Bukan Batu Biasa Tapi Batu Ginjal

1871 Kata
        Di Usir.                Kata itulah yang menjadi topik hangat ketika Meta, Klandra dan Perwira keluar dari ruangan lab bahan bangunan. Kalau di usir secara halus sebenarnya tidaklah masalah. Akan tetapi mereka di usir dengan bentakan yang cukup kuat dimana teman sekelas Meta berada diluar bisa mendengar dengan jelas bentakan dari Briyanda tersebut.                Semua tau bagaimana dengan sikap Briyanda, akan tetapi tidak ada yang berani melawan atau menegurnya karena Briyanda memiliki kuasa untuk melakukan hal itu kepada adik kelasnya yang akan dia asistensi. Kejadian di usir ini bukan sekali dua kali dilakukan oleh Briyanda. Akan tetapi tidak ada yang pernah mendengar bentakan dari Briyanda semarah itu.                Semua bertanya-tanya apa yang telah di lakukan ketiganya dengan asisten Dosen mereka itu hingga bisa membuat amarah Briyanda sangat meledak-ledak.                  Meta yang sudah berdiri diluar lab segera menoleh ke belakang dengan tatapan penuh kebencian. Perwira yang melihatnya berusaha menahan lengan Meta. Dia tau apa yang akan dilakukan wanita itu nantinya. Hal yang sama juga di lakukan oleh Vulkanik. Lengannya sudah dia kalungkan ke lengan Meta. Mencegah agar Meta untuk tidak lepas dari pegangannya.                “Tahan amarah lu. Jangan terbawa suasana” ucap Vulkanik yang berusaha meredam emosi dari Meta. Namun Meta malah menatap nyalang ke arah Vulkanik. “Ini gak bisa. Dia udah keterlaluan. Aku akan bicara dengannya. Kalian tidak ada masalah sama sekali dan tidak terlibat. Tapi kenapa kalian juga terkena imbasnya. Aku tidak terima. Aku harus bicara dengannya. Sementang dirinya yang memegang kuasa. Tapi dia tidak bisa seenaknya begitu saja menggunakannya hanya untuk alasan pribadi”                “Tahan emosi lu bisa ga? Jangan marah-marah mulu nih anak.  Ga liat, anak-anak lain pada liat lu tuh” Perwira menaikkan dagunya menunjuk ke arah depan mereka dimana ketiganya kini sudah menjadi pusat perhartian.                Meta bukannya meredam emosinya, dia malah semakin meradang. “Tidak, aku tidak peduli sama sekali dengan orang-orang akan menatapku seperti apa. Yang lebih penting itu adalah kalian. Apa aku hanya diam saja ketika kalian diperlakukan seperti itu olehnya? Tidak. Aku tidak akan tinggal diam. Kalian tunggu disini biar aku yang masuk. Sejam lagi kalau tidak ada pergerakan dari aku, kalian baru masuk. Mungkin saja aku sudah menjadi abu olehnya karena kalah di medan perang” Dia lalu menepis tangannya dengan kuat. Berusaha lepas dari kedua sahabatnya dan buru-buru masuk kedalam.                Tanpa ada rasa takut sama sekali. Meta kembali masuk kedalam. Namun Briyanda sudah tidak lagi duduk dikursi kerajaannya itu. Namun Meta yakin kalau saat ini Briyanda ada didalam ruangannya. Hanya dengan sekali ketukan saja, sang empu yang berada didalam ruangan segera mempersilahkannya untuk masuk.                Briyanda kini sedang memutar tubuhnya kebelakang, memunggungi Meta yang kini menatap pria yang ada di hadapannya ini dengan kesal. “Permisi Bang, ada hal yang ingin saya katakan ke Abang.”                “Saya suruh masuk bukannya berdiri di depan pintu” Perintah Briyanda dengan nada dinginnya.                Meta mendenguskan nafas kesalnya dan melangkah kakinya untuk masuk kedalam walau kini tampak kesusahan dengan menggunakan kruk sebagai alat bantu dirinya berjalan.                  “Kurang jelas apa yang saya katakan ke kamu?” Briyanda lalu memutar kursi kerjanya itu ke depan dimana Meta kini sudah berdiri menatapnya dengan tatapan penuh kesal. “Kenapa menatap saya seperti itu. Siapa kamu diruangan ini hingga bisa menatap saya seperti itu”                “Maaf kalau tatapan saya seperti ini. Tapi tatapan saya kali ini sungguh tidak bisa saya tahan” Meta berjalan mendekat kemudian hendak saja ingin mendararatkan bagian belakangnya itu di kursi. Namun sebuah suara yang begitu dingin menghentikan Meta untuk duduk dengan nyaman di kursi.                “Siapa yang menyuruh kamu untuk duduk?”                Meta menelan salivanya dengan berat dan kembali menegakkan tubuhnya berdiri dengan menampilkan raut wajah sedihnya. Hanya duduk saja apa aku tidak boleh? Ga sadar dia sudah berapa jam aku berdiri. Lamanya bahkan mengalahkan upacara. Kaki sudah sangat pegal dan ingin lepas.                “Bang, saya mohon. Perwira dan Vulkanik sama sekali tidak bersalah. Jangan libatkan mereka Bang” Secepat kilat, nada bicara dari Meta yang awalnya akan memarahinya dengan mengeluarkan kata-kata mutiara itu seketika berubah mengeluarkan nada penuh penyesalan dan rasa bersalah.                “Mereka sama sekali tidak salah Bang. Orang yang harus disalahkan itu adalah saya. Abang gagalkan saja saya, tapi tidak dengan mereka. Perwira dan Vulkanik tidak ikut terlibat sama sekali” pinta Meta dengan nada memohon. “Saya mohon Bang”                Keduanya terdiam. Membuat Meta bingung harus bereaksi apa. Pria yang ada di hadapannya ini seakan cosplay menjadi sebuah patung.                Ini orang hobi banget memancing emosi. Katakan sesuatu kenapa? Apa alat perasanya itu tiba-tiba menjadi kelu atau bagaimana.                “Apa sudah puas berbicara dengan saya secara langsung dan berbicara dalam hatinya? Kalau sudah. Silahkan keluar” Briyanda lalu menunjuk pintu keluar dengan menggunakan dagunya.                Meta berdecak kesal dibuatnya. Pria ini sama sekali tidak ada hatinya sama sekali. “Bang, tidak bisakah Abang mempertimbangkan apa yang saya katakan. Saya tidak ingin kalau kedua sahabat saya harus gagal di pratikum ini Bang”                “Keluar” Titiah Briyanda.                “Bang, saya mohon. Dengarkan dulu penjelasan saya. Iya, saya salah yang dengan seenak jidat saya memaksa Abang untuk menjadi suami saya bahkan tanpa saya permisi dahulu ke Abang. Saya akui akan hal itu. Tapi Abang sama sekali—” Meta tiba-tiba mengeluh kesal. “Apaan sih pakai lepas segala. Katanya plaster mahal” Meta lalu menepuk dahinya itu, menempelkan kembali plaster demamnya yang nyaris lepas dari dahinya.                “Udah kaya Ibu-Ibu. Udah cocok jadi istri” ucap Briyanda yang kali ini nadanya tidak sedingin sebelumnya.                Meta yang mendengarnya, menaikkan sebelah alisnya. “Ibu-Ibu apanya, saya masih muda. Kuliah aja baru semester satu”                “Bayik” tambah Briyanda lagi.                “Enak aja aku bayi. Saya ini udah gede ya” jawab Meta dengan kesal. “Mana ada bayi bentukannya bongsor begini” dia lalu megerucutkan tepi mulutnya dengan kesal. Namun tiba-tiba menyadari akan sesuatu. “Tunggu, ini di luar konteks.” Protesnya.                Briyanda dengan raut wajah santainya, menaikkan kedua bahunya serentak. “Pintu keluarnya belum berpindah”                “Abang..” rengek Meta kesal. “Saya mohon Bang. Beri saya satu kali kesempatan lagi. Saya ingin Abang jangan menggagalkan Perwira dan Vulkanik. Saya aja yang gagal ga masalah. Saya ikhlas lahir batin”                “Saya tidak peduli dan saya tidak mau tau. Bagaimana?” Ucap Briyanda dengan raut wajah datar. Sangat datar, hingga rasanya ingin Meta tarik kedua pipi pria yang ada di depannya ini saking gemasnya untuk dia siksa.                “Itu urusan kamu, bukan urusan saya” raut wajah yang datar itu seketika berubah menjadi raut wajah yang penuh akan amarah. “KELUAR!” Bentak Briyanda dengan kuat hingga membuat Meta menaikkan kedua bahunya karena kaget.                Meta masih saja terdiam mematung. Luka apapun itu Meta bisa menahannya tanpa menangis sedikitpun, tanpa mengeluh. Tapi ada sesuatu yang bisa dengan mudahnya membuat Meta menangis.                Bentakan                Dirinya sangat membenci akan hal itu, dia tidak ingin ada orang lain yang membentak dirinya seperti apa yang dilakukan Briyanda barusan. Alhasil tanpa Meta sadari, matanya kini sudah tampak berkaca-kaca. Kedua netranya sama sekali tidak berpaling dari Briyanda. Dia masih menatapanya, berusaha untuk tidak pernah menangis. Akan tetapi semua itu luntur.                Bentakan awal Briyanda tidak membuat Meta menangis, karena dirinya saat itu di panggil oleh Dosen terkait mengenai kondisi dirinya. Namun ketika dia sudah kemballi lagi ke kelompoknya, baik Perwira dan Vulkanik hendak saja akan keluar dari lab. Jadi Meta sama sekali tidak mendengarnya secara langsung bentakan yang di berikan Briyanda.                Namun apa yang terjadi saat ini, dimana Meta sendiri yang merasakan dan mendengarkannya. Membuat mentalnya seketika menjadi kena.                Meta, lu gak boleh nangis. Pikirkan Mickey yang akan di ambil Klandra. Pikirkan mengenai nasib Perwira dan Vulkanik.                Meta mengepalkan tangannya dengan erat. Berusaha menahan air matanya yang perlahan-lahan mulai membasahi pipinya itu. Cepat-cepat Meta berusaha menghapusnya. “B—Bang..” Meta berusaha untuk mengembalikan suaranya yang saat ini terasa serak. “Saya mohon..”                “Ke—lu—ar” ucap Briyanda. “Saya tidak ingin mendengar apapun itu. Emangnya saya pedagang yang bisa kamu ajak tawar menawar.”                “Bang—“ Dengan menahan segala ego yang ada dalam dirinya. Meta lalu menunduk.                  Perwira dan Vulkanik adalah orang yang begitu berarti bagi dirinya. Jadi dia tidak akan mungkin membuat sahabatnya itu harus gagal di mata kuliah ini hanya karena dirinya. Meta tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Kedua sahabatnya itu selama ini sudah begitu banyak membantu dirinya.                Briyanda menggelengkan kepalanya. Menatap Meta dengan malas lalu meraih ponselnya yang ada di atas mejanya itu untuk dia mainkan.                Tega                Kata itulah yang pantas untuk dia berikan ke pria yang ada dihadapannya ini. Dalam diamnya, ingin sekali Meta menarik rambut pria ini dengan begitu kuatnya. Pria yang sama sekali tidak memiliki hati dan belas kasihan.                Tapi mengingat nyawa Mickey saat ini ada di tangan Briyanda. Membuat Meta seketika mengerucutkan tepi mulutnya itu sedih. “Jangan gagalkan mereka Bang. Mereka adalah sahabat yang begitu berarti buat saya dan juga mungkin ini terdengar begitu melunjak. Mickey adalah kesayangan saya juga Bang. Saya tidak ingin kalau mickey berpindah tangan ke pria lain. Dia adalah penyambung hidup saya.”                Keduanya kembali hening dan tidak ada yang berbicara sama sekali. Sungguh kesabaran dari Meta kali ini begitu di uji oleh makhluk yang bernama Briyanda.                “Sudah?”                Meta menaikkan kepalanya, menatap Briyanda. Kedua iris mereka saling bertemu satu sama lain selama beberapa detik. “Belum, saya tidak akan menyerah sebelum Abang tidak menggagalkan kedua sahabat saya dan juga mau membantu saya” pinta Meta sekali lagi.                Briyanda lalu berdecak. “Batu” dia meletakkan ponselnya di atas meja, berdiri dari kursinya kemudian berjalan keluar meninggalkan Meta seorang diri. Dari posisinya, Meta menatap Briyanda berdiri sembari melongo.                “Arrgghh.. pria itu” gerutu Meta kesal. Tangannya lalu terkepal dan meninju udara.                “Aku tidak akan menyerah sama sekali” ucap Meta dengan penuh amarah. Dengan kasar dia lalu mengusap air matanya. Memegang kruknya dengan erat dan memutuskan untuk keluar.                Perwira dan Vulkanik yang melihat sahabat mereka keluar dari lab segera saja mendekat dan menghampirinya. “Lu ga kenapa-kenapa kan? Hampir aja aku dan Perwira mau masuk kedalam” panik Vulkanik. Dia kemudian menatap Meta dari atas hingga bawah. Memastikan kalau sahabatnya ini tidak kenapa-kenapa. Tak lupa dia kemudian mengecek suhu tubuh Meta dengan punggung tangannya.                “Parah, ga normal. Suhu tubuh lu panas banget” cemas Vulkanik. Meta yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya. “Sans aja, ini ga parah”                “Kita kerumah sakit segera. Lu kalau di biarkan bukannya tambah sehat yang ada lu ngedrop” sahut Perwira yang sudah jongkok dihadapan Meta. “Naikkan Meta ke punggung aku, nih anak pasti udah ga kuat lagi”                Vulkanik segera saja membantu Meta. Namun Meta menolaknya. “Aku masih bisa jalan. Kalian tidak perlu mencemaskan aku sama sekali”                “Kalau lu ga mau, jangan harap mau berteman dengan kami lagi” ancam Perwira.                Perwira bukan orang yang main-main dengan perkatannya. Hal ini jelas saja membuat Meta menjadi takut. Dia akhirnya mengalah, pasrah dengan Perwira kini tengah menggendongnya di belakang.                Sejujurnya, Meta memang sudah sangat lemah saat ini. Hanya tekad dan keinginannya saja yang kuat untuk bisa bertemu dengan Briyanda. Mungkin Meta berpikir dia perlu beristirahat sejenak. Dan setelah kondisinya mulai sedikit membaik, Meta berencana untuk kembali berbicara dengan pria yang tidak memiliki hati sama sekali.                Briyanda Jayanegara Yeyar Ages, mahasiswa semester lima yang terkenal dengan sikap batu ginjalnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN