laku." melirik sekilas "jika memang aku harus jatuh cinta lagi, aku berharap cinta ku berlabuh pada dermaga yang tepat." "Aku yakin kau akan menyukainya." Kembali menoleh ke arah sahabatnya "kalau b******k aku gak mau." ucap Renata Saka terkekeh "dia gak b******k, cuma nyebelin." "Itu sama aja.." menyeruput ice tea yang berada dihadapannya "tapi kalau ganteng boleh lah, sepertinya aku sudah harus move on." Syie manggut-manggut menyetujui. "Memangnya siapa?" Tanya Renata kepada Safanah. "Seorang pria unik, kau pasti akan menyukai dia." Ucap Safanah lalu berdiri dari kursinya. Memanggil salah satu pelayan berniat memesan satu cemilan untuk dirinya. "Siapasih?" Tanya Inka menatap sang kekasih "Rubah." Manik itu membola "kalian serius pengen ngenalin sahabat ku sama rubah nyebelin macam dia?" Kedua pria itu mengangguk perlahan, Renata yang melihat ekspresi sahabatnya menjadi curiga. "Kenapa?" "Kan tadi udah dibilang, dia menyebalkan" kali ini suara Syie mendominasi "Tapi pasti kau akan tertarik Re." Safanah menimpali. "Dia tampan," ucap Inka menatap Renata dengan jahil. "Kulitnya eksotis.." Safanah menambahi. "Kaya.." Saka berpendapat. "Perhatian juga romantis." Syie menutupnya dengan kalimat yang membuat pipi Renata bersemu merah "Paling sama saja.." mengaduk asal minuman yang ada dihadapannya "kalian, para pria sama saja." Saka menggelengkan kepalanya "jangan terus menyamakan kami dengan pria b******k yang sudah menyakitimu Re.." "Jelas berbeda." timpal Syie membenarkan ucapan Saka. "Apa bedanya?" Dua pria itu diam tak mengeluarkan suara sedikitpun. Menatap Saka, "kau bahkan tidak memberitahu publik bahwa kau sudah memiliki kekasih." Lalu melirik ke arah Syie, "kau, apa sudah bertemu orang tua Inka? Kau bilang akan mulai serius dengannya." Meminum ice tea yang sudah hampir habis, lalu "aku tak ingin sahabat-sahabat ku bernasib sama seperti ku." lalu menatap Inka dan Safanah secara bergantian. "Sudah ya aku pulang, besok aku harus mulai bekerja di kantor ayah ku." Tidak ada penolakan, setelah mendapatkan persetujuan dari sahabat-sahabatnya Renata mulai melangkah menjauh. Meninggalkan Kafe yang masih berada para sahabatnya disana. "Coba kau bujuk." ucap Inka menatap Safanah. "Yasudah, nanti aku bicara pelan-pelan padanya." "Aku harus pergi, jam 1 siang ada pemotretan." ucap Saka yang sudah berdiri dari kursinya. "Yasudah." Ucap Syie yang juga sudah berdiri dari kursinya. Mereka pun akhirnya membubarkan diri, kembali pada aktifitasnya masing-masing. ** Renata tidak pernah ingin diantar menggunakan supir pribadi, ia selalu pergi menggunakan kendaraan umum. Apalagi dizaman sekarang sudah banyak ojek online semakin memudahkan dirinya jika ingin pergi kemanapun. Berniat mampir ke toko buku untuk membeli beberapa novel guna menyibukan diri, keputusannya untuk bekerja meskipun masih harus menjalani rutinitas kuliah juga tak lain hanya ingin melarikan diri dari kesedihan yang terus menjalar dihati. Berhenti disalah satu toko buku, Renata lalu berjalan santai memasuki toko tersebut. Sibuk melihat dan mencari novel yang akan ia beli, memilih apakah novel bergenre fantasi atau yang bergenre romance yang harus ia beli, berjalan lurus namun tak menatap kedepan membuatnya menabrak seseorang. "Ah maaf." Ucap Renata kala melihat seseorang yang hampir terjatuh karena tidak sengaja ia tabrak dengan tubuhnya. "Tak apa." ucap sang gadis Renata lalu membungkuk kecil tanda meminta maaf untuk kali kedua, "sekali lagi maaf ya kak" Setelah itu Renata langsung bergegas pergi dari tempat tersebut, ia berpikir ia sudah meminta maaf dan itu sudah lebih dari cukup. Berjalan agak cepat karna merasa tak enak sudah menabrak seseorang yang tak ia kenal. Renata berniat mencari novel di toko buku lain. Namun langkahnya harus terhenti kala seseorang memanggil namanya begitu jelas. "Aru?" menoleh kearah sumber suara, sangat jelas ia mampu melihat siapa pria yang memanggil nama tengahnya. Mata indah itu membola, ia dengan cepat menundukan kepalanya. "Kau sendirian?" Ucap pria itu kepada Renata yang masih bergeming ditempatnya. Tala Ferdinan, pria yang bahkan tidak ingin Renata lihat beberapa minggu ini. Pria yang telah membuat luka dihati Renata. Nyatanya sudah sebulan lebih ia menyibukan diri agar tidak terus mengingat tentang pria yang berada didepannya, namun dunia begitu lucu mempermainkan dirinya. Dipertemukan secara tak sengaja bahkan ketika ia belum bisa melupakan pria yang masih berdiri dihadapannya. Renata sungguh sial. "Aru." berusaha memanggil kembali nama sang gadis. "Ah maaf saya harus buru-buru." Berlari kecil meninggalkan pria yang masih bergeming ditempatnya, Renata sungguh tidak ingin terjebak terlalu lama disana bersama pria yang bahkan ingin sekali ia lupakan. Bahkan hanya pria itu yang memanggil nama tengahnya, meskipun Renata tak terlalu menyukainya namun jika yang memakainya adalah orang yang sangat dirinya cintai maka ketidaksukaan akan menjadi rasa suka yang amat sangat dirindukan. Bergegas keluar dari toko buku, tak jadi membeli novel yang sudah ia pilih, Renata menatap jalan yang berada dihadapannya begitu sayu, ia sedang menguatkan dirinya sendiri. Terus berjalan tak tentu arah, mencari tempat yang tepat untuknya bersembunyi, nyatanya dunia ini terlalu ramai untuk dia yang selalu bersedih karna dikhianati. Mencoba mengatur napasnya perlahan, ternyata ia tak sekuat yang ia bayangkan. Sangat mudah saat kita menyemangati seseorang tapi menjadi sulit sekali ketika harus menerapkannya pada diri sendiri, Renata tahu sangat tahu di mata orang lain masalahnya tidaklah sebesar yang ia rasakan tapi kenapa rasanya sakit sekali saat kau mencoba terlihat baik-baik saja nyatanya kau tak sekuat kelihatannya. Membuang napas lelah "aku kemana sih ini?" Menoleh kekanan dan kekiri mengambil benda persegi panjang yang berada didalam tasnya, menekan layar berwarna itu mencari satu nama yang ia tuju, mengetik beberapa kata lalu mengirimnya. Semoga pesan itu segera terbaca. Beberapa puluh menit telah berlalu tak ada balasan dari seseorang yang ia kirimkan pesan, bahkan wujudnya pun tak nampak dihadapan. Renata berfikir apakah kakaknya sedang amat sibuk? Mari tunggu sebentar lagi pikirnya. Mobil berwarna hitam itu berhenti tepat didepannya, Renata menatap pintu mobil yang akan segera terbuka, terlihat seorang pria keluar dari mobil menggunakan setelan jas lengkap yang sangat rapih. "Kau sedang menyamar?" Tak mengerti ucapan yang keluar dari bibir sang pria, Renata hanya mampu mengernyitkan keningnya memunculkan perempatan disana. "Jadi gelandangan, agar mendapatkan belas kasihan dari laki-laki tampan." Kedua matanya membola, Renata mendekatkan dirinya pada sang pria menatapnya tajam dan, "Awwww— itu sakit Re." ucap Nathan Nathan Wiliam seorang pria berumur 26 Tahun memiliki kulit putih, tinggi sekitar 183 cm wajahnya yang tampan nyatanya tak membuat Renata tertarik, yaa karna Nathan adalah saudara kandungnya. Nathan dipilih untuk mengurus perusahaan milik keluarganya karna ayahnya sudah ingin pensiun dan menghabiskan waktu lebih banyak bersama sang istri. Sepengetahuan Renata, Nathan belumlah memiliki kekasih karna dirinya terlalu sibuk mengurus perusahaan dan membuatnya tak sempat untuk memikirkan hal semacam itu. "Ayo pulang." "Kak.." menghentikan langkahnya Nathan berbalik menghadap Renata. "Tadi aku ketemu dia." "Lalu?" Tanya Nathan dengan wajah datarnya. "Ternyata Re belum sepenuhnya lupa sama dia, perasaan ini masih ada. Ish sungguh menyebalkan." ucapnya dengan kepala menunduk meskipun suaranya terlihat riang nyatanya Renata sedang mengusap bulir air yang keluar dari mata indahnya. Berjalan lebih dekat kepada sang adik, menepuk pelan bahu mungil itu dan memeluknya perlahan, "aku gak mengerti berada posisimu sekarang, apa yang kamu rasakan, tapi percayalah kau gadisku yang kuat. Perasaan itu nanti akan hilang dengan sendirinya, meskipun tidak secepat yang kau inginkan tapi percayalah ini semua akan berlalu.." Menjeda ucapannya, lalu Nathan membelai lembut surai milik Renata. "Kau akan menemukan pria yang tepat, pria yang baik juga tulus untuk adik ku yang baik dan mempunyai cinta yang tulus juga." Menatap iris berwarna coklat sang kakak, Renata sangat berterimakasih karena memiliki kakak seperti Nathan. Meskipun memiliki sifat yang terbilang cukup cuek kepada orang lain namun Nathan adalah sosok kakak yang begitu menyayangi adik-adiknya. "ayo pulang." Ucap Nathan sekali lagi pada adik yang masih menatapnya "kau semakin jelek kalau menangis." Mengerucutkan bibirnya, memukul pelan d**a pria yang berada dihadapannya. Renata sekarang sangat yakin bahwa banyak yang menyayangi dirinya lebih dari ia yang menyayangi dirinya sendiri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook