Permintaan Chilsa

1026 Kata
"Om! Aku mau lapor sama kakek yang nggak-nggak kalau kamu nggak mau nurunin aku." "Kamu harus dibawa ke rumah sakit." "Aku hanya demam biasa. Dikompress pun sembuh. Aku beneran ngadu sama kakek nih kalau dibawa ke rumah sakit." Chilsa paling tidak suka rumah sakit. Chilsa paling tidak suka bau obat-obatan yang menguar. Om Evan membuang nafas kasar. Dia bisa melihat Chilsa yang ketakutan. Ah … rasanya tidak tega juga membawa dia ke rumah sakit. Mungkin memang ada baiknya dirawat di rumah dulu. Kalau tidak kunjung membaik, Evan bisa memanggil dokter. Akhirnya laki-laki itu menghentikan langkahnya, lalu menatap sang istri manjanya dengan tatapan penuh keprihatinan. "Oke. Kita tidak jadi ke rumah sakit. Tapi kamu harus menurut semua ucapanku. Deal?" "Enggak Deal sih Om. Apa sih permintaan Om Evan yang nggak mengenakkan aku semua." "Oke. Kalau begitu kamu pIlih ke rumah sakit?" "Enggak juga." "Ya udah, Kalau begitu kamu ndak ada pilihan lain selain menuruti semua keinginanku. Kita balik lagi ke kamar ya? Minum obat dan dikompres." Akhirnya Chilsa mengangguk. Kemudian Evan segera membawa celsa menuju ke kamar. Tubuh Chilsa ramping. Jadi tetap tidak terlalu berat untuk dibopong meskipun posturnya tinggi. Evan segera membaringkan Chilsa di atas tempat tidur. Evan menyelimutinya dengan telaten. "Om … boleh nggak Kalau Om memanggilkan mbok Sumiati. Aku perlu dia kalau lagi sakit begini, Om." Chilsa memohon dengan wajah memelas. Wajahnya tampak pucat dengan hidung yang memerah. "Nggak boleh. Saya yang akan merawat kamu sampai kamu sembuh. Kamu anteng-anteng di sini dulu ya? Saya mau ambil kompres dan obat demam buat kamu." "Nggak mau. Pokoknya Chilsa mau mbok Sum ada di sini. Titik." Nah kan. Manjanya kumat. Ditambah lagi dia sedang sakit seperti ini. Maka manjanya akan berkali-kali lipat. Rasanya Evan benar-benar memiliki anak baru, dan sama sekali bukan istri baru. Evan terlihat membuang nafas kasar. Kemudian kembali menoleh kearah Chilsa yang masih cemberut. "Kalau kamu nggak mau minum obat, kita akan ke rumah sakit sekarang juga. Pilihanmu cuma 2 doang hari ini. Minum obat atau ke rumah sakit? Pilih mana? Kamu sudah dewasa Chil, bukan anak umur belasan lagi. Kamu sudah baru saja menginjak 20 tahun. Tolong, kerjasamanya. Kamu sedang sakit dan kamu perlu diobati." Chilsa cemberut, sambil menatap Evan dengan tatapan kesal. 'Awas kau Om. Kalau aku sudah sembuh, pasti kau akan ku jahili habis-habisan. Sok-sokan banget ketika aku sakit begini. Pokoknya kalau aku sudah sembuh, tak akan kubiarkan kau tenang.' "Jadi sekarang kamu pilih yang mana?" "Terserah." Evan tersenyum. Kemudian, dia segera ke dapur, untuk mengambil air hangat. Dia juga meminta Surti untuk membuatkan bubur ayam ekstra seledri yang baru. Chilsa harus makan dulu sebelum minum obat. Sampai di kamar, Evan segera meletakkan handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat itu ke kening Chilsa. Rasanya Dia seperti sedang mengompres anaknya sendiri. "Chilsa, setelah ini kamu makan ya? Makan bubur ayam kesukaan kamu." "Nggak mau. Sakitku ini hanya gara-gara semua kartu aku diblokir. Kalau nggak begitu, pasti sampai saat ini aku masih sehat-sehat aja Om. Minta kakek untuk membuka blokiran semua kartu aku. Setelah itu aku akan sehat tanpa minum obat." Lagi-lagi Evan membuang nafas kasar. Menghadapi bocah ini memang perlu ekstra kesabaran. Kalau tidak sabar, pasti akan gila sendiri. "Kamu Jangan memikirkan itu dulu. Sekarang yang penting kesehatan kamu." Saat itu, Surti muncul membawakan bubur ayam, air putih dan juga s**u UHT coklat seperti tadi. Setelah memberikan apa yang dia bawa, Surti segera pamit. "Makan ya?" Chilsa melirik nampan itu dan melihat s**u UHT kesukaannya berjajar di atas nampan. Ia menelan ludahnya. Rasanya sudah benar-benar kangen sama s**u UHT itu. Tapi dia gengsi mau minta. Dia kan pengen mogok makan dan mogok minum supaya dia bisa kembali mendapatkan fasilitasnya. "Nggak mau, Om." "Oke. Kita ke dokter." Chilsa cemberut. Huft … ancaman ini benar-benar membuat nyali dia ciut. Akhirnya chilsa membuka mulutnya lebar-lebar. Lebih baik memang makan dulu daripada harus ke rumah sakit. Duduk dulu. Baru mangap. Evan membantu Chilsa untuk duduk. Dia mencondongkan tubuhnya untuk mengangkat sedikit tubuh Chilsa agar perempuan itu menyandarkan tubuhnya di atas bantal yang sebelumnya sudah ditumpuk agak tinggi. Sesaat, wajah mereka saling bertatap. Wajah mereka sangat dekat. Sehingga entah kenapa, kedekatan itu menimbulkan desiran dalam d**a Evan. Mata Evan terpaku pada bibir mungil Chilsa. Ditatapnya bibir itu dengan d**a berdebar. 'Sudah lama sekali aku tidak mengecup bibir. Kenapa bibir kamu melambai-lambai Chilsa.' Evan hampir saja mendekatkan bibirnya ke bibir Chilsa. Namun, dia buru-buru menarik kepalanya ketika dia sadar Chilsa masih sakit dan ketika dia sadar, Chilsa masih seumuran anaknya. "Om kenapa? Mau cium? Nih …." Dia masih sakit? Tapi bisa bisanya meledek Evan. Sebenarnya dia juga deg-degan saat Evan hampir mendekatkan bibir itu ke bibirnya. Tetapi dia yakin 100% kalau Evan tidak akan pernah berani melakukan itu. Karena selama ini, dia tahu kalau Evan adalah orang yang sangat loyal kepada kakeknya. Dia tidak pernah macam-macam dan dia juga tidak pernah aneh-aneh. Meskipun sekarang tidaklah dosa jika Evan mau macam-macam dan mau aneh-aneh pada Chilsa. Karena sudah sah dan juga sudah halal. "Jangan aneh-aneh kamu. Buka mulut!" Chilsa akhirnya membuka mulut dengan sedikit tersenyum. Ternyata tingkah Evan kali ini bisa sedikit mengobati kekesalannya. Evan menyuapi Chilsa. Sedikit demi sedikit, Akhirnya makanan itu habis. Evan sangat lega melihatnya. Paling tidak, perut Chilsa yang dari kemarin tidak terisi, sekarang sudah ada penghuninya. "Sekarang kamu minum obat ya? Supaya lekas sembuh dan besok bisa kuliah." "Om Evan sedih ya kalau aku sakit?" "Kau sudah aku anggap sebagai anakku sendiri." "No. Aku istrimu, Om. Nggak mau dianggap anak. Istri. Titik." "Ini terlalu mendadak dan saya belum bisa beradaptasi dengan ini semua, Chilsa. Jadi tolong kerjasamanya. Jangan melakukan hal-hal yang tidak bisa saya tangani. Sekarang kamu minum obat dulu ya?" "Aku mau minum obat asalkan Om Evan mau tidur sama aku malam ini." Evan menelan ludahnya. Kemudian dia terdiam. Evan bukan ia tidak mau, tetapi dia cuma takut hilaf aja. "Kalau memang kamu tidak mau, Aku tidak mau minum obat. Pokoknya Chilsa mau, Om tidur di kamar ini dan tidur di ranjang ini di samping Chilsa. Kalau perlu om peluk Chilsa sepanjang malam. Biasanya Chilsa dipeluk begitu sama mbok Sum kalau sakit." Untuk yang kesekian kalinya, Evan menelan ludahnya. Mana bisa seperti itu? Haruskah dia membiarkan sesuatu berdiri sepanjang malam?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN