Sekarang busway yang ditumpangi Fanny telah memasuki halte transit. Harmoni Central Busway. Pelan-pelan busway itu melambatkan kecepatannya. Dan segera berhenti di tempat yang sudah tersedia untuknya.
"Halte terakhir Harmoni Central Busway. Harap perhatikan barang bawaan anda. Jangan sampai tertinggal. Pelan-pelan dalam melangkah. Dahulukan orang yang hendak turun terlebih dahulu. Fanny segera memastikan musik handphonenya. Tanpa mencopot earphone yang setia terpasang di kedua telinganya. Beranjak berdiri dan lekas keluar dengan sistem mengantri. Kakinya lekas melangkah ke arah busway arah rumahnya. Busway jurusan 2 HARMONI-PULO GADUNG. Setelah sampai di depan halte tempat para penumpang menunggu busway jurusan 2 lewat, dia kembali memutar musiknya. Dan menghela napas sembari meresapi lagu-lagu motivasinya.
Tak butuh waktu berapa lama, akhirnya busway jurusan 2 HARMONI-PULO GADUNG itu datang juga. Dia lekas melangkah naik dan mencari tempat duduk ternyaman. Busway jurusan 2 lebih cepat datangnya daripada saat menunggu busway jurusan 1A BALAIKOTA-PIK itu karena banyaknya operator dan juga busway yang masih diperbolehkan untuk tugas jalan. Beda halnya dengan busway jurusan PIK. Busway itu hanya sebelas mobil busway yang boleh jalan akibat Corona. Wajar jika menjadi bus langka ketika siang hari.
Lagi-lagi cewek manis itu memilih untuk duduk di sebelah pojok kanan sisi busway. Menyandar dan melihat rintikkan hujan yang perlahan-lahan mulai turun. Tentu saja karena cuaca di luar seperti itu, kondisi AC di dalam busway terasa semakin dingin.
Dia berusaha memejamkan matanya. Karena dia merasa sangat letih dengan semua aktivitas yang polanya selalu sama ini. Tidak lagi menarik baginya. Sebetulnya sekarang ini dia ingin sekali memiliki motor. Untuk mempercepat jarak antara rumahnya dan sekolahnya. Lagi pula meminimalisir waktu dapat membuat dia bisa beristirahat lebih banyak. Tentu saja dia juga ingin punya motor seperti teman-temannya yang lain. Karena kebanyakan teman-temannya disini sudah memiliki motor sendiri. Mereka sudah usia legal sepertinya. Sedangkan Fanny? Usianya baru menginjak enam belas tahun.
Sekarang sudah lewat tiga puluh menit. Busway jurusan 2 HARMONI-PULO GADUNG itu sudah memasuki kawasan Galur. Tentunya itu artinya jarak rumah Fanny hanya tersisa satu kilometer lagi kurang lebih. Dia segera terbangun, mengerjap-erjapkan matanya yang sediki memerah akibat tidur yang kurang. Karena dia mendengar suara di speaker busway itu. Kalau sekarang sudah sampai di pemberhentian halte Galur. Musik itu masih menyala di earphonenya. Melantunkan kata-kata penyemangat berulang kali. Membuat siapa saja yang mendengarkan akan terbakar semangat setidaknya 3% dari 100% yah sekitar itu.
Tak butuh waktu berapa lama, sekarang busway yang ditumpangi Fanny sudah melewati halte Cempaka Tengah. Itu artinya pemberhentian berikutnya adalah halte Rumah Sakit Islam atau kerap dipanggil Yarsi. Itu karena di sebrang kanan bangunan itu terpampang jelas bangunan tinggi kokoh yang amat besar. Gedung itu bertuliskan Yarsi dengan corak tulisan yang dibangun besar sekali per hurufnya. Membuat siapapun pasti tahu kalau ada yang membahas Yarsi. Kampus Islam yang berlokasi di Jakarta pusat. Berdekatan dengan lokasi Rumah Sakit Islam.
"Pemberhentian selanjutnya halte Rumah Sakit Islam. Sekali lagi pemberhentian selanjutnya adalah halte Rumah Sakit Islam. Mohon perhatikan barang bawaan anda. Jangan sampai ada yang tertinggal. Dan perhatikan langkah anda. Terimakasih. Sekali lagi pemberhentian selanjutnya adalah Halte Rumah Sakit Islam."
Speaker itu kembali berbunyi lagi. Fanny, cewek itu segera bangkit berdiri dan lekas melangkah turun dari Busway tumpangannya itu. Musik masih menyala, handphone yang masih menyala dia selipkan di saku dalam jaketnya. Saku persembunyian alias saku rahasia.
.
.
.
Sekarang, dia sudah turun dari tangga halte itu. Dan lekas mempercepat langkah kakinya. Itu karena sebenarnya dia sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Mau meminjam toilet supermarket terdekat tidak bisa. Dia malu.
Jarak dari halte menuju rumahnya sekitar 500 meter. Lewat jalan memotong tentunya. Sebenarnya kakinya sudah mulai keram lagi sejak tadi turun dari busway. Tapi mau tidak mau dia harus memaksakan kakinya yang sedang sakit itu berjalan cepat. Meskipun harus terseok-seok ataupun terpincang-pincang. Dia tidak peduli. Yang cewek manis itu pikiran hanyalah masalah buang air kecilnya saja.
Tak butuh waktu lama, sekitar dua puluh lima menit saja. Fanny sudah sampai di depan rumah kostnya. Dia lebih mempercepat langkahnya lagi dan segera membuka pintu untuk melepas sepatu juga kaus kakinya serta tas berat yang senantiasa bertengger di pundaknya itu.
Lalu dia berlari kecil menuju toilet kost yang berada di luar dan segera menuntaskan kegiatan membuang hadas kecilnya.
Sekarang, dia sudah lega. Keluar dari toilet dengan bersendaho karena sepertinya AC dalam busway tadi sudah memenuhi lambungnya. Karena sekarang entah mengapa dia tidak merasa lapar lagi. Seperti tadi siang.
Fanny lekas mengunci pintu kamarnya, dan berganti baju rumah. Dia membuka lemarinya yang sedikit berantakan dan mengambil daster yang menurutnya adalah pakaian paling nyaman untuk saat ini.
Lekas memakai bajunya dan segera merebahkan dirinya di atas kasur. Tentunya AC kamar kostnya itu tidak menyala. Karena dia masih sedikit menggigil akibat AC kedua mobil busway yang dia tumpangi tadi.
Fanny bergegas mencari keberadaan handphonenya. Ternyata ada di dalam saku jaketnya. Dan dia segera membuka aplikasi w******p miliknya.
Gabut banget …
Tapi, tadi seriusan deh. Cantik-cantik banget ya anak kelas sebelah …
Ah … insecure Gue kambuh deh …!
Enak ya jadi cantik. Apa-apa bisa langsung dapat.
Pasti orang cantik nggak pernah ngerasain di tolak sama cowok yang dia suka kan?
Yah, gak mungkin sih. Orang cantik kan setengah masalah hidupnya pasti kelar dengan mudahnya.
Siapa yang ngga suka orang cantik, coba?
Gue aja suka. Kayak enak aja dipandang.
Cowok mana yang nggak suka kalau ceweknya cantik bening, rapi, glowing, terawat, outfitnya juga oke banget gitu?
Ah mantap banget sih. Pasti gak bakal malu-maluin yakan. Terus juga kalem. Murah senyum. Pintar. Udah deh lengkap banget hidupnya.
Fanny, cewek itu malah mengingat kejadian tadi. Kejadian yang membuatnya hampir down setengah mati. Dia mendadak menjadi pendiam. Tidak berisik seperti biasanya. Tidak tertawa terbahak-bahak lagi.
Sepertinya memang benar-benar kena mental.
Gue mah apa?
Muka pas-pasan. Nggak cantik. Kulitnya sawo matang.
Nggak pakai skincare. Nggak punya outfit dan kendaraan yang memadai.
Fanny kerap menghela napasnya beberapa kali. Sepertinya hatinya begitu perih ketika melihat banyak cewek cantik yang ternyata sejurusan dengannya. Mereka begitu menjaga penampilannya.
Gataulah bodoamat!
Ngapain juga Gue harus Banding-bandingin diri Gue sama mereka?!
Siapa tahu itu duit orang tuanya.
Siapa tahu mereka bukan anak yang sebaik hati dan terima apa adanya kayak Gue?
Siapa tahu mereka tukang morotin cowoknya?
Halah, ngapain insecure sama penampilan sih!
Gak guna!!!