Sebuah Pilihan yang Sama Sekali Tidak Pernah Terduga

1106 Kata
        Setelah melalui begitu panjangnya kemacetan yang terjadi. Akhirnya Briyanda sampai pada tempat dimana dia akan melangsungkan ikatan pernikahannya. Dengan sangat tergesa-gesa, Briyanda segera memasang jas yang sudah dia bawa. Menyisir rambutnya sekilas kemudian merapikan pakaiannya. Walau bagaimanapun Briyanda tidak ingin terlihat urakan saat dia melangsungkan pernikahannya. Dia ingin menghargai pernikahan dirinya sendiri dan juga ingin terlihat tampan saat dilakukan dokumentasi.                Tidak hanya itu saja, ini adalah pernikahan untuk pertama kali bagi dirinya. Briyanda juga ingin terlihat tampan dihari bersejarahnya ini, tidak hanya tampan biasa, akan tetapi jauh lebih tampan. Dirasa kala penampilannya sudah terlihat baik di matanya. Briyanda menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari dimana keberadaan Meta saat ini. Dia yakin kalau Meta tidak akan pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Walau ini memang salahnya yang telat tidak berakhlak. Sejam lebih lamanya dia telat.                Akan tetapi mengingat pernikahan ini mempertaruhkan yang namanya Mickey. Dia yakin kalau Meta tidak akan menyerah begitu saja. Atau kemungkinan terburuk Meta akan menikah dengan salah satu sahabatnya itu sebagai pengganti dirinya.                Tanpa sadar, Briyanda menggelengkan kepalanya. “Ini tidak mungkin” Monolognya. “Anak itu pasti menunggu diriku”                Briyanda merasa cemas kala tidak ada satu pun kendaraan yang terparkir dihalaman tempat parkir. Namun Briyanda tidak putus asa, dia masih saja mencari keberadaan Meta dengan mulai mengelilingi gedung. Tapi tidak ada satu pun tanda kalau Meta ada disana.                Tidak kehabisan akal, dia kemudian memutuskan untuk menghubungi Meta. Namun sayangnya dari pesan terakhir yang dirinya kirim. Tidak ada menunjukkan kalau Meta membalas atau hanya membaca chat dari dirinya. “Kemana dia”                Seseorang kemudian berjalan keluar dari gedung, Briyanda yang melihatnya tentu saja segera menghampiri. Seorang lelaki parah bayu sekitaran lima puluh tahun itu menatap Briyanda dengan bingung. “Ada perlu apa ya?”                Briyanda yang tidak ingin melewatkan, segera saja bertanya. “Apa Bapak ada melihat seorang wanita yang akan menikah disini sekitaran sejam yang lalu?”                Pria itu tampak terdiam sejenak berusaha mengingatnya. Briyanda berharap kalau meta belum datang sama sekali. Tapi sepertinya itu hanyalah sebuah harapannya saja saat pria itu berbicara. “Wanita yang akan menikah? Memang benar tadi ada sekitaran sejam yang lalu dan itu sudah di langsungkan disini secara agama”                Sudah dilakukan?                Briyanda mengernyitkan alisnya bingung. “Berarti sudah ada yang menikah begitu Pak?”                Pria itu menganggukkan kepalanya. “Iya benar sudah ada yang menikah. Pasangan muda” pria itu lalu melirik Briyanda dari atas hingga bawah. “Mungkin seumuran dengan kamu”                Sama siapa kalau begitu Meta menikah. Apakah itu salah satu dari kedua sahabatnya? Tapi rasanya itu tidak mungkin. Apakah ada orang lain yang menggantikan posisi aku.                “Kalau saya boleh tau, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya pria itu penasaran.                “Oh. Tidak Pak. Saya sepertinya telat datang melihat acara teman saya yang menikah” Bohong Briyanda. “Kalau begitu terimakasih Pak. Saya pamit dahulu” Briyanda kemudian memusutkan untuk kembali berjalan ke arah sepeda motornya itu.                Dia tau betapa kecewanya Meta dengan dirinya saat ini dan menikah dengan pria lain mungkin sesuatu hal yang diluar dari rencananya. Dirinya sebenanrya juga tidak mau terlambat. Tapi keadaan yang membuat dirinya harus terlambat. Seakan ada saja halangan untuk dia bisa datang. Dia kemudian memutuskan untuk kembali menghubungi Meta. Berharap dia bisa menjelaskan semuanya, walau ini terkesan terlambat tapi dia harus mengatakannya agar tidak ada timbul kesalahpahaman diantara keduanya.                Panggilan demi panggilan nyatanya tidak ada satu pun yang di jawab oleh Meta. Menandakan bahwa tidak ada harapan bagi Briyanda untuk bisa menjelaskan kejadian sebenarnya seperti apa. Dia lalu mengusap wajahnya dengan kasar. “Ketidak beruntungan macam apa ini”                Tidak hanya menghubungi Meta, Briyanda juga menghubungi kedua sahabat Meta yaitu Perwira dan juga Vulkanik. Tapi tidak ada bedanya panggilannya, semua hanyalah memperdengarkan sang operator wanita yang menjawab bukan dari sang pemilik nomor.                Dia hendak saja ingin memutuskan untuk kembali pulang, motor miliknya itu sudah dia hidupkan dan siap untuk membawanya pergi, akan tetapi sebuah klakson membuat Briyanda menolehkan kepalanya.                “Maaf Bang” ucap seseorang yang melambaikan tangan ke arah dirinya.                Maaf?                Ulangi dirinya yang masih kaget dengan apa dia dengar barusan. “Meta?”                Meta yang menyembulkan kepalanya dari jendela sebuah mobil mewah itu kini sudah turun dan tampak berjalan tergesa-gesa menuju dirinya. “Maaf menunggu lama”                “Kamu baru saja datang?” tanya Briyanda yang berusaha memastikan.                Meta menganggukkan kepalanya. “Iya, tadi kelamaan di make up, tidak hanya itu saja jalanan yang macet membuat aku terlambat untuk datang. Mana kami menggunakan mobil lagi. Aku udah cemas kalau Abang yang tidak suka on time ini malah pergi begitu saja dan meninggalkan aku. Yang ada aku bisa stress Bang,”                Kedua sudut tepi mulut Briyanda lalu terangkat, melengkung ke atas. Sangat tipis tapi itu adalah sebuah momen tyang begitu langka. Hal ini jelas saja membuat Meta menjadi bingung. Bukannya terpesona, Meta malah menunjukkan raut wajah cemasnya.  “Udah lama nunggu Bang?” tanya Vulkanik yang tiba-tiba ikut nimbrung. “Jalanan macet banget Bang. Mana kami harus menjemput Pak penghulunya dulu”                “Tidak masalah karena aku juga baru sampai di sini” Jawab Briyanda.                “Syukurlah, aku mau nangis. Kalau saja Abang ga datang, aku bingung harus menikah dengan siapa” ucap Meta.                “Jelas sama akulah” celetuk Perwira dengan bangganya dan berdiri disamping Meta dengan sebelah tangan melingkar di bahu Meta.                “Tapi nyatanya aku datang dan aku yang akan menjadi suami Meta” Jawab Briyanda dengan bangganya. Netranya itu kemudian fokus menatap Meta yang ada di hadapannya ini. Seorang wanita yang terlihat sangat manly di kampus sudah berubah menjadi seorang wanita yang begitu anggun. Walau masih terlihat sisi dari manly­nya itu akan tetapi tidak mengurangi sisi wanitanya yang cantik ketika terbalut dengan gaun pernikahannya. Sebuah pemandangan yang begitu langka untuk bisa dirinya lihat.                Yah, wanita yang ada di hadapannya ini. Seorang wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Briyanda tidak pernah menyangka kalau dirinya akan menikah di usia semuda ini. Bahkan diluar dari rencana yang sudah dia tetapkan untuk tidak menikah dahulu sebelum dia tamat kuliah. Akan tetapi siapa menyangka Briyanda malah memutuskan menikah terlebih lagi atas dasar pernikahan karena sebuah taruhan. Miris memang dengarnya, sesuatu yang sakral hanya untuk sebuah taruhan.                Dari sekian begitu banyak wanita yang ada di luar sana. Dari beragam asalnya, kecantikan yang tiada tara dan banyak yang pintar. Akan tetapi dirinya malah memutuskan untuk bisa menikah dengan Meta. Seorang gadis biasa di kampus, memiliki penampilan tidaklah begitu cantik serta memiliki sisi seperti seorang pria. Tapi ada satu hal yang membuat Meta menarik. Gigi kelincinya itu akan selalu membuat Meta menjadi lebih gemas dari wanita manapun yang dia temui. Sebuah pemandangan yang akan dia sering lihat ketika dia bisa memiliki wanita ini seutuhnya sebagai seorang istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN