Bab 1 - Akhir dan Awal
“Maaf, Aleya. Ini adalah akhir dari hidupmu dan awal yang baru untuk hidupku," ucap Sanna. Tiap kata yang keluar dari mulutnya terasa begitu menyakitkan bagi Aleya. Sanna bicara dengan bibirnya yang tersenyum miring, menertawakan semua ketidakberdayaan Aleya saat ini.
Kecelakaan mobil yang Aleya alami adalah pengaturan yang dibuat oleh Sanna. Dan kini Aleya berbaring di ranjang rumah sakit dengan semua kesakitan itu, hanya mampu menatap dengan mata berkaca-kaca. Napasnya tersengal dan tubuh lemah, bahkan untuk sekadar menggerakkan tangan pun Aleya tak sanggup.
Aleya ingin berteriak dan memohon agar tidak disakiti lebih dari ini, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Air mata Aleya jatuh satu per satu ketika matanya bertemu dengan mata sang saudari tiri.
Dulu Sanna adalah segalanya bagi Aleya. Sanna sudah seperti kakak, sahabat dan bahkan pelindung baginya. Bahkan Sanna pulalah yang memperkenalkannya dengan Darren, pria yang akhirnya menjadi suami Aleya.
Namun siapa sangka di balik semua perhatian itu tersimpan rencana paling jahat. Darren bukanlah jodoh yang dikirimkan oleh Tuhan untuknya, melainkan kekasih lama Sanna.
Sejak awal keduanya telah bersekongkol untuk merebut segalanya yang Aleya punya. Harta, jabatan, bahkan kasih sayang sang ayah. Dan yang paling menyakitkan, sang ayah kini lebih mempercayai Sanna dibanding dirinya sendiri.
“Selamat tinggal, Aleya,” ucap Sanna lagi, kali ini dengan nada puas. “Sampai bertemu di surga.” Tangannya bergerak perlahan mencabut selang oksigen yang menjadi penopang napas Aleya.
“A-ah…” Suara kecil itu meluncur dari bibir Aleya. Udara tiba-tiba terasa menghilang, dadanya sesak sekali. Sementara kedua mata mulai berkunang-kunang. Tubuhnya bergetar menahan rasa sakit, semua terasa menjauh, suara, cahaya, bahkan dunia. 'Ya Tuhan, kenapa engkau kejam sekali padaku?'
Ternyata hidupnya benar-benar hanya sampai di sini. Berakhir dengan penderitaan yang tak berujung. Aleya tak mampu bertahan lagi. Hingga akhirnya bunyi monitor berbunyi panjang, tanda jantung Aleya telah berhenti.
Tiittttttt
"Aleya, Aleya! Ayo bangun."
Suara samar-samar Aleya dengar, panggilan berulang yang menerpa telinganya.
"Aleya!"
Secara perlahan Aleya membuka mata, berkedip merasa silau dengan cahaya.
"Ya ampun Aleya, ayo bangun. Ini sudah jam 7 pagi, ingat hari ini aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang," ucap Sanna.
Deg!
Jantung Aleya sontak berdenyut nyeri, di detik berikutnya jadi berdegup dengan cepat. Buru-buru Aleya bangun dari tidurnya dan duduk di ranjang menatap sekitar. 'Bukankah aku sudah mati? Dimana aku sekarang? Bukankah ini kamarku dulu? Apa ini mimpi?' batin Aleya gelisah, kebingungan sendiri hingga dilihatnya Sanna yang berdiri tepat di sampingnya.
"Aleya kenapa melamun? Ayo cepat bangun dan mandi!"
Aleya mendelik, masih merasa semuanya seperti mimpi. Hingga akhirnya semua yang terjadi sekarang mengingatkannya pada masa lalu, 4 tahun lalu saat Sanna begitu bersemangat memperkenalkannya dengan seorang pria.
Darren.
Sang suami.
'Tidak mungkin, apa aku kembali ke masa lalu?' batin Aleya.
Tangan Aleya bergetar, dadanya semakin terasa sesak. Ingin tak percaya tapi semuanya terasa begitu nyata. Bahkan sinar matahari yang menembus tirai putih terasa begitu hangat di kulitnya.
"Ini, ini tidak mungkin,” bisiknya pelan.
"Apa yang tidak mungkin Aleya? Cepatlah bangun dan mandi. Aku tunggu di bawah ya, dan ingat ... Pakai baju yang sudah ku pilihkan semalam," ucap Sanna begitu antusias. Senyumnya yang cerah mampu memanipulasi semua orang.
Aleya terdiam, lebih tepatnya dia mematung melihat semua yang terjadi. Menatap Sanna yang berjalan anggun keluar dari kamar ini. Bahkan ketika menutup pintu tak terdengar sedikitpun suara berisik.
"Aku masih hidup?" tanya Aleya, bertanya pada dirinya sendiri. Di detik berikutnya Aleya bahkan mencubit tangannya sendiri dan kesakitan.
"Astaga, sakit sekali," ucapnya dengan meringis, melihat cubitan di tangannya yang membiru.
"Aku benar-benar masih hidup? Aku hidup," katanya berulang.
Aleya menatap jam di dinding, jarum menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh.
Tanggalnya 4 Mei 2021.
Tepat di hari Sanna akan memperkenalkannya dengan Darren.
Dunia seakan berhenti berputar.
Ingatan terakhir yang Aleya punya masih terekam jelas, suara mesin monitor di rumah sakit, detak jantungnya yang melemah, dan tatapan puas Sanna sebelum semuanya menjadi gelap. Tapi sekarang Aleya duduk di kamar lamanya, di tubuhnya yang muda, sehat, dan penuh kehidupan.
Hingga akhirnya bayangan Sanna kembali muncul. Bagaimana bisa Aleya harus menghadapi lagi perempuan yang di masa depan tega mencabut nyawanya sendiri?
Secara perlahan Aleya turun dari ranjang dan menuju meja riasnya dulu. “Jadi ini benar-benar terjadi,” gumamnya, menatap bayangannya di cermin.
Wajah polos yang dulu tak pernah mencurigai siapa pun. Aleya mengulurkan tangan menyentuh pipinya yang lembut tanpa bekas luka. “Dunia memberiku kesempatan kedua,” bisiknya lirih, “Dan kali ini, aku tidak akan menjadi korban lagi.”
Air matanya menetes, tapi bukan karena sedih. Ada bara kecil yang mulai menyala di hati Aleya. Bara yang perlahan membakar sisa-sisa kepasrahan dari kehidupan lama Aleya.
Hari itu Aleya menuruti setiap kata Sanna, tapi kali ini dengan kesadaran penuh Aleya tak akan pernah lagi mengiyakan semuanya.
Setelah beberapa saat bersiap akhirnya Aleya keluar dari dalam kamar. Menghirup udara dalam-dalam tak ingin mati lagi. Tiba di ruang tengah tatapan sang ayah, ibu tirinya dan juga Sanna langsung tertuju pada kedatangan Aleya.
Senyum Sanna pudar sedikit melihat penampilan saudari tirinya tersebut, sebab Aleya tak menggunakan baju yang telah dia pilihkan semalam. Aleya justru menggunakan gaun yang lain.
"Selamat pagi Pa, Mama dan Sanna," ucap Aleya berusaha riang, seperti gadis berusia 24 tahun pada umumnya.
"Kenapa memakai gaun itu? Tidak menggunakan gaun yang ku pilih semalam," tanya Sanna. Dia telah memilihkan gaun sederhana untuk Aleya, agar penampilan Aleya tak mencolok dan terlihat biasa saja.
Tapi sekarang Aleya justru menggunakan gaun yang indah. Menambah kesan bahwa Aleya lah nona mudanya, bukan Sanna.
"Tidak apa-apa San, tiba-tiba aku ingin memakai gaun ini."
Sanna saling pandang dengan sang ibu, Sofia. Dulu Aleya tidak memahami segala intrik kedua manusia tersebut. Namun sekarang semuanya jadi terlihat jelas.
“Baiklah, kamu sudah siap?” tanya Sanna kemudian.
Aleya tersenyum kecil. “Lebih siap dari sebelumnya.”
Mobil melaju menuju kafe tempat pertemuan. Dari kaca jendela mobil Aleya menatap jalanan yang dulu terasa biasa, kini seperti potongan masa lalu yang hidup kembali.
Aleya mengingat setiap detailnya, tempat di mana ia dulu pertama kali menatap Darren, pria yang akan menjadi suaminya sekaligus penghancur hidupnya.
Tapi kali ini berbeda, Aleya tidak lagi datang sebagai gadis lugu yang mudah percaya. Aleya datang sebagai seseorang yang sudah mati sekali dan hidup kembali untuk memperbaiki semuanya.
Darren duduk di salah satu kursi, dengan senyum hangat yang dulu membuat Aleya jatuh cinta pada pandangan pertama. Rambut hitamnya tersisir rapi, matanya teduh, dan sikapnya begitu meyakinkan. Namun di mata Aleya kini, semuanya hanya topeng.
“Darren,” panggil Sanna dengan manja. “Ini adikku, Aleya.”
Darren berdiri dan mengulurkan tangan. “Aleya, senang bertemu denganmu.”