Huacim..
Meta menggosok pangkal hidungnya yang terasa gatal. Sesekali mengisap cairan yang ada di hidungnya. Pagi ini, kepalanya terasa begitu sakit. Akan tetapi Meta sama sekali tidak ingin bolos lagi dikelas. Dia tidak ingin menambah bebannya sendiri membiayai uang kuliah satu semester lagi.
Badannya juga terasa tidak enak saat ini, akan tetapi dengan tekad yang kuat. Meta kini akhirnya sudah sampai di lobby kampus. Bahkan dia datang lebih pagi dari biasanya. Dimana bahkan belum banyak mahasiswa bertebaran.
Niatnya datang pagi kali ini bukan untuk asistensi dengan Dosen ataupun dengan Asdos. Jadwal kuliahnya ada disiang hari. Akan tetapi Meta berniat untuk bertemu dengan Briyanda di pagi hari.
Berdasarkan ingatannya akan kabar mengenai Briyanda. Kalau pria itu akan selalu datang lebih pagi dan akan berada di ruang lab sebelum pria itu masuk kedalam kelas.
Meta jelas saja tidak menyiakan kesempatan yang ada. Dia segera saja berjalan ke arah Lab. Suasana yang masih tidak ada orang ini, akan semakin mempermudah baginya untuk bisa bertemu dengan Briyanda.
Demi motor kesayangannya. Membuat Meta segera saja melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah ruangan yang dimana diperuntukkan khusus buat Briyanda. Apalagi kalau bukan anak emas kampus jurusan sipil yang dimana kepintarannya tidak perlu di ragukan lagi.
Tok// Tok//
Meta mengetuk pintu perlahan. Dia harus pandai mengambil hati pria yang ada dalam ruangan tersebut. Akan tetapi Ketukan pertama seakan tidak memberi izin bagi Meta untuk masuk. Namun dia sama sekali tidak berniat untuk menyerah. Meta kembali mengetuk untuk kedua kalinya. Kali ini dengan sedikit kuat dari sebelumnya.
Apa dia tidak mendengar? Ok, aku akan ketuk yang ketiga kalinya. Awas aja kalau ga di buka.
Ketukan ketiga kalinya jaiuh lebih kuat. Tapi tidak ada terdengar sebuah suara yang menyahut, membuat Meta mendenguskan nafas kesalnya. “Dih, ini orang kupingnya ga di pasang apa gimana? Masa ga dengar sama sekali”
Tangan Meta sudah terkepal dengan begitu eratnya dan ingin meninju pintu itu dengan kuat. Akan tetapi akal sehat dari Meta segera saja mencegahnya. Membuat dirinya kembali mengetuk. “Bang..” kini akhirnya Meta bersuara. “Bisakah saya masuk. Ada hal yang ini saya bicarakan” Meta tidak bisa tinggal diam saja mengingat akan ada orang yang masuk kedalam lab dan membuat Meta akan kesulitan berbicara dengan Briyanda.
“Dih, kemana sih ini orang. Aku harus bicara dengannya” ngomel Meta sembari mendenguskan nafas kesalnya lagi. “Tidur kali ya dia di dalam”
Entah sudah berapa kali Meta mengetuk pintu itu dan berusaha memanggil sang empu untuk segera keluar. Hingga akhirnya Meta menyerah. Dia tidak ingin menghancurkan pintu yang ada didepannya ini dan menyeret sang penghuni ruangan untuk keluar. Jadi Meta memutuskan untuk membalikkan badannya untuk pergi.
Kruk yang dia gunakan untuk membantunya berjalan itu seketika terjatuh. Membuat tubuh Meta terjatuh kesamping. Iris matanya seketika membola besar. Semua kata-kata yang ingin dia keluarkan dengan sumpah sarapan itu tertelan saat ia menelan salivanya berat.
Lidahnya yang dia gunakan untuk berbicara itu menjadi kelu. Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya. “B-Bang?”
Briyanda yang sedari tadi sudah berdiri di belakang Meta hanya menatapnya datar. Mendengarkan semua omelan dan segala sumpah sarapah mengenai dirinya. Dia lalu melipat kedua tangannya. “Apa sudah puas mengatai aku?”
Meta dengan cepat menggelengkan kepalanya. “B-Bukan se-seperti itu Bang” ucap Meta yang terbata-bata.
“Jadi kalau bukan apa? Tidak ada sopannya sama sekali. Seenaknya saja mengatai seseorang dibelakangnya. Sikap kamu nol dimata saya. Saya akan berikan kamu nilai E.” Briyanda lalu berjalan melewati Meta begitu saja. sementara Meta dengan sigap segera memeluk kaki Briyanda. “Bang, maaf Bang. Aku mohon maafkan aku. Dan aku aku mohon bantu aku juga”
Briyanda menundukkan kepalanya kebawah menatap Meta yang kini menatap dirinya dengan raut wajah memelas. “Tidak” dengan kasar dia menghentakkan kakinya ke samping. Berusaha untuk melepaskan Meta. Ketika Meta lepas dari kakinya. Dia segera masuk kedalam lab dan membanting pintunya itu kuat.
Meta terdorong ke samping dan kemudian terbatuk. Sakit kepalanya yang dia rasakan tadi pagi malah semakin bertambah kuat saat ini. Namun dia berusaha menekann rasa sakitnya. Hanya karena untuk bertemu dengan Briyanda dan berharap pria itu mau menolong dirinya.
Tahan Meta, tahan. Jangan sampai Mickey lepas dari genggaman lu.
Dia lalu memijat pelipisnya sebentar, berusaha untuk menegakkan tubuhnya kembali. Mengetuk pintu Briyanda. “Bang, lima menit aja. Lima menit dengarkan penjelasan aku. Aku ingin Abang mau membantuku” Nada bicaranya kini semakin melemah. Efek dia kehujanan kemarin malamlah pemicu kondisi tubuhnya yang menurun.
“Bang..”
“Hanya abanglah harapan aku satu-satunya. Aku tidak ingin kehilangan Mickey”
“Mickey begitu berharga bagi aku Bang”
Meta menghela nafasnya. Amarahnya yang menggebu di awal itu seketika menghilang. Meta tidak ingin kalau dirinya pingsan didalam lab. Jadi dia memutuskan untuk mengalah, mengurungkan niatnya dan segera saja berjalan ke luar ruangan.
Tapi karena kondisi tubuhnya yang masih melemah. Membuat dirinya memutuskan untuk duduk di bangku depan lab. Tangannya lalu memijat pelipisnya sendiri. “Sakit banget kepala aku” monolog Meta.
Perwira yang merupakan asisten lab dan Dosen jalan raya, datang lebih dan dibuat terkejut dengan keadaan Meta yang tampak lemah. “Lu kenapa?” tanya Perwira cemas.
Meta menatap sahabatnya itu kesal. “Kemana aja lu?” kesalnya disela-sela rasa sakit kepala yang menghantuinya kini.
“Seharunya aku yang bertanya sama lu, lu kemaren kemana aja. Udah di kabarin lu ga ada nyahut sama sekali chat dari kami. Sampai sekarang lu juga ga ada balas chat” jawab Perwira yang tidak mau disalahkan. “Lu ga kenapa? Wajah lu pucat banget.”
Meta yang tidak menghiraukan kekhawatiran dari Perwira, berusaha mencari ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dia segera saja mengecek layar segi empat pintarnya itu. “Parah, aku kehabisan paket”
Perwira menggelengkan kepalanya, mengarahkan punggung tangannya mengecek suhu tubuh Meta. Sebelum tangan itu menyentuh dahi Meta. Buru – buru Meta menepisnya dan menepuk dengan kuat tangan Perwira. “Jangan sentuh aku sembarangan”
Tapi tindakan Meta itu justru membuat Perwira merasakan sesuatu yang tidak beres dalam diri Meta. “Ga ada cerita, kita harus kerumah sakit sekarang”
“Ga, aku ga mau. Aku mau bertemu dengan Bang Bri. Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja. Nyawa Mickey sedang di pertaruhkan saat ini. Aku tidak ingin kalau Mickey jatuh ke pelukan Klandra” cicit Meta. “Mickey sangat berarti banget buat aku, Perwira”
Perwira menatap Meta dengan bingung. “Apa maksud lu, Meta?” Dia terdiam sejenak kemudian melanjutkan. “Jangan bilang kalau pria yang jadi suami lu itu..” Perwira masih belum begitu yakin dengan apa yang dia katakan. Hanya saja dia yakin dengan sikap Meta saat ini. Pasti sudah terjadi sesuatu.
Sebenarnya, kejadian kemaren sungguh diluar rencana dari mereka. Dia dan juga Vulkanik secara serentak dipanggil Dosen saat akan menyusul Meta. Di sisi lain, Gio yang merupakam suami bohongan dari Meta itu, tidak sengaja mengalami kecelakan. Yang menyebabkan pria itu harus masuk rumah sakit.
Perwira dan Vulkanik sudah berusaha untuk menghubungi Meta. Namun karena keduanya sedang di sibukkan akan tugas yang diberikan sang Dosen dan juga Meta sulit dihubungi membuat keduanya tidak bisa menjelaskan kejadian sebenarnya kepada Meta.
Meta mengkerucutkan bibirnya sedih. “Perwira, aku ga mau kehilangan Mickey. Itu adalah harta paling berharga peninggalan Bunda. Apapun akan aku lakukan agar Mickey terus bersama denganku”