Sakit

1027 Kata
"Argh!" Chilsa membanting handphonenya dengan keras ke lantai. Ya, meskipun sudah diberi pelindung, tetapi jika dibanting dengan keras, handphone itu akan rusak juga. Chilsa tidak peduli. Dia sering kali melakukan itu. Membanting handphonenya dengan keras ketika keinginannya tidak terpenuhi, dengan mudahnya kakek harjoko akan membelikan yang baru dengan tipe yang terbaru. Chilsa mengabaikan handphonenya dan segera tengkurap di atas tempat tidur. Baru beberapa hari menikah, hari ini dia mulai merasa tidak nyaman. Ya, karena dia yakin hidupnya akan hampa, kosong dan berantakan tanpa kartu-kartu itu. Dia yakin dia akan kesepian. Selama ini, kartu-kartu itulah yang menemani kesepiannya. Kartu itu sudah bisa digunakan untuk membeli apapun, termasuk membeli sahabat dan membeli kekasih. Dia bisa berteman dengan banyak orang dan dia juga memiliki kekasih yang paling populer di kampus karena uang. Dia tidak yakin teman-temannya akan mau menghabiskan waktu dengan dirinya kalau dia tidak memiliki uang lagi. "Om Evan Jahat!" Chilsa teriak kencang, kemudian meneteskan air matanya. Dia pikir dia akan puas setelah pernikahan ini, tetapi nyatanya tidak. Tidak ada kepuasan apapun, karena ternyata ras malah menyangka dia sebagai perempuan yang enggak benar karena bisa menikah secepat itu. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ya Tuhan. Aku tidak mau kehilangan semuanya. Aku tidak mau kehilangan apapun yang aku miliki," ucapnya di sela isak tangisnya. Saat itu, ternyata Evan mengikutiku Chilsa ke kamar dan memantau dari luar. Dia mendengar semua ucapan chelsa dan semua keluh kesah Chilsa. "Apa menurutmu Papa sudah keterlaluan?" tanyanya kepada Bianca. Terus terang saja dia merasa bersalah. Dia takut keterlaluan. Bagaimanapun juga dia masih punya hati. "Papa sama sekali tidak keterlaluan. Bukankah memang itu kan perjanjiannya? Lagian, kalau dia memang tersiksa dengan semua ini, kan dia bisa minta cerai sama papa. Jadi Bianca tidak perlu memiliki ibu tiri yang seumuran seperti dia. Ibu tiri yang bahkan jauh lebih manja dari Bianca. Bianca sama sekali tidak suka memiliki ibu tiri seperti dia, Pa. Jadi semakin dia tersiksa akan semakin baik." Bianca tersenyum senang, kemudian pergi meninggalkan papanya yang masih diliputi oleh rasa bersalah. "Maafkan papa, Bi. Papa sudah membuat kamu tidak nyaman, tetapi Papa tidak kuasa untuk menolak permintaan orang yang sudah sangat berjasa untuk hidup kita. Maafkan aku juga Chil. Aku harus mendidikmu seperti ini. Kamu pewaris tunggal dari marvelous Corp. Kamu harus dibentuk menjadi wanita tangguh yang mandiri. Sehingga kamu bisa menjadi seorang bisnis yang handal. Sudah cukup manja-manja nya dan sudah cukup main-mainnya. Mungkin kamu akan membenci ini, tetapi suatu saat nanti kamu akan berterima kasih karena aku sudah melakukan ini padamu." *** Sejak semalam, Chilsa tidak mau keluar kamar. Bahkan sampai saat ini pukul 3 siang, dia masih belum mau keluar kamar dan tidak mau makan. Ini adalah aksi protesnya karena seluruh kartunya dinonaktifkan. "Kenapa sih kakek tega seperti ini sekarang. Kakek tidak pernah menolak permintaanku dulu. Kenapa sekarang seperti ini? Kakek benar-benar tega sama Chilsa. Kakek sudah tidak sayang lagi sama Chilsa," ucap perempuan itu dengan air mata yang terus mengalir. Dia masih membayangkan bagaimana hidupnya tanpa kartu kartu itu. Dia akan menjadi perempuan yang berantakan tanpa perawatan. Bagi Chilsa, kehilangan kartunya berarti kehilangan