Tiga serangkai ini kompak duduk terdiam sejajar menatap kearah jalanan dimana dibatasi oleh sebuah kaca café tempat ketiganya nongkrong saat ini. Seperti anak kembar tiga. Mereka menopang dagu mereka dengan sebelah tangan dan tangan yang lain memegang minuman masing-masing.
“Gimana ini, aku tidak bisa hanya diam saja. Ini sudah berlalu sehari. Aku ingin menangis rasanya. Tapi aku terlalu lelah untuk melakukannya” ucap Meta dengan lesu dengan raut wajah di tekuk sedih.
Niat hati ingin mencari tambahan uang, siapa sangka itu malah membawa petaka pada dirinya sendiri. Terlebih lagi itu dia harus berurusan dengan pria yang bernama Klandra. Pria yang selalu saja mengusik kehidupannya bahkan sejak dirinya menginjakkan kaki di kampus teknik Steorra.
“Dari semua pria, kenapa lu harus berurusan dengan Bang Bri sih.” Celetuk Vulkanik. Meta menoleh ke samping dan mendenguskan nafas kesalnya. “Lu kira? Aku juga ga mau kalau harus berurusan dengan tuh orang” Dengan kesal Meta lalu menekan plaster demamnya yang terasa mau lepas di dahinya. “Ini juga plaster lepas mulu. Udah aku ganti tetap aja lepas”
Sejak dia jujan-hujanan dua hari yang lalu, membuat Meta terserang demam dan hingga kini demamnya itu belum juga turun. Dia memang mudah terserang demam kalau sudah terkena hujan. Tapi dirinya yang sama sekali tidak peduli akan demam yang menyerangnya itu, dia selalu memaksakan tubuhnya untuk beraktifitas seeperti biasa dengan plaster demam menempel di dahinya.
“Aw!” Ringis Meta saat dahinya ditepuk oleh sebuah kantong plastik. “Kurang lemah tak berdaya apa aku sekarang. Dan lu tega mukul aku?” kesal Meta. Vulkanik hanya menggelengkan kepalanya. Membuka kantong plastik yang dia bawa, meraih isinya dan kemudian membuka satu buah saset plaster demam.
“Ini aku belikan yang mahal buat lu. Dijamin ga bakalan lepas kaya punya lu sekarang” Vukanik lalu menarik tengkuk Meta untuk mendekat ke arahnya. Melepaskan plaster yang ada di dahi Meta kemudian menggantinya dengan miliknya. Terakhir dia mengembuskan nafasnya dengan kuat pada plaster Meta lalu berkomat kamit. “Tolong plaster penurun demam mahal. Sembuhkan demam dari wanita bandel ini”
Meta mencibir kesal sebentar lalu dia terkekeh. “Kalau nih plaster ga bisa nurunin demam aku. Berarti doa lu ga manjur”
“Manjur, ini plaster udah dipakai sama Mew. Jadi ga mungkin ga manjur” mendengar nama Mew di sebut, membuat Meta tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya. “Mew yang pakai? Kenapa ga dari dulu lu bilang? Kalau gitu setiap aku demam, aku akan beli plaster ini.”
Perwira menggelengkan kepalanya, memegang puncak kepala Meta lalu memutarnya ke arahnya. “Sadar diri. Emangnya ada uang? Gaya banget”
“Itu gunanya kalian. Aku bisa minta belikan ke kalian” Meta lalu tersenyum dengan begitu bahagianya. Membuat Perwira hanya bisa menggelengkan lagi kepalanya. “Mew ganteng ya?”
Meta dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Jangan di tanya. Mew itu selalu aja ganteng. Ga terhingga sepanjang masa. Udah cakep, pintar, kaya, bisa nyanyi. Semua udah pakai komplit”
“Oh gitu, jadiin aja dia suami lu kalau gitu.” Celetuk Vulkanik yang seketika membuat raut wajah Meta berubah menjadi murung.
“Ngerusak mood aku aja lu. Aish, gimana caranya agar bisa membujuk si Bri itu. Dia itu bukan lagi batu, tapi batu ginjal. Ditetesi air juga berabad-abad ga bakalan berlubang” keluh Meta, dia lalu menyandarkan dagunya ke lipatan tangannya yang ada di atas meja.
“Ini setengah jam lagi kita asistensi. Lu mau ga mau harus ketemu dengan tuh orang. Aku mohon banget ama lu, Met. Jangan berulah, tahan dulu emosi lu bisakan?” Pinta Perwira dengan raut wajah garangnya itu.
“Iya, aku tau. Ga bakalan mungkin aku melibatkan masalah pribadi aku dalam urusan kampus. Tentu saja aku harus bersikap profesional. Cuma masalahnya tuh orang bisa ga profesional?”
Ketiganya kemudian kompak menghela nafas berat. Sebenarnya jauh dari lubuk hati mereka yang terdalam. Ketiganya sudah pasrah akan nasib asistensi mereka nantinya. Mengingat Briyanda tidak akan dengan mudahnya melepaskan target bidikannya yang dimana itu adalah Meta.
“Maafkan aku sobat.” Cicit Meta dengan lemah.
“Tidak ada kata maaf buat lu” sarkas Perwira
“Aku mau lulus mata kuliah ini” keluh Vulkanik kesal.
*
Ketiganya sama sekali tidak ada yang mau berbicara. Entah skenario apa yang sedang di rencanakan oleh Briyanda. Dari lima orang yang sekelompok dengan meta. Dua orang dari mereka sudah keluar sejam yang lalu karena sudah berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Briyanda. Tidak hanya itu saja, laporan pratikum mereka sudah di acc. Membuat ketiga sahabat sohib ini hanya bisa menatap kedua teman mereka dengan iri.
Pertanyaan yang diberikan oleh Briyanda sangat sulit untuk bisa di jawab oleh ketiganya. Selain karena mereka yang sudah lelah belajar dan tidak mau membaca modul laporan, tapi sebenarnya adalah Perwira merasa kalau ini sebuah dendam tersirat yang sedang di berika Briyanda untuk mereka bertiga.
Mereka berempat masih saja bungkam tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. Meta, Perwira dan Vulkanik takut mengatakan sesuatu yang salah dimana itu akan memicu amarah dari Briyanda.
Makhluk kaya apa sih ini. Demi apa akhlaknya minus banget. Mau sampai kapan kami di diamin begini. Kalau ga lulus mending bilang dari pada kami harus menunggu disini dengan ketidakpastian.
Meta lalu meliriik kedua sahabatnya yang terlihat tenang. Dia takut keduanya bisa saja tertidur. Tapi yang di lakukan Vulkanik diam-diam adalah menghitung jumlah semut yang ada dilantai. Sementara Perwira, pria itu sedang menoleh ke arah samping dimana itu terdapat Kakak tingkat sedang melakukan pratikum ketika salah satunya terkenal dengan kecantikannya.
Parah nih anak berdua. Aku kira cuma aku saja yang ketar ketir di gantungin begini.
Ke empatnya masih betah dengan posisi mereka. Kalau tidak salah setengah jam lamanya Briyanda sedang menutup telinganya menggunakan earbud kesayangannya sembari menonton film. Meta benar-benar berusaha mengelus bosomnya saat ini melihat kedua sahabatnya dan seorang seniornya.
Tahan Meta, lu gak boleh terpancing emosi. Karena yang memancing itu hanya ikan bukan emosi.
“Ekhem”
Baru saja Meta berusaha untuk menahan emosinya, namun semua itu seketika sirna. “Bang. ini sudah setengah jam lamanya kami hanya berdiri disini”
Perwira dan Vulkanik yang mendengarnya seketika menkoleh ke arah Meta. Namun Meta bukan menyesali perbuatannya, dia kembali berbicara. “Apa yang harus kami lakukan Bang?”
Briyanda seketiak melepaskan earbud miliknya dan menatap ketiga adik tingkatnya ini datar. “Kenapa tidak menanyakan hal ini dari tadi? Saya ingin kalian sendiri yang meminta untuk di usir.