Jarak antara kantor dan rumah Renata tidak terlalu jauh hanya memakan waktu sekitar 30 menit itupun jika jalanan lancar tanpa hambatan. Namun kali ini Renata seakan merasa begitu lama sampai ke rumah.
"Maaf ya.."
"Untuk apa?"
"Yang tadi."
Lalu pria itu melirik ke arah sang gadis.
"Ini pertemuan pertama tapi aku sudah mengacaukannya bukan?"
Gadis itu terkekeh, bahkan kekehan itu seakan mengejek "kau menyebalkan sekali."
"Itu benar." Keynaru mengangguk lalu memandang kosong ke arah depan.
"Aku memang menyebalkan ya?"
Renata sedikit menoleh ke arah samping, tepat dimana pria yang tak lain adalah bosnya sedang duduk menyandar. Perubahan terlihat dari raut wajah Keynaru, ekspresi kekecewaan terpancar di sana.
"Mungkin itulah alasan mengapa calon pengantin ku pergi meninggalkanku." Lalu pria itu terkekeh kecil, menatap jalanan aspal dari kaca mobil.
"Kau tahu Nat? Bukan hanya kau manusia di dunia ini yang mengalami putus cinta atau bahkan dikhianati oleh seseorang.."
Menoleh ke arah gadis yang ternyata telah menatapnya.
"Jika kau mencari pelarian atas rasa sakit yang kau rasakan. Maka aku siap."
Gadis itu tersenyum, memandang lurus ke depan. "Aku tidak seburuk itu sampai harus mencari pelarian dan menyakiti seseorang."
"Kau tahu Naru.. mungkin aku bodoh, tapi aku masih punya hati."
Senyum muncul diwajah tampan sang pria, "kalau begitu.. pacaran dengan ku."
"Kau keras kepala sekali ya," lalu Renata mengecek ponselnya "kenapa harus aku? Atau mungkin karena perjodohan itu? Kau seharusnya tidak perlu seperti ini jika memang karena perjodohan yang orang tua kita sepakati."
Melirik ke arah Renata "Sepertinya bukan, mungkin aku termasuk orang yang sudah merasa putus asa karena cinta.. tapi setelah melihatmu, entah kenapa aku merasakan rasa sakit yang kita miliki itu sama."
"Tapi aku belum bisa,"
"Kenapa?"
"Karena memang aku belum bisa."
Hembusan napas lelah terdengar dari pria yang masih terus menatap jalanan.
"Dia yang bahkan sudah bersama ku selama 5 tahun bisa berkhianat, lalu.."
"Kau berpikir aku juga akan berkhianat?"
Gadis itu mengangguk.
"Apa kau juga berpikir ayahmu akan berkhianat?"
Mata indah itu membola, Renata tidak bisa menjawab atas pertanyaan yang Keynaru ajukan.
"Sepertinya pembicaraan kita sudah terlalu jauh.."
"Jangan samakan semua laki-laki seperti dia Nata.."
"Aku ingin seperti itu tapi rasanya aku belum bisa percaya, bahkan kepada dirimu yang baru ku kenal selama 4 jam saja.."
"Cinta itu menyakitkan." Ucap Renata lalu menegapkan tubuhnya.
"Didepan ya pak, pagar hitam"
"Baik mbak.." ucap driver yang sedari tadi sibuk fokus menyetir.
"Mungkin jadi teman akan jauh lebih baik.." ucap Renata lalu menepuk pundak Keynaru dengan perlahan "ayo turun."
Pria itu mengangguk lalu menatap Renata yang masih terus menatapnya.
"Jangan lupa dibayar ya.." lalu senyuman muncul diwajah cantik sang gadis.
"Ck.. dasar."
Renata telah turun dari mobil dan meninggalkan Keynaru bersama driver yang masih setia menunggu bayarannya.
Sempat terbesit dalam benak Renata apakah bosnya dapat dipercaya? Apakah ia benar-benar merasakan sakit yang sama? Tapi bagaimana jika ternyata dia sama saja dengan pria lainnya?
Berjuang di awal lalu setelah mendapatkan yang lebih, yang lama ditinggalkan.
***
"Assalamualaikum.."
"Walaikumsalam, kok lama banget pulangnya.." Tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Renata.
Herlin Melinda seorang ibu rumah tangga, istri dari Hermawan suami sekaligus ayah dari Renata dan Nathan juga Hana.
Herlin memiliki tiga orang anak, anak pertama adalah Nathan Wiliam seorang anak laki-laki satu-satunya, saat ini Nathan adalah direktur di HY Corporation, umur Nathan sekarang adalah 26 tahun.
Renata Arunika Jesy, putri tertua dari keluarga ini. Selain kuliah Renata juga sudah mulai bekerja disalah satu perusahaan milik pria yang orang tuanya jodohkan.
Hana Melodira, putri bungsu dari Herlin dan Hermawan. Statusnya yang masih pelajar nyatanya tidak membuat Hana tenggelam, meskipun ia adalah anak terakhir namun sikapnya bisa terbilang cukup dewasa dalam mengambil keputusan. Itulah yang kadang membuat Renata malas bercerita kepada Hana.
Renata sangat bersyukur memiliki keluarga yang lengkap serta harmonis. Ia tidak dapat memikirkan bagaimana harinya tanpa keluarga yang sangat ia cintai.
Renata yang telah masuk ke dalam rumah lalu tersenyum menyambut tangan sang ibu dan langsung menyalaminya. Rasa lelahnya perlahan hilang kala melihat senyuman sang ibunda.
"Tadi kerjannya belum selesai bu, jadi Re kerjain dulu sampai selesai."
"Banyak?"
Gadis itu menggeleng, "enggak, sedikit kok.. cuma karena Re masih menyesuaikan jadinya emang agak lama."
Renata lalu menatap ibu yang juga menatapnya "ada tamu bu."
"Siapa?"
"Assalamualaikum.."
"Loh Key.." ucap Herlin sedikit terkejut dengan kedatangan seorang pria yang memang ia kenal.
"Sore tante." Ucap Keynaru lalu menyalami tangan halus Herlin.
"Sama mamah mu?"
Pria itu menggeleng "sama Nata."
"Loh pulang berdua kalian?"
Renata mengangguk, "aku kedalam dulu ya bu, ganti pakaian.. aku tinggal gak apa-apa kan Ru?"
Pria itu tersenyum lalu mengangguk tanda mengiyakan.
"Ayo duduk, kita ngobrol.. ayahnya Renata lagi mancing sama papah mu, entah mereka pulang jam berapa nanti."
Keynaru terkekeh kecil mendengar penjelasan Herlin. "Aku yakin mamah pasti juga lagi nunggu kayak tante gini.. siap-siap aja papah tidur di ruang tamu"
"Ide yang bagus, mereka kalau mancing gak kenal waktu.. pantas pada minta pensiun dini."
Wanita paruh baya itu lalu menyandarkan bahunya pada sandaran sofa, menatap pria muda di depannya.
"Gimana?"
"Ah.. iya tante gimana?"
Herlin lalu tertawa kecil. "Kau cocok dengan Renata? Dia gadis yang baik bukan?"
Pria itu mengangguk, "terlalu baik sampai Key merasa kalau rasa sakit yang Nata rasakan begitu menyakitkan."
Herlin terus mendengarkan tanpa menyela ucapan dari pria yang telah ia jodohkan kepada putri tertuanya.
"Tante, aku hanya dengar dari Nathan bahwa Nata putus dengan pacarnya.. tapi sepertinya masalahnya lebih dari ini."
Herlin mengangguk. "Aku tidak ada hak untuk menceritakannya walaupun Renata adalah putri ku, mungkin nanti dia sendiri yang akan cerita sama kamu Key.."
"Tante yakin kamu akan mendapatkan hatinya.. itulah kenapa kami menjodohkan kalian."
Menatap langit-langit rumahnya, Herlin hanya tidak ingin melihat sang putri selalu bersedih.
"Kau pria yang baik, Renata juga gadis yang baik. Kalian punya kemiripan, dan bahkan merasakan rasa sakit yang sama."
"Bukan bermaksud mensyukuri apa yang telah terjadi sama kalian, tapi mungkin saja ini jalan yang Tuhan inginkan."
Menatap pria muda dihadapannya, harapan telah ia lambungkan. Entah itu untuk kebahagian sang putri atau untuk kebaikan Renata dan juga Keynaru.
"Tante titip Renata ya Key.." menatap teduh pria muda dihadapannya.
Pria itu mengangguk, "sebisanya aku jaga."
Wanita paruh baya itu tersenyum lalu menegapkan tubuhnya.
"Tante bikin minum dulu ya buat kamu, sampai lupa kan."
"Gak perlu repot-repot tante.."
"Tante gak merasa direpotkan, lagi pula kamu sudah tante anggap anak tante sendiri kok."
Keynaru memberikan senyuman yang cukup tulus untuk wanita yang telah bangkit dari posisinya.
Herlin telah meninggalkan Keynaru seorang diri, wanita itu sedang membuatkan minuman untuk tamu yang telah bertandang ke kediamannya.
Renata yang telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian lalu berjalan santai menuju ruang tamu. Melihat Keynaru yang masih terduduk disofa dan sibuk memainkan ponselnya.
"Ku pikir kau sudah pulang.."
"Mana mungkin aku pulang tanpa melihat dirimu dulu."
"Jika kau terus menggombal, itu akan terdengar murahan tahu."
"Iyakah? Jadi jika seseorang terus mengatakan 'aku cinta kamu' maka makna sesungguhnya juga akan hilang?"
Mengedikkan bahunya, lalu Renata berjalan mendekati sang pria mendudukan dirinya disamping Keynaru. Melirik sekilas pada ponsel sang pria.
Ah lagi main game online ternyata.
"Tergantung, jika kau menyukainya mungkin akan membuat dirimu bahagia.. tapi jika kau tidak menyukainya mungkin akan terdengar memuakan." Ucap Renata menyandarkan bahunya pada sandaran sofa.
"Jadi kau menyukainya atau tidak?" Tanya Keynaru kepada Renata.
"Hmmm.. sepertinya jika yang mengatakan itu bukan dirimu, aku menyukainya."
Pria itu terkekeh, sepertinya Renata sudah tidak marah lagi dan melupakan kejadian yang terjadi saat mereka masih berada di kantor.
Keynaru yang melihat Renata melamun lalu mematikan ponselnya, dan menoleh ke arah sang gadis.
"Nat.."
"Hmm.."
"Kalau udah ada rasa cinta bilang yaa."