semuanya. "Mbak Chilsa. Buka pintunya Mbak. Mbak Chilsa harus makan. Saya sudah membuatkan bubur ayam yang penuh dengan daun seledri kesukaan mbak Chilsa. Saya juga sudah membawakan s**u UHT coklat. Ayo mbak Chilsa buka pintunya." Sudah tiga kali ini Surti mengunjungi kamar Chilsa tapi perempuan itu tidak mau membukakan pintu. Dia masih terus mengalirkan air matanya. Dia masih belum terima dengan ini semua. "Aku tidak mau membukakan pintu kalau bukan Om Evan yang memintanya, Mbak Surti. Aku nggak mau makan dan aku nggak mau minum. Biarin aja sakit. Aku nggak peduli." Ya, memang begitulah Chilsa sedang marah karena permintaannya tidak dituruti. Dia mogok makan. Ini yang paling ditakutkan oleh Tuan harjoko, tetapi kali ini dia berusaha untuk mempercayai Evan dan mempercayai semua caranya untuk mendidik Chilsa. Meskipun ada rasa tidak tega, tetapi perasaan itu dia kesampingkan dulu. Demi melihat Chilsa menjadi cucu yang lebih baik lagi. "Tuan Evan masih dalam perjalanan pulang dari kantor. Jadi, Mbak Chilsa bisa membukakan pintu dulu sebelum Tuan Evan sampai." "Pokoknya chilsa nggak mau keluar kalau bukan Tuan Evan yang minta, Mbak Surti. Titik! Pergi dan jangan kembali lagi sebelum Om Evan sampai." Dia berbicara dengan bibir bergetar. Dia menggigil kedinginan. Karena dia membiarkan tubuhnya terguyur air selama lebih dari 1 jam tadi. Beruntung Dia segera sadar diri, berganti baju dan bersembunyi di balik selimut tebal. "Bagaimana mbak Surti, chilsa masih belum mau membukakan pintu?" tanya Evan yang baru saja pulang dari kantor. "Belum, Tuan. Mbak Chilsa juga belum mau makan apapun dari tadi pagi." "Lebih tepatnya dari tadi malam. Dia belum sempat makan malam. Baiklah, kalau begitu biar aku yang membujuk. Sini nampannya aku bawa." "Baik, Tuan." Surti memberikan nampan yang berisi bubur ayam full seledri, air putih dan juga satu pack s**u UHT coklat kesukaan Chilsa. Dia mengatur nafasnya, kemudian mengetuk pintu perlahan. "Chilsa. Buka pintunya. Saya bawa makanan buat kamu," ucap Evan lembut. Ya, memang harus lembut. Dia tidak mau terjadi apa-apa sama Chilsa. "Masuk aja, sudah aku buka kuncinya," teriak Chilsa dari dalam." Evan tersenyum, lega karena dia bisa masuk ke kamar Chilsa. Lebih tepatnya kamar untuk mereka berdua. Setelah pintu terbuka, Dia langsung Shock saat melihat Chilsa yang tubuhnya bergetar karena menggigil kedinginan. Laki-laki itu buru-buru meletakkan nampan di atas meja kemudian segera menghampiri Chilsa dan memegang dahinya. "Chilsa, kamu panas banget. Kamu demam?" Ya, Chilsa demam tinggi. Evan benar-benar panik. Dia juga menggigil hebat. "Nggak usah sok-sokan peduli sama Chilsa, Om. Ini semua gara-gara Om Evan." Hanya itu yang bisa Chilsa katakan. Saat ini, tidak ada hasrat sedikitpun bagi pulsa untuk menggoda om tampannya itu. Evan tidak peduli bagaimana penilaian salsa terhadap dirinya, tetapi dia memang harus segera bertindak. Tanpa persetujuan dari Chilsa, Evan segera mengangkat tubuh perempuan itu membawanya keluar. Dia harus segera membawa jasa ke rumah sakit karena dia tidak mau celaka kenapa kenapa. Dia tidak peduli meskipun chilsa teriak-teriak minta dilepaskan dan tidak mau dibawa ke rumah sakit. Dia tidak peduli sama sekali karena yang ia pedulikan sekarang adalah susah harus segera mendapatkan penanganan dari dokter. Karena dia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Tuan Harjoko kalau sampai terjadi apa-apa sama Chilsa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN