Aku Tidak Peduli dan Aku Tidak Mau Tau.

1230 Kata
        Meta menggigit bibirnya dengan kuat, menatap kepergian dari Klandra begitu saja saat mengatakan kalau dirinya harus memberikan sebuah bukti jika dirinya memang sudah menikah dengan Briyanda. Dia menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Motor kesayangannya itu tidak akan bisa jatuh kedalam pelukan Klandra. Itu adalah motor kesayangannya, sebagai alat bagi dirinya untuk mencari uang dengan cepat kala saja dia butuh uang banyak. Tapi dari itu semua, sebenarnya motor itu memiliki kenangan tersendiri bagi dirinya yang tidak akan bisa di nilai dengan apapun itu.                Briyanda yang sedari tadi menatap Meta, menatap wanita itu dengan kesal. Bagaimana mungkin dirinya bisa dijadikan suami dari wanita yang merupakan adik kelasnya ini di kampus. Dirinya yang sudah tidak tahan kembali menjentikkan tangannya di dahi Meta. “Kamu mengingau atau bagaimana?”                Rasa sakit yang dirasakan Meta, membuat dia tersadar dan segera saja memandang Briyanda kesal. Akan tetapi raut wajah kesalnya yang ingin memakan Briyanda itu seketika berubah menjadi raut wajah yang memelas. “Bang” ucapnya dengan memelas. Tangannya hendak saja meraih tangan Briyanda, namun dengan cepat Briyanda segera menghindar.                “Bang, bisakah kita bicara sebentar saja. Ada hal yang ingin aku katakan. Aku mohon” Pinta Meta.                Namun Briyanda yang memang sudah ada janji dengan Janu membuat dirinya dengan mudah menolak tanpa harus berpikir mencari alasan. “Aku tidak memiliki waktu. Minggir”                Meta dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku tidak akan minggir. Sebelum Abang mau mendengarkan perkataan aku.”                Briyanda yang tetap kukuh, berusaha mencari jalan lain agar dirinya bisa berjalan, namun Meta kembali menghalanginya. “Bang, aku mohon” dia lalu meraih tangan Briyanda.                “Minggir!” bentakan Briyanda yang kuat itu membuat Meta terlonjak kaget dan tanpa sadar segera meremas tangan Briyanda. “Minggir, aku ada keperluan mendesak. Jangan halangi aku.”                “Aku mohon Bang” nada bicara Meta yang terdengar lemah dan sedikit bergetar itu tidak menyurutkan niat Briyanda sama sekali untuk menjauh dari Meta. Dia lalu mencari jalan lain dan pergi meninggalkan Meta begitu saja.                Meta hanya berdiri mematung menatap kepergian dari Briyanda. Setelah itu dia baru menyadari kalau para pengunjung café pada melihat dirinya dan saling berbisik satu sama lain. Samar-samar Meta bisa mendengar beberapa percakapan.                “Sang wanita selingkuh terang-terangan. Padahal pacarnya cakep begitu. Kurang apa sih pacarnya”                “Parah banget tuh wanita, udah ada pacar secakep itu masih saja mau selingkuh”                Mendengar hal itu, Meta hanya menatap para pengunjung itu datar. Mereka yang tidak tau apa-apa malah mengatakan yang tidak-tidak tentang dirinya. Dia lalu menoleh ke luar jendela café yang langsung menghadap parkiran motor dimana memperlihatkan Briyanda sudah menaiki sebuah motor vespa miliknya.                Meta buru-buru berjalan berusaha untuk menyusul Briyanda. Dia harus bisa berbicara dengan Kakak tingkatnya di kampus itu. Dia tidak bisa membiarkan Briyanda lolos dari genggamannya. Motor kesayangan miliknya itu adalah taruhan terbesar bagi dirinya.                Menggunakan kruk, Meta berusaha untuk mengejar. Namun sayang karena langkahnya yang tidak bisa cepat itu membuat Briyanda lebih dahulu pergi. Meta yang tidak kehabisan akal, memutuskan untuk menggunakan taksi yang tak jauh dia berada. Bahkan Meta tidak peduli dengan pengeluaran barunya akan biaya tax taxi. Baginya Briyanda adalah prioritas pentingnya.                Meta terus saja membuntuti Briyanda yang mengarah pada salah satu studio musik. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh, membuat Meta tidak terlalu banyak mengeluarkan uang. Dia lalu tidak lantas menemui Briyanda. Meta memutuskan untuk menunggu pria itu di luar. Dia juga tidak ingin kegiatan dari Briyanda terganggu akan dirinya.                Beberapa kali Meta mengusap lengannya yang terasa dingini. Cuaca hari ini sungguh tidak bersahabat. Langit-langit mulai diselimuti awan gelap. Tidak hanya itu saja. Angin-angin mulai berhembus dengan kencang membawa beberapa dedaunan.                “Lama banget ya latihannya? Apa dia ga latihan tapi jadi pekerja disana?” monolog Meta.                Dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai Kakak tingkatnya ini, karena bagi Meta jika itu bukan sesuatu yang penting, dia tidak akan perlu bersusah payah mencari tahu seseorang.                Waktu sudah menunjukkan hampir malam. Angin kencang masih saja menerpa tubuhnya. Meta tidak boleh menyerah akan keadaan ini. Jadi dia berusaha untuk bertahan dan berdoa kalau Briyanda segera saja keluar.                Kesabaran dan kegigihannya itu membuahkan hasil saat dia melihat sosok yang dia tunggu itu akhirnya keluar. Meta segera saja bangkit dan berusaha untuk mendekati Briyanda.                “Bang..” panggilnya.                Briyanda yang saat itu tengah memakai helmnya menoleh kebelakang dan terkejut dengan kedatangan Meta di studio biasa dia latihan. “Lu?”                Meta menganggukkan kepalanya. “Bang, bisakah kita bicara sebentar saja Bang. Tidak akan lama. Hanya akan memakan waktu sepuluh menit saja”                “Aku sibuk, aku mau pu—” ucapan Briyanda seketika terhenti saat air turun dengan derasnya dari langit. Membuat Briyanda segera saja berteduh.                “Kakak tidak sibuk sekarang” Meta lalu tersenyum. Dia bersyukur dengan Hujan yang turun tiba-tiba saat ini. Seakan memberi jalan bagi dirinya. “Bisakah aku berbicara sembari Kakak menunggu hujannya reda?”                Briyanda menoleh ke arah Meta dan memutar bola matanya dengan malas. “Apalagi yang lu mau bicarakan? Aku bukan suami, lu Metana. Suami lu itu Mew”                “Aku tidak tau darimana Abang mengetahuinya. Tapi yang jelas kalau Mew itu bukan suami aku. Dia hanyalah suami halu.” Jelas Meta.                               “Aku tidak peduli dan aku tidak mau tau. Tapi yang jelas kalau lu bukanlah istri aku.” tegas Briyanda.                “Bang, cuma lu harapan aku satu-satunya. Bang, Abang maukan jadi suami aku” pinta Meta.                “Tidak!” ketus Briyanda.                “Bang, aku mohon jadi suami aku. Abanglah harapan aku, aku mohon” kali ini Meta mengeluarkan nada menyedihkan miliknya.                Bukannya menjadi iba. Briyanda lalu berdecih. “Aku tidak peduli”                “Bang, kali ini dengarin penjelasan aku dulu. Cuma Abang yang bisa bantu aku sekarang.”                Meta tidak bisa berhenti memohon. Hancur sudah rencana awal yang dia buat. Niat awalnya sebenarnya bukanlah Briyanda yang dia jadikan sebagai suami bohongannya. Tapi itu adalah senior mereka yang bernama Gio. Tapi entah bagaimanana, Gio sama sekali belum menampakkan batang hidungnya disana. Dan malah menjadikan Briyanda sebagai suaminya dihadapan Klandra.                “Itu adalah masalah lu, Meta. Aku mempunyai hak untuk menolak membantu kamu”                “Aku akan melakukan apapun itu, tapi aku mohon hanya kali ini saja Abang membantuku. Seumur hidup aku akan sangat berterima kasih dengan kebaikan yang telah Abang lakukan kepadaku”                Briyanda hanya memutar bola matanya malas dan memilih untuk menatap ke arah parkiran dimana motor kesayangannya itu berada sedang kehujanan disana.                “Aku mohon Bang. Motor itu sangat berarti bagi aku. Aku tidak bisa menyerahkannya begitu saja kepada Klandra.” Sesekali terdengar isakan kecil disana. Tapi Briyanda yang kukuh tetap tidak membuat dirinya mengiyakan apa yang di katakan Meta.                “Lu ikut balapan dan siap taruhan seharunya sudah siap dengan kekalahan yang ada. Kenapa lu seakan tidak mau menerima kekalahan lu. Mental tempe banget lu jadi orang. Sportif. Kalah ya motor kesayangan lu itu harus ikhlas buat di berikan ke orang lain”                “Abang tidak akan mengerti”                “Aku memang tidak mengerti, jadi berhentilah untuk menjadikan aku sebagai suami kamu.” Briyanda melirik ke kiri dan ke kanan. Dia lalu berjalan lebih dahulu keluar.                “Abang” panggil Meta                Briyanda yang tidak memperdulikan panggilan dari Meta, memilih untuk menghidupkan motor kesayangannya itu dan pergi begitu saja meninggalkan Meta yang kini menatapnya kesal.                “Ya Tuhan, kalau aku tidak bisa menjadikan Bang Briyanda sebagai suami aku, apa yang harus aku lakukan” monolog Meta dengan sedih.                Ya Tuhan, kenapa aku harus mengalami kejadian seperti ini. Aku tidak melakukan kriminal apapun.         
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN