Sikap Aneh Pagi Hari yang DItunjukkan Meta

1091 Kata
        Pagi hari dimana mahasiswa sama sekali belum banyak yang berdatangan. Akan tetapi Meta sudah berada di kampus. Sebuah pemandangan yang begitu langka sebenarnya mengingat Meta bukan anak yang rajin. Dia akan lebih suka datang telat dan mepet akan masuk ketimbang harus datang lebih dahulu.                Tapi kehadiran Meta yang lebih dahulu di kampus ini bukan tanpa alasan. Dia datang ke kampus sembari mengerjakan laporannya yang begitu banyak dan saat ini sudah mepet deadline—nya. Selesai tugas yang satu, Meta bukannya berhenti mengerjakan tugasnya akan tetapi dia lanjut mengerjakan tugas yang lain.                Beberapa mahasiswa yang melihat tingkah Meta jelas saja terkejut. Meta yang terkenal bandel ini seakan menjadi mahasiwa yang baik budi banget kelakuannnya dimana berubah ke mode mahasiswa rajin.                Perwira yang selalu saja datang lebih dahulu dari kedua sahabatnya itu seketika dibuat terkejut dengan kehadiran Meta yang tiba-tiba. Dia memutuskan untuk mendekat, duduk disamping Meta. “Ini Metana Alga Bermuda?” Tanya dia seakan tidak percaya.                Meta yang terlihat begitu fokus, bahkan tidak menyadari keberadaan dari Perwira. Melihat bagaimana Meta tidak menyadari keberadaanya. Perwira lalu menarik laporan yang menjadi contoh bagi Meta salin saat ini. Meta lalu berteriak kesal. “Hei!” Meta kemudian menoleh kesamping dan ketika melihat siapa yang sudah memancing amarahnya dia malah semakin tersulut emosi. “Aku harus mengerjakannya.” Meta kemudian merampasnya kasar dan kembali menulis laporannya yang sempat tertunda.                “lah, tugasnyakan sore nanti. kenapa lu rajin banget. Makan siang nanti kita bisa ngerjainnya.” Meta bukan anak yang rajin, jadi hal ini jelas saja membuat Perwira jadi penasaran. “Lu makan siang nanti ada kerjaan lagi emangnya?”                “Tunggu aku menyelesaikan ini dulu. Nanti baru aku akan jelaskan alasannya apa” Perwira dengan sabar menunggu Meta untuk menyelesaikannya. Dia begitu penasaran dengan sikap Meta sekarang. Entah kesambet apa hingga membuat Meta begitu aneh saat ini.                Tak lama kemudian, Vulkanik datang. Rambut kincirnya itu bergerak kesana kemari dengan warna blonde terang miliknya itu. Ketika dia melihat kedua sahabatnya itu sedang duduk didepan bangku lab. Membuat dirinya juga ikut duduk disana. Netranya itu menatap Meta yang kini sedang sibuk.                “Ngerjain apa nih anak? Apa ada tugas yang tidak aku ketahui?” tanya Vulkanik.                “Tugas bahasa indonesia bisa kita kerjakan saat makan siang nanti. Tapi nih anak kukuh mau ngerjain sekarang. Entah apa yang ada di kepalanya saat ini.” jawab Perwira, menatap Meta sebentar dan kembali bermain dengan ponselnya.                “Mau kemana lu sebenarnya?” tanya Perwira.                “Hush, diam dulu. Aku harus mengerjakan ini sebelum kita masuk” Mendengar Meta mengatakan seperti itu membuat Vulkanik menyerah dan membiarkan Meta untuk mengerjakannya. Lagiajndia tidak tega menganggu Meta yang sangat serius mengerjakan tugas.                Ketiganya hening dengan kegiatan mereka masing-masing dan terlihat tidak ada yang mengganggu satu sama lain. Hingga akhirnya Meta menjatuhkan penanya ke meja dan segera saja merengtangkan tangannya ke atas, merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku karena di porsir untuk menulis dengan begitu cepat akan tetapi masih bisa terbaca.  “Selesai” Ucapnya dengan begitu senang.                “Udah selesai tugas bahasa indonesia, bahkan aku juga sudah selesai mengerjakan mekanika rekayasa” ucap Meta. Yang membuat kedua temannya itu saling menoleh satu sama lain. Sekali rajinnya Meta kali ini sungguh tidak ketolongan sama sekali.                “Ini beneran Meta? Rajin amat lu. Motivasi apa yang lu dapatkan emangnya?” Tanya vulanik penasaran. “Atau paling tidak makhluk astral gabut yang masuk kedalam tubuhnya ini pasti”                “Ada hal yang ingin aku katakan kalian. Tapi aku harap kalian juga bisa menyalin tugas ini segera bagaimana caranya. Karena aku tidak akan masuk kelas seharian ini. Tidak, bukan hanya aku saja tapi kalian berdua juga tidak akan masuk kelas hari ini” Perwira mengernyitkan dahinya. Walau diantara ketiganya perwira bukan orang yang begitu cerdas. Akan tetapi dia tidak suka salah satu di antara mereka yang berniat untuk bolos Karena bagi Perwira pendidikan adalah nomor satu. Identitas dan juga pembuktiannya kuliah selama ini bisa terlihat.                “Apa yang lu pikirkan. Bagaimana mungkin aku bisa bolong” protes Perwira.                “Ini masih kuliah awal, bagaimana mungkin aku dengan mudahnya mengambil jatah. Jika terjadi sesuatu nanti bagaimana” Tolak Vulkanik yang tidak setuju akan ajakan Meta kali ini.                “Kalianbharus mendengarnya apa yang aku katakan saat ini. Tapi intinya itu tidak disini” Meta kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan. “Kita bicarakan ini di mobil lu saja deh Perwira” Perwira yang merasa bahwa ada sesuatu terjadi menimpa Meta kini menjadi penasaran. “Ketidakberuntungan apa yang kini menimpa lu? Tumben banget mau ngajak bicara di dalam mobil aku”                “Kalian penasaran tidak dengan apa yang akan aku katakan? Kalau tidak penasaran sih tidak masalah. Jangan salahkan aku kemudian hari. Karena aku sudah berniat mengatakannya. Hanya saja kalian yang tidak mau mendengarkannya sama sekali” Jawab Meta dengan raut wajah yang di ketuk sedih. Tepi mulut tebal itu melengkung kebawah. Hal ini jelas saja membuat Perwira dan Vulkanik sama sekali tidak bisa melawan. Sebuah pemandangan yang tidak akan bisa mereka lewatkan begitu saja ketika menatap betapa menggemaskannya Meta saat ini.                “Baiklah. Kalau begitu kita akan bicara didalam mobil aku.” Ucap Perwira yang sudah pasrah.                Karena jarak parkiran dimana mereka duduk terakhir kali tidaklah jauh. Membuat ketiganya kini sudah berada dalam mobil Perwira. Dimana posisi Meta duduk dibangku tengah seorang diri. Sedangkan Perwira dibangku kemudi dan Vulkanik disampingnya.                “Mau ngomong apa sih sebenarnya” tanya Vulkanik penasaran.                “Aku akan menikah nanti sore” singkat padat dan jelas. Akan tetapi itu bisa menciptakan sebuah gemuruh yang begitu mengerikan ditambah dengan gemuruh saling bersautan sama lain.                “Jangan bercanda sama sekali” ulangi Vulkanik. Berusaha meyakinkan kalau Meta sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Briyanda. Tapi kenyataannya itu hanyalah sebuah khayalan yang akhirnya bisa terwuju dengan begitu nyata sebentar lagi.                Meta yang kesal dengan kedua sahabatnya ini kemudian menarik rambut keduanya. Ahasil Perwira dan Vulkanik meringis kesakitan. “Meta, sakit. Lepasin”                            “Iya, aku ingat kalau lu harus menikah dengan Briyanda. Tapi apa hari ini jatuhnya?” Tanya Perwira.                “Bang Briyanda sudah memutuskan kalau aku dan dia akan menikah nanti sore. Jadi nanti siamg aku akan mencari gaun mana yang terbaik untuk aku gunakan serta aku akan merias diriku” jelas Meta.                “Bisa ga mempelai prianya itu adalah aku? Karerna aku ingin merias wajah kamu” Ucap Vulkanik                “Selesaikan dulu tugas kamu, maka aku akan mmbiarkamn kamu untuk memantu tugas kuliah aku dan tidak menggangu satu sama lain” jawab Meta. “Kemudian bagaimana dengan lu yang bukan tipikal wanita akan menikah dengan muda.” tanya  Vulkanik yang masih kesal saat ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN